Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bartender Tampan

Bartender Tampan

andirtps | Bersambung
Jumlah kata
77.9K
Popular
707
Subscribe
130
Novel / Bartender Tampan
Bartender Tampan

Bartender Tampan

andirtps| Bersambung
Jumlah Kata
77.9K
Popular
707
Subscribe
130
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Musuh Jadi Cinta
Di balik lampu dan denting gelas kaca The Cipher Room, Andi seorang mixologist jenius dengan paras rupawan yang sanggup meluluhkan siapa saja. Suasana pinggiran Kota Veridia yang tenang mendadak riuh, senyum memikat dan racikan minumannya yang magis tak hanya menjadikan Andi pusat perhatian para wanita, tetapi juga incaran para konglomerat yang bersaing memperebutkan pengaruhnya. Namun di balik sorot mata hangat yang memikat seluruh isi ruangan, Andi menyimpan rahasianya sendiri, bahwa setiap cangkir yang ia tuang bukan sekadar minuman, melainkan awal dari permainan kekuasaan, pesona, dan cinta yang berbahaya.
1. Ancaman Baron

Sorak sorai dan tepuk tangan pengunjung pecah di area depan meja bar The Cipher Room. Pandangan belasan pasang mata tertuju pada gerakan tangan Andi. Shaker stainless steel di tangannya beradu cepat, menciptakan irama logam yang nyaring di tengah gemuruh musik latar. Beberapa tamu bahkan berdiri dari kursi tinggi mereka, mengabadikan aksi itu dengan kamera ponsel.

Andi tidak tersenyum. Pandangannya lurus pada gerakan tangannya sendiri. Gerakan flair dan kocokan atraktif yang ia tampilkan bukan dibuat untuk mencari perhatian atau decak kagum. Baginya, semua sorakan itu cuma kebisingan tambahan. Ia melakukan ini semata-mata karena pekerjaannya menuntut efisiensi dan pertunjukan visual demi menjaga nilai jual. Kerja, dapat bayaran, pulang. Cuma itu yang ada di kepalanya.

Di sudut paling gelap ruangan, Baron duduk mengamati. Satu kakinya terangkat, bertumpu santai di atas dudukan kursi kayu. Matanya tajam dan dingin, memperhatikan gerakan Andi tanpa berkedip.

Anak buahnya yang berdiri di samping melangkah mendekat, membisikkan sesuatu di dekat telinga Baron. "Bos, dia orangnya."

Baron meludah ke lantai. Tidak ada air liur yang keluar, itu cuma gestur gaya-gayaan yang kerap ia lakukan saat emosinya mulai naik. Ia menurunkan kakinya, berdiri, lalu berjalan melangkah menuju area bar counter.

Di meja bar, antrean tamu sudah mengular. Andi masih sibuk mengocok racikan berikutnya. Minuman di bar ini dibanderol seratus ribu rupiah per gelas. Harga yang cukup mahal untuk ukuran bar di wilayah selatan Veridia. Tapi para pelanggan tetap rela merogoh kocek dalam-dalam. Bukan cuma karena aksi Andi saat meracik, melainkan karena komposisi alkohol racikannya punya efek yang jauh lebih kuat dan rasa unik yang sulit dilupakan.

Baron berhenti tepat di depan meja bar. Tanpa bicara, ia mendadak mendorong dan menghentak meja counter kayu itu dengan keras.

Brak!

Suara benturan kayu tebal itu menggema. Seketika, sorak-sorai dan tepuk tangan riuh di sekitar bar terhenti total. Suasana meredup cepat. Para tamu yang tadi bersenang-senang mendadak bungkam, menyadari kehadiran sosok pembawa masalah di wilayah mereka.

Namun, Andi tidak berhenti. Tangannya masih terus mengocok shaker dengan ritme konstan. Dalam benaknya, ia mengira Baron hanya sedang dalam mode rusuh seperti biasanya dan ingin ikut memesan minuman racikannya.

Anak buah Baron yang berdiri di sebelah bosnya langsung maju satu langkah. Wajahnya digalakkan, matanya melotot menatap Andi. "Heh! Apa kau buta, hah? Kamu gak dengar Bos Baron bilang apa? Berhenti!"

Gerakan tangan Andi akhirnya terhenti. Ia meletakkan shaker di atas nampan logam. Andi menoleh, menatap anak buah Baron dan Baron sendiri dengan ekspresi santai tanpa beban.

Bagi Andi, wajah-wajah ini bukan sosok asing. The Cipher Room adalah tempat mengumpul orang-orang yang sama setiap malamnya. Semua orang di sini rata-rata saling kenal. Apalagi Baron. Pria itu bos preman di wilayah selatan kota ini dan sudah ratusan kali duduk serta minum di bar ini. Andi sudah terbiasa melayaninya.

Dengan santai, Andi melangkah mendekati sisi meja counter tempat Baron berdiri. Ia menyapa seperti biasa, menggunakan panggilannya yang santai.

