

Krakkkkkkk!
Kayu bakar yang ia pikul terhempas, jatuh berserakan ke tanah. Salju berderak di bawahnya, dingin menusuk kulit, seakan dunia ikut menekan napasnya.
I... IBU! AYAH!!
Detak jantungnya berdegup kencang, menggema di telinga. Di hadapannya, rumah yang dulu penuh hangat kini porak-poranda, seolah baru saja dihantam pertarungan dahsyat.
Ia berlari secepat mungkin menuju puing-puing itu. Salju berderak keras di bawah pijakannya, hingga tiba-tiba—dentang pedang menggema di udara. Seketika tubuhnya membeku, hatinya terguncang hebat saat melihat sumber suara itu.
“LARI, DAREL!!”
Suara serak penuh darah menggema dari sosok pria yang tubuhnya sudah berlumuran luka. Darel terhentak, matanya membelalak.
Ayahnya, Dento, tengah beradu pedang dengan seorang pria berjubah hitam. Wajah sosok itu tertutup masker, sementara di tangannya tergenggam pedang melengkung menyerupai katana. Di atas kepalanya bertengger topi jerami, menambah aura misterius sekaligus mengerikan dari lawannya.
“HUAHAHAHA!!”
Tawa pria itu meledak, begitu mengerikan hingga menelan suara salju yang bergema di sekitar. “Datang lagi satu semut... aku tak perlu repot mencari. Kalian akan kuhabisi satu per satu!” Suaranya bergemuruh, diiringi kilatan pedang yang terus menebas tanpa henti.
Desing!
“Arghh!!” Suara Dento lirih, lehernya tercekat hebat.
“Darel, dengarkan ayah! Larilah secepat mungkin, bantu ibumu di bawah puing itu!”
Mata Darel terbelalak. Nafasnya tercekat, cepat menelusuri keadaan sekitar. Dan tiba-tiba, ia terhentak—ada sesuatu yang bergerak di balik reruntuhan kayu itu.
“IBUUU!!”
Darel langsung mengayunkan kakinya, berlari di bawah dentuman salju yang keras. Nafasnya memburu, dada terasa sesak. Di depan matanya, sang ibu tertindih puing, tubuhnya lemah dan merintih kesakitan.
Dengan suara samar, hampir tak terdengar di sela deru angin dingin, ibunya berbisik lirih, “La... larilah, Darel... jangan pedulikan ibu. Pergilah... bantu ayahmu! selagi ia masih bisa mengangkat pedangnya...”
Dengan tangan gemetar, Darel segera mencoba mengangkat puing itu dengan sekuat tenaga. Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya.
“TIDAK!! Mana mungkin aku melakukannya! Aku akan menyelamatkanmu, Ibu! Segeralah bangun... dan aku akan membantu Aya—”
Belum sempat ia menuntaskan kata-katanya, tubuhnya mendadak goyah. Kedua lututnya terasa berat, matanya tak lagi sanggup menahan deras tangis. Gaun ibunya sudah dipenuhi bercak darah, membuat hatinya semakin hancur.
Swoshhh!
Aliran pedang beradu semakin kencang, dentingannya memekakkan telinga. Dua sosok itu terjebak dalam pertarungan hebat yang mengguncang udara.
“Haha! Dento, tak lama lagi kepalamu akan melayang!” Suara dingin itu menggema, disertai kilatan pedang yang meluncur lurus ke depan.
Desing!
Benturan keras memecah udara saat pedang lain menangkis, lalu membalas dengan ganas. “Selagi aku berdiri, anakku tak mungkin mati!!” teriak Dento, sambil melontarkan tebasan lurus ke depan, mengincar kepala pria berjubah hitam itu.
Darel yang masih membatu terhentak saat mendengar gema suara ayahnya.
“DAREL! FOKUS! Segera bawa ibumu menjauh! Ayah sudah tidak kuat menahannya lebih lama lagi!”
