
Gerbang Waktu Sang Miliarder
handakuy|Bersambung
- Jumlah kata
- 49.8K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 157
- Jumlah kata
- 49.8K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 157
Sinopsis
Diusir ayah dan ibu tirinya di usia dua puluh tahun karena dianggap benalu, Arjuna memilih tinggal di rumah kakeknya yang telah lama terbengkalai. Di sana, dia menemukan sebuah pintu misterius yang ternyata terhubung ke masa lima puluh tahun lalu. Bermodal uang receh, Arjuna membeli emas dan berlian di masa lalu, lalu menjualnya di masa kini hingga meraup kekayaan miliaran rupiah. Dalam sekejap, nasibnya berbalik. Orang-orang yang dulu meremehkannya kini berebut mendekat, termasuk para wanita yang ingin menjadi pendamping hidupnya. Arjuna juga menemukan rahasia besar yang mendiang kakeknya sembunyikan di masa lalu dan membuat hidupnya berubah total. Dintara harta, cinta, ambisi dan masa lalu, siapakah yang akan diperjuangkan Arjuna?
Ulasan
1 ulasan
Adilia
10/9/26 10:50
Ceritanya seru dan penuh dengan misteri. sangat suka dengan intrik dan cara tokohnya ke dunia yang penuh dengan kejutan. Semangat terus nulisnya, ditunggu bab-bab berikutnya.
1. Dianggap Benalu
Bruk
Sebuah tas usang berwarna hitam dilemparkan ke teras rumah, beserta dengan pemiliknya. Tas itu milik Arjuna, pemuda berumur dua puluh tahun yang baru saja diusir oleh ibu tiri dan ayah kandungnya.
"Jangan menginjakkan kakimu disini lagi, Juna! Kamu ini cuma benalu yang numpang hidup!"
"Aku malu sebagai ayahmu! Aku membesarkanmu selama dua puluh tahun, tapi hidupmu mengenaskan! Pekerjaan kuli serabutan dan tak ada kekayaan apapun yang kamu punya! Percuma saja aku membiarkanmu hidup disini. Tak ada manfaatnya!"
Ayah Juna, Parman, justru mendukung keputusan istri yang dinikahinya lima tahun lalu itu, untuk mengusir Juna dari rumah. Baginya hidup bertiga akan menambah beban hidup dan pengeluaran. Juna harus pergi dari rumah agar tak menjadi benalu lagi bagi mereka.
"Aku hanya ingin tinggal bersamamu di rumah ini, sesuai dengan permintaan mendiang Ibu. Tolong berikan aku kesempatan. Aku akan bekerja lebih giat lagi, agar bisa memberikan kalian lebih banyak uang," ucap Juna semberi memohon.
"Lebih banyak uang katamu? Hei uang tiga puluh ribu yang kamu kasih tiap hari itu, mana cukup buat tidur dan makan?" tanya Marni---ibu tiri Juna dengan wajah judes.
"Ibumu juga sudah tiada, jadi jangan bawa-bawa dia lagi! Nyonya di rumah ini itu aku, bukan ibumu!"
Juna menundukkan kepala sambil memeluk erat tas usang yang dilempar tadi. Tak ada benda berharga dalam tas itu, hanya pakaian kusamnya dan beberapa barang yang tak bernilai.
Setiap kali Marni menghina mendiang ibunya, hati Juna selalu terasa perih. Namun, dia hanya bisa menahan amarah karena ayahnya tak pernah sekali pun membelanya.
"Kamu sudah dua puluh tahun. Sudah seharusnya kamu pergi dari sini. Adikmu, Raka, lebih berhak tinggal di rumah ini bersama kami," ucap Parman tanpa sedikit pun rasa iba.
Juna menatap ayahnya dengan kecewa. "Ayah lebih menyayangi anak tiri daripada anak kandung sendiri?"
"Hei! Raka bahkan jauh lebih baik darimu! Dia pintar dan sebentar lagi lulus sekolah. Masa depannya jelas lebih cerah dibandingkan kamu yang bodoh!" ejek Marni sinis.
"Sudah, pergi sana! Jangan bikin masalah di rumah ini," hardik Parman.
Juna mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mengangkat kepalanya menatap sang ayah.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat satu hal. Jika suatu hari hidup kalian susah, jangan pernah mencariku untuk meminta bantuan."
Bruk!
Sebuah sapu melayang dan menghantam tubuh Juna.
"Jangan mimpi, ya! Hidup kami tidak akan pernah susah!" bentak Marni.
Perlakuan kasar seperti itu bukanlah hal baru bagi Juna. Marni kerap memperlakukannya semena-mena. Meski begitu, Juna selalu memilih menahan diri karena masih menghormatinya sebagai istri ayahnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Juna melangkah meninggalkan rumah itu.
Dia masih ingat betul, rumah itu dibeli dengan jerih payah ibu kandungnya. Sebelum meninggal, ibunya pernah berpesan agar Juna tetap tinggal di sana hingga tua nanti.
Sayangnya, malam ini dia justru dipaksa meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi haknya. Diusir oleh ayah kandungnya sendiri tanpa iba.
Juna berjalan tanpa menoleh. Hubungan dengan sang ayah mungkin saja sudah berakhir saat ini. Keberadaannya tidak diinginkan oleh laki-laki itu. Juna memilih untuk pergi.
