
Bayang Hitam Di Balik Kota
Arya20|Bersambung
- Jumlah kata
- 109.2K
- Popular
- 466
- Subscribe
- 39
- Jumlah kata
- 109.2K
- Popular
- 466
- Subscribe
- 39
Sinopsis
Di kota Metrapura yang tampak megah dan modern, tersembunyi luka lama yang tak pernah sembuh. Dua puluh tahun lalu, satu keluarga dibakar hidup-hidup di sebuah rumah tua yang kini berdiri sebagai pusat perbelanjaan mewah. Hanya satu anak yang selamat—Ardha, yang kala itu baru berusia 6 tahun. Dia dibungkam, diadopsi, dan identitasnya dihapus. Kini, Ardha telah tumbuh menjadi seorang pemuda biasa yang bekerja sebagai pengantar makanan malam hari. Tapi kota ini tidak pernah tidur. Dan dalam kegelapan gang-gang sempit dan lorong apartemen tua, Ardha mulai melihat dan mendengar sesuatu. Suara jeritan masa lalu. Sosok-sosok berwajah terbakar. Bisikan dendam. Saat roh keluarganya mulai menuntun jalan balas dendam, Ardha menyadari satu per satu: mereka yang membakar keluarganya masih hidup—dan mereka kini menjadi tokoh-tokoh penting di Metrapura. Tapi balas dendam tidak selalu berjalan lurus. Terkadang, iblis yang dilepaskan bukan lagi milikmu...
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:37
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
BAB 1
Hujan deras mengguyur kota Metrapura seperti ingin menghapus dosa-dosa yang tertanam di aspalnya. Di antara gedung tinggi dan lampu neon yang berkedip lelah, seorang pemuda berjaket hitam mendorong motornya ke trotoar. Ponsel di sakunya bergetar pesanan terakhir malam ini.
"Apartemen Kencana, Lantai 13, Unit 13B."
Ardha menatap layar, alisnya berkerut. Lantai 13? Bukankah sebagian besar gedung menghapus angka itu? Tapi dia lelah berdebat dengan logika. Uang tetaplah uang.
Gedung Kencana berdiri menjulang, tua tapi masih dihuni. Lorong-lorongnya lembap, bau kapur barus dan jamur bersatu. Ardha naik lift yang berderit, angka 13 menyala merah sejenak, lalu redup.
Saat pintu lift terbuka, lorong tampak kosong. Lampu temaram berkedip—satu… dua… tiga… lalu mati. Hening.
Ardha menelan ludah dan melangkah ke unit 13B. Ketukan pelan. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi.
Pintu terbuka sendiri—perlahan. Di dalam ruangan, gelap gulita. Ardha melangkah masuk.
"Pesanan makanan..." ucapnya pelan.
Tapi yang menyambutnya hanya suara bisikan lirih dari dalam lorong ruangan:
"Kamu kembali… akhirnya… anak api…"
Tubuh Ardha membeku. Tiba-tiba, matanya melihat bayangan di cermin besar—bayangan kecil seorang anak berdiri di belakangnya, wajahnya melepuh, terbakar…
Lampu menyala tiba-tiba. Ruangan kosong. Tak ada siapa-siapa. Tapi di lantai, kotak makanan telah terbuka. Dan di atas nasi, tertulis dengan darah:
"Mulai malam ini, kau akan melihat semuanya."
Ardha berlari keluar. Tapi saat dia menoleh ke belakang, pintu 13B tak lagi ada. Lorong itu hanya punya 12 pintu.
---
Ardha berdiri terpaku di lorong yang kini tampak lebih panjang dari sebelumnya. Di hadapannya, pintu 13B yang barusan terbuka kini menghilang. Lorong ini semakin terasa asing, seakan mengubah dirinya setiap detiknya. Pandangannya kabur, dan nafasnya terasa berat, namun dia harus segera keluar dari tempat itu.
Tapi saat langkahnya bergerak maju, suara langkah kaki lain terdengar—bukan langkahnya. Menghampiri dari belakang, semakin dekat, sampai rasanya ada tangan yang menyentuh bahunya. Ardha berbalik cepat, namun hanya melihat kosongnya lorong.
“Hanya halusinasi,” gumamnya sendiri, mencoba menenangkan diri. “Pasti hanya itu.”
Namun entah mengapa, dia merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada sesuatu yang mengawasinya.
