
Hunusan Pedang Pendekar Macan
Kultivator|Tamat
- Jumlah kata
- 364.7K
- Popular
- 31.8K
- Subscribe
- 1.2K
- Jumlah kata
- 364.7K
- Popular
- 31.8K
- Subscribe
- 1.2K
Sinopsis
Di Kerajaan Anzaraya, Elzio Vinaro dikenal sebagai “sampah kerajaan” karena sembilan kali gagal membangkitkan Jiwa Bela Diri dan ia menjadi bahan ejekan seluruh istana. Namun ketika dia sadar dari koma, Elzio menyadari bahwa dirinya bukan lagi Elzio yang dulu, melainkan reinkarnasi seorang Pendekar Pedang legendaris yang pernah dikhianati oleh istrinya, Agnes Ardina, wanita yang kini menjadi Kaisar Wanita Gemerlang. Dengan warisan ingatan dan kekuatan jiwanya, Elzio berhasil membangkitkan Jiwa Pedang dan Jiwa Perang Macan Surya Hitam, dua kekuatan langka yang mengguncang istana. Di kehidupan ini, Ia tekad untuk mengungkap rahasia masa lalu dan menuntut balas pada sang kaisar wanita yang pernah membunuhnya.
Ulasan
8 ulasan
Fitriah
13/5/26 15:37
Izin promosi Novel aku, Kak. Judulnya: Sakti Sang Pemikat Novel ini menceritakan Kehidupan Sakti yang berubah setelah menemukan Batu di bawah Air Terjun. Wanita-wanita cantik bak Dewi pun menempel tanpa alasan yang jelas.
Klan_Qing
21/4/26 01:19
Izin promosi ya, Thor. Judulnya: Warisan Dewa Kuno Ayo ikuti Petualangan Arga menjadi Penguasa di Alam Atas.
Bab 1
Matahari perlahan merunduk di balik cakrawala barat, meninggalkan langit Anzaraya dengan semburat jingga keemasan yang memudar menjadi ungu lembayung.
Di setiap sudut kota, api unggun menyala dengan gigil, menari-nari mengusir gelap yang mulai merangkak. Warga berkumpul dalam keheningan yang penuh harap, wajah mereka terpancar sinar merah dari kobaran api, mencerminkan kecemasan sekaligus keyakinan akan upacara doa bersama esok hari.
Suara gemerisik daun dan desiran angin senja menyatu dengan bisik doa yang terucap lirih, membentuk aura magis yang mengisi udara malam Anzaraya.
Upacara ini merupakan jalan wajib bagi setiap kultivator—mereka harus bersujud kepada Kaisar Wanita Ardina untuk menerima berkah dan membangkitkan Jiwa Bela Diri mereka.
Kaisar Ardina adalah sosok yang penuh wibawa, satu-satunya yang memerintah di antara Sembilan Langit dan Sepuluh Bumi. Tubuhnya tinggi dan ramping, dengan aura yang memancarkan kekuatan sekaligus kelembutan, seperti angin yang tak terlihat tapi mampu menggerakkan seluruh dunia. Matanya tajam dan penuh keyakinan, seolah mampu menembus segala rahasia dan niat tersembunyi di balik topeng para penguasa lain.
Di paviliun samping Istana Mawara, Selir Galana menunggu dengan cemas di sisi tempat tidur Pangeran Kesembilan, Elzio Vinaro, yang masih tidak sadarkan diri.
"Nak, bangunlah...." Mata Selir Galana tampak berkaca-kaca melihat putranya tak sadarkan diri
Seorang pelayan perempuan tiba-tiba datang untuk memberikan laporan ke selir Galana. "Salam hormat Nyonya," sapanya sopan.
Selir Galana menoleh, dia menatap pelayan tersebut dengan seksama. "Ada apa?"
