

Bagian 1: Hari Biasa dan Mimpi yang Menggelisahkan
Suara alarm berbunyi nyaring, memecah keheningan pagi di kamar Kaito. Dengan mata setengah tertutup, ia meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya dan mematikan alarm itu dengan gerakan malas. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi ia tahu waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Seperti biasa, tubuhnya bangkit secara otomatis, didorong oleh rutinitas yang telah tertanam sejak lama.
Kaito adalah murid SMA biasa yang hidup di kota metropolitan yang tak pernah tidur. Ia tinggal sendirian di apartemen kecil warisan pamannya. Di sekolah, dia tak menonjol, meski punya fisik yang kuat dan semangat baja. Hanya satu hal yang membuatnya berbeda dari siswa lain: tinju. Ia adalah anggota aktif klub tinju di sekolah, dan sudah bertahun-tahun bercita-cita menjadi petinju profesional. Tapi sejak kekalahannya di turnamen regional tiga minggu lalu, semangat itu mulai meredup.
Pagi itu, seperti biasa, Kaito mengenakan pakaian olahraga dan pergi ke pusat pelatihan tinju. Kepalan tangannya terus bergerak, memukul samsak demi samsak, mencoba melupakan satu hal yang terus menghantuinya: mimpi aneh yang selalu datang setiap malam.
Mimpi itu selalu sama. Ia berdiri di atas padang luas yang dipenuhi reruntuhan. Langitnya merah darah, dan angin membawa bisikan yang tak bisa ia pahami. Di kejauhan, bayangan raksasa tampak berkeliaran, dan dari balik kabut, sesosok wanita berambut putih selalu memanggil namanya. “Kaito… datanglah… waktumu telah tiba…”
Ia selalu terbangun dengan keringat dingin, jantung berdebar, dan perasaan tak nyaman yang sulit dijelaskan. Awalnya ia menganggap itu hanya mimpi biasa, tapi semakin lama, mimpi itu terasa begitu nyata. Terlalu nyata.
Di ruang latihan, pelatihnya, Pak Daisuke, memperhatikannya dari kejauhan. “Kaito! Fokus! Kau membiarkan kepalanmu terlalu terbuka!” teriaknya.
Kaito menghentikan gerakannya dan mengusap keringat di dahinya. “Maaf, Pak. Aku hanya sedikit... kurang tidur.”
“Masih mimpi itu?” tanya Pak Daisuke dengan nada serius.
Kaito hanya mengangguk pelan. Ia pernah menceritakan mimpi itu secara sambil lalu, tak berharap pelatihnya akan menganggap serius. Tapi tampaknya, Pak Daisuke mengingatnya lebih baik dari yang ia kira.
“Kadang-kadang, mimpi membawa pesan,” kata Pak Daisuke sambil memandang keluar jendela. “Atau mungkin itu hanya tekanan dari kekalahanmu.”
Kaito menggeleng. “Aku nggak tahu, Pak. Rasanya seperti… aku dipanggil. Seolah ada sesuatu di sana yang benar-benar menungguku.”
Sore harinya, setelah latihan selesai dan langit mulai gelap, Kaito berjalan pulang menyusuri gang-gang kota. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan membawa tas olahraga di pundaknya. Lampu jalan berkedip-kedip, dan suara kendaraan terdengar seperti gema jauh.
Angin berhembus pelan, membawa aroma hujan yang akan datang. Kaito menatap langit. Awan-awan kelabu bergerak lambat, seperti menutup tabir antara dunia nyata dan mimpi.
Ia menghela napas panjang. Dunia ini terasa begitu berat. Kekalahan, mimpi, dan rasa kosong yang tak bisa ia pahami. Tapi entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Ada ketegangan aneh di udara, dan bayangan dari mimpinya terasa semakin dekat—seolah menunggu di tikungan jalan berikutnya.
Dan tanpa ia sadari, langit mulai berubah warna… dan sesuatu yang tak masuk akal tengah mendekat.
---
Bagian 2: Terhisap ke Dunia Isekai
Langkah kaki Kaito terhenti saat angin yang semula lembut berubah menjadi pusaran. Seperti badai kecil yang lahir tiba-tiba, dedaunan beterbangan dan udara di sekitarnya menjadi berat, seolah mengandung muatan listrik. Jalanan yang biasanya sepi saat malam kini sunyi mencekam—tak ada suara kendaraan, tak ada langkah orang lain. Hening.
