
- Jumlah kata
- 32.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 22
Sinopsis
Kecelakaan maut nyaris saja merenggut nyawa Indra. Tak disangka, pemuda badung yang merupakan anggota geng motor itu mendadak terbangun dari mati suri sambil membawa anugerah yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia dapat melihat makhluk gaib! Dari kejadian di luar nalar itu, Indra sering paranoid. Melihat dan mendengar sesuatu yang tak bisa dilihat banyak orang, justru membuatnya seperti pemuda gangguan jiwa. Kendati demikian, kepanikannya itu dapat diredam oleh Jayadi, teman satu kampusnya yang gemar berjudi. Pemuda itu dengan senang hati mengarahkan Indra dalam menggunakan anugerahnya. Hingga suatu ketika, berbagai kejadian di luar nalar muncul di sekitar mereka. Mulai dari berurusan dengan berbagai macam masalah yang ditimbulkan oleh makhluk gaib, sampai memecahkan misteri yang belum pernah mereka duga. Dapatkah dua pemuda dengan keistimewaan itu dapat menyelesaikan setiap masalah gaib? Atau justru terjebak dalam pergulatan mistis yang membuat mereka sulit kembali ke alam manusia?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Kecelakaan Maut
Indra memacu kuda besinya membelah jalanan malam yang sunyi. Embusan angin begitu ganas menerpa wajahnya seiring dengan kecepatan motor yang ia kendarai. Di belakang Indra, ada Roy dan Jhonny yang sama-sama menggeber motor sport. Keduanya tak mau kalah dari si pemenang balapan liar yang kerap menjuarai taruhan itu.
Tak ingin disalip oleh dua lawannya, Indra semakin mempercepat laju motornya. Matanya memandang lurus ke depan, memastikan kemenangan diraihnya sebentar lagi. Hadiah taruhan berupa seorang gadis cantik dan obat-obatan terlarang, begitu menggiurkan bagi pemuda yang haus akan pembuktian diri.
Namun, siapa sangka, sebuah truk pengangkut barang muncul di depan Indra. Pemuda itu seketika terperangah bukan main. Tangannya mendadak kaku untuk membelokkan stang motor. Dalam sekejap, kedua kendaraan itu pun saling bertabrakan dan ....
BRAK!
Indra terpelanting jauh ke jalanan hingga helm-nya terlepas. Roy dan Jhonny seketika memperlambat laju kendaraan, tersentak memandang kejadian tragis di depan mereka. Mata kedua pemuda itu terbelalak lebar mendapati motor lawannya remuk dan tubuh Indra yang terkapar di jalan bersimbah darah.
"Bro, mending kita balik aja, yuk! Bisa gawat nanti kalau kita ditanyai polisi," ajak Jhonny.
"Ayo!" sahut Roy.
Kedua pemuda itu berbalik arah, kembali ke awal mereka memulai balapan. Para pembalap di belakang mereka pun ikut putar balik, tak mau berurusan dengan kecelakaan yang telah menimpa Indra.
Sementara itu, sopir truk terperangah mendapati seorang pemuda sudah terkapar di jalan. Ia mendadak panik, lalu turun dari kendaraannya untuk mencari pertolongan warga sekitar. Beruntung, tak jauh dari lokasi kecelakaan, terdapat warung kecil-kecilan.
"Pak, Pak!" panggil si sopir menepuk lengan si penjaga warung yang baru saja terlelap. "Pak!"
Seketika si penjaga warung yang merupakan pria berusia lima puluhan terperanjat mendengar seseorang memanggilnya. Ia mengucek matanya sebentar, lalu menatap si sopir truk yang wajahnya sudah tak karuan.
"Mau beli apa, Tong?" tanya si penjaga warung.
"Pak, itu ... itu ... di sana! Ada anak muda yang sudah terkapar nggak bernyawa!" ungkap si sopir sembari menunjuk ke arah jalanan.
Pria paruh baya itu terhenyak, kemudian bergegas keluar dari warung kecil-kecilan miliknya. Bersama si sopir, ia mendatangi lokasi kejadian. Si penjaga warung terbelalak dengan mulut menganga mendapati darah begitu deras mengucur dari kepala Indra.
"Astaghfirullah! Gimana ini bisa terjadi?" tanya si penjaga warung menoleh pada sopir truk.
"Saya juga nggak tau, Pak. Tiba-tiba motor ini anak muncul di depan saya. Sebenarnya saya udah mencoba menghindar, tapi entah kenapa itu motor langsung nabrak truk saya gitu aja," jelas sopir truk itu.
"Ya sudah, saya panggilin warga dulu, ya. Elu pastiin kagak ada kendaraan lain yang ngelindes ini bocah," ujar pria paruh baya itu, kemudian berlalu dari si sopir.
Sopir truk mengangguk takzim, lalu mengalihkan perhatiannya pada pemuda yang terkapar tak jauh dari truk. Tatapan matanya menyiratkan keprihatinan pada Indra hingga menumbuhkan penyesalan di dada pria itu.
"Malang bener nasib lu, Tong," desah si sopir sembari berkacak pinggang dan menggeleng pelan.
