

Angin kemarau bertiup kering dari arah utara, membawa debu dan aroma besi yang panas. Langit di atas Desa bernama Tegaljaya tampak berwarna abu keperakan, memantulkan sinar matahari sore yang menua.
Dari sebuah pandai besi kecil di pinggir sawah yang retak, terdengar suara logam beradu.
Ting… ting… ting… suaranya terdengar berirama dan kadang lambat, seperti napas seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
Di dalam pandai besi, seorang laki-laki tampak menunduk, tubuhnya dibasuh peluh dan sinar api tungku. Setiap pukulan palunya jatuh dengan kesadaran yang penuh, tidak tergesa tapi juga tidak santai.
Ia seakan sudah sangat tahu, besi tidak bisa dibentuk dengan amarah. Dan satu hal yang hanya dia yakini, di dunia ini hanya itulah pekerjaan yang masih bisa ia percayai.
Namanya Ardan Wiranata, berusia tiga puluh tahunan. Meski tak seorang pun di desa itu tahu siapa dia sebenarnya, para penduduk Tegaljaya memanggilnya “Empu Besi,” seorang pria pendiam yang sangat mahir memperbaiki parang, golok dan cangkul tapi hanya memberikan harga seadanya.
Ia tinggal sendiri di rumah panggung kecil di tepi hutan, jarang bicara bahkan jarang tertawa. Anak-anak takut padanya karena tatapannya yang tajam, tapi diam-diam mereka juga menyukai suara pukulan palunya, mereka merasa bunyi itu seperti detak jantung desa.
Hari itu, logam yang ditempanya bergetar di bawah pukulan terakhir. Ardan menatapnya lama, sebelum mencelupkannya ke dalam air.
‘Tssss….’
Suara desisnya panjang dan pelan, seperti keluhan dari besi yang menahan panas dunia. Uap naik, menutup wajahnya untuk sesaat. Ketika uap itu hilang, terlihat mata seorang lelaki yang tampak jauh lebih tua dari usianya.
Dunia memang telah berubah. Dulu, tanah ini milik Layantara, sebuah kerajaan besar di selatan Tanjapura Raya. Tapi sekarang, kerajaan itu hanya tinggal nama dalam doa orang tua yang masih mengingat masa kejayaannya.
Serikat Barat, bangsa asing dari seberang lautan datang membawa janji manis, perjanjian, senjata dan pelabuhan. Raja-raja yang tersisa, yang awalnya menolak kerjasama diserang dan akhirnya terpaksa harus menyerah satu per satu. Dan orang-orang seperti Ardan, Panglima Perang telah kehilangan tempat di dunia.
Ia pernah menjadi Panglima Muda Layantara, dijuluki Panglima Bayangan Selatan. Cepat, tajam dan setia tanpa tanya. Tapi dalam perang terakhir, ketika istana dikepung dan pasukan hancur, Ardan melakukan hal yang membuat namanya jadi kutukan, Ia berbalik melawan rajanya sendiri.
Malam di kejadian itu, dengan pedangnya ia membunuh puluhan prajurit yang dulu bersumpah hidup mati bersamanya. Dan di tengah api malam itu, ia juga kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya masih percaya pada dunia.
Sejak malam itu, ia bersumpah tidak akan lagi mengangkat pedang untuk membunuh. Kini, setiap pagi ia hanya menyalakan tungku besi, bukan untuk membuat senjata perang, tapi alat kerja.
Ia ingin memperbaiki dunia sedikit demi sedikit, meski dengan tangan yang pernah menghancurkannya.
Sore dihari itu, suara langkah kaki terdengar di luar bengkel.
“Empu Besi,” panggil seseorang dengan suara parau.
Ardan menoleh, ia melihat Karta, lelaki tua yang menjadi kepala desa. Wajahnya tampak letih dan matanya keruh.
“Penagih pajak datang lagi,” kata Ardan pelan.
Karta mengangguk tak berdaya, “Orang-orang Serikat Barat akan datang besok pagi. Mereka mengatakan pajak tahun lalu belum lunas.”
Ardan diam. Ia meletakkan palu di samping tungku, lalu menyeka keringat di pelipis. “Bukankah tahun lalu kita sudah menyerahkan padi dan ternak?”
Karta tertawa getir. “Tahun lalu, mereka memungut pajak tanah. Sekarang, katanya pajak udara. Mereka berkata bahkan napas pun harus dibayar.”
Ardan menatap bara yang mulai meredup. “Apakah kau mau melawan?”
Karta menunduk. “Dengan apa, Empu? Cangkul kami tumpul. Golok kami sudah jadi perabot dapur. Lagipula, siapa yang mau mati untuk tanah yang sudah tidak punya raja?”
Hening jatuh di antara mereka. Bahkan suara jangkrik di luar bengkel terdengar lebih keras dari biasanya.
Akhirnya Ardan berkata lirih memecah kesunyian, “Kalau mereka datang, diamlah. Jangan ada pertumpahan darah. Karena darah tak pernah tahu kapan harus berhenti menetes.”
Karta menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Aku tahu, Empu Besi. Tapi dunia ini tak bisa diam selamanya.”
Ia kemudian meninggalkan bengkel dengan langkah berat. Sementara Ardan tetap berdiri di tempat, menatap ke pintu yang terbuka. Dari sana, ia melihat senja menggantung di langit. Langit berwarna tembaga, warna yang seindah dan setakut yang pernah ia lihat di atas medan perang.
Malam turun perlahan. Ardan tampak duduk di depan tungku yang kini hanya menyisakan bara kecil. Ia mengambil kendi, menuangkan air, lalu mencuci tangan yang hitam oleh jelaga.
