Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DARAH HARIMAU DARI LERENG WARINGIN

DARAH HARIMAU DARI LERENG WARINGIN

Jenar | Tamat
Jumlah kata
172.7K
Popular
576
Subscribe
119
Novel / DARAH HARIMAU DARI LERENG WARINGIN
DARAH HARIMAU DARI LERENG WARINGIN

DARAH HARIMAU DARI LERENG WARINGIN

Jenar| Tamat
Jumlah Kata
172.7K
Popular
576
Subscribe
119
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSupernaturalPewarisUrban
Sinopsis: Ardan, seorang pemuda dari Jakarta, pulang ke kampung halaman ibunya di Desa Waringin setelah sang ibu meninggal secara misterius. Ia berniat tinggal sementara untuk menenangkan diri. Namun, serangkaian kejadian ganjil terjadi — suara auman tengah malam, bangkai hewan ternoda darah, dan mimpi-mimpi tentang hutan gelap dan mata bercahaya. Ardan kemudian mengetahui bahwa ia adalah keturunan terakhir dari Garuda Macan, leluhur manusia harimau yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan roh alam. Namun, garis keturunan itu sudah dicemari oleh pengkhianatan leluhur yang menikahi wanita dari klan musuh: Klan Singa Langit, para manusia yang memanipulasi roh untuk kekuasaan. Di sisi lain, Ratri — gadis desa yang misterius dan menjadi penunjuk jalan Ardan — ternyata memiliki rahasia kelam. Ia adalah keturunan terakhir dari Singa Langit, dan sejak kecil sudah disiapkan untuk membunuh Ardan sebelum kekuatan Garuda Macan dalam dirinya bangkit. Namun saat cinta tumbuh di antara mereka, takdir menjadi rumit. Perang dua klan kuno kembali bergulir, roh-roh purba dibangkitkan, dan Ardan harus memilih: menghabisi wanita yang dicintainya demi menghentikan kutukan, atau membiarkan dunia manusia binasa oleh amarah leluhur.
Bab 1 : Pulang yang Tak Pernah Sama

Judul Novel: DARAH HARIMAU DARI LERENG WARINGIN

---

Langit di atas Desa Waringin menggelap lebih cepat dari biasanya. Awan tebal menggantung rendah, seolah siap menumpahkan seluruh bebannya ke bumi. Di kejauhan, deru petir menyambar, memecah keheningan sore yang suram.

Sebuah mobil tua berwarna abu-abu dengan cat yang mulai mengelupas menyusuri jalan tanah merah yang licin oleh sisa hujan. Ban mobil beberapa kali tergelincir, membuat pengemudinya menggertakkan gigi. Di dalamnya duduk seorang pria muda berusia sekitar dua puluh empat tahun, dengan sorot mata keras dan raut wajah tegas.

Ardan Wiratma.

Rambutnya basah oleh keringat, meski udara di luar cukup dingin. Jari-jarinya menggenggam kuat kemudi, buku-bukunya memutih. Matanya tak lepas dari jalan di depan, tapi sesekali melirik ke luar jendela, ke hutan lebat yang menyelimuti sisi kiri dan kanan jalan. Hutan itu tidak biasa. Terlalu sunyi. Terlalu gelap. Terlalu hidup.

Ardan menarik napas panjang. "Kampung sialan ini, kenapa aku kembali?" gumamnya, setengah mengutuk dirinya sendiri.

Desa Waringin adalah tempat kelahiran ibunya. Tempat yang selalu dihindari selama hidup wanita itu. Ardan tidak pernah paham alasannya, hanya tahu satu pesan: "Jangan pernah kembali ke Waringin, Dan. Tidak ada yang baik di sana. Tidak untuk kita."

Namun kenyataan tidak memberi pilihan. Tiga minggu lalu, polisi mengabari bahwa ibunya ditemukan meninggal di belakang rumah tua peninggalan keluarga mereka. Mayatnya tergeletak membiru, dengan bekas luka dalam di leher, seperti dicakar hewan buas.

“Diserang macan,” kata polisi.

Ardan tidak percaya.

Mobil berhenti di depan rumah tua itu. Bangunannya masih kokoh, tapi jelas menua. Cat tembok luar mengelupas, atapnya ditumbuhi lumut, dan pagar kayu reyotnya berderit saat ia dorong. Aroma tanah basah bercampur kayu lapuk langsung menyeruak.

Ia berdiri sejenak di depan rumah. Matanya menyapu bangunan itu, mencoba menahan gelombang kenangan yang berdesak-desakan. Waktu kecil, ia pernah berlari di pelataran itu. Pernah memeluk ibunya di bawah pohon beringin tua yang masih berdiri di samping rumah.

Kini, rumah itu seperti menatapnya balik. Menyimpan rahasia.

Dengan langkah berat, Ardan membuka pintu depan. Engsel pintunya menjerit pelan, suara khas yang menggores udara hening. Ia masuk, aroma debu dan kayu tua langsung menyergap. Rumah itu gelap, hanya diterangi cahaya petir sesekali yang menyusup lewat jendela.

Ia menyulut petromaks di sudut ruang tengah. Cahaya kuning berkelap-kelip menari di dinding, membentuk bayangan panjang benda-benda di sekitarnya. Foto-foto lama tergantung di dinding, termasuk satu foto besar di tengah: ibunya, muda dan cantik, mengenakan kebaya dan senyum lelah.

