
- Jumlah kata
- 28.1K
- Popular
- 196
- Subscribe
- 49
Sinopsis
Berwujud menyeramkan dengan sosok hitam berbulu dan tinggi besar. Menjadi penunggu Alas Ngampar yang begitu sangat ditakuti karena kerap memburu nyawa manusia yang masuk ke hutan itu. Siapa sangka sosok genderuwo ini punya rahasia di balik wujudnya yang menakutkan dan haus darah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Cinta Yang Terjual
"Om, pelan-pelan dong ah," kata seorang gadis cantik saat tubuhnya tengah dijelajahi oleh seorang pria yang usianya jauh lebih tua darinya.
BRAK!
Bastian kaget dengan pemandangan seronok di depan matanya ketika dia berhasil mendobrak salah satu kamar yang berada di villa yang didatanginya secara mendadak.
Betapa tidak Bastian melihat kekasihnya Sora tengah bergumul di atas tempat tidur dengan pria asing tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Adegan yang sungguh memancing hasrat. Bagi Bastian nafsu amarah yang menggelegak.
Sora dan pria paruh baya itu pun juga ikut kaget bukan main ketika melihat kedatangan Bastian saat pintu kamar itu terdobrak. Sora sangat panik melihat kedatangan kekasihnya, dia pun menjauhkan diri dari lawannya di atas ranjang dan mencoba mengenakan selimut di dekatnya.
"Soraaaaaa! Dasar cewek murahan!" pekik Bastian. Hatinya berkecamuk ketika melihat gadis yang sangat dicintainya malah berada dalam dekapan pria lain. Bahkan melakukan sesuatu yang tak selayaknya.
"Bastian, jangan salah paham! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan," Sora tahu Bastian sedang berada di puncak amarahnya. Walaupun harapannya begitu kecil, namun Sora ingin bisa berhasil menenangkan Bastian.
"Gue nggak nyangka badan lo bisa diobral semurah ini, Sora. Lo itu pacar gue, gue juga udah serius mau nikahin lo. Tapi ternyata lo malah begini sama lelaki yang seharusnya jadi bokap lo. Di mana otak Lo, Sora?" amuk Bastian.
"Bukan begitu, Sayang. Jangan marah dulu! Aku jelasin semuanya ya, tenang dulu!" Perkataan Sora tak membuat hati Bastian tenang, kemarahannya masih menyelimuti dengan kekecewaan mendalam.
"Alah persetan apa pun alasan Lo. Gue jaga cinta gue, gue setia sama lo, tapi lo malah jual badan Lo sama tua bangka ini," hardik Bastian, lirikannya begitu tajam kepada pria yang bersama Sora. Sora hanya bisa menangis sesenggukan dengan kepala tertunduk.
Pria itu dengan santainya mengenakan pakaian dan celananya kembali. Anggoro, pria yang ternyata Dekan fakultas di mana Sora berkuliah seperti tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Bahkan tidak merasa panik sedikitpun. Tingkahnya pun tentu membuat Bastian semakin geram.
"Anjiiing, bangshaat! Dekan tua kepaarat! Beraninya lo bawa cewek gue ke sini cuma buat muasin badan Lo yang udah bau tanah. Gue yakin Lo manfaatin cewek gue," Bastian juga turut melampiaskan amarahnya kepada Anggoro.
Dia pun melangkah menghampiri Anggoro dan siap menghajar pria paruh baya itu. Akan tetapi saat tangan Bastian melayang untuk menyerangnya, Anggoro dengan sigap menepis dan menghempaskan tangan Bastian.
"Sebelum kamu menyerangku, seharusnya kamu tahu kalau pacarmu itu sepenuhnya rela jadi teman tidurmu. Toh semua juga tak ada yang gratis," ucap Anggoro dengan nada santai. Bastian terperanjat sebentar, dia kembali menoleh pada Sora.
"Jadi beneran lo jual diri sama tua bangka ini?" tanya Bastian, wajahnya masih saja nampak angker dan emosi. Sora tergeragap, namun dia akhirnya harus membuka semuanya.
"Sejujurnya aku terancam DO dari kampus, soalnya tunggakan uang kuliahku besar banget. Terus Pak Dekan nawarin solusi, uang tunggakan kuliah bisa lunas kalau aku nurutin kemauannya," ungkap Sora.
