

Langit Kota yang Tak Pernah Tidur
Cahaya lampu kota berpendar di kaca tinggi gedung Davis Tower, memantulkan siluet seorang pria yang berdiri tegak di balik jendela besar. Jas hitamnya terpotong sempurna, kemeja putihnya tak berkerut sedikit pun. Di tangan kanannya, segelas scotch berputar pelan, sementara tatapannya terpaku pada pemandangan kota di bawah sana — hiruk pikuk yang baginya sudah seperti orkestra rutin: bising, indah, dan mudah dikendalikan.
Allegra Venzano, 28 tahun, pewaris tunggal Venzano Corp, perusahaan properti terbesar di metropolis itu. Orang mengenalnya sebagai pria muda yang ambisius, dingin, dan nyaris tanpa cela. Tapi malam ini, sorot matanya tak setegar biasanya.
Di belakangnya, layar besar menampilkan grafik menurun — saham keluarga yang turun drastis setelah rumor pengkhianatan dalam tubuh perusahaan.
“Direktur Keuangan mundur pagi ini, Tuan Allegra,” ucap seorang pria paruh baya dari ambang pintu. Suaranya hati-hati, nyaris berbisik. “Dan... Dewan memanggil Anda besok. Mereka ingin penjelasan soal dana yang hilang.”
Allegra meletakkan gelasnya perlahan di atas meja marmer.
“Siapa yang menyebarkan laporan itu?” tanyanya datar.
“Belum pasti, tapi semua menunjuk pada—”
“—Aurel,” potong Allegra cepat. Bibirnya menegang, dan untuk sesaat, sinar lampu malam menyorot wajahnya yang tampan namun keras seperti diukir dari batu. “Saudara tiriku memang tak pernah sabar.”
Keheningan menggantung.
Lalu Allegra berjalan menuju meja, membuka file tebal berisi data rahasia perusahaan. Tangannya bergerak cepat, tenang, tapi matanya penuh perhitungan.
“Siapkan rapat darurat jam tujuh pagi. Dan pastikan media tak mencium kabar ini,” katanya. “Jika Aurel ingin perang, aku akan beri dia panggung yang dia inginkan.”
Pria paruh baya itu menunduk. “Baik, Tuan Allegra.”
Begitu pintu tertutup, Allegra menatap pantulan dirinya di kaca jendela — pria muda yang dibentuk oleh ambisi dan luka masa lalu. Di balik reputasi sempurna dan kekuasaan yang ia genggam, ada beban warisan yang menyesakkan: seorang ayah yang mati dengan nama ternoda dan sebuah janji yang belum ditepati.
Ia menegakkan bahu, menatap langit malam yang menggantung di atas kota.
“Venzano tak akan jatuh,” gumamnya pelan, dingin namun mantap. “Selama aku masih bernapas, nama ini tetap berdiri.”
Dan di detik itu, Allegra bukan lagi sekadar pewaris. Ia adalah raja muda yang siap menuntut takhta — di kota yang tak mengenal belas kasihan.
Langit mulai berubah warna ketika pagi menyapa kota yang sibuk. Dari lantai paling atas Davis Tower, Allegra sudah duduk di ruang rapat dengan segelas kopi hitam di tangan. Di hadapannya, deretan direktur menunduk, tak berani menatap mata pria muda itu terlalu lama.
“Dana proyek Skypark hilang dua miliar dalam seminggu,” ujar salah satu direktur pelan. “Semua bukti transfer mengarah ke divisi yang dipimpin oleh Tuan Aurel.”
“Dan kalian semua tidak tahu apa-apa?” suara Allegra terdengar datar tapi tajam. “Atau pura-pura tidak tahu karena takut kehilangan jabatan?”
Tak ada jawaban. Hanya suara jam dinding yang berdetak lambat. Allegra menyandarkan punggung, mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Tatapannya menusuk satu per satu orang di ruangan itu, seolah menelanjangi kebohongan mereka.