Ardan melangkah pelan, memandangi foto itu. Tatapan ibunya di foto seolah sedang memperingatkan sesuatu. Ia menghela napas, lalu duduk di kursi rotan tua. Kursi itu mengeluarkan bunyi berderak saat tubuh kekarnya bersandar.

Di luar, suara auman panjang menggema dari arah hutan. Bukan suara anjing. Bukan juga suara macan seperti di kebun binatang. Ada sesuatu yang lain. Lebih dalam. Lebih tua. Lebih liar.

Ardan berdiri spontan. Instingnya sebagai pria yang tumbuh di kerasnya Jakarta langsung aktif. Ia membuka ransel dan mengeluarkan pisau lipat baja. Tidak besar, tapi cukup tajam untuk bertahan.

Dentang ketukan tiba-tiba di pintu membuatnya tersentak. Tiga kali. Pelan. Teratur. Bukan seperti orang panik atau warga yang kebetulan lewat. Lebih seperti... seseorang yang sudah tahu dia ada di sini.

Dengan hati-hati, ia melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.

Seorang gadis berdiri di bawah gerimis yang mulai turun. Ia memegang payung bambu dan mengenakan kebaya modern berwarna gelap. Wajahnya tenang, tapi matanya, ada sesuatu di sana. Seperti danau tenang yang menyimpan bangkai di dasarnya.

“Kamu Ardan?” suaranya tenang tapi tegas.

Ardan mengernyit, menahan keraguan. “Iya. Siapa kamu?”

“Aku Ratri. Ibu saya yang mengurus jenazah ibumu. Ki Wira memintaku datang menemui kamu.”

“Ki Wira?” Ardan mengingat nama itu samar-samar. Tetua desa. Dukun tua yang konon katanya bisa bicara dengan roh.

“Kita bicara di dalam saja,” kata Ratri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu izin, seolah rumah itu bukan milik Ardan.

Ratri duduk di kursi kayu dengan gerakan anggun tapi pasti. Ia tidak memandang sekeliling, seolah sudah mengenal rumah ini lebih baik dari Ardan sendiri. Tangannya yang dingin menyeka air hujan dari pipinya, lalu menatap lurus ke mata Ardan.

“Ibumu tidak mati karena serangan binatang biasa,” katanya datar.

Ardan tak terkejut. Ia justru merasa lega mendengarnya dari orang lain.

“Aku tahu,” jawabnya lirih.

“Dia diburu.”

“Siapa?”

“Bukan siapa. Tapi apa.” Ratri menunduk sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan, “Kamu... anak dari Garuda Macan.”

Ardan menegang. Napasnya tercekat, jari-jarinya secara refleks menggenggam kuat gagang kursi.

“Garuda Macan? Apaan itu?”

Ratri menatapnya tajam. “Leluhurmu. Dia bukan manusia biasa. Separuh manusia, separuh harimau. Penjaga antara dunia roh dan manusia. Keturunannya sedikit... tapi setiap generasi, satu akan mewarisi kekuatannya. Dan kamu adalah pewaris terakhir.”

“Omong kosong,” Ardan menggeleng. “Aku orang Jakarta. Aku kuliah, kerja, bayar pajak. Aku bukan makhluk mitos.”

“Kamu sudah dengar auman itu, kan?” Ratri berdiri pelan, mendekat. “Malam ini malam purnama pertama dari tiga malam suci. Darahmu akan mulai bangkit. Kekuatan itu akan muncul. Dan semua yang membencinya akan memburumu.”

Tiba-tiba, dari luar rumah terdengar suara gemeretak di antara dedaunan. Seperti kaki—besar, berat, dan lebih dari satu pasang. Ardan melirik ke jendela, tapi hanya melihat bayangan kabur yang melintas cepat.

“Kalau kamu bertahan di sini, kamu akan mati. Tapi kalau kamu pergi tanpa belajar mengendalikannya... kamu akan membunuh orang-orang yang kamu sayangi,” bisik Ratri.

Ardan hanya bisa berdiri membeku, tubuhnya gemetar ringan. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu, jauh di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang buas. Yang lapar.

Dan dari dalam hutan, dua pasang mata merah menyala mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

---

Suara itu datang lagi—gemeretak ranting, desiran cepat seperti sesuatu yang besar sedang merayap di antara semak dan batang pohon. Ardan mematung, mata menatap jendela kayu yang kini hanya dibatasi tirai tipis dan kaca buram. Hatinya berdegup cepat, tidak beraturan, seolah mencoba mengingatkan bahwa malam ini tidak akan seperti malam biasa.

Ratri berdiri tegak di tengah ruangan. Matanya tak berkedip, menatap ke luar, namun wajahnya tak menunjukkan kepanikan. Hanya ketegangan terkontrol. Jari-jarinya meremas gagang payung bambu yang masih basah, sementara satu tangan lainnya bergerak pelan menyentuh liontin kecil di lehernya—berbentuk kepala harimau dari tembaga, matanya disematkan batu akik merah tua.

“Duduk,” bisiknya pendek.

Ardan menoleh cepat. “Apa?”

“Duduk! Jangan gerak .... Dengarkan. Itu bukan binatang biasa. Mereka mencium darahmu.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca