Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
AKU BUKAN PEMBUNUH

AKU BUKAN PEMBUNUH

DwieLestari | Bersambung
Jumlah kata
86.4K
Popular
6.2K
Subscribe
619
Novel / AKU BUKAN PEMBUNUH
AKU BUKAN PEMBUNUH

AKU BUKAN PEMBUNUH

DwieLestari| Bersambung
Jumlah Kata
86.4K
Popular
6.2K
Subscribe
619
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalBalas Dendam
Sejak lahir, Raja hanya mengenal satu kenyataan, kebencian ayahnya, Broto. Sang ibu, Miranti, meninggal saat melahirkannya, dan sejak itu Broto menaruh dendam pada bayi yang ia anggap sebagai pembawa sial sekaligus penyebab kematian istri tercintanya. Dua puluh tahun lamanya, Raja tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, hanya ditemani kasih lembut ibu sambungnya, Asri, adik kandung Miranti yang menikah dengan Broto sebulan setelah kakaknya tiada. Meski Asri berusaha menjadi pelindung, dinding kebencian Broto semakin tinggi. Kata-kata tajam “pembunuh” dan “pembawa sial” menjadi santapan sehari-hari bagi Raja, hingga hatinya perlahan mengeras menahan sakit. Namun, saat puncak amarah Broto memaksa Raja pergi dari rumah peninggalan ibunya, benteng kesabaran yang selama ini ia bangun pun runtuh.
1 Diusir Dari Rumah Sendiri

"Anak pembawa sia!"

"Pembunuh! Enyah dari sini!"

Dorongan kuat tangan kekar Broto membuat tubuh Raja hampir saja jatuh tersungkur, untung saja tangannya sempat menggapai dahan pohon mangga yang ada di halaman rumah berpagar bambu itu, tepatnya rumah peninggalan almarhumah ibunya yang bernama Miranti.

"Ya ampun Maaas, ada apa ini?" suara nyaring Asri mengurungkan gerakan tangan Broto yang sudah terangkat untuk menampar anak lelakinya. Asri adalah adik kandung Miranti, yang dinikahi Broto sebulan setelah meninggalnya Miranti.

Miranti meninggal saat melahirkan Raja, dan sejak itu Broto selalu menaruh dendam pada anak lelakinya, menganggapnya sebagai penyebab kematian istri yang sangat ia cintai. Sejak hari pertama kelahirannya, hingga usia Raja dua puluh tahun, Broto menolak untuk menyentuh apalagi menimangnya. Ironisnya, justru sang kakek yang memberinya nama 'Raja', sebuah harapan agar kelak ia tumbuh menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, meski cinta dari ayah kandungnya tak pernah benar-benar ia terima.

"Kamu nggak usah ikut campur As, ini urusanku dengan pembunuh sialan ini!" sergah Broto membalas ucapan Asri dengan tatapan nyalang ke arah Raja.

"Sabar Mas, Raja ini kan anakmu, dia nggak tahu apa-apa atas kematian Mbak Ranti," Asri berucap pelan sambil menarik tangan suaminya agar menjauh dari Raja. Dengan kasar Broto menyentak tangan Asri, sambil menggeram lelaki paruh baya itu mengikuti langkah istrinya masuk ke rumah.

Rajs mengusap lengan kanannya yang terasa nyeri akibat terbentur dahan pohon mangga tadi. Yang bisa ia lakukan hanya meringis untuk menahan sakit fisik dan hatinya. Dengan langkah gontai ia berjalan, saat sampai di depan pintu, langkahnya terhenti. Tangannya sudah terulur hendak memutar gagang, namun telinganya lebih dulu menangkap suara samar dari dalam rumah. Ia menahan napas, tubuhnya kaku.

Dari celah pintu, percakapan Broto dan Asri terdengar jelas.

"Mas, sampai kapan akan menyalahkan Raja? Dia itu anakmu, darah dagingmu! Seharusnya Mas Broto menjaga dan menyayanginya, dia satu-satunya peninggalan Mbak Ranti. Dan, selama ini bukankah Raja yang banyak membantu menjalankan toko itu? Dia nggak pernah mengeluh dan protes meskipun nggak pernah dikasih upah!"

Sesak dada Raja saat mendengar kata-kata Asri. Ia menahan napas. Selain rumah, Miranti juga meninggalkan sebuah toko grosir yang lumayan besar, dan dari hasil toko itu Broto membiayai hidup keluarganya.

"Berapa kali aku bilang, jangan ikut campur urusanku Asri!"Dengan suara lantang Broto menghardik istrinya.

Senyum tipis tersungging di bibir tipis Asri, wanita bermata teduh itu sama sekali tak menunjukkan kemarahan walaupun dibentak ataupun dihardik oleh suaminya.

"Saya nggak berniat untuk ikut campur urusanmu Mas,, tapi saya nggak setuju dengan sikap dan cara Mas Broto!" sahut Asri dengan suara lembut dan sabar.

"Kamu nggak tahu apa-apa As, jadi nggak usah sok tahu dan sok bijak menasehatiku!" cecar Broto keras membalas ucapan lembut ibu sambung Raja yang masih dengan sabar menghadapi kemarahan suaminya.

Dari celah lubang jendela Raja melihat Asri menghela nafas pelan, pandangannya menerawang ke depan seolah membayangkan sesuatu.

"Mas, sebelum meninggal Mbak Ranti menitipkan dan mengamanatkan Raja kepada saya, jadi saya bertanggung jawab untuk menjaga dan menyayanginya," Asri berkata dengan pelan namun penuh penekanan.

"Halaaah, persetan dengan amanat atau apapun itu, pembunuh seperti dia nggak pantas dijaga apalagi disayang!" Suara Broto menggelegar.

Raja menggeleng-gelengkan kepalanya, Ayahnya selalu melihatnya sebagai sumber kesalahan. Raja sering ingin membela diri, mencoba menjelaskan, namun semakin lama, semakin ia sadar, penjelasannya tak pernah berarti. Luka hatinya menumpuk, tetapi justru dari sanalah ia belajar untuk kebal. Setiap kata tajam yang dilemparkan ayahnya tak lagi membuatnya gentar.

"Saya akan merasa bersalah dan berdosa kepada Mbak Ranti kalau sampai saya mengabaikan Raja!" Akhirnya terdengar suara pelan Asri setelah beberapa saat terdiam. Wajah wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu tampak sedih dan sayu.

"Nggak ada yang berdosa atau bersalah selain pembunuh itu di rumah ini! Kamu harus ingat itu Asri!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Broto bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke pintu.

"Heh, anak pembawa sial! Ternyata kamu masih di sini? Apa lagi yang kamu tunggu hah? Cepat pergi dari rumah ini sebelum kesabaranku habis!"

Raja tak berkutik dan tak bisa mengelak lagi, sang ayah menangkap basah saat dia sedang bersembunyi di balik pot besar yang berada di dekat pintu, Raja berpikir pot besar itu bisa menyembunyikan tubuhnya dari penglihatan ayahnya, namun ternyata ukuran tubuhnya lebih besar dari pot yang terbuat dari tanah liat itu.

"Pp-Pakk, mem-memang Aku sal-salah apa?" dengan keberanian yang entah datang dari mana Raja bertanya kepada lelaki berusia empat puluh tahun enam itu walau dengan suara terbata-bata.

Mendengar pertanyaan Raja yang pelan dan terbata-bata, bola mata Broto membulat dan wajahnya bertambah garang. Keberanian Raja yang tadi membara mendadak sirna, ia menundukkan kepalanya.

"Kamu masih berani tanya apa salahmu hah? Kamu nggak sadar diri, kamu itu pembunuh! Pembawa sial!"

Raja tak bergeming mendengar teriakan keras sang ayah. Baginya, sudah biasa mendengar kalimat itu. Ia tak berani menatap wajah lelaki yang menyebabkan dirinya ada di dunia.

Tanpa bicara sepatah kata, Broto membalikkan badannya, dengan langkah kasar ia masuk ke rumah, dan tak lama kemudian...

Bruuggh!

"Enyah dari sini, dan jangan sekali-kali menginjakkan kakimu ke sini!"

Bersamaan dengan ucapan kasar Broto, sebuah ransel warna hitam mendarat persis di kaki Raja.

"Ba-bapak ngusir sa-saya?" dengan keberanian yang tersisa Raja bertanya dengan suara pelan, mana ada nyali Raja untuk berkata keras terhadap ayahnya.

"Masih kurang jelas hah? Cepat pergi dari sini! Sampai kapanpun, aku haramkan kakimu menginjak rumah ini, walau hanya di jalan depan rumah ini, pergi!" dengan kasar dan berapi-api Broto mendorong tubuh Raja sambil memaksa anak lelakinya itu untuk mengambil ransel yang masih berada di lantai teras.

"Raja, nggak usah kamu dengar ucapan bapakmu Nak, cepat masuk ke rumah!"

Asri yang entah tadi ke mana tiba-tiba datang dari halaman samping dengan suara lembut tapi tegas. Wanita berwajah teduh dan cantik itu berjalan pelan mendekati anak sambungnya dan mengambil tas ranselnya.

"Jangan ikut campur! Kamu nggak paham-paham juga Asri Baskoro?" suara keras Broto mengurungkan gerakan tangan Asri yang baru saja mau menarik tangan Raja.

Asri menatap suaminya dengan sorot mata nyalang. Ia tahu, ketika suaminya menyebut nama lengkapnya, itu pertanda amarahnya sudah di puncak. Baskoro, ayah Asri, sekaligus kakek Raja, seakan hadir di antara mereka.

"Mas Broto! Sudah dua puluh tahun Mbak Ranti meninggal, dan itu adalah takdirnya, ikhlaskan dan doakan yang terbaik Mas, jangan terus menyalahkan Raja, dia nggak tahu apa-apa!"

Raja terkejut saat mendengar ucapan ibu sambungnya yang lantang dan tegas, karena selama ini Asri tak pernah bicara keras dan lantang seperti ini, apalagi kalau berhadapan dengan suaminya.

"Karena anak ini Ranti mati As! Kamu nggak tahu gimana rasanya saat orang yang sangat berarti dan sangat aku cintai meregang nyawa di depan mata, semua karena anak ini, anak pembawa sial, pembunuh!" pekik Broto keras sambil menuding ke arah Raja, dengan tatapan sengit dan wajah merah padam karena marah.

Mendadak darah Raja mendidih, dinding kesabaran yang selama ini ia pertahankan roboh karena tak kuat lagi menahan berat dan beban sakit hati.

"Bapak!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca