

Malam di Jakarta selalu punya dua wajah: gemerlap lampu gedung pencakar langit yang menjanjikan kemewahan, dan kegelapan pekat yang menyembunyikan bau amis darah. Di lantai 88 Penthouse Hotel Adiwangsa, wajah pertama sedang dipamerkan dengan angkuh.
Dev berdiri tegak di sudut balkon, bayangannya memanjang di atas lantai marmer yang mengilap. Jas hitam custom-made yang dikenakannya melekat sempurna pada tubuh tegapnya, menyembunyikan sepasang belati keramik dan pistol Glock yang telah dimodifikasi agar tidak terdeteksi sensor logam. Di telinganya, sebuah earpiece transparan terus berderit pelan, menyalurkan laporan keamanan dari puluhan personel di lantai bawah.
Namun, Dev tidak mendengarkan mereka. Fokusnya terbagi antara dua hal: leher jenjang seorang wanita yang harus ia lindungi, dan leher seorang pria yang harus ia patahkan malam ini.
"Dev, kau tampak seperti patung yang sedang mengutuk dunia. Berhenti bersikap kaku, ini pesta ulang tahun aliansi, bukan pemakaman," suara manja namun tajam itu membuyarkan lamunannya.
Gisell Anatasya Wijaya berdiri di sana, memegang gelas sampanye dengan keanggunan seorang ratu. Gaun emerald yang ia kenakan berkilau terkena cahaya lampu kristal, membalut tubuhnya yang menjadi incaran kamera media dan mata-mata pria di ruangan itu. Sebagai pewaris tunggal Kang Group dari Korea Selatan, Gisell adalah permata sekaligus target berjalan.
"Tugas saya adalah memastikan Anda tetap bernapas hingga pesta ini berakhir, Nona," jawab Dev tanpa menoleh. Suaranya rendah, dingin, dan tidak memiliki ruang untuk perdebatan.
Gisell mendengus, melangkah mendekat hingga aroma parfum vanilanya yang mahal memenuhi indra penciuman Dev. "Kau membosankan. Tapi aku akui, kau pengawal paling tampan yang pernah ayahku sewa. Sayang sekali hatimu terbuat dari batu."
Dev tidak menanggapi godaan itu. Matanya menyipit saat melihat sosok pria paruh baya bertubuh tambun masuk ke aula utama. Mr. Oh. Secara resmi, dia adalah Direktur Keuangan dari Li Group China. Namun, di dunia bawah yang Dev huni, Mr. Oh dikenal sebagai 'The Butcher', pimpinan sindikat mafia yang memasok senjata ilegal ke seluruh Asia Tenggara.
Tiba-tiba, jantung Dev berdenyut aneh. Ghost Reflex-nya mulai aktif. Di matanya, waktu seolah melambat sesaat. Ia bisa melihat garis tipis aura merah yang menguar dari tubuh Mr. Oh—sebuah tanda bahwa pria itu baru saja memerintahkan kematian seseorang hari ini.
"Nona, tetaplah di sini. Jangan bergerak lebih dari lima langkah dari balkon ini. Saya melihat potensi ancaman di area katering," ucap Dev bohong, namun dengan nada yang begitu meyakinkan.
"Lagi? Kau selalu paranoid, Dev. Pergilah, periksa sana. Aku akan di sini bersama segelas sampanye-ku," balas Gisell jengkel.
Dev membungkuk sedikit, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kerumunan tamu dengan gerakan sehalus hantu. Dia tidak pergi ke area katering. Dia mengikuti Mr. Oh yang baru saja memberi kode pada pengawalnya untuk tetap di luar saat ia memasuki lorong menuju toilet VIP yang terisolasi.
Langkah Dev tidak mengeluarkan suara. Sepatu kulitnya dirancang khusus untuk meredam bunyi di atas permukaan apa pun. Begitu pintu toilet VIP yang dilapisi emas itu tertutup, Dev sudah berdiri di belakang Mr. Oh yang sedang mencuci tangan di wastafel.
Mr. Oh melihat pantulan Dev di cermin. Matanya membelalak. Sebelum pria tua itu sempat berteriak, tangan Dev sudah membekap mulutnya dengan kain yang telah dibasahi cairan pelumpuh saraf.
BRAK!
Dev membenturkan kepala Mr. Oh ke dinding marmer dengan presisi yang mematikan—tidak cukup kuat untuk memecahkan tengkorak dan membuat noda darah berceceran, tapi cukup keras untuk membuat saraf motoriknya mati seketika.