Pelayan langsung menjawab. "Hamba mendengar, Pangeran Ketiga dengan sengaja melukai Tuan muda, agar beliau tidak dapat ikut dalam Upacara Doa Besok." Dia diam sejenak, kemudian melanjutkan, "Kata Pangeran ketiga, jika Tuan muda Elzio tetap pergi, beliau hanya akan mempermalukan keluarga kerajaan."
Mendengar itu wajah Selir Galana menggelap. "Apa! Hanya karena dia lebih berbakat dari putraku, tak seharusnya melakukan semua ini, sungguh biadab!"
Selir Galana tahu betul, jika tidak bisa membangkitkan Jiwa Bela Diri, maka seseorang tidak akan mampu menempuh jalan kultivasi dan selamanya tak punya masa depan.
Mata Selir Galana berkaca-kaca, dia menatap putranya yang memang tidak bisa membangkitkan jiwa beladiri dan selama ini menjadi bahan cemoohan pangeran lainnya.
Pelayan yang melihat itu juga merasa iba, karena tahu betul sejak kecil pangeran kesembilan selalu diremehkan..
"Nak, jika Ibu bisa menukar nyawa Ibu untuk membuatmu menjadi orang yang disegani, maka akan aku lakukan. tapi... Ibu tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Selir Galana dengan suara serak, air matanya jatuh menetes membasahi pipi Elzio.
Tiba-tiba, Elzio membuka matanya dan bergumam dengan suara lemah. “Ardina… mengapa kau ingin membunuhku?”
Dalam ingatan Elzio, di malam pernikahannya, sang istri Agnes Ardina memutuskan lengan kanannya dan menghunus jantungnya dengan satu tebasan pedang. Dia benar-benar tak menyangka, orang yang di cintainya melakukan hal sekeji itu.
Namun, segera setelah itu, gelombang ingatan asing mengalir masuk ke kepala Elzio—dia menyadari bahwa dirinya kini telah menyeberang ke dunia lain, menempati tubuh Pangeran Kesembilan Kerajaan Anzaraya.
Saat ini, kalender menunjukkan tahun ke-967 dalam Kalender Era Gemerlang—dan Agnes, wanita yang dulu membunuhnya, kini telah menjadi Kaisar Wanita Gemerlang.
Ingatan tersebut jelas saja membuat Elzio sedikit tertegun, tak menyangka dirinya malah bangkit kembali ditubuh orang lain, tetapi ingatannya dulu ikut terbawa.
Melihat anaknya sadar, Selir Galana tak dapat menahan rasa gembira. Dia segera menghapus air matanya. "Syukurlah... akhirnya kamu bangun juga, Nak," ucapnya sembari menggenggam tangan Elzio.
Elzio menatap wanita disampingnya yang wajahnya terlihat sedih bercampur gembira. Dari ingatan yang terbangun, Elzio tahu bahwa tubuh ini sudah sembilan kali mengikuti Upacara Doa pembangkit jiwa beladiri. Namun, sembilan kali pula gagal membangkitkan Jiwa Bela Diri.
Melihat selir Galana yang tampak sedih, walau berusaha ditutupi dengan senyum khawatirnya, Elzio pun menyadari kalau wanita paruh baya itu sebenarnya sangat cemas terhadapnya.
Elzio beranjak duduk, dia menatap sang Ibu dan berusaha menenangkannya dengan berkata lembut. “Ibu jangan khawatir. Dulu aku adalah Pendekar Pedang Muda, membangkitkan Jiwa Bela Diri bukan masalah besar bagiku.”
Ucapan Elzio, sontak saja membuat Selir Galana sedikit bingung. "Nak, jangan pikirkan masalah tersebut, pulihkan dirimu terlebih dahulu," katanya penuh perhatian.
Elzio menggenggam tangan sang Ibu sambil tersenyum. "Aku tidak bohong, Bu. Kelak aku akan membuat martabat keluarga kita bangkit dengan kemampuanku, bahkan bisa melampaui Angnes Ardina!" ujarnya percaya diri.
