

Kampus itu sedang ramai seperti biasa. Gedung Fakultas Ekonomi dikerumuni mahasiswa baru dan lama. Sebagian duduk di tangga, sebagian sibuk swafoto di dekat taman kecil berhiaskan air mancur. Namun, tak ada satu pun yang lebih mencolok dari kehadiran Faris Azhari. Tampan. Rapi. Wangi. Sopan. Dan sholeh. Kombinasi itu menjadikannya pusat perhatian di manapun ia melangkah. Bukan hanya mahasiswa perempuan, bahkan dosen perempuan pun kadang salah tingkah saat berbicara dengannya.
"Mas Faris!"
Seorang mahasiswi dari jurusan Akuntansi melambaikan tangan. Ia mengenakan seragam putih dengan jilbab biru muda.
“Aku nitip ini ya, aku bikin sendiri kok, brownies-nya halal!” Ia menyodorkan kotak plastik bening.
Faris tersenyum tulus seperti biasanya. “Wah, makasih banyak. Aku doain kamu dapet nilai terbaik semester ini ya.”
Perempuan itu tersipu dan berlalu.
Tak sampai lima menit, datang lagi yang lain.
"Assalamu’alaikum, Kak Faris," ucap seorang mahasiswi berjilbab pashmina, “ini ada minuman dingin, aku lihat abang tadi sempat batuk ya? Jaga kesehatan ya...”
Faris menerima dengan hati-hati. Ia selalu menghargai orang lain, meskipun kadang dalam hati ia bertanya-tanya: Kenapa mereka semua bersikap seperti ini? Apakah hanya karena penampilan luar?
……..
Ia duduk di bawah pohon flamboyan kampus, menatap langit, memandangi kotak-kotak hadiah di tangannya, lalu bergumam pelan:
“Apa semua ini... berarti aku orang baik?” monolog Faris terasa lirih dalam pikirannya sendiri.
Ia tidak pernah merasa istimewa. Hanya berusaha hidup benar, menjaga ibadah, tidak pacaran, tidak menyentuh yang bukan mahram. Tapi justru citra itu membuat banyak perempuan mendekat.
“Faris, kamu itu pria idaman kampus,” ujar Rafi, sahabatnya, sambil menyodorkan air mineral. “Gimana rasanya hidup dikelilingi ratusan pengagum?”
Faris tersenyum kecut. “Capek.”
“Capeknya di mana?”
“Karena aku cuma pengen hidup tenang... dan aku gak pernah minta dikagumi seperti ini.” Tambah Faris.
“Tapi dunia tidak menunggu perasaanmu. Dan salah satu yang datang tanpa ditunggu, adalah Maya.
Maya Nadhira, mahasiswi manajemen semester tiga, model majalah kampus, tinggi, putih, gaya bicara percaya diri, dan... terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
“Faris Azhari, ya?” katanya suatu hari, menyapa dengan senyum percaya diri saat Faris baru keluar dari masjid kampus. “Akhirnya bisa ketemu langsung. Udah sering lihat kamu di event dakwah.”
Faris sedikit gugup. “Eh... iya, iya. Alhamdulillah. Kamu Maya, kan?”
“Wah, kamu tahu aku?” matanya berbinar.
Faris hanya tersenyum sopan.
“Siapa yang gak tahu. Kamu kan bintang kampus.” Maya tertawa. “Aku suka gaya kamu. Simple, kalem, kayak cowok-cowok di film-film drama Turki.”
Faris tertawa kecil, merasa canggung. “Hehe... aku gak ngerti film, jarang nonton.”
Sejak pertemuan itu, Maya mulai sering muncul. Mengundang Faris ke acara diskusi, bahkan hanya untuk makan siang bersama. Faris sempat menolak halus beberapa kali, tapi lama-lama ia ikut juga. Maya menyenangkan, terbuka, dan membuat obrolan jadi hidup.
Suatu siang, mereka duduk berhadapan di sebuah kafe kecil dekat kampus. Maya menyodorkan menu ke Faris sambil tersenyum lebar.
"Aku rekomen nasi goreng seafood-nya. Katanya juara di sini," ujar Maya antusias.
Faris hanya mengangguk. "Terserah kamu aja."