Udara dingin menusuk, membekukan tubuhnya, tapi Darel segera menguatkan diri. Ia mengangkat ibunya, menggendongnya erat di dalam pelukan. Air mata terus mengalir di wajahnya, bercampur dengan napas terengah saat ia berlari menembus salju.
Namun langkahnya mendadak goyah. Tubuh ibunya terasa hangat di pelukannya. Dengan panik ia menunduk, dan matanya terbelalak—darah berceceran di mana-mana, meninggalkan jejak bercak merah di atas hamparan salju putih.
“Ibuu... bertahanlah... aku pasti akan membawamu pergi dari sini,” lirih Darel, suaranya bergetar saat tangannya tak kuasa menahan tubuh ibunya yang penuh luka.
Mendengar bisikan itu, sang ibu bergeming lirih, napasnya terputus-putus. “Darel... sudahlah... Ibu sudah tidak tertolong. Lihatlah ke belakang... segera bantu ayahmu. Ia jauh lebih membutuhkan pertolonganmu ketimbang Ibu...”
Suara itu pelan, namun terasa menyayat hati. Di tengah gemuruh salju yang keras, bisikan ibunya justru terdengar begitu kuat, menusuk hingga ke relung jiwa Darel.
“Ta... tapi, Ibu...” Darel memeluk tubuh ibunya begitu erat, tangannya gemetar, tak kuasa melepaskan genggamannya. Air matanya terus jatuh, bercampur dengan dinginnya salju yang menusuk.
Tiba-tiba, suara keras bergema langsung di telinganya.
“Darel! dengarkan ibu! angkat pedangmu, bantu ayahmu! INI PERMINTAAN IBU YANG TERAKHIR!”
Gema itu menggetarkan hatinya, jauh lebih kuat dari dentuman salju yang meronta di sekitarnya.
“Jika kau tidak mendengarkan Ibu, maka Ibu akan mati sia-sia... Segeralah! Sebelum semuanya terlambat!!”
Disamping Suara Yang Keras Itu, Suara Pedang Justru Memekakan Telinga
Desing!
“Arghhh!!” Dento terhuyung, lengannya tergores pedang lawan. Darah segar langsung muncrat, membasahi salju putih di sekitarnya.
“Hahaha! Sini kau, Dento! Jangan suka berlari seperti tikus got!” suara pria berjubah hitam bergema, diiringi dentingan pedang yang memekakkan telinga.
Napas Dento terengah-engah. Udara dingin menusuk paru-parunya, darah terus mengalir deras dari tangannya. Genggamannya melemah—pedangnya terlepas dan jatuh ke tanah.
Crangg!
Belum sempat ia meraihnya kembali, kilatan pedang lawan sudah meluncur lurus, mengarah tepat ke sisi kepalanya. Lututnya gemetar, tubuhnya tak kuasa menahan dera. Tangan yang mati rasa, mulut yang bergetar lirih, ia berucap, “Mungkin... inilah akhirnya... Aku harap Darel berhasil membawa Nindi per—”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, dentingan keras kembali memecah udara.
DESING!
“AYAHHH!!” Suara nyaring memekakkan telinga dari arah depanya.
Hunusan maut itu seketika terpatahkan oleh dentingan pedang lain. Kilatan cahaya memuncak, menghantam keras hingga pria berjubah hitam itu terhentak ke belakang, meninggalkan jejak panjang di atas salju.
Udara dingin menusuk pria itu, membuat napasnya terengah-engah. Dengan mata terbelalak penuh heran, ia meraung, “SIAPA KAU?!”
Tatapannya liar, menelisik setiap sudut kabut salju yang bergulung. Dan di sana... berdiri sosok berpedang. Bajunya lusuh, tangannya kasar, berdiri tegak di samping Dento yang hampir tumbang.
Jatuh berderak di atas salju, Dento terhuyung, tubuhnya diguyur udara dingin yang menusuk tulang. Matanya melebar terkejut saat melihat siapa sosok di sampingnya.
“DAREL?! Kenapa kau di sini?! Di mana ibumu?!”
Darel menggenggam pedang dengan tangan gemetar, bibirnya bergetar lirih. “Ibu... sudah berpulang lebih dulu. Dan aku tidak akan membiarkan Ayah menyusulnya.” Suara itu pecah, menggema di antara kabut salju.
“Dasar bodoh...” Dento berusaha berdiri, lututnya berderak, tangannya meraih pedang dengan sisa tenaga. “Pergilah... Ayah akan mengulur waktu!”
Namun dari sisi seberang, tawa keras meledak, mengiris udara dingin.
“HAHAHAHA! Anak dan ayah... sama saja! Baiklah... apa bedanya jika semutnya bertambah satu? Mari kita selesaikan ini—agar waktuku tak terbuang sia-sia!” Suara itu meluncur bersama tarikan bilah pedang, menebas lurus ke arah mereka berdua, menembus angin dingin, memekakkan telinga.
Darel menggertakkan gigi. Ia bersiap menahan serangan, meski tangannya bergetar hebat, kakinya hampir tak kuasa menapak di atas salju yang semakin membeku. Suara pedang mendekat semakin keras, membuat jantungnya seakan tercekik di dalam dada.
“Bersiaplah, Darel...” suara Dento lirih namun tegas, matanya menatap tajam ke depan. “Jika kau benar-benar ingin membantu Ayah, berjanjilah—kau harus hidup.”
Bersamaan dengan itu, pedangnya sudah terangkat tinggi, berdiri tegak di hadapan Darel, siap menahan tebasan mematikan yang sedang menghujam.
Semakin dekat—luncuran pedang itu berkilat tajam, menembus kabut dingin salju, kini terlihat jelas siap menebas. Saat bilah maut itu hampir menyambar, Dento menarik pedangnya, menahan sekaligus membelokkan arah serangan.
Bumm!
Dentuman keras pecah, menghantam keheningan di tengah badai salju.
Desing!
Tangan Dento bergetar hebat, kakinya berusaha tetap berdiri meski tubuhnya hampir roboh. Di tengah gencarnya serangan dahsyat itu, suara lirih terengah-engah terdengar.
“Darel! Sekarang waktunya! Cepat, tusuk perutnya!”
Bersamaan itu, pedang kedua meluncur cepat menembus kabut, mengarah tepat ke perut lawan.
“Baiklah, Ayah!!”
Namun sebelum bilah itu mencapai tujuannya, sebuah tebasan lain menangkis dengan paksa, memutar balikkan serangan.
Desing!
“Arghhh!!” Darel terpental, tubuhnya terhuyung ke belakang. Tapi sebelum pria berjubah hitam itu sempat melancarkan tebasan lanjutan, Darel bangkit kembali. Ia berlari sekuat tenaga, hunusan pedangnya kali ini mengincar leher dengan tebasan dahsyat.
Melihat itu, pria berjubah hitam terpaksa menangkis. Dua bilah pedang saling beradu, kilatan cahaya membutakan mata. Saat pedangnya terangkat tinggi untuk menahan serangan Darel, bagian bawah tubuhnya terbuka tanpa pertahanan.
Dento melihat celah itu, matanya menyala. “Ini saatnya... tamatlah riwayatmu!!”
Zraakk!!
Kilatan pedang memekakkan telinga, menembus kabut dingin dengan kecepatan mematikan.
CROTTT!
Darah muncrat deras, memercik di atas hamparan salju putih.
Segera setelah sayatan pedang menghantam, pria berjubah hitam itu refleks mundur, memutar tubuhnya, lalu terhuyung keras hingga terlempar ke tanah. Ia jatuh di atas salju, kedua tangannya menekan perut yang kini mengucurkan darah. Bibirnya menyeringai dingin.
“Cih... ternyata kalian lumayan merepotkan juga. Aku akan serius... kali ini.”
Suara itu membuat dada Darel bergetar. Ia segera bersiap, pedangnya berdiri tegak, kuda-kuda mantap meski tubuhnya masih gemetar.
“Majulah!!” teriaknya lantang, suaranya bergema menggetarkan udara dingin.
Pria berjubah itu pun mengepalkan pedangnya, tatapannya dingin menusuk. “Bersiaplah untuk mati!!”
Dalam sekejap, suara loncatan keras terdengar, tubuhnya melesat seperti bayangan hitam. Pedang berkilat menembus kabut, meluncur cepat dari sisi seberang. Dento sendiri sudah menyiapkan kuda-kuda, pedangnya tegak di depan, siap menghadang.
Namun—kecepatan pria itu sungguh gila. Tak sempat satu kali kedipan, tubuhnya sudah berada di posisi berbahaya.
ZRAKKK!
Kilatan pedang menebas ke depan. Darel yang melihat itu langsung maju, mencoba menahan. Dentuman keras pecah, begitu kuat hingga pedangnya terpental, bilahnya teriris, menyisakan setengah bagian pegangan.
“Arghh!!” Darel terhuyung, terjatuh di atas salju yang dingin. Panik, ia meraba-raba, berusaha menemukan kembali pedangnya. Namun di saat bersamaan—
DESINGGG!!
Suara mengerikan memekakkan telinga, menciptakan tusukan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Darel menoleh, dan matanya terbelalak.
Ayahnya—Dento, sedang menahan serangan pria berjubah itu. Kakinya gemetar hebat, tangannya bergetar seakan tak kuasa menahan.
Di atas hamparan salju putih, tampak bercak merah yang terus menetes, membentuk noda pekat. Dari perut Dento, darah mengucur deras dari luka tusuk yang menganga lebar.
Belum sempat ia bereaksi, serangan berikutnya sudah menghujam, menebas deras ke arah bawah. Dento tak kuasa membelokkannya.
CROOTTTTTT!!
Tusukan itu menembus tubuhnya. Kakinya bergetar hebat, tangannya roboh, matanya sayu, tubuhnya hampir ambruk.
“AYAAAAHHHHHH!!” teriak Darel dengan suara parau, menghancurkan udara sunyi badai salju.
Desing!
Tarikan pedang kembali terjadi, meninggalkan luka dalam yang membuat Dento ambruk ke tanah. Tubuhnya membanting keras di atas salju.
“HAHAHAHA!!” Tawa pria berjubah hitam menggema, memecah deru badai. “Sekarang... tinggal satu semut lagi.”
Darel menatap kondisi mengerikan itu. Suara histerisnya pecah, parau dan bergetar, diiringi napas terengah yang merobek udara dingin.
“HUARGHHHH!!”
Ia menangis tersedu, tubuhnya terhuyung jatuh, berlutut di atas hamparan salju. Pedangnya terlepas dari genggaman, matanya sayu, air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Mulutnya terbuka, suaranya bergetar lirih.
“Maaf... maaf, Ayah... aku tidak bisa melindun—”
Belum sempat kata itu selesai, suara kilatan pedang kembali memecah badai. Hunusan demi hunusan meluncur, lima tebasan keras menghantam udara, semuanya terarah lurus ke tubuh Darel.
Swoshhh! Swoshhh!
Kilatan memekakkan telinga, sayatan udara begitu deras. Darel menatap kosong, tubuhnya kaku, tak mampu bergerak. Ia menunduk, lalu mendongak dengan tatapan putus asa. Tangannya jatuh lemah di sisi tubuh, lututnya terbenam dalam salju.
Pedang semakin dekat—jaraknya tinggal sejengkal menuju area vital. Cahaya kilatan pedang memancar, menusuk mata, dan di tengah kepanikan itu, lirihnya terdengar sayu.
“Ayah... Ibu... maafkan Darel...”
Pedang itu mengkilat, mengarah tepat ke lehernya.
DESINGG!!
Tiba-tiba, serangan itu terhentak. Tubuh pria berjubah hitam terpental, terlempar keras hingga menggelinding di atas tumpukan salju. Tangannya bergetar hebat, pedangnya terlepas jatuh di samping tubuhnya.
Panik, ia segera menoleh, matanya terbelalak liar, mencari-cari di setiap ujung badai salju. “Apa... yang barusan terjadi?!”