Cukup lama menunggu, satu per satu warga sekitar bermunculan. Beberapa dari mereka membawa lembaran koran, lalu menutupi tubuh Indra dengan benda itu.
Penduduk sekitar mulai berkerumun melihat jasad Indra yang telah ditutup koran itu. Pandangan mereka bermacam-macam. Ada yang miris, iba, bahkan antusias merekam kejadian mengenaskan tengah malam itu dan mengunggahnya ke sosial media.
Setelah beberapa menit berselang, terdengar suara sirene mobil kepolisian dan ambulans kian mendekat. Aparat penegak hukum langsung membawa si sopir truk untuk dimintai keterangan, sedangkan tenaga kesehatan segera mengevakuasi jenazah pemuda yang merupakan korban tabrakan.
Sementara itu, di kontrakan petak, Jayadi yang merupakan teman sekampus Indra, terkesiap mendapati berita mencengangkan di ponselnya saat sibuk bermain slot. Pemuda dengan rambut dicat cokelat terang itu membelalakkan mata ketika menatap potret temannya dan membaca kilas berita yang muncul di media sosial.
"Indra Saputra? Bukannya dia anak fakultas teknik yang sering nongkrong bareng gue? Ngapain mati di tengah jalan? Seinget gue, itu orang ajalnya masih belum deket-deket amat dah," gumam Jayadi mengernyitkan kening sambil menggaruk belakang kepalanya.
Di tengah keheranannya, muncul pesan masuk di ponsel Jayadi. Kebanyakan dari pesan itu mengabarkan mengenai kecelakaan yang dialami Indra, sampai rumah sakit tempat pemuda itu diautopsi.
Setelah mengetahui lokasi rumah sakit tempat jenazah Indra dievakuasi, Jayadi bergegas mengambil jaket dan mengenakannya. Pemuda itu tergesa-gesa membuka pintu, hingga dipergoki oleh kakak perempuannya yang terbangun gara-gara mendengar suara gaduh.
"Yadi, mau ke mana lo malam-malam begini?" tanya perempuan berusia dua puluh empat tahun bernama Karmina itu. Matanya menyipit, menatap heran akan kepergian sang adik.
"Gue mau ketemu sama temen dulu, Mpok," jawab Jayadi bergegas keluar. "Jangan banyak tanya, Mpok! Gue lagi buru-buru!"
Pintu pun ditutup dengan keras oleh Jayadi sampai membuat kakaknya terperanjat.
"Cih ... Siapa juga yang mau nanyain lu?" ketus Karmina, lalu berbaring lagi.
Di sisi lain, pihak keluarga korban dikabari oleh pihak kepolisian mengenai kecelakaan mengenaskan yang melenyapkan nyawa Indra. Bu Atikah dan Pak Albi yang merupakan orang tua Indra, tampak syok mendengar kabar buruk itu. Dada Bu Atikah seketika terasa sesak mengetahui putra semata wayangnya telah tiada. Tubuh wanita itu luruh ke lantai hingga air matanya jatuh meluapkan kesedihan bercampur rasa kehilangan.
Pak Albi yang melihat ketidakberdayaan istrinya, berusaha tetap tegar dan mendekap Bu Atikah. Pasangan suami istri itu saling berpelukan, mencurahkan kesedihan atas meninggalnya putra tunggal kesayangan mereka.
Tangisan mereka yang nyaring, membuat Bi Sukma terbangun. Perempuan lumpuh itu keluar dari kamarnya menggunakan kursi roda, menghampiri kakak dan kakak iparnya di tengah rumah.
"Apa yang terjadi, Teh?" tanya perempuan berkulit putih pucat itu memandang heran pada Bu Atikah dan Pak Albi.
"Indra, Sukma ... Indra mengalami kecelakaan tabrakan. Nyawanya nggak bisa tertolong lagi," jelas Pak Albi menatap Sukma sambil berderai air mata.
Perempuan lumpuh itu tertegun mendengar perkataan kakak iparnya. Sejenak, ia mengernyitkan kening, lalu mengalihkan pandangan ke potret keluarga berukuran besar yang dipasang di ruang depan. Bi Sukma menghela napas panjang dan menggeleng pelan. Tak ada satu tetes air mata pun yang jatuh ke pipinya.
Menyadari adiknya tak memberikan reaksi apa pun, Bu Atikah berdiri sembari mengusap air mata di pipinya. "Ada apa, Sukma? Kenapa kamu justru diam begitu?"
Sukma menatap kakaknya, seraya bertanya, "Teteh serius kalau Indra meninggal?"
"Kenapa kamu meragukan kabar ini? Kami ditelepon langsung sama polisi kalau Indra, keluarga kita, meninggal karena kecelakaan. Sekarang kita harus segera ke Jakarta untuk menjemput jenazahnya," tutur Pak Albi menghampiri adik iparnya dengan dahi berkerut.
Bi Sukma termenung sejenak, memikirkan rasa tidak percaya akan kejadian yang menewaskan keponakannya. "Indra meninggal? Mustahil," gumamnya.
Daftar bab
27 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