Di depan, di tengah persimpangan yang diterangi lampu jalan temaram, muncul retakan di udara. Bukan halusinasi. Retakan itu seperti celah kaca yang pecah dalam ruang kosong, membentuk lingkaran yang perlahan melebar, memancarkan cahaya biru kehijauan yang menyilaukan. Detak jantung Kaito berpacu liar.
"Apa... itu?" bisiknya, langkah mundurnya tak terkoordinasi.
Namun sebelum ia bisa berbalik dan melarikan diri, portal itu terbuka sepenuhnya—membentuk pusaran cahaya yang mengisap udara, debu, dan... dirinya.
"Kuh—!"
Tubuh Kaito terangkat tanpa ampun, seperti boneka ringan yang ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Ia berusaha meraih tiang lampu di sampingnya, tapi tangannya hanya menyentuh angin. Suara angin mendesing begitu keras hingga menenggelamkan teriakannya.
Lalu segalanya menjadi putih.
**
Saat Kaito membuka matanya, ia menyadari bahwa ia tak lagi di jalan kota yang dikenalnya. Di sekelilingnya, hamparan rumput hijau membentang luas, ditiup angin yang sejuk dan membawa aroma bunga liar. Langit biru jernih membentang tanpa batas, dihiasi dua matahari yang bersinar berdampingan.
Ia terduduk, matanya membelalak. “Ini... mimpi?” gumamnya sambil mencubit lengannya sendiri. Rasa sakitnya nyata.
Ia berdiri perlahan, matanya menyapu pemandangan yang asing namun luar biasa indah. Di kejauhan, tampak pegunungan menjulang, dan tak jauh dari situ, hutan lebat dengan pepohonan tinggi berwarna kehijauan tua. Dunia ini terasa seperti lukisan fantasi yang hidup.
Kaito masih mengenakan pakaian latihannya, lengkap dengan sarung tinju tergantung di pinggangnya. Tapi di sini, semua terasa ringan... bahkan udara yang ia hirup begitu bersih dan penuh energi.
Tiba-tiba, gemuruh terdengar dari belakangnya.
Seekor makhluk besar berkulit merah dan bertanduk dua berlari menerobos semak-semak. Mata kuningnya menatap Kaito penuh amarah, dan air liur menetes dari taring tajamnya. Makhluk itu seperti gabungan antara banteng dan gorila, dan ukurannya hampir dua kali tubuh manusia biasa.
"Serius? Baru nyampe, udah disambut beginian?!"
Kaito refleks mengambil sikap bertarung, namun otaknya menjerit panik. Ini bukan lawan tinju manusia. Ini—monster!
Makhluk itu melompat ke arahnya, dan ia menghindar secepat mungkin. Tanah tempatnya berdiri barusan langsung berlubang dihantam cakar monster tersebut.
Tanpa pikir panjang, Kaito menyerang. Tinju kanannya menghantam rahang makhluk itu—keras dan presisi. Tapi alih-alih roboh, makhluk itu hanya terdorong sedikit, lalu mengaum marah.
"Seranganku... nggak cukup?"
Kaito mundur, napasnya memburu. Ini bukan pertandingan. Ini pertarungan hidup dan mati. Tapi sebelum makhluk itu kembali menyerang, suara keras membelah udara.
“Lahar Ignis!”
Seketika, bola api besar meluncur dari kejauhan dan menghantam makhluk tersebut, meledakkannya hingga terlempar ke udara dan jatuh tak bergerak.
Kaito terpaku. Api barusan... itu sihir?
Dari balik pepohonan, muncul sosok pria tua berjubah panjang berwarna biru gelap. Janggut putihnya menjuntai hingga dada, dan matanya memancarkan ketenangan yang aneh.
"Selamat datang, Kaito," ucapnya pelan, namun penuh wibawa. "Akhirnya kau tiba."
Kaito tertegun. “Kau… siapa?”
Pria itu tersenyum, matanya bersinar lembut. "Namaku Eldar. Dan kau… telah melangkah ke dunia yang sedang menantimu."
---
Bagian 3: Pertemuan dengan Penyihir Eldar
Kaito masih berdiri mematung, menatap sosok berjubah biru yang kini perlahan berjalan mendekat. Angin berhembus pelan, menggoyangkan jubah panjang pria tua itu, dan aura aneh menyelimuti dirinya—hangat, tapi penuh tekanan, seperti berdiri di hadapan seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang terlihat.
"Eldar...?" Kaito mengulang nama itu perlahan, masih mencoba mencerna semuanya.
"Benar," kata pria itu sambil tersenyum. "Penyihir agung dari Dewan Cahaya, dan peneliti waktu serta ruang. Tapi untuk sekarang, sebut saja aku temanmu."
Kaito mengangkat alis. “Oke… tunggu sebentar. Ini dunia lain, kan? Dan… kenapa kau tahu namaku?”
Eldar tertawa ringan, suaranya serak namun hangat. “Pertanyaan yang wajar. Sayangnya, jawabannya tidak sesederhana itu.”
Ia mengangkat tongkat kayunya—yang tampak seperti dahan pohon tua dengan kristal ungu di ujungnya—dan melambaikannya sekali. Dalam sekejap, udara di sekitar mereka berkilau, dan sebuah lingkaran sihir melingkar di bawah kaki mereka. Lalu, dunia di sekitarnya berubah.
Kaito kini berdiri di dalam ruang batu berbentuk bulat, penuh rak buku tinggi, gulungan perkamen, dan botol-botol kaca berisi cairan aneh yang bersinar. Lilin-lilin melayang di udara, menerangi ruangan dengan cahaya lembut.
“Aku... nggak pingsan, kan?” tanya Kaito sambil menoleh ke segala arah, tercengang.
“Tidak,” jawab Eldar. “Kau sangat sadar, Kaito. Ini bukan mimpi. Dunia ini bernama Erasia, dan kau telah melangkah ke dalamnya melalui Celah Dimensi yang muncul secara acak—namun terkendali bagi yang mengerti caranya.”
Kaito menatap Eldar dengan bingung. “Kenapa aku? Aku cuma anak SMA biasa. Aku bukan penyihir. Aku bukan pahlawan. Aku bahkan baru kalah di turnamen tinju terakhirku…”
Eldar menatapnya dengan penuh makna. “Justru karena itulah kau terpilih.”
Ia menjentikkan jarinya, dan di udara, muncul gambar seperti hologram: sesosok petarung muda berbalut api, tinjunya bersinar seperti bintang jatuh. Di belakangnya, sebuah inti kristal berdenyut seperti jantung, memancarkan energi gelap dan terang yang beradu.
“Ribuan tahun lalu, dunia ini pernah dipenuhi oleh prajurit bernama Core Bender—mereka yang mampu menyatukan kekuatan fisik dengan aliran energi dunia, yang kami sebut Mana. Tapi seiring waktu, kekuatan itu hilang… hingga jejaknya muncul kembali. Dan kau—Kaito—membawa salah satu jejak itu dalam tubuhmu.”
“Apa maksudmu?” Kaito nyaris tak bisa mengikutinya. “Aku ini cuma manusia biasa.”
“Tubuhmu dilatih untuk bertarung, bukan hanya secara fisik, tapi juga dengan kemauan yang tak bisa dipalsukan,” jawab Eldar. “Kekalahanmu mungkin menghancurkan harga dirimu, tapi semangatmu—rohmu—masih menyala. Dan dunia ini... membutuhkan api itu.”
Kaito menunduk. Semua ini terlalu cepat, terlalu aneh. Tapi di balik kebingungan, ada sesuatu dalam kata-kata Eldar yang terasa... benar.
“Jadi… kau membawa aku ke sini karena dunia ini dalam bahaya?”
Eldar mengangguk perlahan. “Ada kekuatan yang bangkit kembali. Sebuah artefak kuno yang disebut Knockout Core—pusat kekuatan bagi para Core Bender. Dan musuh yang menginginkannya… tidak akan menunjukkan belas kasihan.”
Ia mendekat, meletakkan tangan di bahu Kaito. “Kau tidak harus percaya sekarang. Tapi dunia ini memberi kesempatan kedua pada mereka yang tersesat. Dan aku yakin... kau bisa lebih dari apa yang selama ini kau kira.”
Kaito menatap mata penyihir tua itu. Dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak. Tak lagi ketakutan, melainkan... rasa ingin tahu, dan mungkin—untuk pertama kalinya sejak kekalahannya—harapan.
“Aku nggak janji jadi penyelamat dunia,” gumamnya. “Tapi... mungkin aku bisa coba.”
Eldar tersenyum, lalu berbalik sambil berkata, “Kalau begitu, mari kita mulai perjalananmu, Kaito.”
Dan dengan langkah pertama itu, kehidupan Kaito di dunia lama berakhir—dan petualangannya di dunia baru pun dimulai.