Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bangkit Menjadi Tak Terkalahkan

Bangkit Menjadi Tak Terkalahkan

Moonraku | Bersambung
Jumlah kata
94.5K
Popular
460
Subscribe
90
Novel / Bangkit Menjadi Tak Terkalahkan
Bangkit Menjadi Tak Terkalahkan

Bangkit Menjadi Tak Terkalahkan

Moonraku| Bersambung
Jumlah Kata
94.5K
Popular
460
Subscribe
90
Sinopsis
FantasiIsekaiPedangIsekaiSihir
Leo adalah seorang remaja pendiam yang tumbuh dalam keluarga yang retak. Sejak kecil, ia hidup dalam kesepian dan kerap menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hingga pada suatu hari, langit berubah menjadi hijau zamrud, pertanda awal dari kiamat. Monster-monster asing muncul dan mulai menyerbu bumi. Setiap manusia tiba-tiba dianugerahi satu kekuatan unik. Namun, dunia baru ini membawa aturan yang mengerikan. Setiap orang, tanpa terkecuali, harus membunuh orang orang setiap hari nya, baik orang yang mereka sayangi maupun yang mereka benci. Orang yang terpilih, akan dipilih secara acak. mereka harus memilih: Dibunuh oleh orang lain, atau Membunuh Sebelum Dibunuh? Leo kehilangan kedua orang tuanya, Dan juga terpaksa membunuh kakek dan neneknya sendiri. Saat menjalankan sebuah tugas sederhana, ia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Namun saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada di dunia yang sepenuhnya berbeda. Di sanalah, Leo bangkit kembali. dan menjadi sosok yang tak terkalahkan.
Bab 1 : Hari Hari yang Membosankan

Brukk!!!

Suara keras terdengar saat tubuh seorang remaja menghantam dinding kelas. Retakan terlihat jelas di permukaan tembok, membuat semua orang terdiam sejenak. Namun, bukan karena prihatin—melainkan karena ini bukan pertama kalinya kejadian seperti itu terjadi.

Di sudut ruangan, seorang siswa dengan tubuh kurus dan wajah pucat hanya duduk diam di lantai. Namanya Leo. Ia tidak menjerit, tidak menangis, bahkan tidak menunjukkan ekspresi marah. Ia hanya menunduk, menatap lantai seolah tak ada yang terjadi.

"Huh... Leo, Leo..." salah satu siswa berdiri sambil mengibaskan tangan. "Sampai kapan sih lo bakal diem terus? Nggak bosen apa hidup lo gitu-gitu aja?"

"Iya, sumpah... lo tuh ngebosenin banget!" timpal siswa lain sambil tertawa mengejek.

"Sejak hari pertama masuk sekolah, dia diem aja terus, kayak patung," celetuk seorang siswi yang duduk di bangku belakang sambil mengunyah permen karet.

"Eh, masa sih? Memangnya dia nggak punya temen ya?" tanya siswi di sebelahnya, setengah penasaran, setengah mengejek.

"Gimana mau punya teman? Orangnya aja pendiem banget. Kalau dideketin juga kayak nggak ada respon."

"Lihat aja tuh," tambah siswa pertama dengan nada mencibir. "Ditanya juga nggak pernah jawab. Cuma diam, kayak nggak terjadi apa-apa. Asli, bikin kesel!"

"Di mana sopan santunmu terhadap orang yang sedang berbicara kepadamu?"

Seorang siswa berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah Leo yang duduk diam di pojok kelas. Suaranya nyaring, penuh emosi, seolah ingin memancing reaksi dari remaja pendiam itu.

Leo mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya tenang, tapi dingin.

"Hmm... Kau bicara soal sopan santun?" ucapnya datar. "Jika kau ingin mengajari seseorang tentang sopan santun... seharusnya kau bercermin dulu."

