Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Si Dewa Perang Yang Hilang

Si Dewa Perang Yang Hilang

Bonanzalala | Bersambung
Jumlah kata
50.7K
Popular
1.9K
Subscribe
73
Novel / Si Dewa Perang Yang Hilang
Si Dewa Perang Yang Hilang

Si Dewa Perang Yang Hilang

Bonanzalala| Bersambung
Jumlah Kata
50.7K
Popular
1.9K
Subscribe
73
Sinopsis
18+PerkotaanAksiHarem21+Dewa Perang
Dahulu, nama Arsen menggema di seluruh negeri, sebagai Jenderal Perang Terkuat—pemimpin pasukan yang menaklukkan ratusan medan tempur dan membawa kejayaan bagi Indonesia. Namun, setelah pertempuran besar melawan bangsa rusia di pulau kalimantan, Arsen menghilang tanpa jejak. Tak ada jasad, tak ada kabar—hanya legenda yang tersisa. Bertahun-tahun kemudian, di sebuah desa terpencil, seorang gadis desa bernama Keira menemukan seorang pria luka parah di tepi hutan. Ia tak mengingat siapa dirinya, hanya membawa bekas luka dalam di dada dan sorot mata yang menyimpan masa lalu kelam. Keira merawatnya dengan sabar, menamainya Arsen, dan mengajarkan arti kehidupan sederhana. Hari demi hari, cinta tumbuh di antara keduanya. Arsen yang dulu hidup untuk perang mulai belajar arti kedamaian. Namun dunia tak seindah itu—konflik baru meletus di militer, dan desas-desus tentang “Jenderal Hilang” kembali terdengar. Ketika pasukan kerajaan datang mencari sosok yang dianggap pengkhianat, masa lalu Arsen terungkap sedikit demi sedikit. Kini, ia harus memilih: tetap hidup sebagai petani biasa di sisi Keira, atau kembali ke medan perang untuk menebus dosa dan menyelamatkan negeri yang dulu ia lindungi. Cinta dan kewajiban bertarung di dalam jiwanya—dan kali ini, bukan pedang yang akan menentukan nasibnya, melainkan hatinya sendiri.
Bab 1

Langit sore itu menggantung kelabu. Angin lembap berembus dari arah utara, membawa aroma tanah basah yang baru tersentuh hujan. Di balik rerimbun hutan, Keira berjalan perlahan sambil menenteng keranjang rotan di punggungnya.

“Ayah pasti marah kalau aku pulang tanpa kayu bakar lagi,” gumamnya lirih. Ia menyibak semak-semak yang mulai basah oleh embun, matanya menelisik batang-batang kering di antara akar pepohonan.

Sudah hampir sejam ia berkeliling. Hutan itu sunyi, hanya terdengar derik serangga dan bunyi ranting patah setiap kali langkah kecilnya menyentuh tanah lembek. Keira menatap ke langit—warna jingga yang tadinya hangat mulai berganti abu.

Ketika hendak berbalik, telinganya menangkap sesuatu.

Suara... seperti desahan tertahan.

Keira menahan napas. Ia menajamkan pendengarannya.

Ada suara lagi—kali ini lebih jelas.

Seperti seseorang yang berusaha bernapas di antara sakit.

Dengan hati-hati, ia melangkah mengikuti sumber suara itu, melewati batang pohon besar hingga sampai ke sebuah ceruk bebatuan besar di tepi sungai kecil yang nyaris tersembunyi di balik semak. Di sana, ia tertegun.

Seorang pria terbaring di antara batu-batu lembap, tubuhnya penuh luka, bajunya compang-camping, dan darah mengering di sekitar bahunya. Tubuhnya berotot namun tampak lemah, wajahnya pucat seperti tak bernafas.

“Ya Tuhan…” Keira menutup mulutnya. “Siapa dia?”

Ia meletakkan keranjang, lalu berlari mendekat. Pria itu masih bernapas—lemah, tapi nyata. Tangannya bergetar ketika menyentuh dahi pria itu; panas, demam tinggi.

“Hey… tolong buka mata. Anda dengar saya?” katanya panik, mengguncang bahu pria itu pelan.

Pria itu hanya bergumam lirih, entah menyebut nama siapa. Keira mencoba mendengar, tapi hanya terdengar satu kata samar:

“...Ar…sen…”

Keira menggigit bibirnya. Ia tak tahu siapa orang ini, tapi satu hal pasti—kalau dibiarkan di sini, pria itu bisa mati sebelum pagi. Ia melihat luka di dadanya, bekas sayatan panjang seperti dari pedang. Di pinggangnya, ada sabuk logam dengan lambang yang sudah kusam—entah lambang pasukan mana.

Dengan tenaga seadanya, Keira mencoba memapahnya.

“Bertahanlah... aku bawa ke rumah,” ujarnya dengan suara bergetar.

Langkahnya tertatih di jalan tanah yang mulai licin karena hujan. Pria itu berat, tapi Keira terus berjalan meski pakaiannya basah dan keranjang kayu bakar tertinggal entah di mana.

Di tengah perjalanan, pria itu tersadar sejenak.

Matanya terbuka—tatapannya tajam, kelam, seperti mata seseorang yang pernah melihat ribuan kematian.

“...Di mana aku?” suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Keira terkejut, tapi menjawab lembut, “Di desa. Tenanglah, aku akan tolong kamu.”

Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu pingsan kembali.

Ketika Keira akhirnya tiba di pinggir desa, malam sudah turun. Lampu minyak di rumah-rumah mulai menyala, dan anjing-anjing menggonggong mendengar langkah tergesa. Ayahnya, Pak Datuk, keluar dari rumah sambil membawa obor.

“Keira! Kau dari mana saja? Sudah mau malam—”

Suara lelaki itu terhenti begitu melihat sosok yang Keira gendong di pundaknya.

“Ya ampun, anak ini... siapa itu?”

“Dia terluka parah, Yah. Aku menemukannya di hutan.”

Pak Datuk menatap pria itu dengan kening berkerut. Luka-luka di tubuhnya jelas bukan luka biasa—ada bekas tusukan, goresan panjang, bahkan bekas terbakar di bagian tangan.

“Cepat bawa masuk!” serunya. “Ambil air panas dan kain bersih!”

Malam itu, rumah kecil mereka berubah menjadi tempat darurat penyembuhan. Keira membersihkan luka pria itu satu per satu, menahan napas setiap kali darah baru keluar dari sayatan.

Setelah beberapa jam, pria itu mulai tenang. Nafasnya teratur, meski masih lemah. Keira duduk di kursi kayu, memandang wajahnya yang kini tampak lebih damai di bawah cahaya lampu minyak.

“Arsen…” gumamnya pelan, mengulang nama yang ia dengar di hutan tadi.

“Siapa sebenarnya kau?”

Di luar, hujan turun makin deras, dan petir menggelegar di langit. Tak ada yang tahu, di rumah kecil di ujung desa itu, seorang jenderal perang legendaris yang hilang baru saja membuka kembali lembar takdirnya—bersama gadis desa yang bahkan belum tahu bahwa nasibnya akan berubah selamanya.

Berlanjut..

Lanjut membaca
Lanjut membaca