Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
GAIRAH JONI & BURUNG AJAIBNYA

GAIRAH JONI & BURUNG AJAIBNYA

Pena Asoka | Bersambung
Jumlah kata
45.5K
Popular
14.7K
Subscribe
1.6K
Novel / GAIRAH JONI & BURUNG AJAIBNYA
GAIRAH JONI & BURUNG AJAIBNYA

GAIRAH JONI & BURUNG AJAIBNYA

Pena Asoka| Bersambung
Jumlah Kata
45.5K
Popular
14.7K
Subscribe
1.6K
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalMengubah Nasib
[Cerita Dewasa] [Penakluk Wanita] [Burung Ajaib] Joni hanyalah pemuda sebatang kara yang tinggal di rumah lapuk peninggalan kakeknya. Setiap hari ia bekerja serabutan di peternakan sapi, memeras keringat hanya demi sesuap nasi. Miskin dan selalu dipandang rendah, Joni bahkan dipermalukan di depan banyak orang ketika gadis yang disukainya menolak dirinya. Namun, malam itu menjadi titik balik hidupnya. Seekor perkutut aneh dengan mata kuning keemasan tiba-tiba muncul dan menyengatkan kekuatan misterius ke dalam tubuh Joni. Sejak saat itu, Joni menjadi jauh lebih kuat dan nalurinya semakin tajam. Ia tak lagi menjadi pemuda lemah yang hanya bisa menerima penghinaan. Lebih ajaib lagi, setiap kali Joni ‘bermain’ dengan seorang wanita, perkutut itu akan muncul dalam mimpinya dan memberikan petunjuk tentang kekayaan. Dengan kekuatan dan petunjuk tersebut, Joni mulai membalikkan nasibnya. Dari pemuda miskin yang diremehkan, Joni perlahan berubah menjadi pria sejati yang kaya dan disegani, sementara wanita-wanita cantik mulai berdatangan ke dalam hidupnya.
Joni Mulyono

“Haah…hah…ah…”

​Napas Niken memburu. Desahannya beradu dengan derit dipan kayu yang terguncang hebat.

​"Ah... Jon…"

​Jari lentiknya mencengkram erat sprei hingga kusut.

​"Ouwh…terus... nikmat banget, Jon..."

​Di atasnya, Joni tersenyum lebar. Dadanya yang bidang basah oleh keringat.

​Setiap pujian Niken membuat rasa percaya dirinya membumbung tinggi. Hantamannya kian bertenaga, membalas tiap lenguhan yang semakin riuh memenuhi ruangan.

​”Gila…ini enak banget,” batin Joni. “Begini rasanya dipuja wanita?”

​Dulu, kenikmatan seperti ini cuma ada di khayalan Joni saja. Jangankan menindih wanita secantik Niken, merasakan perutnya tidak melilit lapar di tengah malam saja sudah merupakan kemewahan.

​Joni ingat betul di saat ia hanya bisa meminum air putih banyak-banyak demi menghilangkan lapar yang meneror lambungnya yang panas.

​Urusan perut memang cukup sulit bagi Joni Mulyono.

Pemuda 19 tahun itu baru saja memegang ijazah SMA yang ia tebus tidak hanya dengan otak pintar, tapi juga keringat bercampur bau kotoran sapi.

​Di saat teman-temannya riuh membicarakan kampus, Joni hanya berkutat di peternakan Juragan Darto.

Ibunya meregang nyawa yang dipertaruhkan saat melahirkannya. Tak berselang lama, bapaknya tewas mengenaskan jadi korban tabrak lari.

​Kakek dan nenek yang membesarkannya pun satu per satu pergi meninggalkannya.

​Joni ditinggal seorang diri tanpa sepeser pun harta berharga kecuali rumah tua kecil yang ia tinggali.

​Di hari pengambilan ijazah, Joni merasa nasibnya mungkin mulai berbelok ke arah baik.

​Dengan kemeja batik peninggalan kakeknya, Joni melangkah mantap memasuki gerbang sekolah. Di dalam tasnya yang kusam, tersimpan sebuah tas kertas kecil. Ia memeluknya erat-erat sepanjang jalan, seolah benda di dalamnya sangatlah berharga baginya.