"Halo, Kak Baron. Apakah Kak Baron mau cicipi racikan baru saya juga?" sapa Andi halus.

Tanpa menunggu jawaban dari mulut Baron, Andi langsung berbalik badan. Ia mengambil gelas kaca berkaki, meraih shaker, lalu mengocoknya sekali lagi sebelum menuangkan cairan berwarna kemerahan itu dengan rapi hingga memenuhi bibir gelas.

Andi kembali berbalik. Dengan satu gerakan tangan, ia menggeser gelas berisi minuman mahal itu melintasi meja counter, tepat berhenti di hadapan Baron. "Silakan, Kak."

Namun, Baron sama sekali tidak menyentuh gelas itu.

Jutsru anak buah di sampingnya yang mendadak mengulurkan tangan. Ia menyambar gelas kaca tersebut, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menyiramkan seluruh isi minuman beralkohol pekat itu tepat di atas kepala Andi.

Cairan dingin dan lengket itu membasahi rambut Andi, mengalir deras melewati dahi, mata, hingga menetes dari dagunya ke kemeja kerja yang ia kenakan.

Suasana bar langsung membeku. Reaksi orang-orang di sekitar bar beragam. Beberapa tamu pelan-pelan mengundurkan diri, bergerak menjauh dari bar counter karena takut kena imbas. Beberapa yang lain saling berbisik heran.

Tumben sekali Kak Baron malam ini terlihat sekasar itu. Bisik-bisik mulai terdengar di antara pengunjung. Apakah ada orang yang tidak sengaja menyinggung perasaannya? Atau ada urusan bisnis yang kacau?

Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang tahu alasan sebenarnya. Mereka tidak tahu kalau Baron sedang terbakar cemburu setengah mati pada Andi. Semalam, salah satu anak buah Baron melihat Andi berjalan berdua dengan Lina saat jam pulang kerja. Lina adalah kasir di bar itu, wanita yang sedang diincar Baron sejak lama. Anak buah Baron yang melapor justru memanasi keadaan, menambah-nambah cerita seolah-olah Andi sedang aktif bergerak mendekati Lina dan mencoba menggaetnya.

Sementara itu, Andi berdiri mematung di tempatnya dengan cairan minuman yang terus menetes dari pakaiannya. Ia benar-benar tidak paham kenapa Baron dan anak buahnya datang melabrak dan berbuat seperti ini malam-malam. Seingatnya, ia tidak punya masalah bisnis ataupun utang piutang dengan kelompok preman ini.

Andi mengusap matanya yang perih terkena rembesan alkohol. Ia menatap Baron, berusaha menjaga suaranya tetap terkontrol dan profesional.

"Ada apa ini, Kak?" tanya Andi. "Kalau ada kesalahpahaman di antara kita, ngomong baik-baik, kan bisa? Kenapa harus mengacaukan tempat ini dan membuang minuman?"

Baron tidak langsung menjawab. Ia melangkah makin merapat ke meja counter. Jarak wajah mereka kini hanya terhalang oleh lebar meja kayu tersebut. Matanya menatap Andi penuh ancaman.

Sret!

Tangan Baron yang kekar mencengkeram kuat kerah kemeja Andi yang basah. Ia menarik tubuh Andi mendekat hingga wajah mereka berjarak beberapa sentimeter saja.

"Jarak kau sama dia itu jauh, Andi," bisik Baron pelan namun bertekanan tinggi. Suaranya terdengar makin berandalan di tengah keheningan bar. "Jika kau berani mendekatinya lagi, habis kau. Paham?"

Baron melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat Andi sedikit terhuyung ke belakang menabrak rak botol.

Tanpa membuang waktu lagi, Baron berbalik badan. Ia berjalan keluar menuju pintu utama bar, diikuti oleh barisan anak buahnya. Di sepanjang jalan keluar, Baron menendang beberapa kursi kayu yang dianggapnya menghalangi jalan dengan kasar hingga terguling dan menimbulkan suara gaduh.

Pintu bar tertutup keras. Meninggalkan keheningan canggung di dalam The Cipher Room.

Andi mengambil kain lap bersih dari bawah meja counter. Ia mulai mengusap wajah dan lehernya yang lengket, lalu mengeringkan sisa minuman yang membasahi lantai bar. Tatapannya tertuju pada pecahan gelas dan genangan cairan merah di lantai.

"Kamu tidak apa-apa, Andi?"

Suara lembut itu datang dari arah samping. Lina melangkah mendekati bar counter dengan wajah cemas. Tangan wanita itu memegang beberapa lembar tisu kering.

Andi menoleh. "Lina. tidak apa-apa. Cuma basah saja."

"Maafkan aku," kata Lina pelan. Matanya tidak berani menatap langsung wajah Andi. "Ini pasti gara-gara semalam. Ada yang lihat kita jalan bareng waktu pulang. Baron itu orangnya memang makin ngelunjak akhir-akhir ini, dengan sifatnya yang begitu, siapa wanita yang menyukainya, dasar aneh!."

Lanjut membaca
Lanjut membaca