
FESTIVAL PANEN BERDARAH
Dynana|Bersambung
- Jumlah kata
- 66.4K
- Popular
- 367
- Subscribe
- 128
- Jumlah kata
- 66.4K
- Popular
- 367
- Subscribe
- 128
Sinopsis
Di tengah perayaan Festival Panen yang seharusnya penuh suka cita, Desa Sukma Rimba menyembunyikan rahasia kelam yang diwariskan turun-temurun. Setiap tahun, saat musim panen tiba, kegelapan mulai merayap, menuntut tumbal dari keturunan desa. Maya, seorang gadis muda dengan indra keenam yang tajam, adalah salah satu dari mereka yang merasa terbebani oleh bayang-bayang ini. Sejak kecil, ia dihantui bisikan dan penglihatan mengerikan tentang entitas purbayang bersembunyi di balik riuhnya perayaan. Ketika satu per satu warga desa mulai menghilang secara misterius, dan simbol-simbol kuno muncul di tempat-tempat tak terduga, Maya tahu ia tak bisa lagi berdiam diri. Ia harus berpacu dengan waktu untuk mengungkap kebenaran di balik perjanjian berdarah leluhurnya dan menemukan cara untuk memutus kutukan yang mengikat seluruh desa. Namun, semakin dalam Maya menggali, semakin ia menyadari bahwa kekuatan yang dihadapinya jauh lebih kuno dan mengerikan dari yang ia bayangkan. Bisakah seorang gadis biasa menghadapi kekuatan tak kasat mata yang haus darah, atau akankah ia dan seluruh desanya menjadi bagian dari panen terakhir yang mematikan?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Panggilan Desa Tersembunyi
Aroma dupa dan melati yang menusuk hidung terasa terlalu kuat di ruangan sempit itu. Maya memejamkan mata, berusaha memfokuskan pikirannya, namun bisikan-bisikan itu tak pernah mau pergi. Kali ini, mereka lebih jelas, lebih mendesak. "Pulang... pulang ke rumah..."
Bukan rumah kontrakan kecilnya di pinggir kota yang mereka maksud. Maya tahu itu. Mereka membisikkan tentang Desa Sukma Rimba, tempat kelahirannya, tempat yang ia tinggalkan sejak usia enam tahun. Tempat yang selama ini selalu ia hindari, seolah ada dinding tak kasat mata yang menahannya untuk kembali.
Maya membuka mata, menatap pantulan dirinya di cermin usang. Rambut hitam panjangnya tergerai, membingkai wajah tirusnya yang kini tampak pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya adalah bukti betapa seringnya ia terbangun di tengah malam, dihantui mimpi-mimpi aneh dan bisikan tanpa sumber. Ia adalah Maya, seorang gadis dengan indra keenam yang tajam, kutukan yang ia warisi dari garis keturunan ibunya. Sepanjang hidupnya, ia berusaha mengabaikan anugerah atau lebih tepatnya, beban itu. Tapi kini, seolah seluruh alam semesta berkonspirasi memaksanya kembali.
Sebuah surat usang tergeletak di meja rias, terkirim seminggu yang lalu dari paman jauhnya di Sukma Rimba. Isinya singkat, mengundang semua kerabat untuk hadir di Festival Panen tahunan, perayaan terbesar di desa. Jantung Maya berdebar kencang saat pertama kali membacanya. Bukan karena nostalgia, tapi karena firasat buruk yang mencengkeram.
“Kamu yakin mau pergi, Ma?” Suara Laras, sahabat sekaligus rekan kerjanya di galeri seni, memecah lamunan Maya. Laras berdiri di ambang pintu kamar, menatap Maya dengan cemas. “Aku tahu kamu selalu menghindar dari tempat itu.”
Maya menghela napas. “Aku tidak punya pilihan, Ras. Bisikan-bisikan itu semakin kuat. Rasanya seperti... ada yang memanggilku, menarikku kembali ke sana. Aku tidak bisa mengabaikannya lagi.”
Laras menghela napas. Ia tahu betul bagaimana Maya seringkali berjuang dengan kemampuannya. “Apa kamu tidak takut?”
“Takut? Tentu saja aku takut,” jawab Maya jujur, sambil mengusap lengannya yang meremang. “Tapi ketakutan untuk tidak tahu apa yang terjadi di sana, apa yang selama ini mengikatku, itu jauh lebih besar.”
Keputusan sudah bulat. Pagi itu, dengan sebuah ransel berisi pakaian seadanya dan hati yang berdegup kencang, Maya memulai perjalanannya. Bus kota membawanya melaju menjauhi hiruk pikuk Jakarta, masuk ke jantung Jawa Barat yang mulai dipadati pepohonan. Semakin jauh ia masuk, semakin pekat pula aura misterius yang menyelimuti dirinya. Bisikan itu kembali, kini bukan hanya sekadar suara, tetapi juga gambaran samar yang melintas di benaknya bayangan jubah hitam, bulan merah darah, dan melodi kuno yang mendayu-dayu.