Air di kendi memantulkan cahaya api dan di dalam pantulan itu, ia juga melihat sesuatu. Sekilas, wajah seorang perempuan tampak senyum samar dengan mata yang tak pernah ia lupakan.
Ardan mengerjap dan bayangan itu pun sekejap menghilang.
Tangan Ardan tampak gemetar. Ia kemudian berdiri, berjalan ke dinding tempat sehelai kain putih tergantung.
Dengan perlahan, ia menyingkapnya.
Di balik kain itu, tersimpan sebuah pedang berukir halus, Gilangsura! Bilahnya sudah berkarat di sisi, tapi cahaya bulan masih bisa memantul di permukaannya.
Ardan memegangnya. Logam itu dingin, tapi jari-jarinya terasa hangat. Dalam genggaman itu, ia bisa mendengar lagi gema masa lalu. Gema suara perang, jerit kuda, teriakan pasukan dan suara seseorang memanggil namanya dari kejauhan. Ia segera menutup mata dan dunia kembali ke malam yang sama.
Malam itu dimasa lalu, saat Layantara terbakar. Asap menjulang tinggi menutupi langit. Api menjilat tiang istana, membakar bendera kerajaan yang dulu ia jaga dengan nyawa.
Ardan berdiri di tengah lapangan, tubuhnya berlumur darah. Namun bukan darah musuh, tapi darah kawan. Di tangan kanannya, Gilangsura meneteskan merah segar. Di depannya, seorang perempuan berlari. Rambutnya panjang, berbaju putih, tapi kemudian, baju putihnya itu berubah warna menjadi merah dalam sekejap.
“Saraswati…”
Ardan berlari ke arahnya, tapi sudah terlambat. Tubuh perempuan itu jatuh ke tanah, mata yang terbuka menatapnya untuk terakhir kali. Tidak ada teriakan, tidak ada kata. Hanya darah yang mengalir ke jari-jarinya sendiri.
Dan sejak malam itulah, setiap kali Ardan memejamkan mata, dunia menjadi merah.
Suara ayam jantan kembali membangunkannya dari mimpi itu. Pagi datang bersama kabut tipis dan rasa sesak di dada.
Ardan duduk di lantai, dengan tangan masih memegang pedangnya yang kini dingin dan mati. Ia menatapnya lama, lalu perlahan membungkusnya kembali dengan kain putih. Kain itu sudah kusam, tapi hanya kain itu yang dapat menahan masa lalu agar tetap diam.
Ardan kemudian berdiri dan berjalan keluar dari rumahnya. Udara pagi masih dingin dan jalan desa basah oleh embun. Tidak lama Ia melihat anak-anak berjalan membawa kayu bakar, para perempuan menuju sawah dan beberapa lelaki menambal atap gubuk.
Dunia ini tampak biasa, seolah perang tak pernah terjadi. Namun di mata Ardan, semuanya seperti bayangan, ia memang hidup tapi merasa tak benar-benar bernyawa.
Dari kejauhan, suara gonggongan anjing terdengar. Lalu terdengar suara langkah-langkah berat. Ardan mendongak, debu tipis tampak naik dari ujung jalan.
Sekelompok prajurit berseragam biru muncul, membawa bendera dengan lambang tiga mata, itulah lambang Serikat Barat. Sepertinya mereka datang lebih cepat dari perkiraan.
Ardan berdiri diam di tepi jalan, menatap dari jauh. Pemimpin mereka, seorang pria berwajah pucat dengan topi lebar. Lalu terdengar ia memerintahkan rakyat berkumpul di lapangan.
Anak-anak Desa Tegaljaya bersembunyi di balik ibu mereka dan para lelaki menunduk. Mereka tak berani mengangkat kepala apalagi menatap.
Prajurit itu berbicara dengan suara lantang dan dingin, “Mulai hari ini, semua tanah di wilayah ini adalah milik Serikat Barat! Pajak udara diberlakukan. Siapa yang menolak, kehilangan rumah dan kebebasan!”
Hening! Tak ada yang berani menjawab. Hanya angin yang melintas di antara pohon bambu. Ardan berdiri di balik pohon, kedua matanya tajam menatap dalam diam. Tapi tangan yang menggenggam ujung bajunya tampak sedikit bergetar.
Seorang prajurit mendorong seorang petani tua ke tanah. Anaknya berlari memeluk ayahnya itu, ia menangis.
Tapi satu tendangan lagi mendarat di tubuh lelaki tua itu, membuat tubuhnya jatuh dengan keras ke tanah.
Ardan tampak menutup mata. Ia merasa suara jerit kecil itu justru menusuk lebih dalam dari tebasan pedang mana pun. Dalam kepalanya, suara lama kembali bergema. Jerit yang sama dan masih di langit yang sama.
Ardan berbalik, berjalan cepat menuju bengkelnya. Palu masih tergantung di dinding dan tungku masih hangat.
Ia menyalakan api lagi, kali ini tanpa alasan jelas. Setiap pukulan palu yang jatuh, seperti pukulan ke dadanya sendiri.
Ting... Ting... Ting...
Kali ini Ia memukul bukan untuk membuat senjata, tapi untuk mengusir bayang-bayang masa lalu dari hatinya. Namun, seperti malam yang tak mau berakhir, bayangan itu tetap tinggal di hatinya.
Dan ketika matahari pagi naik perlahan di atas Tegaljaya, dunia terlihat damai, tapi di dada Ardan Wiranata, perang belum benar-benar selesai.
“Aku takan akan lagi membunuh,” bisiknya pelan seraya menatap api. “Tapi bayangan itu masih hidup. Dan bayang-bayang tak tahu caranya mati.”