Maya meliriknya, mencoba mencairkan suasana. "Faris, kamu tuh selalu kalem ya. Datar banget. Kadang aku penasaran, kamu pernah nggak sih marah atau ketawa lepas?"
Faris menatap minumannya yang belum disentuh. "Aku biasa aja."
Maya tertawa pelan, mencoba lagi. "Kalau gitu aku harus usaha keras nih, biar kamu ketawa hari ini."
Faris menoleh sebentar, lalu kembali menunduk. "Nggak perlu maksa, Maya."
Sejenak, suasana jadi hening. Maya mencoba mencari topik lain. "Kamu suka baca buku, kan? Aku baru selesai baca novel psikologi yang bikin mikir... Tentang orang yang hidupnya selalu pakai topeng. Keliatannya bahagia, tapi dalamnya hampa. Aku langsung kepikiran kamu," katanya sambil terkekeh kecil.
Faris menatap Maya lebih lama kali ini, lalu berkata datar, "Mungkin karena kamu benar."
Maya terdiam. Tak menyangka Faris akan mengiyakan dengan nada setenang itu. "Kadang... kamu terdengar seperti orang yang nyerah sama hidup," ucap Maya lirih, setengah bercanda, setengah serius.
Faris hanya menatap jauh ke luar jendela. "Bukan nyerah. Aku cuma nggak tahu harus ngerasain apa lagi."
Maya menggigit bibirnya pelan. Ada kegelisahan yang mulai tumbuh. Ia tertarik pada Faris, tapi seperti menabrak tembok dingin setiap kali mencoba masuk lebih jauh.
Maya menghela napas pelan, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. “Kamu selalu ngikutin semua yang aku mau, Faris… Tapi kadang aku bingung, kamu beneran mau atau cuma... ngikut aja?” tanyanya pelan, nyaris seperti takut mendengar jawabannya.
Faris mengalihkan pandangan dari jendela, menatap Maya sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Kalau kamu bahagia, ya aku ikut aja.” Kata Faris sambil menatap Maya.
“Tapi... kamu sendiri bahagia nggak” Pertanyaan itu menggantung.
Suasana di kafe kecil itu jadi terasa makin sempit. Faris tak langsung menjawab. Ia mengambil sendok kecil, mengaduk sisa minumannya, padahal tidak ada lagi yang perlu diaduk. “Entah, May. Aku udah lama nggak mikirin soal itu.”
Maya terdiam. Tangannya bergerak tak tenang, memainkan ujung lengan sweater-nya. “Aku takut, Ris… Takut jadi satu-satunya yang jatuh. Kamu bahkan nggak berusaha nahan aku, kalau aku pergi sekarang.”
Faris menatapnya, datar, tanpa emosi. “Aku nggak akan nahan kamu. Karena aku tahu, semua orang berhak memilih jalan yang bisa bikin dia merasa hidup.”
Jawaban itu menusuk Maya. “Kamu ngomong kayak… kamu udah nggak pengen hidup, Ris.”
Faris tertawa pelan, kering. “Nggak juga. Aku masih hidup. Cuma... rasanya kayak numpang lewat.”
Maya berdiri, kesal. “Aku bukan orang yang sempurna, Faris. Tapi aku tulus. Aku pengen bikin kamu bahagia. Tapi kamu ” suaranya bergetar, “kamu kayak tembok. Dingin. Nggak pernah bales rasa aku.”
Faris ikut berdiri. “Aku udah bilang dari awal. Aku baik, bukan berarti aku cinta.”
Maya mengerutkan kening. “Tapi kamu selalu ada! Selalu dateng tiap aku minta! Nemenin aku, beliin aku bunga, dengerin curhatku... Itu semua cuma karena kamu baik?”
Faris mengangguk pelan. “Iya, May. Aku ngebahagiain kamu, karena aku ngerasa itu tugasku. Bukan karena aku punya rasa.”
Maya merasa seperti dipukul kenyataan. “Jadi… kamu bohongin aku selama ini?”
Faris menggeleng. “Nggak. Aku jujur dari awal. Cuma kamu yang terlalu berharap lebih.”
Suasana hening sejenak. Suara kendaraan di luar kafe seperti jadi gema samar yang tidak penting. “Aku kasihan sama kamu, Ris.”