Perjalanan itu terasa sangat panjang. Setelah menumpang bus hingga kota terakhir, Maya harus melanjutkan dengan angkutan desa yang terhenti di sebuah pertigaan yang sepi. Jalanan setapak di depannya, menurut supir angkutan, adalah satu-satunya akses menuju Desa Sukma Rimba.
“Dari sini jalan kaki saja, Neng. Kurang lebih setengah jam sampai ke batas desa,” ujar sang supir dengan logat Sunda yang kental, menunjuk ke jalan setapak yang menanjak, diselimuti pepohonan rimbun. “Hati-hati ya, Neng. Jangan terlalu malam.”
Maya mengangguk, mengucapkan terima kasih. Ia turun dari angkutan, merasakan tanah di bawah kakinya terasa lebih dingin dan lembap. Hutan di sekitarnya begitu lebat, memancarkan aura kuno yang pekat. Sinyal ponselnya langsung hilang. Ia benar-benar terputus dari dunia luar. Keheningan hutan terasa menyesakkan, hanya sesekali diselingi suara serangga atau desiran angin di antara dedaunan.
Setiap langkah yang diambilnya terasa seperti memasuki dimensi lain. Bisikan-bisikan di kepalanya semakin jelas, seolah mereka menyambutnya pulang. “Kau datang... kau datang...” Suara itu bukan suara manusia, melainkan resonansi aneh yang bergetar di benaknya.
Akhirnya, setelah berjalan kaki cukup lama, sebuah pemandangan terhampar di depannya. Sebuah gerbang kayu sederhana dengan ukiran-ukiran aneh menandai batas desa. Di baliknya, rumah-rumah panggung berjejer rapi, dihiasi dengan obor-obor bambu yang memancarkan cahaya kuning keemasan. Desa Sukma Rimba.
Desa itu tampak indah, damai, dan tradisional. Namun, Maya merasakan ada sesuatu yang janggal. Aura yang keluar dari desa ini bukanlah aura ketenangan, melainkan aura yang berat dan mencekam, seolah ada beban tak terlihat yang menggantung di udara.
Beberapa penduduk desa tampak duduk di beranda, berbincang pelan. Saat Maya melangkah masuk, percakapan mereka seketika terhenti. Semua mata tertuju padanya. Tatapan mereka bukan tatapan ramah seperti yang sering ia temui di pedesaan pada umumnya, melainkan tatapan yang terlalu intens, terlalu dalam, seolah sedang membaca setiap inci keberadaan dirinya. Ada campuran rasa ingin tahu, kecurigaan, dan... sedikit ketakutan di mata mereka.
Seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya menatap Maya lekat-lekat. Maya memberanikan diri menyapa. “Selamat malam, Bu.”
Wanita itu hanya mengangguk pelan, tanpa senyum, dan kembali pada tanamannya.
Maya merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Sambutan ini jauh dari yang ia bayangkan. Ia teringat pesan pamannya di surat untuk langsung menemui Kepala Desa. Ia memutuskan untuk mencari kantor kepala desa, berharap bisa mendapatkan sambutan yang lebih baik.
Seorang anak kecil yang sedang bermain di halaman rumahnya menatap Maya dengan mata besar yang polos. Berbeda dengan orang dewasa, tatapan anak itu tidak mengandung ketakutan, melainkan rasa penasaran. Maya menghampirinya.
“Nak, apa kamu tahu di mana rumah Kepala Desa?” tanya Maya dengan senyum ramah.
Anak itu tersenyum malu-malu dan menunjuk ke sebuah bangunan yang sedikit lebih besar di ujung jalan. “Itu, Kak. Rumah Pak Kepala Desa.”
Maya mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju bangunan yang ditunjuk. Rumah Kepala Desa tampak lebih terawat dan bercahaya. Maya mengetuk pintu kayu yang kokoh.
Tak lama, pintu terbuka, menampakkan seorang pria paruh baya dengan sorot mata bijaksana dan senyum tipis. Ia mengenakan baju batik sederhana. “Selamat malam, Nak. Pasti ini Maya, keponakan mendiang Bu Warsih?”
Maya merasa lega akhirnya bertemu seseorang yang tampak ramah. “Betul, Pak. Saya Maya. Terima kasih sudah menerima saya.”
Pria itu mengangguk dan mempersilakannya masuk. “Saya Kepala Desa, Pak Cokro. Mari, silakan duduk. Kami sudah menunggu kedatanganmu, Nak.”