Ruangan mendadak sunyi sesaat. Beberapa siswa membelalakkan mata, kaget karena Leo, yang biasanya diam dan tak pernah melawan, akhirnya membuka suara—dan membalas.

"Heh..." Siswa yang tadi berdiri tertawa sinis, matanya menyipit penuh amarah. "Sudah berani menjawab, ya?!"

Tanpa peringatan, ia maju cepat dan menghujamkan tendangan keras ke perut Leo.

"Bughh!"

Leo terhempas kembali, tubuhnya tertekuk menahan sakit. Ia memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya, membasahi lantai kelas yang bersih. Napasnya tersengal, tapi matanya tetap tajam.

Darah menetes dari sudut bibirnya, namun ia tetap duduk dengan punggung tegak. Ia menyeka mulutnya dengan punggung tangan, lalu menatap seluruh isi kelas.

"Huh, dijawab salah, nggak dijawab juga salah," batin Leo.

Semua mata di kelas tertuju pada Leo. Bagi mereka, itu sudah menjadi hal biasa—semacam hiburan sehari-hari yang tak pernah absen.

"Capek-capek aku bersihin kelas, eh... malah kotor lagi," ucap Leo dengan tenang, suaranya datar, seolah tak terjadi apa-apa. Tubuhnya masih bersimbah luka dan darah, tapi ia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi marah, apalagi menangis.

Bagi Leo, rasa sakit bukan lagi sesuatu yang luar biasa—itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Wajahnya tetap tenang, matanya kosong, tapi dalam diamnya, tersimpan keteguhan yang tak bisa dibaca siapa pun.

Melihat sikap Leo yang tetap tenang, salah satu murid berdiri dan menyeringai sinis.

"Hoh, sepertinya kau sudah terbiasa ya, Leo..."

Ucapan itu menggantung, lalu orang itu melanjutkannya dengan suara lebih keras dan lantang, agar seluruh kelas mendengarnya.

"Teman-teman!" serunya dengan senyum mengejek, "Gimana kalau kita kasih salam olahraga buat si rakyat jelata ini?" ucapnya sambil menunjuk ke arah Leo, mengundang sorak dan tawa dari murid-murid lainnya.

Beberapa dari mereka langsung berdiri dari bangku masing-masing. Tangan dikepal, kaki dihentakkan, ekspresi mereka berubah seolah tengah menyambut sebuah pertandingan seru.

Bukan pertandingan biasa—melainkan perburuan.

Dan Leo, sekali lagi... adalah buruannya.

Namun, Leo hanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Ia tidak berusaha lari, tidak membela diri.

Ia hanya bergumam pelan, nyaris tak terdengar.

"Sudah biasa..."

Bab 1 : Bagian 2

Bagi rakyat jelata seperti Leo, sekolah ini adalah neraka. Tapi bagi para bangsawan, tempat ini adalah surga.

Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau—tanpa aturan, tanpa batasan, bahkan tanpa larangan.

Sekolah tempat Leo belajar adalah sekolah campuran, tempat bangsawan dan rakyat jelata bersekolah bersama. Anehnya, para bangsawan justru lebih menyukai sekolah campuran seperti ini daripada sekolah khusus bangsawan.

Bughh!! Bughhh!!

Pukulan demi pukulan menghantam wajah Leo, namun ia tetap tenang, seolah tak merasakan apa pun. Tak ada teriakan, tak ada tangisan. Hanya tatapan dingin yang tetap terarah lurus ke depan.

Para bangsawan laki-laki memberi "salam olahraga" pada Leo—tendangan, pukulan, atau lemparan benda sesuka hati. Sementara itu, bangsawan perempuan sibuk merekam semuanya, tertawa-tawa puas karena bisa menontonnya berkali-kali sesuka hati.

Bagi mereka, penderitaan orang lain adalah hiburan. Para bangsawan itu hanya peduli pada diri sendiri. Empati? Tak pernah ada dalam kamus mereka.