Ardha melangkah cepat menuju lift, namun pintu lift tiba-tiba tertutup begitu dia hampir sampai. Dia mencoba menekan tombol berkali-kali, tapi tidak ada yang berubah. Wajahnya mulai memucat. Apa yang terjadi? Bukankah dia sudah menekan tombol lantai bawah?
Saat Ardha mengalihkan pandangannya ke pintu lift, dia melihatnya. Bayangan hitam, tampak jelas dan nyata di sudut ruangan, memandanginya. Sesosok pria berpakaian tua, dengan wajah yang sulit dikenali karena terbakar parah. Hanya ada dua mata yang menatapnya, kosong dan mengerikan.
“Jangan… Jangan lari…” bisik suara itu, suara yang sangat dalam, seakan berasal dari kedalaman tanah.
Ardha berlari, menekan tombol untuk membuka pintu lift, namun suara itu semakin dekat. Suara kaki yang terhenti tepat di belakangnya. “Kamu akan tahu siapa yang membakarmu…”
Pintu lift terbuka tiba-tiba, dan Ardha langsung masuk, berusaha menenangkan diri. Dia menekan tombol lantai dasar dan berharap segera keluar dari gedung ini. Namun, lift itu tidak bergerak. Waktu terasa berhenti. Saat dia menatap kembali, bayangan pria itu kini berdiri di dalam lift—menghadapnya, wajahnya terbalut luka bakar yang mengerikan.
“Kau tidak bisa lari, Ardha.”
Nama itu keluar dari mulut pria itu dengan cara yang tidak bisa dijelaskan—seperti sebuah kenangan lama yang terbangun dari tidur panjang.
Tiba-tiba, Ardha merasakan pusing yang hebat. Matanya berkunang-kunang, dan seakan dunia berputar. Ketika pandangannya kembali jernih, lift itu sudah berubah. Pintu kaca yang biasa kini digantikan dengan dinding batu kasar, dan suara-suara aneh mulai terdengar dari setiap sudut ruangan. Seakan ruang itu bukan lagi lift, tapi ruang penyiksaan yang sangat tua.
Ardha mencoba menahan napasnya, namun semakin lama, suasana semakin mencekam. Tangan Ardha menggigil, dan dia sadar… ini bukan halusinasi. Ini bukan permainan. Sesuatu telah terbangun dari kegelapan yang ia coba lupakan selama ini.
Namun, sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, suara itu kembali:
“Kamu tidak akan tahu siapa yang menciptakan kotamu sampai kamu tahu apa yang ada di bawahnya…”
Pintu lift tiba-tiba terbuka. Ardha hampir jatuh ketika dia melangkah keluar. Matanya membelalak—sebuah ruangan besar terbentang di depannya. Suasana gelap, tak ada satu pun cahaya yang masuk. Hanya suara detakan jam yang terputus-putus dan bau tanah lembap yang tercium dari bawah.
Saat Ardha melangkah maju, dia melihat ada sebuah tulisan di dinding.
“Selamat datang di tempatmu yang sebenarnya.”
Di bawahnya, ada tanda darah yang menyerupai api.
Ardha mulai memahami, semua ini adalah bagian dari suatu permainan yang lebih besar. Dan kini, dia harus berjuang untuk mengetahui siapa yang sebenarnya menyalakan api itu dan mengapa dia yang harus menanggung semua penderitaan ini.
---
Ardha tidak tahu berapa lama dia berdiri terpaku di depan dinding itu. Waktu seakan tidak lagi berarti. Namun, rasa takut yang menggerogoti dirinya mendorongnya untuk melangkah lebih jauh, masuk lebih dalam ke dalam ruang gelap yang tampaknya tidak pernah berakhir. Setiap langkahnya menggema, seakan setiap suara yang dia buat mengundang kehadiran yang tidak terlihat.
Di dalam ruangan itu, dia merasakan sesuatu yang asing. Tanah di bawahnya basah, dan udara terasa berat. Seolah-olah ada sesuatu yang mengamati setiap gerakannya, menunggu dia melakukan kesalahan sekecil apa pun.
“Tidak ada yang bisa keluar dari sini.”
Tiba-tiba, suara itu kembali—lembut namun penuh ancaman, berasal dari sudut yang tak terlihat. Ardha menoleh cepat, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Semua pintu tertutup rapat, dan ruang itu seakan berubah lagi, semakin luas. Sekarang, tidak hanya ada satu bayangan hitam yang mengikutinya, tetapi banyak. Mereka bergerak perlahan di antara bayang-bayang gelap, seolah menunggu saat yang tepat untuk menyerangnya.