"Kau menghancurkan tiga keluarga di Jakarta bulan lalu hanya untuk jalur distribusi narkobamu, Oh," bisik Dev tepat di telinga pria yang mulai lemas itu. Suara Dev tidak mengandung emosi, hanya ada keadilan yang dingin.
Mr. Oh mencoba meronta, namun cengkeraman tangan Dev seperti catut baja. Dev mengeluarkan sebuah jarum kecil berisi gelembung udara. Ia menyuntikkannya langsung ke pangkal leher Mr. Oh. Teknik ini akan menyebabkan emboli udara; Mr. Oh akan mati dalam beberapa menit dan diagnosa medis hanya akan menunjukkan satu hal: serangan jantung akibat tekanan darah tinggi dan kelelahan.
Tanpa jejak. Tanpa darah. Tanpa suara.
Dev membiarkan tubuh tambun itu merosot di lantai toilet dengan posisi terduduk, seolah-olah pria itu hanya sedang beristirahat. Ia merapikan kembali jasnya, memeriksa pantulan dirinya di cermin—tidak ada satu helai rambut pun yang berantakan—lalu keluar dari toilet dengan ketenangan yang mengerikan.
Ia kembali ke aula utama tepat saat alunan musik klasik berubah menjadi tempo yang lebih cepat. Dev berjalan melewati para diplomat dan pengusaha kaya yang sedang tertawa, sama sekali tidak menyadari bahwa salah satu dari mereka baru saja menjadi mayat.
"Cepat sekali," ujar Gisell saat Dev kembali berdiri di posisinya semula di balkon. "Mana ancamannya? Kau hanya ingin menghindar dariku, ya?"
"Area sudah steril, Nona. Hanya kesalahan teknis pada sistem alarm," jawab Dev datar.
Gisell menyipitkan mata, menatap wajah Dev dengan selidik. Ia menyadari sesuatu yang berbeda. Ada kilat kepuasan yang sangat tipis di mata gelap pria itu, sesuatu yang hanya muncul sesekali.
"Kau bau asap mawar," gumam Gisell pelan sambil mengendus udara di sekitar Dev. "Aneh sekali. Di sini tidak ada bunga mawar."
Dev tertegun sejenak. Ghost Reflex-nya tidak hanya memberinya kecepatan, tapi terkadang meninggalkan sisa bau kematian yang hanya bisa dicium oleh orang-orang dengan sensitivitas tinggi. Ia harus lebih berhati-hati.
"Mungkin parfum tamu lain, Nona," jawabnya tenang.
Tiba-tiba, suasana pesta pecah. Seorang pelayan berlari keluar dari lorong toilet dengan wajah pucat pasi. "Tolong! Mr. Oh... Mr. Oh pingsan! Panggil ambulans!"
Kekacauan meledak seketika. Para pengawal Keluarga Li berlarian menuju lorong, sementara para tamu mulai panik. Di tengah hiruk-pikuk itu, Dev tetap diam. Ia seperti batu karang di tengah badai.
Gisell tampak terkejut, tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan Dev. "Dev... Mr. Oh... bukankah dia baru saja masuk ke sana?"
"Dunia ini penuh dengan kejutan medis, Nona. Mari kita pergi. Suasana di sini sudah tidak kondusif untuk keamanan Anda," ucap Dev sambil menaruh tangannya di punggung Gisell, membimbingnya menuju lift pribadi dengan protektif.
Saat pintu lift tertutup, menghalangi suara teriakan dan kepanikan di luar, Dev melihat pantulan dirinya dan Gisell di dinding lift yang mengilap. Gisell tampak pucat dan ketakutan, sementara Dev berdiri di belakangnya seperti iblis penjaga yang baru saja menelan nyawa.
Satu target berhasil dieliminasi. Masih ada sebelas kepala lagi yang harus ia buru di tiga negara berbeda. Dan perjalanan ini baru saja dimulai.
"Dev," panggil Gisell pelan saat lift bergerak turun.
"Ya, Nona?"
"Tanganmu... terasa sangat dingin."
Dev menarik tangannya perlahan. "Itu karena saya tidak pernah membiarkan darah saya mendidih untuk hal-hal yang tidak perlu, Nona."
Gisell terdiam, menatap punggung tegap pengawalnya dengan perasaan campur aduk—antara rasa aman yang luar biasa dan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. Di bawah langit malam Jakarta yang berkabut, sang pemburu telah menyelesaikan tugas pertamanya, dan sang mangsa sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang berjalan berdampingan dengan maut.
"Dev kamu ganteng tapi kenapa dingin kaya es Batu"
"Bukan urusanmu, kan kamu yang ciptakan saya"
"Eh, eh dasar Bocah Gembleng"