Selir Galana terkejut, dia pun segera mengingatkan dengan cemas. “Anakku, ingatlah, Kaisar Ardina sembilan ratus tahun lalu pernah menyapu bersih delapan belas provinsi dan mendirikan Era Gemerlang. Nama sucinya tidak boleh disebut sembarangan.”
Bruak!
Saat Elzio hendak berbuat lagi, pintu paviliun mendadak ditendang terbuka dengan kasar, membuat mereka reflek menoleh.
Pangeran Ketiga, Hazo Vinaro, masuk bersama dua ajudannya dengan senyum mengejek. “Elzio, besok kalau kau gagal lagi membangkitkan Jiwa Bela Diri, kau harus angkat kaki dari istana. Menurut aturan keluarga kerajaan, siapa pun yang sudah berusia lima belas tahun tapi belum bisa membangkitkan Jiwa Bela Diri akan dibuang
ke wilayah leluhur.” Dia menambahkan dengan sombong, “Aku juga sudah melapor pada Permaisuri. Mulai besok, Istana Palaraya ini akan menjadi milikku!”
Elzio menatap dingin, dia hendak bicara, tetapi selir Galana menahan dan menggelengkan kepalanya, seolah memberikan isyarat agar Elzio tidak terpancing provokasi Hazo.
Melihat sang Ibu tampak sangat khawatir, Elzio pun menurut, dia hanya bisa menyimpan dendam dalam hati.
"Lebih baik kau dengarkan ucapanku baik-baik, pecundang!" ucap Hazo lagi sembari pergi dengan tawa menghina bersama dua ajudannya.
Selir Galana menghela napas lega, dia lantas berkata dengan lembut. "Nak, jangan dengarkan ucapannya, Ibu akan mencari solusi agar kita bisa tetap tinggal di istana."
"Tidak Bu...." Elzio bangkit dari tempat tidur, menghampiri cermin dan berdiri di depannya, "... aku pasti akan membangkitkan jiwa beladiri dan membungkam mulut sombong orang-orang yang telah merendahkanku!" ujarnya penuh tekad.
Walaupun dia melihat tubuhnya tampak pucat dan lemah, aliran darahnya lesu. Kekuatan yang dulu dia miliki di kehidupan sebelumnya juga telah lenyap, tetapi kekuatan jiwanya masih tersisa.
Dia memahami bahwa Agnes telah menjadi Kaisar Wanita, maka ayahnya—Raja Penjaga Penjara—pasti mengalami nasib tragis.
Selir Galana menatapnya putranya dengan seksama, dia tertegun karena sebelumnya Elzio tidak memiliki kepercayaan diri seperti itu.
Apakah Elzio telah berubah setelah mendapatkan serangan dari pangeran ketiga?
Selir Galana benar-benar dibuat bingung, tetapi di saat yang sama, menggunakan kemampuan pendeteksi jiwa yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya, Elzio memeriksa tubuhnya dan menemukan bahwa meski meridiannya tergolong tingkat tinggi, seluruhnya tersumbat oleh energi hitam.
Energi tersebut merupakan racun, dan racun inilah yang membuatnya tak bisa membangkitkan Jiwa Bela Diri.
Elzio menggertakkan gigi dan bertekad untuk menyembuhkan diri dengan menjalankan ajaran Kitab Naga-Gajah Penjaga Penjara untuk membuka aliran Meridianya yang tersumbat. Dia harus bisa membangkitkan Jiwa Bela Diri—dia tidak boleh membiarkan ibunya diusir dari Istana Palaraya.
Elzio menoleh ke belakang, dia melihat tatapan penuh kasih dari Selir Galana, hala itu mengingatkannya pada ibu kandungnya di kehidupan yang lalu.
Mengepalkan tangannya erat, Elzio bergumam dalam hati. "Tunggu saja Bu. Anakmu ini akan membuat seluruh Istana tunduk padaku!"
Daftar bab
330 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
330 bab








