

Minggu pagi yang cerah. Agus berjalan santai ke rumahnya Nina, mantan teman sekelasnya dulu di SMA. Dari senyumnya yang lebar, terlihat betul suasana hatinya sedang baik.
Di tangan Agus ada sebuah kado dengan pita merah jambu yang lucu. Di dalam kado itu ada tas Chanel tiruan seharga 1 juta rupiah.
Agus menguras hampir seluruh tabungannya untuk membeli tas ini. Dia ingin memberikan sesuatu yang istimewa pada Nina yang hari itu sedang berulang tahun.
Seperti halnya Agus, Nina akhirnya berusia 18 tahun. Itu artinya, kalaupun Agus mengajak Nina kencan dan mereka melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama, atas dasar suka sama suka, itu tak akan dilihat sebagai sebuah pelanggaran.
Desa Duso, kawasan tempat mereka tinggal, memang memiliki aturan sosial bahwa pemuda-pemudi di bawah 18 tahun dilarang melakukan hal-hal nakal seperti hubungan badan atau yang semacamnya.
Beda halnya kalau sudah sama-sama dianggap dewasa–18 tahun ke atas. Selama dilakukan atas dasar suka sama suka, tak ada hukum sosial yang bisa menjerat mereka, kecuali ada tindak kriminal yang terjadi saat aktivitas berlangsung.
Agus, seorang pemuda baik-baik, bahkan tak berpikir sampai sejauh itu. Setelah menyerahkan kado istimewa ini pada Nina dan Nina menerima ajakan kencannya nanti, dia hanya ingin mengajak Nina makan dan menghabiskan waktu sampai sore–atau malam.
Mungkin mereka akan berciuman, saling menyentuh satu sama lain, tapi hanya sampai di situ. Agus tidak terpikir untuk langsung mengajak Nina bercocok tanam.
Setelah berjalan kaki dari rumahnya selama hampir dua puluh menit, akhirnya Agus tiba juga di rumahnya Nina.
Dia baru saja akan memanggil Nina ketika dilihatnya sebuah sepeda motor terparkir di pekarangan rumahnya Nina. Dan Nina berdiri di dekat sepeda motor tersebut, sedang berciuman dengan seorang pria.
Langkah Agus langsung terhenti. Siapa pria itu? Sungguhkah Nina sedang berciuman dengannya? Saking syoknya dia, dia hanya bisa bergeming di tempatnya dengan mulut sedikit terbuka.
Matanya tertuju pada sepasang muda-mudi yang tengah berciuman itu, tanpa berkedip sekali pun.
Di satu titik, Nina yang akhirnya membuka matanya menyadari kehadiran Agus. Nina langsung berhenti berciuman dan sedikit mendorong pemuda itu.
Pemuda itu menoleh, menatap Agus dengan kesal. Agus mengenalnya. Dia adalah Rendi, ketua ekskul basket yang mengejar-ngejar Nina di SMA mereka dulu.
“Ngapain kamu di situ, Gus? Apa itu yang kamu bawa?” tanya Nina ketus.
Agus mengerjap-ngerjapkan mata, seperti tersadarkan dari lamunan. Dia kemudian melanjutkan langkahnya, mengangkat kado itu seperut.
Sebenarnya dia bingung apakah harus memberikan kado ulang tahun itu atau tidak, mengingat dia baru saja melihat Nina berciuman dengan Rendi. Dan itu bukan sekadar ciuman, tapi ciuman yang panas.
Tapi dia telah menggelontorkan satu juta rupiah untuk menyiapkan kado ini. Apa pun yang akan terjadi, dia putuskan untuk tetap memberikannya pada Nina.
“Anu… selamat ulang tahun, Nina. Ini… aku ada kado… buat kamu,” kata Agus setelah berdiri cukup dekat dengan Nina, menyodorkan kado di tangannya itu.
Bukan Nina yang mengambil kado itu, melainkan Rendi.
“Apa maksudnya ini, Gus? Kamu ngasih pacarku kado ultah tepat di hadapanku? Kamu minta dihajar?” tanya Rendi, sengak.
Agus menatap Rendi dan Nina bergantian. “Jadi… kalian… pacaran?”
“Iya, Gus. Kami pacaran,” jawab Nina.
“Kenapa memangnya kalau kami pacaran? Kok kamu kayak nggak terima gitu, Gus?” serang Rendi, mukanya nyolot.
Agus merasakan sesuatu menghantam dadanya. Sakit sekali.
Dulu sewaktu dia belum putus sekolah, dia kerap membantu Nina mengerjakan tugas-tugas di sekolah. Kadang dia juga mentraktir Nina di kantin.
Agus pikir, Nina melihatnya sebagai seseorang yang spesial. Itulah kenapa ketika dia harus putus sekolah karena masalah finansial, Nina terlihat sedih.