“Kenapa?”
“Karena kamu terlalu hampa buat ngerasain cinta. Dan terlalu baik buat nolak orang kayak aku.” Maya tertawa sinis. “Tapi kamu tetap mau jalan sama aku. Tetap mau ngobrol, mau video call, mau nerima hadiah. Jadi, kita ini pacaran apa bukan?”
Faris diam cukup lama, kepalanya penuh lalu menjawab: “Karena aku... takut dosa, Maya. Pacaran itu... bukan jalan yang benar.”
Faris menunduk. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu Maya benar. Ia menuruti semuanya. Mengantar Maya belanja, menghubunginya duluan, menenangkan saat Maya menangis. Ia menjadi versi laki-laki ideal tanpa perasaan. Hari berganti minggu berganti bulan terus ia jalani meski tidak ada satu pun hari yang terlewat tanpa Maya dengan segudang kegiatan untuk keperluan sosial medianya. tidak ada getaran. Tidak ada rasa hangat. Tidak ada cinta. Dan itu… menyiksa dalam diam.Ia sadar betul, sejak dulu pun hatinya tidak pernah utuh diberikan pada siapa pun selain kepada satu nama.
Sheila.
Wanita sederhana, polos, teman sebangkunya waktu SMP. Mata jernih, senyum hangat, suara lembut yang tak pernah marah. Mereka pernah duduk bersama di taman sekolah, hanya membaca buku, tapi Faris merasa seperti dunia menghilang. Ingatannya kembali pada saat itu. Saat mereka masih remaja.
"Sheil, kamu cita-citanya apa?" tanya Faris muda saat itu.
"Jadi guru TK," jawab Sheila sambil tersenyum.
"Kenapa?"
"Karena anak-anak itu jujur. Dan aku pengen berada di dunia yang jujur." Jawaban itu masih terngiang bertahun-tahun kemudian.
……
Malam itu, selesai salat Faris melamun di kamarnya. Di meja kecilnya ada bingkisan dari Maya, foto-foto bersama teman kampus, dan sebuah buku tulis lama yang kusam. Ia membuka halaman terakhir. Ada tulisan tangan kecil: Sheila A. – 2012 Semoga kita tumbuh jadi orang baik, Faris. Bukan orang sempurna, tapi orang yang gak ninggalin diri sendiri. Faris menutup buku itu pelan.
“Kenapa dulu aku lepasin kamu?” gumannya.
Ia menatap cermin. Wajah tampannya memantul jelas. Jenggot rapi, alis tegas, mata yang tampak teduh semua membuatnya seperti pria ideal. Tapi di balik semua itu, hanya ada satu kebenaran pahit: Faris menjalani hidup yang bukan untuk dirinya sendiri. Ia menjalani hidup untuk dilihat. Dan cinta... bukan bagian dari hidup itu.
…..
Langit kampus sore itu menguning, menciptakan bayangan panjang dari pepohonan dan bangunan tua. Faris duduk di tangga aula utama, mengenakan jaket abu-abu dan celana hitam. Di tangannya, sebuah mushaf kecil terbuka, namun matanya tak betul-betul membaca. Fokusnya mengembara… jauh.
Sheila.
Nama itu terus terucap dalam batinnya, bahkan ketika ia mencoba mengalihkannya dengan zikir atau lembaran Qur’an. “Sheila... kamu apa kabar sekarang ya?” bisiknya pelan, nyaris seperti napas yang ditiup angin. Senyum gadis bersahaja itu dengan jilbab putih dan tas ransel lusuh masa SMP selalu muncul tiba-tiba.
Kadang saat ia sendirian di masjid kampus. Kadang saat makan sendiri di kantin. Kadang saat Maya berbicara panjang lebar di depannya, tapi hatinya tidak ada di situ. “Kenapa bayangmu gak pernah hilang sih?” pikir Faris. Ia memejamkan mata, mengingat saat-saat ia dan Sheila belajar bareng, duduk berdua di bawah pohon jambu depan sekolah. Tak pernah bersentuhan, tak pernah mengucap cinta, tapi hangatnya tulus. Damai. Tak dibuat-buat.
"Mas Faris!"