Maya duduk di kursi kayu yang ditawarkan Pak Cokro. Ruangan itu terasa hangat, dihiasi ukiran kayu tradisional yang rumit. Aroma tanah basah dan kayu tua memenuhi udara.
“Terima kasih, Pak Cokro. Saya datang untuk Festival Panen, seperti yang Paman tulis di surat,” kata Maya.
Pak Cokro mengangguk. “Festival Panen adalah jantung desa kami, Nak Maya. Ini adalah perayaan syukur, juga pengingat akan perjanjian yang mengikat kami dengan tanah ini.”
“Perjanjian?” tanya Maya, hatinya berdegup lebih kencang. Kata “perjanjian” ini terdengar familiar, seolah sudah pernah ia dengar dalam bisikan-bisikan itu.
Pak Cokro menatapnya dengan tatapan yang dalam, seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya. “Ya, perjanjian. Leluhur kami membuat kesepakatan dengan... kekuatan yang melindungi desa ini. Sebuah pertukaran. Kesuburan tanah dan kesejahteraan kami, dengan imbalan sesuatu yang lain.”
“Imbalan apa, Pak?” desak Maya, tenggorokannya tercekat. Firasat buruk yang selama ini ia rasakan mulai membentuk gambaran yang menakutkan.
Pak Cokro mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke arah kegelapan yang semakin pekat. “Itu adalah rahasia yang tidak boleh diucapkan dengan lantang, Nak Maya. Hanya bisa disaksikan. Akan Anda lihat sendiri saat puncak Festival Panen.” Nada suaranya berubah serius, hampir seperti peringatan. “Jangan mencari tahu lebih dari yang seharusnya. Beberapa kebenaran lebih baik tetap terkubur.”
Peringatan itu terasa seperti tamparan. Maya merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik senyuman ramah Pak Cokro, di balik ketenangan palsu desa ini. Sesuatu yang tersembunyi di balik adat dan tradisi.
Setelah percakapan singkat namun penuh teka-teki itu, Pak Cokro mengantar Maya ke sebuah rumah panggung kosong yang akan menjadi tempat tinggalnya. Rumah itu kecil, dengan sebuah kamar tidur dan dapur mungil. Jendela kayu yang usang menghadap langsung ke arah hutan yang lebat.
Malam pertama di Desa Sukma Rimba terasa mencekam. Bisikan-bisikan di kepala Maya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan suara-suara aneh dari luar desiran daun yang terlalu kencang, lolongan anjing yang panjang dan menyayat hati, dan kadang-kadang, suara gesekan seperti langkah kaki yang menyeret di tanah.
Maya tidak bisa tidur. Kata-kata Pak Cokro terus berputar-putar di benaknya. “Perjanjian... kekuatan yang melindungi... imbalan... jangan mencari tahu lebih dari yang seharusnya.” Ia tahu ini bukan sekadar takhayul. Intuisi dan kemampuannya menjerit memperingatkan adanya bahaya.
Ia bangkit dari tempat tidur dan mendekati jendela. Dari sana, ia bisa melihat obor-obor yang masih menyala redup di desa. Beberapa rumah tampak gelap, namun beberapa lainnya masih memancarkan cahaya samar.
Tiba-tiba, ia melihatnya. Sebuah bayangan tinggi dan kurus bergerak diam-diam di antara pepohonan di pinggir hutan, mendekati area perayaan festival. Sosok itu tampak mengenakan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuhnya, dan bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Jantung Maya berdebar kencang. Ia mencoba menajamkan penglihatannya, tapi kegelapan terlalu pekat. Ia hanya bisa melihat siluet yang mengerikan itu membawa sesuatu yang berkilauan di tangannya.
Sosok itu menghilang di balik kerimbunan pohon, meninggalkan Maya dalam ketakutan dan kebingungan. Siapa dia? Apa yang dibawanya? Apakah itu yang dimaksud dengan "imbalan"?
Rasa penasaran Maya melampaui rasa takutnya. Panggilan Desa Sukma Rimba ini bukan hanya sekadar undangan untuk Festival Panen, melainkan sebuah jebakan. Dan Maya merasa dirinya sudah terperangkap di dalamnya. Ia harus mengungkap kebenaran di balik perjanjian berdarah itu, apa pun risikonya.
Malam itu, di tengah kegelapan yang pekat, Maya bersumpah untuk mencari tahu. Ia akan menghadapi apa pun yang mengintai di balik senyuman ramah penduduk desa dan kemeriahan festival yang menipu ini. Festival Panen Berdarah baru saja akan dimulai, dan Maya tahu, ia adalah bagian dari takdir yang sudah digariskan.
Daftar bab
50 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








