

Seragam safir murahan itu terasa seperti amplas di kulitnya. Keringat membasahi kerah, menciptakan garis gelap yang gatal. Di bawah terik matahari Jakarta yang tak kenal ampun, Wisnu Adijaya berdiri kaku. Tegap. Kosong. Di plang nama dadanya, terpatri sebuah kebohongan: JAYA.
"Lihat pakai matamu, bukan pakai dengkul!" Suara bariton yang kasar itu menghantam telinganya. Pak Hadi, Manajer Keamanan dengan perut buncit yang menyembul dari balik kemejanya yang terlalu ketat, menunjuk sebuah sedan mewah yang baru saja melintas.
"Itu mobil Tuan Muda. Pelatnya B 1 DY. Hafalkan. Kalau sampai kamu hentikan, kepalamu yang saya ganti jadi ganjalan gerbang,” tambahnya.
Wisnu, atau lebih tepatnya Jaya, hanya mengangguk. "Siap, Pak."
Jawaban singkat itu adalah perisai. Di baliknya, otak seorang direktur intelijen berputar cepat. Sistem pengenalan pelat nomor otomatis mereka usang. Ketergantungan pada memori manusia adalah celah keamanan level satu.
"Jangan 'siap-siap' saja!" bentak Hadi lagi, seolah bisa mencium pembangkangan dalam diam. Ia melangkah mendekat, aroma rokok kretek dan kopi basi menguar dari napasnya. "CV-mu bilang pengalaman dari perusahaan alih daya kecil. Lulusan SMA. Benar?"
"Benar, Pak." Sebuah kebohongan yang dirancang sempurna. Identitas Jaya adalah hantu, diciptakan dari nol oleh tim terbaik The Syafutra Group. Terlalu sempurna untuk dicurigai, terlalu biasa untuk diperhatikan.
"Bagus," kata Hadi dengan nada puas. "Saya tidak butuh orang pintar di sini. Saya butuh orang yang nurut. Di kompleks Dharmawangsa ini, ada tiga aturan. Satu, jangan banyak tanya. Dua, jangan banyak tingkah. Tiga, anggap dirimu tidak terlihat. Kamu cuma perabot. Paham?"
"Paham, Pak." Wisnu menjawab singkat.
Setiap kata "Pak" yang keluar dari mulutnya terasa seperti menelan serpihan kaca. Pria di hadapannya ini, dengan segala keangkuhannya, hanyalah anjing penjaga rendahan milik Bayu Dharmawangsa. Namun, hari ini, Wisnu harus menundukkan kepala di hadapannya. Sama seperti ayahnya dulu, yang menundukkan kepala di hadapan Bayu, memohon belas kasihan yang tak pernah datang.
Kenangan itu menghunjam tanpa permisi. Ruang rapat dingin, aroma kekalahan, dan suara tawa Bayu yang menggema saat ayahnya diusir seperti pengemis.
Ayahnya, seorang arsitek brilian, difitnah, dihancurkan, dan dibuang. Dan Wisnu, yang saat itu hanya bisa mengepalkan tangan di luar ruangan, bersumpah. Sumpah yang kini ia simpan bersama seragam ini. Pakaian baja penyamarannya.
"Sekarang ikut saya. Saya tunjukkan pos jagamu dan rute patroli." Hadi berbalik, langkahnya berat dan malas.
Wisnu mengikutinya dalam diam. Mereka melewati taman-taman yang terawat sempurna, air mancur yang menari-nari di tengah kolam pualam, dan fasad rumah utama yang lebih mirip istana modern daripada sebuah kediaman.
Kemewahan yang dibangun di atas kebohongan. Di atas kehancuran keluarganya. Setiap jengkal tanah ini adalah pengingat utang darah yang harus ditagih.
Mereka tiba di sebuah pos jaga kecil di sudut belakang kompleks, dekat dengan area servis. Panas dan pengap. Hanya ada satu kipas angin reyot yang berputar lesu di langit-langit.
"Ini markasmu untuk dua belas jam ke depan. Shift malam," ujar Hadi sambil menunjuk sebuah kursi plastik.
"Tugasmu simpel. Patroli setiap jam. Cek semua pintu servis, jendela di lantai dasar, dan area garasi. Pastikan terkunci. Ada apa-apa, lapor Diki, satpam senior. Jangan langsung hubungi saya kecuali ada kebakaran atau kiamat,” tuturnya menjelaskan dengan wajah malas.
Wisnu mengamati sebuah monitor usang yang menampilkan beberapa sudut CCTV. Kualitas gambarnya buruk. Hanya delapan kamera aktif untuk area seluas ini? Konyol.
"Logbook patroli ada di meja," lanjut Hadi. "Isi setiap jam. Jangan coba-coba mengarang. Saya cek."
"Mengerti, Pak."