​Dari kejauhan, Joni menangkap sosok itu. Rambut hitam sebahunya melambai tiap kali ia tertawa. Sari.

​Joni menghembuskan napas panjang, menenangkan degup jantungnya yang mendadak ugal-ugalan.

​Setahun belakangan, sejak mereka dipasangkan dalam proyek penelitian IPA untuk syarat kelulusan, Sari selalu ada di dekatnya. Tersenyum padanya, berbagi bekal dengannya, bahkan tak jarang menyentuh lengannya gemas.

​”Hari ini,” batin Joni penuh tekad. “Hasil lemburku seminggu penuh akan terbayar!”

​Joni mendekat, lalu menepuk pelan bahu gadis itu. "Sari."

​Tawa Sari terhenti.

​Seorang temannya menunjuk Joni dengan dagu. "Penggemar beratmu datang tuh."

​Sari memutar tubuhnya.

​Joni mendadak terpaku. Senyum manis yang biasanya menyambut kedatangannya mendadak lenyap.

​Wajah Sari datar. Ada kilat ketidaksukaan yang amat jelas dari caranya memandang baju batik Joni yang usang.

​"Ada apa?" suara Sari terdengar dingin. Tanpa nada ceria, tanpa kehangatan yang biasanya.

​Joni meremas tas kertas di tangannya, berusaha mengabaikan firasat buruk yang mendadak menyergap. Ia mengulas senyum terbaiknya, lalu menyodorkan tas itu.

​"Buat kamu," ucap Joni sedikit gugup. "Coklat mede... sama boneka beruang. Aku beli sendiri."

​Beberapa siswi di sekitar Sari langsung saling berbisik, disusul sorak-sorai godaan yang riuh.

​"Aduuh, romantisnya!"

​"Sari dapet boneka, nih!"

​Bukannya senang, wajah Sari justru memerah padam. Matanya melotot menatap tas kertas itu.

​"Apaan sih ini?" sergah Sari keras.

​"Aku… cuma mau bilang..." Joni menelan ludah. "Setahun ini kita dekat banget, Sar. Kamu selalu baik sama aku. Mau kan... kamu jadi pacarku?"

​Ledakan tawa sontak pecah di koridor. Teman-teman Sari tertawa terbahak-bahak.

Sari memejamkan mata rapat-rapat, giginya mengerat menahan malu yang membakar wajahnya.

​Plak!

​Sari menepis tas itu hingga terlempar tinggi. Isinya terbang keluar…sebatang coklat patah terbentur, dan boneka beruang pink mendarat mengenaskan di atas lantai berdebu, tepat di dekat ujung kaki Joni.

​"Norak tau nggak?!" pekik Sari, suaranya melengking hingga semua menoleh.

​Joni tertegun. Matanya bergerak lambat dari boneka di lantai ke wajah Sari yang kini tampak asing.

​"Sar... kamu kenapa? Bukannya… kamu juga suka sama aku?"

​"Suka sama kamu?!" Sari tertawa sumbang, jarinya menunjuk tepat ke hidung Joni. "Nggak usah kepedean deh, Jon! Ngaca dong! Siapa yang mau sama anak yatim piatu miskin kayak kamu? Tiap hari baunya kayak tahi sapi!"

​Kata-kata itu menghantam dada Joni lebih keras dari apa pun.

​"Aku deketin kamu cuma gara-gara kamu pintar!" lanjut Sari tanpa belas kasihan, suaranya makin meninggi. "Kalau bukan karena butuh otak kamu buat proyek itu, aku juga nggak mau ngobrol sama kamu! Paham?!"

​Joni membatu. "T-tapi..."

​"Dan satu lagi," Sari menyilangkan dada, menatap Joni dari atas ke bawah dengan jijik. "Aku udah punya pacar. Arka. Anak pengusaha. Dia ganteng, kaya, dan belum lulus aja udah dibelikan mobil baru sama papanya. Beda jauh sama kamu yang cuma bisa beli boneka pasar malam!"

​Sari memutar badan, mengibaskan rambutnya, lalu pergi meninggalkan Joni yang berdiri kaku di tengah riuhnya tawa anak-anak lain.

