

Tulisan terakhirku, itulah yang kupikirkan saat pena ini berhenti menulis. Buku ini akan menjadi saksi bisu atas semua yang telah terjadi. Aku tau, aku tak mampu lagi menyembunyikannya, tak mampu lagi menanggung semua rasa bersalah ini. Aku telah hilang kendali, demi ambisiku, demi balas dendamku.
Aku mencoba melihat wajah orang itu dengan jelas, tapi dia berdiri di tempat yang gelap. Di ujung sebuah tangga yang menuju perpustakaan tua. Suara benda jatuh memecah keheningan. Dia tau segalanya, dia tau semuanya.
Aku tak bisa lagi bersembunyi, aku akan hancur. Semua yang telah kubangun akan hancur, oleh orang Sialan ini. Dia akan membunuhku ... Membunuhku ... Tunggu! Bagaimana jika aku membunuhnya? Seperti sebelumnya, bagaimana jika aku membunuhnya ... Pikiran itu terus menggema di kepalaku. Aku sudah pernah membunuh sebelumnya, tidak ada bedanya jika aku melakukanya lagi.
Aku mendongak ke atas, dia masih berdiri mematung. Tak ada rasa takut, tak ada rasa bimbang, tatapanya tajam ke arahku. Siapa? Siapa dia? Dia tau aku yang membunuh mereka dan dia tidak merasa takut padaku. Aku tertawa menyeringai, kuambil sebuah kapak besar yang ada di bawah meja kerjaku. Tak ada yang bisa mengalahkanku.
Aku berjalan menaiki tangga, hahaha ... Dia berlari. Sosok itu berlari karena ketakutan. Dia masuk ke sebuah perpustakaan tua untuk bersembunyi. Aku berjalan dengan menyeret kapak yang kubawa.
"Srek, srek, srek ..." Suara kapak terseret di lantai menimbulkan bunyi gesekan yang menggema di tengah kesunyian rumah ini. Aku membuka pintu perlahan, dia berdiri tepat di hadapanku. Aku tersenyum penuh kemenangan, kuayunkan kapak di tanganku ke kepalanya 'Jleb!' belum sempat kapak terayun sebuah benda kecil menancap di leherku. Aku menjatuhkan kapak di tanganku hingga menimbulkan dentaman yang keras di lantai.
Aku memegangi leherku yang mengucurkan darah. Aku meraba benda kecil itu, pena. Sebuah pena. Aku mencoba menarik pena yang menancap di leherku, rasa ngilu menjalar di sekujur tubuhku kakiku melemah, aku terduduk di lantai. Darah segar mengguyur tubuhku, mengalir deras membasahi baju dan mengucur deras ke lantai yang berdebu.
Sosok itu masih berdiri di hadapanku, melihatku dengan senyum penuh kemenangan. Aku mencoba mengambil kapakku dengan sekuat tenaga, tapi sosok itu menendangku hingga aku terbaring di lantai. Dia ambil kembali pena yang kucabut dari leherku dan duduk di atas tubuhku yang terbaring. Dia melepas topi dan rambut palsu di kepalanya.
"Kau!" Aku mencoba bicara, tapi setiap aku menarik napas darah segar langsung menyembur dari lubang di leherku.
"Kenapa? Kenapa kau ..." Aku tersedak darahku sendiri. Rasa panas terasa sampai ke hidung dan menjalar ke kepalaku. Wajahku terasa panas seperti terbakar. Aku mencoba meraihnya tapi tanganku tak mampu.
"Akulah pemenangnya. Kau telah kalah" sosok itu mengangkat pena itu tinggi-tinggi. Aku bisa melihat matanya yang merah, wajahnya yang penuh amarah dan dendam. Sosok itu menancapkan pena itu tepat di jantungku.
'Deg!' rasa sakit yang teramat sangat terasa tepat di jantungku. Aku tak mampu lagi bergerak, pandanganku kabur perlahan mulai redup. Mataku menatap sayu pada sosok itu, inilah akhir dari ambisiku. Aku telah hancur oleh ambisiku sendiri