Suara itu memecah lamunannya. Sekelompok mahasiswi menghampirinya. Di antara mereka, Maya paling mencolok: mengenakan blouse pink dan celana putih yang menjuntai manis, rambutnya dikuncir ekor kuda.
"Udah nunggu lama, ya?" tanya Maya dengan senyum yang selalu penuh percaya diri.
"Enggak, baru aja," jawab Faris, meletakkan mushafnya. "Yuk ke rooftop! Hari ini kan kamu aku undang khusus," ujar Maya sambil menarik-narik lengannya, tapi Faris menolak halus, hanya berdiri.
Naik ke rooftop kampus, mereka disambut beberapa teman Maya yang sudah berkumpul. Ada banner kecil bertuliskan “Serasi Banget Kalian!” lengkap dengan emotikon hati.
Faris langsung merasa ada yang tidak beres. Salah satu teman Maya berkata dengan suara keras, “Ayo dong, Faris! Bilang dong ke Maya. Kalian tuh kayak pasangan drama Korea versi Islami!” Teman lain bersorak, “Nyatakan cintamu sekarang, brooo!”
Faris membeku. Jantungnya berdebar. "Maya udah sayang kamu banget. Masa kamu gak peka sih?" celetuk yang lain sambil tertawa.
Maya sendiri tertunduk malu, wajahnya memerah, matanya berbinar. "Faris..." ucap Maya pelan. "Kalau kamu nggak keberatan... mau gak kita... seriusin ini semua?" Semua mata tertuju padanya. Sorak-sorai, tawa, kamera ponsel yang merekam.
Semuanya menekan Faris seperti ribuan tangan tak kasat mata. Dalam hatinya, suara itu kembali terdengar: Pacaran itu dosa, Faris. Kamu tahu itu. Kamu tahu kamu gak cinta dia. Kamu masih nyimpan Sheila di hatimu. Tapi di sisi lain... Dia terlihat begitu bahagia. Maya berjuang mengejarnya, bertahan dengan kesabaran, penuh usaha. Haruskah ia mengecewakan semua ini... di depan orang banyak?
Maya menatapnya penuh harap. Faris menggigit bibir. “Ma... Maya,” ucapnya gugup. “Aku... aku juga nyaman sama kamu. Terima kasih udah sabar, dan... insyaAllah... kita jalani bareng, ya?”
Suara sorakan langsung meledak.
“WOOOOOOO!!!” "AKHIRNYA!" "COUPLE OF THE YEAR NIH!"
Maya memeluknya singkat meski Faris langsung menghindar dengan sopan. "Maaf..." ucapnya lirih. Tapi sorak-sorai menutupi segalanya. Dalam hati Faris, badai mulai menggulung. “Apa yang baru aja aku lakukan?” pikirnya. “Aku bilang ‘insyaAllah’ tapi gak ada keikhlasan di hatiku.” “Ini bukan cinta. Ini... pengakuan palsu.”
Malamnya, Faris tidak bisa tidur. Ia duduk memeluk lutut di kamarnya, lampu mati, hanya cahaya remang dari luar jendela. Ia menangis diam-diam. “Ya Allah... aku merasa berdosa. Aku mencintai wanita lain, tapi aku memberi harapan pada Maya. Aku hanya ingin menghargainya... tapi apa aku justru menjerumuskannya?” Tangannya gemetar.
Ia menyalakan ponsel, membuka galeri foto lama. Ada satu foto bersama teman-teman SMP dan di sudutnya, ada Sheila. Sederhana. Tertawa lepas. Faris menyentuh layar, lalu meletakkannya di dada. “Kalau waktu bisa diulang... aku gak akan pernah melepasmu,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Hari-hari Faris berubah sejak pernyataan cintanya di rooftop itu. Seolah ia telah melewati pintu yang tak bisa lagi ditutup. Maya kini semakin terbuka, semakin percaya diri memperlihatkan hubungannya di depan umum. Ia sering merangkul lengan Faris ketika berjalan, menyapa semua orang dengan “Ini loh,,cowok aku!”
Faris hanya tersenyum canggung. Ia tidak pernah membalas perlakuan itu. Bahkan saat teman-teman Maya berkerumun, menggoda mereka, ia hanya bisa bertahan dengan kesopanan. "Mas Faris, kamu tuh ganteng, sholeh, baik lagi. Maya tuh beruntung banget!" kata Rani, salah satu teman dekat Maya.