"Satu lagi." Hadi membalikkan badan sebelum pergi, matanya menyipit, menatap Jaya dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Keluarga Dharmawangsa tidak suka diganggu. Kalau kamu lihat Nona Puspita atau Tuan Bayu, jangan menatap. Tundukkan kepala, pura-pura sibuk, lalu pergi. Kamu paham maksud saya?"
"Sangat paham, Pak."
‘Aku di sini bukan untuk menatap, tapi untuk menguliti kalian lapis demi lapis,’ batin Wisnu.
Hadi mendengus, tampaknya puas dengan jawaban penurut itu, lalu pergi meninggalkan Wisnu sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.
Jam-jam pertama berlalu dalam kemonotonan yang mematikan. Wisnu menjalankan patrolinya dengan presisi seorang prajurit. Langkahnya terukur, matanya memindai setiap sudut, setiap bayangan. Naluri intelijennya menjerit. Celah keamanan ada di mana-mana. Pagar pembatas di sisi barat terlalu rendah. Titik buta CCTV di dekat paviliun taman bisa dimanfaatkan penyusup. Gerendel pintu gudang sudah berkarat.
Wisnu menekan semua itu dalam-dalam. Ia adalah Jaya. Seorang satpam dari desa yang hanya tahu cara mematuhi perintah. Ia mencatat di logbook dengan tulisan tangan yang sengaja dibuat sedikit ceroboh.
"Pukul 20.00. Area garasi. Aman." "Pukul 21.00. Pintu servis. Terkunci."
Malam semakin larut. Suara jangkrik dan gemerisik daun menjadi musik pengiring kesendiriannya. Saat patroli ketiganya, ia berhenti di dekat sayap barat rumah utama. Area perpustakaan, berdasarkan denah yang telah ia hafal di luar kepala. Dari sini, ia bisa melihat langsung ke lantai dua.
Tiba-tiba, sebuah lampu di salah satu kamar di atas menyala.
Nalurinya mengambil alih. Tubuhnya otomatis merapat ke balik pilar besar, menyatu dengan bayangan. Matanya terpaku pada jendela yang kini bermandikan cahaya hangat itu.
Sebuah siluet muncul. Perempuan. Bergerak dengan keanggunan yang tenang. Ia mendekati jendela, menyibakkan sedikit tirai tipis untuk menatap ke luar, ke arah taman yang gelap.
Wajahnya tersinari cahaya lampu dari dalam.
Jantung Wisnu serasa berhenti berdetak.
Puspita Dharmawangsa.
Wisnu pernah melihatnya di foto, dalam berkas-berkas intelijen yang ia pelajari selama berbulan-bulan. Foto tidak mampu menangkapnya. Tidak mampu menangkap sorot mata yang tampak lelah namun penuh idealisme itu. Tidak mampu menangkap garis rahangnya yang lembut namun menyiratkan keteguhan.
Darah musuhnya. Putri dari iblis yang menghancurkan dunianya.
Wisnu seharusnya merasakan gelombang kebencian yang membara. Ia seharusnya melihat wajah Bayu Dharmawangsa pada putrinya. Seharusnya, sumpah balas dendam yang terukir di jiwanya mengeras menjadi baja.
Namun, yang Wisnu rasakan adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing dan berbahaya. Tarikan aneh yang tak bisa ia definisikan. Kekaguman sesaat pada keindahan yang berdiri rapuh di balik kaca, terperangkap dalam sangkar emasnya.
Puspita tidak melihat Wisnu. Pandangannya menerawang jauh, melewati pilar tempat Wisnu bersembunyi. Lalu ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban yang tak terlihat, sebelum akhirnya menutup tirai.
Lampu padam. Jendela kembali menjadi persegi hitam di dinding istana.
Wisnu masih terpaku di tempatnya. Napasnya tercekat. Seragam di tubuhnya tiba-tiba terasa mencekik. Untuk pertama kalinya sejak ia memulai misi ini, sumpahnya terasa memiliki retakan. Sebuah retakan kecil, nyaris tak terlihat, yang disebabkan oleh bayangan seorang gadis di jendela.
Di kegelapan, Wisnu menyentuh plang nama di dadanya. JAYA. Kebohongan itu kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Di seberang taman, di salah satu pos keamanan yang menghadap gerbang utama, sebuah radio komunikasi berderak hidup.
Suara Diki, si satpam senior, terdengar malas. "Jaya, posisi? Laporan rutin."
Wisnu menarik napas dalam-dalam, memaksa suaranya untuk stabil. Ia menekan tombol di radionya. "Posisi di dekat sayap barat. Semua aman. Terkendali."
Sebuah kebohongan lagi. Tidak ada yang aman. Tidak ada yang terkendali. Permainan baru saja dimulai, dan ia baru saja menyadari bahwa musuh terbesarnya mungkin bukanlah Bayu Dharmawangsa.
Melainkan gadis yang baru saja memadamkan lampu kamarnya.