“Baik. Jika kalian tak bisa memberi solusi, mulai hari ini aku yang akan mengambil alih langsung proyek itu,” ucapnya dingin. “Dan pastikan dalam dua hari, semua laporan keuangan dikirim ke mejaku. Aku tak peduli siapa yang harus disingkirkan.”
Ia berdiri, menutup rapat berkas dengan satu gerakan cepat. Suara kerasnya menggema di ruangan sunyi itu, meninggalkan rasa takut yang menggantung di udara.
Begitu keluar dari ruang rapat, Allegra berjalan melewati koridor panjang dengan langkah tegap. Asistennya, Nina, mengikuti di belakang sambil memegang tablet. “Tuan Allegra, ada seseorang yang menunggu di lobi. Katanya ingin bicara langsung dengan Anda.”
“Siapa?”
“Rhea Salim. Staf baru di divisi keuangan. Ia bilang ada sesuatu yang penting tentang dana yang hilang.”
Allegra berhenti. Alisnya terangkat sedikit, lalu ia berjalan menuju lift tanpa banyak bicara.
Di lantai dasar, seorang wanita berdiri di dekat meja resepsionis. Rambut hitam panjangnya dikuncir rendah, pakaian kerjanya sederhana, namun caranya menatap Allegra begitu tenang—berbeda dari karyawan lain yang biasanya gemetar hanya dengan mendengar namanya.
“Jadi kamu Rhea Salim,” ujar Allegra tanpa basa-basi. “Apa yang membuatmu yakin aku mau mendengarkan?”
“Karena saya tahu siapa yang mencuri uang perusahaan, dan saya punya bukti,” jawab Rhea pelan tapi tegas.
Suara bising di lobi seolah lenyap. Allegra menatap wanita itu lebih lama, menimbang setiap kata yang baru saja keluar dari bibirnya. Dalam pikirannya, hanya sedikit orang yang berani menatap matanya seperti itu.
“Naik ke atas,” katanya akhirnya. “Dan pastikan apa pun yang kamu bawa, benar-benar sepadan dengan waktuku.”
Rhea mengangguk, mengikuti langkahnya menuju lift. Saat pintu logam itu tertutup, hanya ada dua orang di dalam ruang sempit—seorang pewaris dengan nama besar, dan seorang wanita yang baru saja berani mengguncang dunianya.
Allegra melirik sekilas. “Kau tahu, orang yang datang padaku biasanya punya dua alasan: mencari uang, atau mencari masalah. Aku penasaran, kau yang mana?”
Rhea menatap lurus ke depan. “Mungkin saya di sini untuk memberi Anda kebenaran.”
Allegra tersenyum tipis, sinis namun tertarik. “Kebenaran,” ulangnya. “Sesuatu yang bahkan keluargaku sendiri tak sanggup menanggung.”
Lift berdenting. Pintu terbuka. Langkah mereka keluar dari ruang logam itu terasa seperti awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya — bukan hanya bagi Venzano Corp, tapi juga bagi Allegra, sang pewaris sejati yang untuk pertama kalinya akan diuji oleh seseorang yang tak bisa ia kendalikan.
Allegra menatap layar di hadapannya dengan ekspresi dingin. Rhea duduk di seberang meja kaca besar itu, menaruh sebuah flashdisk kecil di atas permukaan mengilap, lalu mendorongnya pelan ke arah Allegra.
“Saya menemukan ini di sistem lama bagian keuangan. Semua transaksi yang mencurigakan menggunakan akun atas nama fiktif. Tapi kalau Anda perhatikan tanda tangannya…” Rhea berhenti sejenak, menatap Allegra yang masih belum menunjukkan reaksi. “…itu milik Aurel Venzano.”
Allegra mengambil flashdisk itu tanpa bicara. Ia menatapnya lama, kemudian menekan tombol interkom di mejanya. “Nina, pastikan ruang server dikunci. Tak seorang pun masuk tanpa izin saya.”