Ardha melangkah mundur. Jantungnya berdebar kencang. “Aku harus keluar dari sini. Aku harus keluar.”
Namun, semakin dia berusaha mundur, semakin banyak bayangan itu. Mereka semakin dekat, tubuh mereka tampak terbuat dari kabut hitam yang membeku, namun jelas terasa berat dan menekan. Seolah mereka siap menelan dirinya.
Lalu, dalam kegelapan yang pekat itu, sebuah suara terdengar lagi, lebih dekat dari sebelumnya, hampir di telinga Ardha.
“Kami tidak bisa mati.”
Keringat dingin menetes di dahi Ardha. Ia menoleh ke kanan, dan di sana, di ujung lorong yang semakin gelap, berdiri seorang pria. Sosok itu tampak mengenakan pakaian yang sangat tua, wajahnya penuh dengan luka bakar yang menyerupai api yang membakar tubuhnya. Tapi matanya—matanya tidak bisa dilupakan. Mata yang seolah mengingatkan pada sesuatu yang sangat dalam, sesuatu yang Ardha kenal.
“Siapa kamu?” suara Ardha hampir tak terdengar.
Pria itu hanya berdiri diam, wajahnya berubah menjadi senyuman yang sangat tidak manusiawi. “Kami adalah masa lalu kota ini, Ardha. Kamu tidak bisa melarikan diri dari apa yang sudah terjadi.”
Tiba-tiba, bayangan itu menghilang, begitu cepat seakan ditelan oleh kegelapan. Hanya ada kesunyian yang sangat berat, dan udara terasa semakin dingin.
Ardha merasa kakinya lemas, namun dia tahu dia harus terus maju. Tanpa pikir panjang, dia melangkah lebih dalam, mengikuti lorong gelap yang tampaknya tidak ada ujungnya. Dalam perjalanannya, semakin banyak bayangan yang muncul, mengintai di setiap sudut, dan setiap langkah Ardha seolah semakin mempercepat detak jantungnya.
Tiba-tiba, sebuah cahaya menyala dari balik salah satu dinding. Ardha berlari menuju cahaya itu, berharap menemukan jalan keluar. Begitu dia sampai, dinding itu terbuka dengan suara berderit yang mencekam. Di baliknya, ada sebuah ruangan besar, namun tidak seperti yang dia kira.
Di tengah ruangan itu, ada sebuah meja kayu tua yang dipenuhi dengan gambar-gambar—gambar wajah-wajah yang terbakar, sosok-sosok yang seakan mengenalnya. Di tengah meja itu, terdapat sebuah foto. Foto yang sangat familier. Itu adalah foto keluarganya foto yang sudah lama hilang, yang seharusnya tidak pernah ada.
“Kamu sudah tahu siapa kami, Ardha.” Suara itu kembali, kali ini lebih nyata.
Ardha mendekati meja itu, mengangkat foto yang terbaring di atas kayu. Di belakangnya, sebuah tulisan kecil muncul, ditulis dengan darah:
"Mereka yang membakar kalian, kini menguasai kota ini. Dan kamu akan menjadi bagian dari mereka."
Ardha terdiam. Sekarang semuanya mulai masuk akal. Bayangan hitam yang terus mengikutinya bukanlah sekadar halusinasi—mereka adalah bagian dari masa lalu yang terlupakan, bagian dari kota ini yang ingin dia sembunyikan.
Tetapi lebih dari itu, mereka menginginkan balas dendam. Dan Ardha tahu bahwa dirinya adalah bagian dari teka-teki itu meskipun dia belum tahu sepenuhnya bagaimana dan mengapa.
Dengan tangan gemetar, Ardha menyentuh foto itu, berharap bisa mencari jawaban yang lebih besar dari apa yang ada di sekitarnya.
Namun, suara yang terdengar berikutnya membuatnya terlonjak.
“Kamu akan menemui kami lagi, Ardha. Di tempat yang jauh lebih gelap.”
Ardha menarik napas dalam-dalam dan berbalik, siap menghadapi apa pun yang akan datang. Tapi saat dia melangkah keluar dari ruangan itu, dia sadar satu hal: jalan keluar tidak selalu memberi kebebasan. Kadang, itu hanya membawa kita lebih dalam ke dalam kegelapan yang lebih besar.
Bersambung....
Daftar bab
79 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