"Jangan lupa kamu juga sudah menerima semua fasilitas dariku, Sora! Kartu kredit, sewa apartemen pun aku yang bayar. Sampaikan semuanya sama pacarmu ini," tegur Anggoro. Sora terdiam, dia kembali menunduk dan tak berani menatap Bastian.
"Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue? Bokap gue sanggup beli kampus itu kalau dia mau. Lo malah jual tubuh Lo sama lelaki tua bangka ini. Sekali murahan tetap murahan, b1tch!" Bastian tak segan mencerca Sora.
Bahkan dia sebenarnya ingin meludahi wajah kekasihnya sendiri karena saking marahnya. akan tetapi Bastian tidak melakukannya. Sira hanya terdiam menunduk sambil menangis, mengalihkan pandangannya kepada pria yang bersama Sora.
"Bah, kalian berdua sama saja. Sama-sama iblis. Terutama kamu, tua bangka. Kamu pikir aku tak tahu kalau kamu sering mengincar para mahasiswa hah? Sudah bau tanah masih saja cari kenikmatan, kamu memang diberi pelajaran, tua bangka, hyaaaaat," seru Bastian.
Dia menyerang Anggoro dan ingin membuatnya babak belur demi bisa melampiaskan amarahnya. Sempat terjadi baku hantam antara Anggoro dan Bastian.
"Stoop, sudaaaah! Jangan berkelahiiii!" pekik Sora yang ketakutan. Bastian tidak peduli, dia semakin agresif menyerang pria yang sudah merusak mahkota berharga sang kekasih.
Anggoro sempat limbung dan menerima beberapa bogeem mentah yang bersarang di wajah dan tubuhnya. Bastian semakin bering4s untuk membuat Anggoro semakin babak be1ur.
Bug!
Duag!
Tiba-tiba ada beberapa hantaman yang mendarat di tubuh Bastian. Kala itu ada dua orang satpam yang masuk ke kamar itu dan menyerang Bastian agar tak semakin menyerrang Anggoro, sang majikan secara bruutal.
Bastian pun sempat terjungkal, akan tetapi dia kembali bangkit dan membalas serangan dia security berbadan besar dan tegap itu.
"Kalian kenapa baru datang? Singkirkan orang ini sekarang juga, atau kalian kupecat!" perintah Anggoro dengan nada emosi sambil berusaha bangkit walau terhuyung.
Memang saat itu, Bastian menyelinap masuk ke villa tersebut tanpa diketahui oleh satpam penjaga. Kegaduhan di kamar itu pun membuat dua security itu bertindak.
Mereka berusaha menyeret Bastian, namun Bastian masih tetap melakukan perlawanan. Dia tak peduli postur dua satpam itu lebih besar dibandingkan dirinya.
"Minggir, jangan ikut campur urusan gue sama pria bau tanah ini!" bentak Bastian. Dia kembali melangkah maju, berusaha mendekat pada Anggoro. Namun dua security itu menahannya, Bastian mulai menyerang mereka lagi tanpa rasa takut.
Tubuh dan wajah Bastian kini dihujani oleh pukulan, tendangan, dan hantaman dari dua petugas keamanan itu. Tubuh Bastian pun ambruk, namun aksi dua satpam itu tak jua berhenti, Bastian semakin meraung kesakitan. Anggoro tersenyum penuh kemenangan, sementara Sora semakin cemas.
"Stooop, sudah lepaskan diaaa!" pinta Sora. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Anggoro dan merangkul lengan pria itu.
"Om, sudah Om! Jangan sakiti Bastian! Biarkan dia pergi dari sini," pinta Sora dengan nada memelas. Anggoro lalu melirik pada gadis cantik yang masih mengenakan selimut putih di tubuhnya.
"Biar saja, dia tadi sudah merusak waktu kita berdua. Dia harus rasakan akibatnya," jawab Anggoro. Sora semakin takut bila kondisi Bastian semakin parah.
"Jangan, Om! Aku mau lakukan apa saja asal Bastian bisa keluar dari tempat ini, aku juga mau putus sama Bastian demi Om," bujuk Sora, dia semakin menggenggam lengan Anggoro semakin kencang dengan nada memohon.
"Dia juga tak akan sudi menerima kamu lagi, Sora. Kamu itu kotor dan hina sekarang,” Perkataan Anggoro begitu melukai perasaan Sora. Namun itulah kenyataan pahit yang harus diterima karena keputusan yang telah diambil.
Daftar bab
31 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