Setelah perintah itu, ia bersandar di kursinya, menatap Rhea dengan mata setajam bilah pisau.
“Kenapa kau repot-repot menyerahkan ini padaku? Banyak orang akan lebih memilih menyimpannya dan menjualnya untuk harga yang lebih tinggi.”
Rhea menggeleng pelan. “Saya tidak tertarik pada uang Anda, Tuan Allegra.”
Senyum tipis muncul di bibir pria itu—senyum yang tak menandakan ramah. “Kata yang sama yang diucapkan semua wanita yang akhirnya menginginkan sesuatu dariku.”
Rhea menatapnya dengan dahi berkerut. “Saya tidak—”
“—Jangan pura-pura suci,” potong Allegra tajam. “Kau kira aku tak tahu seperti apa wajah wanita yang datang dengan dalih ‘peduli’? Aku sudah melihat ratusan. Mereka datang dengan senyum, lalu menghancurkan dari dalam.”
Rhea terdiam.
Tatapan Allegra penuh kebencian, bukan karena Rhea, tapi karena luka lama yang tiba-tiba muncul ke permukaan.
Ia bangkit berdiri, berjalan pelan ke arah jendela. Dari sana, kota terlihat seperti lautan cahaya yang tak pernah padam. “Ibuku dulu juga begitu,” katanya datar, tapi ada getaran di suaranya. “Dia menikah dengan ayahku demi kekuasaan. Meninggalkannya demi pria lain ketika uang tak lagi mengalir. Setelah itu, aku belajar… cinta, kepedulian, pengorbanan—semuanya cuma cara lain untuk menutupi keserakahan.”
Rhea menarik napas, mencoba menahan nada emosionalnya. “Saya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu Anda, tapi saya tidak datang untuk menjual simpati. Saya datang karena saya menghormati kerja keras orang jujur. Termasuk ayah Anda yang membangun perusahaan ini dari nol.”
Ucapan itu membuat Allegra berpaling cepat. Tatapan matanya berubah—bukan lembut, tapi terguncang. “Jangan bawa-bawa ayahku.”
“Saya harus,” jawab Rhea tenang. “Karena Anda sedang menghancurkan warisan yang ia perjuangkan, hanya karena Anda membenci semua yang terlihat seperti wanita yang dulu melukai Anda.”
Keheningan menggantung.
Detik berikutnya, Allegra tertawa pelan, getir. “Kau berani bicara begitu di ruanganku?”
“Saya tidak berani,” kata Rhea. “Saya hanya jujur.”
Untuk pertama kalinya, Allegra tidak punya balasan. Tatapan matanya masih dingin, tapi ada sesuatu di dalamnya—rasa penasaran yang tak bisa ia kendalikan.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan memeriksa isi flashdisk ini. Kalau terbukti benar, kau akan tetap bekerja di sini. Tapi kalau ternyata kau berbohong…” Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya menurun tajam. “Kau akan belajar bahwa tidak ada yang lebih berbahaya dari pria yang pernah dikhianati.”
Rhea menatap balik tanpa gentar. “Saya tidak takut pada pria yang benci wanita, Tuan Allegra. Saya hanya takut pada pria yang lupa bagaimana caranya percaya.”
Allegra terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih dalam dari yang ia duga. Ia berbalik, mengambil gelas air dan meneguknya cepat, mencoba menenangkan amarah yang samar-samar terasa seperti rasa malu.
Ketika Rhea keluar dari ruangannya, Allegra menatap pintu yang menutup di belakang wanita itu.
Ada sesuatu dalam caranya berjalan—tenang tapi tegas—yang menimbulkan pertanyaan baru di benaknya.
Untuk pertama kalinya, Allegra mulai merasa ragu pada keyakinannya sendiri: apakah semua wanita benar-benar sama seperti yang ia benci, atau justru ada satu di antaranya… yang bisa membuatnya belajar percaya lagi.