Langkah kaki Juna semakin lambat. Dia lelah setelah berjalan tanpa arah dan tujuan. Dia berhenti di sebuah ruko yang sudah tutup karena waktu menunjukkan pukul delapan malam.
"Fiuh aku capek." Tangan Juna mengusap dahinya yang basah karena keringat. Dia memeluk tas buluk nya sembari mengingat mendiang ibunya.
"Ah aku gagal menjalankan amanah dari ibu. Rumah itu tak lagi menjadi tempat berlindung untukku, Bu. Ayah sudah mengusirku seperti sampah."
Jantung Juna berdetak lebih kencang. Tangannya memeluk erat tas miliknya itu. Rintik hujan mulai menerpa jalanan. Rintik kecil berubah lebat dan angin tertiup membuat bulu kuduk berdiri.
"Hujan saja tau kalau aku sedang sedih," ucap Juna sembari menatap tetesan hujan dari langit.
Dia membiarkan tubuhnya basah sejenak lalu mencari tempat berlindung. Di sebuah toko kecil yang sudah tutup dia memeluk dirinya sendiri, menggigil karena dingin.
Otaknya masih berpikir harus kemana dia pergi sementara tak ada lagi tempat tinggal untuk berlindung.
"Apa aku harus minta tolong Sari?"
Juna mengambil ponsel jadul dari dalam tas lalu menghubungi wanita yang menjadi kekasihnya sejak satu tahun lalu itu.
Tak ada jawaban.
Juna menghubungi Sari kembali namun lagi-lagi tak mendapat jawaban. Dahi Juna berkerut. Tak biasanya wanita itu mengabaikan teleponnya.
"Sari kemana ya?"
Juna coba menghubungi Lisa, teman dekat Sari. Teleponnya langsung di terima wanita itu.
"Hai, Jun. Ada apa meneleponku?" tanya Lisa.
"Lis, apa kamu tahu dimana Sari berada? Atau dia sama kamu? Aku menghubunginya tapi nggak di balas."
"Hah? Bukannya dia pergi sama kamu dari pagi?" tanya Lisa.
Dahi Juna berkerut. "Nggak kok."
"Tapi Sari kesini loh tadi pagi. Dia pinjam sepatu sama tas ke aku, katanya mau dipakai kencan sama kamu."
Deg
Jantung Juna berdetak lebih kencang. Masalahnya tadi pagi dia masih sempat menghubungi Mirna lewat chat. Gadis itu tak bilang akan kemana-mana karena ingin istirahat saja di rumah.
Lalu, pergi kemana Sari?
"Kamu tahu dia pergi kemana, Lis?" tanya Juna dengan bibir gemetar. Selain perasaannya yang tidak enak juga hawa dingin yang mengenai kulitnya.
"Sebentar ya aku cek chat dulu. Kayaknya dia bilang mau pergi kemana. Tunggu ya."
"Makasih, Lis."
Juna menunggu kabar dari Lisa dengan cemas. Masalahnya, dia sempat bertengkar dengan Sari kemarin karena gadis itu minta dibelikan tas baru, namun Juna belum bisa menyanggupinya. Lalu, setelah dibujuk, Sari bisa luluh meskipun dengan wajah cemberut dan kesal. Juna pikir, Sari bisa memahami keadaannya saat ini.
"Hei ini dia chat katanya mau jalan sama kamu ke daerah sekitar taman Cempaka. Tapi aku juga nggak tahu apa dia masih disana atau tidak," ucap Lisa.
"Oke, makasih Lis."
"Sama-sama Juna."
Juna memutus sambungan telepon kemudian bergegas menuju ke daerah taman Cempaka. Dia menembus hujan untuk mencari angkutan umum. Dia hanya ingin bertemu dengan Sari dan meminta bantuannya.
Sesampai di taman cempaka, hujan sudah reda. Baju Juna masih basah, namun tak menghalanginya untuk bertemu dengan Sari. Dia coba untuk menghubungi kekasihnya itu kembali, namun tidak mendapat jawaban.
Juna duduk di depan pagar hotel untuk istirahat. Dia coba untuk menghubungi Sari untuk kesekian kali, tapi tak mendapat respon.
"Kemana Sari? Aku jadi khawatir."
Saat Juna sedang melihat sekitar, matanya tertuju pada mobil yang baru saja berhenti di depan hotel. Seorang laki-laki turun dan disusul oleh wanita yang wajahnya tak asing di mata Juna.
Wanita itu adalah Sari dan laki-laki itu adalah Desta, anak juragan kontrakan di daerah sekitar tempat tinggalnya.
Sambil bergandengan tangan, Sari dan Desta masuk ke dalam hotel. Juna langsung berdiri, menyusul dan memanggil nama Sari dengan keras.
Sari dan Desta berhenti berjalan dan menoleh pada Juna. Melihat itu, Sari langsung menatap Juna dengan jijik karena penampilannya yang berantakan, ditambah baju setengah basah.
"Sari! Apa yang kamu lakukan disini dengan Desta?" tanya Juna. "Aku meneleponmu berkali-kali dari tadi."
Sari menatap Juna dengan angkuh dan jijik. "Pergi saja, Jun. Mulai sekarang kita putus dan jangan ganggu hubunganku dengan mas Desta!"
"Apa?"
Daftar bab
42 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








