Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pejantan Kalimantan

Pejantan Kalimantan

Fateemah Ali | Bersambung
Jumlah kata
59.8K
Popular
726
Subscribe
198
Novel / Pejantan Kalimantan
Pejantan Kalimantan

Pejantan Kalimantan

Fateemah Ali| Bersambung
Jumlah Kata
59.8K
Popular
726
Subscribe
198
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPendekarSilatBela Diri
Seorang pendekar dari tanah Kalimantan dikenal dengan nama Rembo, julukan yang ia dapat karena tidak pernah terkalahkan.Ia adalah murid khusus dari seorang tetua suku berilmu tinggi dalam dunia bela diri, sosok yang dihormati dengan sebutan Sepuh Abah Balinggo. Abah Balinggo memiliki tiga orang putra. Ketiganya merupakan pewaris sah sebuah kalung gading sakti berisi Cakra Harimau Kembar, pusaka warisan leluhur keluarga besar Balinggo. Namun kalung gading putih yang konon dihuni khodam harimau kembar itu hanya dapat dimiliki oleh seorang ksatria berhati tulus dan murni.Karena memperebutkan pusaka itu, dua dari tiga putra Abah Balinggo tewas dalam pergulatan kuno yang disebut lawang sakepeng, yakni seni bela diri tradisional Kalimantan. Satu-satunya yang tersisa, Tuan Saka, putra pertama Abah Balinggo, rela menumpahkan darah kedua saudaranya demi menjadi pewaris tunggal kalung tersebut.Namun keputusan sang sepuh tidak berpihak kepadanya. Mengetahui hati Tuan Saka telah dikotori ambisi, Abah Balinggo justru memilih menyerahkan kalung gading sakti itu kepada Rembo, murid barunya yang ia yakini memiliki jiwa paling murni.Tuan Saka merasa dikhianati oleh ayahnya sendiri. Amarahnya berubah menjadi dendam. Ia mulai memburu Rembo, yang saat itu sedang melanglang buana menuju selatan Kalimantan, ke sebuah desa kecil di kaki gunung, tempat Rembo mencari kekuatan baru demi mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan yang penuh ancaman.
Rembo sang pejantan

“Enak benar kau tidur di sini! Di mana domba-dombaku? Kalau satu saja hilang, malam ini kau tak akan dapat makan!”

Bentakan Destri meledak seperti petir yang menyambar langit cerah.

Suara itu menembus telinga Rembo, menghantam jantungnya seperti cambuk yang berderap di udara. Ancaman semacam itu bukan lagi hal baru baginya, ia sudah mendengarnya begitu sering sampai terasa seperti mantra gelap yang terus membelenggu hidupnya.

Rembo tak menjawab. Napasnya memburu, dadanya terasa naik turun. Seluruh tenaga seakan meluruh dari tubuhnya tertelan oleh dua dunia yang tak pernah memberinya ruang untuk bernapas,padang yang luas dan sunyi tempat ia menggiring domba, dan pasar tradisional yang riuh tempat ia memanggul beban melebihi batas usianya. Di usianya yang baru delapan belas tahun, ia telah merasakan kerasnya hidup lebih dalam dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Orang tuanya menghilang ketika ia masih kecil. Ada desas-desus bahwa mereka lari karena terlilit hutang, melarikan diri dari kegetiran hidup, meninggalkan Rembo tanpa sebuah penjelasan. Delapan belas tahun berlalu tanpa sepucuk kabar, tanpa secuil harapan. Mereka seolah menjadi bayangan yang menguap di udara begitu saja.

Dan Rembo,anak yang tak diinginkan itu dititipkan pada paman dan bibinya. Mereka juga memiliki dua orang putri bernama Yuli dan Belinda.

Yuli, satu tahun lebih muda darinya, mewarisi sifat keras kepala dan juga kejam kedua orang tuanya. Sementara Belinda…

Belinda adalah satu satunya yang selalu berpihak pada rembo,gadis berparas cantik khas suku Dayak itu sudah menganggap Rembo layaknya seperti kakak kandungnya sendiri,seolah mereka benar-benar saudara sedarah.

“Abang, jangan dengarkan Ibu. Abang Rembo sabar ya…”

Belinda terus memberi semangat, suaranya lembut bak hembusan angin di sore hari.

“Terima kasih, Belinda. Abang baik-baik saja,kau tidak usah khawatir.”

Rembo berusaha tersenyum, namun hatinya bergetar dan retak, ia harus tetap berdiri kokoh menjalani hidup yang tak sesuai impiannya.

Hari-hari berlalu dalam ritme yang selalu sama,mengurus domba, lalu mengais rezeki di pasar pada akhir pekan. Upah yang didapatkannya tak sebanding dengan keringat dan luka yang ia kumpulkan di punggung dan telapak tangan. Rembo ingin sekali bersekolah, ingin belajar seperti anak seusianya, Namun mimpi itu tak pernah menjadi kenyataan,ditolak sebelum sempat tumbuh.