Setelah Agus putus sekolah mereka beberapa kali bertemu secara tak sengaja, dan Nina masih membalas sapaan dan senyumannya.
Ternyata dia salah paham.
“Itu kado buat aku, Gus?” tanya Nina, nada bicaranya ketus dan raut mukanya menunjukkan kalau dia terganggu.
“Emm… iya, Nin,” jawab Agus. “Ini isinya tas branded. KW sih, tapi kelihatannya oke, kok. Harganya juga lumayan.”
Rendi tergelak. Diputar-putarnya kado dari Agus itu di ujung jari tangannya, seakan-akan itu bola basket.
“Denger, Gus,” kata Rendi. “Kamu mungkin mikir Nina punya hati sama kamu makanya kamu bela-belain beli tas branded KW kayak yang kamu bilang barusan, tapi sayangnya kamu keliru. Kamu cuman halu, Gus. Nina nggak pernah punya hati sama kamu. Iya, kan, Nin?”
Rendi dan Agus serempak menoleh ke Nina. Nina mengangguk tanpa ragu.
“Maaf kalau aku bikin kamu salah paham, Gus. Kenyataannya, aku memang nggak pernah punya perasaan apa pun sama kamu.
“Kita memang pernah dekat dulu dan kamu sering bantu aku ngerjain tugas-tugas. Tapi itu nggak berarti aku menganggapmu spesial.
“Kita cuman teman, Gus. Aku harap kamu paham itu.
“Dan soal kado darimu ini… maaf, Gus, aku nggak bisa menerimanya. Kamu kasih aja ke orang lain.”
Tenang dan jelas. Itulah gaya bicara Nina. Tapi bagi Agus, setiap kata yang diucapkan Nina itu seperti bilah belati yang ditikam-tikamkan ke punggungnya, juga ke dadanya.
Apakah dia akan kehilangan 1 juta rupiah tanpa mendapatkan apa-apa? Tidak kencan dengan Nina, apalagi memiliki Nina sebagai pacarnya?
“Apa lagi yang kurang jelas, Gus?” tanya Rendi, melemparkan kado itu ke atas Agus seperti melempar bola basket. Kado itu jatuh di tanah beberapa meter di belakang Agus.
“Sana. Pergi dan ambil tas branded KW-mu itu. Itu pun kalau benar isi kado itu tas branded KW. Bisa aja kamu cuman asal ngomong.
“Orang miskin yatim-piatu kayak kamu, yang sampai harus putus sekolah karena nggak sanggup bayar biaya gedung, pasti bakal mikir seribu kali buat beli barang mahal yang nggak bakal kamu pakai sehari-hari. Iya, kan, Gus?”
Agus menatap Rendi sambil mengepalkan tangan. Sebenarnya yang dikatakan Rendi itu benar, tapi dia tak suka cara Rendi mengatakannya. Rendi seakan-akan menempatkan Agus di posisi yang sangat rendah, jauh di bawahnya.
“Apa maksudmu menatapku kayak gitu? Kamu mau berantem sama aku, Gus? Berani kamu?!”
Rendi maju, membusungkan dada dan mengangkat dagu.
Agus mundur dan balik badan. Bukan karena takut, tapi karena dia merasa tak ada gunanya juga dia berkelahi dengan Rendi. Toh kalaupun dia yang menang, pacarnya Nina tetaplah Rendi.
Agus membungkuk rendah dan mengambil kadonya, lalu pergi dengan langkah-langkah cepat. Dia mendengar Rendi tertawa-tawa dan mengejeknya, tapi dia tak peduli.
Tanpa menoleh, Agus berjalan pulang dengan muka memerah padam dan satu tangan terkepal.
Saat dia sudah hampir tiba di rumahnya, langkahnya terhenti karena seseorang memanggilnya.
Agus menoleh ke samping, mendapati Indah, tetangganya yang dulu adalah adik kelasnya, berjalan ke arahnya sambil membawa rantang.
“Kamu habis dari mana, Gus? Tadi aku ke rumahmu, tapi kamu nggak ada. Aku mau kasih ini,” kata Indah, mengangkat rantang di tangan kanannya itu.
Agus tahu, sebagaimana biasanya, isi rantang itu adalah makanan-makanan yang dimasak oleh Indah. Indah memang hobi memasak dan kerap meminta Agus mencoba masakannya.
Tapi bukan rantang itu yang kini menjadi perhatian Agus. Yang tanpa sadar terus dipandanginya selama beberapa detik, adalah tonjolan bulat di dada Indah. Seperti sepasang melon yang matang dan siap diambil.
Dan dikarenakan kaus ketat putih yang digunakan Indah berbahan tipis, Agus bisa melihat bra berwarna gelap yang menutupi dan menyangga melonnya Indah itu.
…