“Kalau kau mau meminta ampun, mungkin kami akan mengampunimu,” ucap salah satu bangsawan sambil menghentikan pukulannya, diikuti yang lain.

Mereka semua menunggu jawaban Leo, penuh rasa superior, seolah mereka adalah dewa penentu nasib.

Leo mendongak perlahan. Darah menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap tajam dan tegas.

“Meminta ampun? Huh, tidak akan pernah. Memangnya kau siapa? Aku hanya akan meminta ampun kepada Tuhanku, Kau… tidak pantas.”

“Dih, sok suci! Najis!” cibir seorang bangsawan perempuan yang sejak tadi merekam. Ia menghentikan rekamannya, lalu ikut maju… dan mulai menendang Leo bersama yang lain.

Saat Leo terus menerima "salam olahraga" dari teman-temannya—pukulan, tendangan, dan ejekan yang tak kunjung usai—seorang guru tiba-tiba masuk ke dalam kelas.

Namun, alih-alih menolong atau menghentikan kekacauan itu, sang guru hanya berjalan tenang menuju mejanya, duduk, lalu membuka bukunya seolah tak ada yang terjadi.

Wajahnya datar. Tak peduli dengan teriakan atau tangisan. Ia tahu, sekali saja ia ikut campur, hidupnya bisa hancur dalam sekejap. Rasa takut lebih kuat dari rasa tanggung jawabnya.

"Baiklah," ucapnya datar, "pelajaran hari ini akan segera dimulai. Buka buku kalian dan perhatikan."

Tak ada satu pun yang menggubris. Semua sibuk dengan urusannya sendiri. Kelas itu lebih mirip pasar malam yang kacau daripada ruang belajar.

Seseorang makan di pojok. Yang lain sibuk memasak menggunakan kompor portable. Lebih parah lagi, ada yang buang air besar dan kecil di sudut ruangan tanpa rasa malu.

Dan Leo? Ia masih menerima "salam olahraga", seakan waktu tak pernah berpindah.

Di sudut ruangan, sangat dekat dengan meja guru, terdengar suara desahan samar—suara yang seharusnya tidak pernah ada di ruang kelas manapun. Saat diperhatikan lebih seksama, ternyata sepasang siswa tengah melakukan hal yang tak senonoh di sebelah guru tersebut, tanpa rasa malu, seolah aturan dan moral telah dilenyapkan dari tempat itu.

Namun guru itu tetap diam. Ia hanya duduk di kursinya, menatap kosong ke depan, berpura-pura tak melihat apa pun.

Jam pelajaran pun berakhir.

"Baiklah semuanya, pelajaran hari ini sudah selesai. Kalian boleh pulang..." ucap guru itu dengan suara lelah, matanya menyapu kelas yang penuh kekacauan. Namun tak seorang pun memperhatikannya. Mereka tetap larut dalam urusan masing-masing, seperti biasa.

Beberapa detik kemudian, suara bel pulang berbunyi.

Kringg!! Kringg!! Kringg!!

Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Dalam sekejap, ruang yang penuh keributan tadi berubah hening. Mereka meninggalkan Leo begitu saja, tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.

Beberapa menit berselang, Leo perlahan membuka mata. Pandangannya kabur, tubuhnya lemas, dan ketika ia melihat sekeliling—kelas itu sudah kosong. Tak ada satu pun yang tersisa. Hanya kursi yang terbalik, sisa makanan berserakan, dan aroma kekacauan yang masih menggantung di udara.

Leo menarik napas pelan. Entah berapa lama ia telah kehilangan kesadaran. Yang pasti, ia kini benar-benar sendirian.

Leo bangun dengan tubuh lemah, bahkan untuk bangun saja tidak kuat.

"Ughh... Uhuk! Uhuk!!"

Leo terbatuk keras, darah segar terus mengalir dari mulutnya, menetes ke lantai kelas. Tubuhnya gemetar, Kepala nya masih merasakan pusing.

Lanjut membaca
Lanjut membaca