Dada Joni terasa panas, menjalar cepat ke pelipisnya. Tenggorokannya menyempit, dan pandangannya mulai mengabur oleh air yang siap tumpah.

​Dengan rahang terkunci rapat dan jemari mengepal kuat, Joni berbalik. Ia mengabaikan boneka dan coklat yang tergeletak di lantai, lalu melangkah lebar-lebar menuju belakang sekolah.

​Di bawah rindangnya pohon dekat gudang tua, Joni duduk di bangku semen.

​Ia menyandarkan punggungnya ke dinding yang terkelupas, menghembuskan napas gusar berulang kali untuk menahan air mata yang mendesak keluar.

​Tak lama kemudian, suara langkah kaki mantap mendekat, disusul suara bungkus yang dirobek kasar.

​"Pftt! Sukurin! Makanya punya otak tuh dipakai, jangan cuma dipajang!"

​Joni buru-buru mengusap matanya sebelum menoleh.

Dina sudah berdiri bersedekap di sebelahnya, tersenyum mengejek.

Meskipun bergaya tomboy dengan hanya memakai kaos polos hitam dan celana jeans longgar yang agak kusam, kecantikan alaminya tetap tak bisa disembunyikan.

Wajahnya yang manis tanpa polesan bedak dipadu dengan bola mata coklat yang tegas membuatnya terlihat sangat menawan bahkan bagi Joni.

Apalagi, di balik kaosnya yang ketat, bentuk dada bulat dan pinggang rampingnya begitu sedap dipandang.

​Tangan kirinya menjepit boneka beruang pink yang sudah dibersihkan dari debu, sementara tangan kanannya memasukkan patahan coklat mede ke bibirnya yang merah alami.

​"Dina..." gumam Joni, mengalihkan pandangan.

​"Asli, kamu bodohnya kebangetan, Jon," cerocos Dina tanpa beban sambil duduk di samping Joni. Kaki jenjangnya itu bersilang santai.

"Sudah tahu Sari itu matre, malah ditembak pakai coklat mede Indomirit. Ya jelas ditolak lah! Kasihan amat kamu ini!"

​"Nggak usah ikut campur, Din," potong Joni kesal, matanya menatap tajam gadis itu.

​"Yee, dibilangin malah nyolot! Sadar, Jon… sadar!" Dina menepuk pelan kepala Joni pakai boneka pink itu hingga pemuda itu melotot.

"Lagian ya, kalau boneka imut ini sama coklat enak ini dikasihin ke aku dari awal, kan beres. Pasti aku terima daripada dibuang-buang ke lantai kayak tadi. Dasar otak udang!"

​Joni menatap Dina sekilas. Gadis dengan paras cantik alami itu malah nyengir tanpa dosa, memamerkan sisa coklat di giginya.

​Mereka sudah berteman sejak SMP, dan Joni paham betul tabiat Dina yang selalu bicara ceplas-ceplos, galak, dan tak pernah bersimpati ala cewek lemah lembut.

Tapi di balik olokan pedasnya, Joni tahu Dina hanya tak ingin melihatnya hancur gara-gara wanita seperti Sari.

Sayangnya saat ini, dadanya terlalu sesak untuk meladeni celotehan sahabatnya itu.

​Joni mendadak berdiri. "Aku mau ke tempat Juragan Darto aja. Kerja."

​"Lho? Kok malah pergi?" Dina ikut berdiri, mencengkram kemeja batik Joni. "Jon! Joni! Aku belum selesai ngomel!"

​Joni mengibaskan tangannya, terus melangkah dengan tangan terbenam di dalam saku celana.

​Dari belakang, Dina menghembuskan napas kasar lalu menendang kerikil di tanah. Dadanya naik-turun menahan gemas.

Ia menatap punggung Joni yang kian menjauh sambil memeluk erat boneka beruang di pelukannya.

​"Dasar cowok tolol nggak peka!" gerutu Dina, wajah galaknya perlahan berubah, menyisakan raut khawatir yang tulus.

"Cewek yang beneran suka sama kamu tuh ada di depan mata, malah ngejar-ngejar lampir!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca