

Bab 1: Cakar Darah yang Terbangkitkan
The Empyrean Realm, The Verdant Dawn Sect
Matahari pagi belum cukup tinggi untuk menghangatkan halaman latihan The Verdant Dawn Sect. Kabut tipis masih menyelimuti pegunungan, menciptakan suasana sunyi yang akan pecah oleh hiruk-pikuk para cultivator. Tapi bagi Alastair, yang menyamar dengan nama "Leo", ketenangan itu sudah lama hilang.
Dia terjepit di sudut dinding batu, dikelilingi oleh tiga orang. Rylan, si senior, berdiri di depan dengan senyum kecut, sementara dua anak buahnya menutup jalan melarikan diri.
"Aku bilang, Leo," ucap Rylan, suaranya beracun. "Jatah Spirit Stone murid baru seharusnya diberikan pada yang lebih berbakat. Kau jelas bukan bagian dari itu. Berikan."
Alastair—Leo—hanya diam, menunduk. Di dalam, jiwa seorang dewa bergolak. 'Dengarkanlah hinaan ini. Dari mulut seorang semut yang bahkan tidak akan menyadari kehancuranku di masa lalu.' Tapi sekarang, dia hanyalah cangkang yang hampa. Kekuatannya tersisa tidak sampai satu persen, terkunci oleh segel dan luka dari pertempuran terakhir yang menghancurkan.
"Tuli, ya?" gerutu salah satu anak buah Rylan, mendorong bahu Leo dengan kasar. Leo terhuyung, tapi tetap diam. Lebih mudah menerima daripada melawan dan mempertaruhkan sisa-sisa aura-nya yang tersembunyi.
Tapi kesabaran Rylan habis. "Cari sendiri!" hardiknya, suara menggema penuh amarah. Bukan hanya menyambar kantong Spirit Stone, tangannya yang berkulit kasar menyabet keras ke pipi Leo.
Bruk!
Suara itu tajam dan memekakkan. Kepala Leo terpelanting ke samping, dunia berputar, dan rasa logam menyebar di lidahnya. Darah mulai merembes dari sudut bibirnya yang pecah.
Dia bahkan belum sempat menemukan keseimbangan, ketika dua anak buah Rylan sudah bergerak. Sebuah tendangan mendarat di punggungnya, menyapunya dari udara dan menjatuhkannya keras ke tanah berdebu.
"Dasar sampah tak berguna!" hardik salah satu dari mereka, sambil menendang rusuk Leo.
"Jangan sia-siakan napasmu untuknya," sela yang lain, sebelum tinjunya mendarat di perut Leo.
"Aagh—!" Desahan sakit terengah-engah itu akhirnya keluar dari mulut Leo. Napasnya tertahan, rasanya seperti semua udara di paru-parunya keluar sekaligus. Dia membungkuk, berusaha melindungi tubuhnya yang sekarang dipenuhi rasa sakit yang tajam dan menusuk.
Pukulan dan tendangan itu datang silih berganti seperti hujan batu dari badai. Leo terjatuh, tak berdaya, hanya bisa meringkuk sambil mencoba melindungi kepala dengan lengan yang sudah dipenuhi memar biru keunguan.
Setiap pukulan adalah pengingat yang menghina akan kejatuhannya, akan kegagalannya yang paling memilukan. Debu mengepul, mencampur dengan bau keringat dan setitik darah yang berceceran di tanah. Dia merasakan tulang-tulangnya bergetar, otot-ototnya robek, dan kepalanya berdenyut-denyut tak karuan.
Tubuhnya terpelanting tak karuan di tanah, berguling seperti boneka kain yang dilempar. Dia muntah. Isi perutnya yang hampir kosong tercampur dengan darah, membentuk genangan kotor di debu. Matanya berkunang-kunang, napasnya tersengal-sengal, mencoba mencari oksigen yang seakan menghilang. Dengan sisa tenaga, dia berusaha merangkak, menjauh dari siksaan itu.
Jari-jarinya yang kotor mencengkeram tanah, menarik tubuhnya yang lemas dan remuk, meninggalkan jejak getir di debu. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengoyak dadanya. Memar sudah mulai menghiasi sekujur tubuhnya, tanda ungu dan biru yang akan mengingatkannya pada hari penghinaan ini.
Tiba-tiba, sebuah teriakan memecah kekerasan itu. "Berhenti! Tinggalkan dia sendirian!"
Itu adalah Finn, murid baru yang polos dan baik hati. Wajahnya pucat melihat pemandangan itu, tapi dia berdiri tegak.
Rylan berhenti sejenak, lalu tertawa sinis. "Finn, si penjaga perdamaian. Kau pikir kau bisa menghentikanku?"
"Jatahnya adalah haknya, Rylan! Aturan sect melarang ini!" bantah Finn, berusaha terdengar berani.
Rylan menggerutu. "Aturan? Aku yang membuat aturan di sini!" Dia mengalihkan amarahnya. Dengan gerakan cepat, dia menangkap kerah Finn dan mendorongnya keras ke tanah. "Kau ingin jadi pahlawan? Bagaimana kalau kau yang merasakannya?"
Pemandangan itu mengoyak sesuatu dalam diri Leo. Finn, yang sekarang menjadi sasaran amukan Rylan dan kroni-kroninya, berteriak sambil mencoba melindungi kepalanya, "Leo, lari! Pergi! Jangan pedulikan aku!"
"Pergi! Jangan pedulikan aku!"
"Pergi! Jangan pedulikan aku, Alastair! Selamatkan dirimu!"
SEKETIKA.
Dunia di sekitar Leo menghilang.
Suaranya Finn menyatu dengan suara yang telah menghantuinya selama ribuan tahun. Suara seorang gadis. Dia tidak lagi melihat halaman sect yang dingin, tapi medan pertempuran surgawi yang berantakan. Langit berwarna merah darah, petir menyambar-nyambar.
Dan di tengah-tengahnya, seorang gadis, berdiri di depan Cawan Keabadian yang sedang mengamuk, matanya penuh air mata tapi juga tekad yang tak tergoyahkan. Dia tersenyum padanya, senyum perpisahan, sebelum cahaya putih menyilaukan menyapu segalanya, melahapnya, dan meninggalkan Alastair sendiri dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
LEDAKAN ITU.
Kenangan itu menyambar seperti sambaran petir. Rasa sakit yang lebih dalam dari pukulan mana pun. Kegagalan. Kehilangan. Amarah yang membara yang dia pendam selama ini.
"TIDAKKKK!"
Teriakan parau keluar dari mulut Leo. Bukan teriakan fisik, tapi teriakan jiwa yang terluka.
Dia membuka mata. Dunia kembali ke halaman sect, tapi sekarang segala sesuatu di matanya berwarna kemerahan. Rylan dan kroni-kroninya berhenti memukuli Finn, menatapnya dengan terkejut.
Leo bangkit, tubuhnya yang babak belur tadi tampak bergetar dengan energi gelap. Dia tidak lagi menunduk. Tatapannya sekarang tajam, menusuk, penuh dengan kegeraman ribuan tahun.
"Kau..." desis Rylan, langkahnya mundur tanpa sadar. Dia melihat luka di tangannya—luka kecil dari berburu kemarin—tiba-tiba terbuka dan berdenyut-denyut.
Darah bukan hanya menetes, tapi mengalir lebih deras, seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Rasa sakitnya tajam dan aneh, seperti nyawanya sendiri dicabut. "Apa... ilmu setan apa yang kau gunakan?!"
Leo—atau lebih tepatnya, Alastair yang bangkit sesaat—hanya bisa berdiri di sana, napasnya tersengal-sengal. Tindakan kecil menggunakan Blood Dominion itu menguras habis sisa tenaganya, tapi telah memicu alarm.
Seperti yang diantisipasinya, sosok yang lebih berwibawa muncul. Elder Caspian melangkah tenang ke tempat kejadian, wajahnya seperti batu yang tidak tergoyahkan.
"Keadaan apa ini?" suaranya menggelegar, penuh wibawa.
Rylan segera menuduh, "Elder! Leo... dia menggunakan ilmu terlarang! Lihatlah!" Dia menunjukkan tangannya yang berdarah.
Elder Caspian tidak langsung percaya. Dia mendekati Leo, matanya yang tajam menyelidiki setiap inci dari pemuda itu. Leo merasakan pemeriksaan spiritual yang halus namun dalam menyusupinya.
Dia dengan cepat menarik kembali sisa-sisa aura darahnya, memaksanya untuk kembali terlihat lemah dan hampa, meski jantungnya berdebar kencang.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti lama, Elder Caspian berpaling ke Rylan. "Luka kecil. Tenanglah, Rylan." Lalu, dia menoleh ke Leo. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan kemarahan, tapi... kecurigaan yang mendalam.
"Leo," ucap Elder Caspian, suaranya rendah namun penuh arti.
"Tampaknya kau menyimpan... potensi yang belum terlihat. The Verdant Dawn menghargai setiap kontribusi, sekecil apa pun. Besok, kau akan bergabung dengan tim pengumpulan herbal ke Darkmist Forest. Anggap ini sebagai kesempatan untuk membuktikan nilai sejatimu."
Leo tahu ini bukan kesempatan. Ini adalah ujian, bahkan mungkin hukuman terselubung. Darkmist Forest adalah tempat berbahaya. Tapi dia hanya bisa menunduk patuh.
"Dimengerti, Elder Caspian."
Elder Caspian mengangguk, dan sebelum pergi, dia melemparkan pandangan terakhir yang dalam kepada Leo. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan, anak muda? bisik hatinya.
***
Malam harinya, di gubuknya yang sederhana, Leo membasuh memar di tubuhnya. Rasa sakit fisik tidak ada artinya dibandingkan luka di jiwanya. Suara sang gadis dan Finn masih bergema di kepalanya.
Saat dia duduk merenung, jendela kayunya berderit pelan, terbuka. Sebuah gulungan kertas kecil mendarat dengan lembut di lantai.
Dengan hati-hati, Leo membukanya. Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta elegan:
"Mereka sudah mencium aroma darah kuno. Kau tidak aman di sini. LARI."
Siapakah yang mengirim peringatan ini? Apakah mata-mata para Dewa sudah berada di dalam sect, begitu dekat? Atau... jangan-jangan ini adalah jebakan untuk memancingnya keluar?
Dengan jantung berdebar kencang, Alastair menyadari: perburuan yang telah menghantui hidupnya selama ribuan tahun, akhirnya benar-benar dimulai.
***