

Langit sore itu menggantung kelabu. Angin lembap berembus dari arah utara, membawa aroma tanah basah yang baru tersentuh hujan. Di balik rerimbun hutan, Keira berjalan perlahan sambil menenteng keranjang rotan di punggungnya.
“Ayah pasti marah kalau aku pulang tanpa kayu bakar lagi,” gumamnya lirih. Ia menyibak semak-semak yang mulai basah oleh embun, matanya menelisik batang-batang kering di antara akar pepohonan.
Sudah hampir sejam ia berkeliling. Hutan itu sunyi, hanya terdengar derik serangga dan bunyi ranting patah setiap kali langkah kecilnya menyentuh tanah lembek. Keira menatap ke langit—warna jingga yang tadinya hangat mulai berganti abu.
Ketika hendak berbalik, telinganya menangkap sesuatu.
Suara... seperti desahan tertahan.
Keira menahan napas. Ia menajamkan pendengarannya.
Ada suara lagi—kali ini lebih jelas.
Seperti seseorang yang berusaha bernapas di antara sakit.
Dengan hati-hati, ia melangkah mengikuti sumber suara itu, melewati batang pohon besar hingga sampai ke sebuah ceruk bebatuan besar di tepi sungai kecil yang nyaris tersembunyi di balik semak. Di sana, ia tertegun.
Seorang pria terbaring di antara batu-batu lembap, tubuhnya penuh luka, bajunya compang-camping, dan darah mengering di sekitar bahunya. Tubuhnya berotot namun tampak lemah, wajahnya pucat seperti tak bernafas.
“Ya Tuhan…” Keira menutup mulutnya. “Siapa dia?”
Ia meletakkan keranjang, lalu berlari mendekat. Pria itu masih bernapas—lemah, tapi nyata. Tangannya bergetar ketika menyentuh dahi pria itu; panas, demam tinggi.
“Hey… tolong buka mata. Anda dengar saya?” katanya panik, mengguncang bahu pria itu pelan.
Pria itu hanya bergumam lirih, entah menyebut nama siapa. Keira mencoba mendengar, tapi hanya terdengar satu kata samar:
“...Ar…sen…”
Keira menggigit bibirnya. Ia tak tahu siapa orang ini, tapi satu hal pasti—kalau dibiarkan di sini, pria itu bisa mati sebelum pagi. Ia melihat luka di dadanya, bekas sayatan panjang seperti dari pedang. Di pinggangnya, ada sabuk logam dengan lambang yang sudah kusam—entah lambang pasukan mana.
Dengan tenaga seadanya, Keira mencoba memapahnya.
“Bertahanlah... aku bawa ke rumah,” ujarnya dengan suara bergetar.
Langkahnya tertatih di jalan tanah yang mulai licin karena hujan. Pria itu berat, tapi Keira terus berjalan meski pakaiannya basah dan keranjang kayu bakar tertinggal entah di mana.
Di tengah perjalanan, pria itu tersadar sejenak.
Matanya terbuka—tatapannya tajam, kelam, seperti mata seseorang yang pernah melihat ribuan kematian.
“...Di mana aku?” suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Keira terkejut, tapi menjawab lembut, “Di desa. Tenanglah, aku akan tolong kamu.”
Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu pingsan kembali.
Ketika Keira akhirnya tiba di pinggir desa, malam sudah turun. Lampu minyak di rumah-rumah mulai menyala, dan anjing-anjing menggonggong mendengar langkah tergesa. Ayahnya, Pak Datuk, keluar dari rumah sambil membawa obor.
“Keira! Kau dari mana saja? Sudah mau malam—”
Suara lelaki itu terhenti begitu melihat sosok yang Keira gendong di pundaknya.
“Ya ampun, anak ini... siapa itu?”
“Dia terluka parah, Yah. Aku menemukannya di hutan.”
Pak Datuk menatap pria itu dengan kening berkerut. Luka-luka di tubuhnya jelas bukan luka biasa—ada bekas tusukan, goresan panjang, bahkan bekas terbakar di bagian tangan.
“Cepat bawa masuk!” serunya. “Ambil air panas dan kain bersih!”
Malam itu, rumah kecil mereka berubah menjadi tempat darurat penyembuhan. Keira membersihkan luka pria itu satu per satu, menahan napas setiap kali darah baru keluar dari sayatan.
Setelah beberapa jam, pria itu mulai tenang. Nafasnya teratur, meski masih lemah. Keira duduk di kursi kayu, memandang wajahnya yang kini tampak lebih damai di bawah cahaya lampu minyak.
“Arsen…” gumamnya pelan, mengulang nama yang ia dengar di hutan tadi.
“Siapa sebenarnya kau?”
Di luar, hujan turun makin deras, dan petir menggelegar di langit. Tak ada yang tahu, di rumah kecil di ujung desa itu, seorang jenderal perang legendaris yang hilang baru saja membuka kembali lembar takdirnya—bersama gadis desa yang bahkan belum tahu bahwa nasibnya akan berubah selamanya.
Berlanjut..