Maya tertawa senang. “Beruntung juga dong Mas Faris dapat aku,” katanya sambil menatap Faris dan mencolek lengannya. Faris hanya tersenyum kecil. Di dalam hatinya, sunyi.
Ia sering kali menatap langit sore kampus, berharap ada angin membawa pesan dari masa lalu dari tempat di mana Sheila mungkin masih menyimpan kenangan mereka. Namun Maya terus menggandengnya, secara harfiah maupun batin. Setiap akhir pekan ada acara. Kadang hanya nongkrong di rooftop café, kadang kumpul arisan teman Maya, kadang bahkan photoshoot semi formal yang ia sebut “personal branding couple goals.”
“Faris, kita baju hitam-putih ya hari ini. Matching biar aesthetic,” ucap Maya sambil mengirim referensi outfit.
Faris kadang menolak. Kadang terpaksa ikut. Tapi semuanya makin berat. Dan malam itu... malam ulang tahun Maya, semuanya mencapai puncaknya.
Acara diadakan di rumah Maya yang mewah, dihiasi lampu gantung kristal dan lilin aromaterapi di setiap sudut. Semua tamu mengenakan pakaian formal. Faris hadir karena Maya terus memintanya. “Kamu harus datang, Ris. Malam ini spesial. Aku pengen kamu ada,” suara Maya lewat telepon waktu itu terdengar sangat tulus. Faris tak kuasa menolak. Ia datang mengenakan kemeja biru dongker.
Saat masuk, semua mata langsung tertuju padanya. “Faris datang!” seru salah satu tamu. “Cakep banget, cocok banget sama Maya!” Faris tersenyum tipis. Lagi-lagi, senyum yang kosong. Acara berlangsung dengan tawa, games, dan nyanyian ulang tahun.
Maya tampak bersinar malam itu, mengenakan gaun berwarna pastel dan riasan tipis yang mempertegas kecantikannya. Saat kue ulang tahun dibawa masuk dan semua orang menyanyikan “Happy Birthday”, Maya menutup mata dan berdoa. Lalu dia menatap Faris. “Aku nggak minta apa-apa malam ini... selain kamu,” katanya lembut. Faris mengangguk, “Selamat ulang tahun, Maya. Semoga jadi wanita yang lebih bijaksana, dan... makin dekat dengan Allah.” Tamu-tamu bertepuk tangan. Lalu tanpa peringatan, Maya mendekat dan mencium pipi Faris.
Semua orang bersorak. “WOOOOOO!!”
“AKHIRNYA DICIUM NIH COWOK IDAMAN!”
Faris membeku. Tubuhnya seakan membatu. Matanya menatap kosong ke depan, tidak membalas, tidak menoleh. Tawa dan sorak sorai itu seperti gema menyakitkan di telinganya. Maya tertawa bahagia, tak sadar wajah Faris mendingin. Di dalam hatinya, badai baru saja lahir.
Malam itu, Faris pulang dengan langkah berat. Di dalam kamar, ia membuka jaket, melemparkannya ke kursi, lalu duduk menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. “Apa yang aku lakukan...?” bisiknya. Ia berdiri dan menatap cermin. Pipinya masih terasa hangat tapi hatinya dingin. “Kenapa aku biarkan itu terjadi? Kenapa aku nggak mundur sejak awal? Aku tahu ini salah. Aku tahu aku gak punya cinta untuk Maya.” Ia menunduk. Menangis. “Sheila...” bisiknya. “Seandainya kamu yang jadi pacarku.”
Ia mengambil ponsel. Mencari-cari nama Sheila di media sosial, tapi tak menemukannya. Entah di mana gadis itu sekarang. “Sheil... kamu di mana?” gumam Faris lirih. “Aku... aku nyesel. Aku bukan cowok yang baik. Tapi kalau aku bisa memilih ulang... aku mau kamu.”
Ia menatap foto ulang tahun Maya yang sudah diunggah teman-temannya. Di dalamnya, terlihat dirinya yang berdiri kaku dengan pipi yang baru saja dicium. Semua orang melihatnya sebagai pria beruntung. Tapi hanya Faris yang tahu: dirinya justru yang paling kehilangan.