Meski begitu, tubuh Rembo terlihat gagah dan dewasa sebelum waktunya. Hidup menempa dirinya tanpa belas kasihan, membentuk otot di tubuh dan keteguhan dalam benaknya.

Sore itu, Yuli adik sepupu Rembo melihat Rembo sedang berbicara dengan Belinda. Kecurigaan tumbuh di hatinya seperti duri yang siap menusuk.

“Ibu! Lihat Rembo! Dia malas-malasan bekerja!” ucapnya sinis.

Destri menoleh cepat, matanya ikut membara.

“Apa? Dasar pemalas! dia fikir rumah ini panti amal? Tak ada yang gratis di sini?!"

tegasnya penuh kekesalan.

Yuli tersenyum puas di belakang ibunya, menikmati kekacauan yang ia ciptakan. Belinda tampak kaget, langkahnya maju menahan tubuh Rembo yang hendak mundur.

Destri berteriak lantang hingga para tetangga yang lewat memperlambat langkahnya.

“Kau pikir kau ini siapa? Putra bangsawan? Orang tuamu bahkan tak pernah tinggalkan uang sepeser pun! Sejak kecil akulah yang mengurusmu! Jadi jangan berani bermimpi hidup enak di rumahku!”

Kata-kata itu menusuk hati Rembo seperti seribu jarum yang ditancapkan dalam-dalam. Belinda langsung berdiri di depannya, wajahnya memanas oleh keberanian yang jarang ia tunjukkan.

“Ibu tidak boleh berkata seperti itu! Abang Rembo hanya beristirahat sebentar. Apa ibu sama sekali tidak merasa kasihan padanya?”

Belinda mencoba menjadi garda terdepan.

“Minggir! Jangan so' jadi pahlawan kesiangan," Destri menepis tubuh anak bungsunya itu.

Yuli ikut tersenyum kecut, seolah bangga saat ia bisa melakukan adu domba.

Rembo menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah dalam dirinya.

“Pulanglah, Dek. Abang harus lanjut ke ladang untuk membantu Paman, terima kasih sudah membela Abang,"

Rembo merasa tidak tega.

“Tapi, Bang..”

“Abang baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Ia tersenyum, meski senyum itu rapuh.

Destri mendesis tajam.

“Ingat, Rembo. Urus domba-domba itu dengan baik dan benar. Aku tidak ingin lihat tubuh mereka sampai menjadi kurus, paham?” pekik Destri.

Rembo hanya mengangguk. Kesabaran telah menjadi tameng yang ia pakai setiap hari,tameng yang semakin berat untuk ia bawa.

Menjelang sore hari, ia kembali dari ladang dengan membawa tumpukan rumput hijau untuk pakan domba. Perutnya sudah terasa perih oleh lapar, tubuhnya letih oleh kerja. Namun sebelum ia kembali ke rumah, langkahnya pun terhenti.

Di depannya berdiri Baron dan kawan-kawannya,pemuda kampung seberang yang usianya sepantaran dengan Rembo.

Baron menunggu Rembo seolah seperti seekor serigala yang sedang menunggu mangsanya.

“Itu dia, si Rembo.”

Nada suara Baron penuh sarat dendam yang belum reda.

Baron pernah kalah dari Rembo pada atraksi lawang sakepeng yaitu seni bela diri tradisional Dayak Ngaju. Kekalahan itu mencoreng harga dirinya yang selama ini diagung-agungkan. Sementara Rembo… ia bahkan bukan pesilat. Ia hanya ikut lomba karena mengincar hadiah utama.

Namun tubuh Rembo adalah hasil tempaan kehidupan. Lebih besar, lebih kuat, lebih kokoh dibanding remaja seusianya. Otot perutnya terbentuk alami dari hasil kerja kasarnya sebagai kuli panggul,bahunya terlihat sangat lebar, pandangannya tajam, napasnya tenang.

Kini, di bawah langit sore yang mulai gelap, Rembo berdiri di hadapan Baron,tak hanya sebagai anak yang tertindas, tetapi sebagai seseorang yang telah ditempa oleh penderitaan hidup.

Pertemuan itu… adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Rembo mencoba untuk sabar dan tenang,ia tak bergeming takut walau Baron sudah menghalangi jalannya pulang.

" oh ini dia jawara baru kita !"

ejek Baron seolah ingin mengajaknya duel.

Rembo masih terdiam,ia tidak ingin meladeni pemuda seperti Baron, bukan karena takut untuk bertarung.

melainkan bibi dan juga pamannya pasti sudah menunggu di rumah,karena domba domba mereka Harus segera di masukan ke dalam kandang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca