
100 hari sampai kamu jatuh cinta
ce zea|Bersambung
- Jumlah kata
- 49.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
- Jumlah kata
- 49.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
Sinopsis
Seorang perempuan sederhana hidup dengan ritme aman, lalu bertemu seorang laki-laki yang tampaknya terlalu sempurna. Hubungan mereka berkembang pelan, penuh momen manis, miskomunikasi, dan kejutan kecil yang menjaga cerita hidup Genre: romance ringan, wholesome, slice-of-life, no toxic relationship.
Ulasan
1 ulasan
vinsmoke adi
11/12/25 20:21
cerita sebagus ini kok masih sepi.......... .... sedih banget liat nya .... semangat KK... tetap berkarya
BAB 13
Di perjalanan pulang, suasana hening tapi tidak dingin.
Dirga berjalan setengah langkah di samping Aruna.
“Kamu serius nolak dia tadi?” tanya Aruna tiba-tiba.
Dirga menoleh.
“Kamu masih mikirin itu?”
Aruna membisu.
“Ya iya. Aku serius nolak.”
Nada Dirga tegas.
“Kamu pikir aku bakal nerima begitu aja?”
Aruna tidak menjawab.
Dirga menarik napas.
“Aku bukan tipe yang gitu, Aruna.”
“Gitu gimana?”
“Yang loncat-loncat dari satu orang ke orang lain.”
Aruna mengangguk pelan.
“Kamu tau nggak…”
Dirga melanjutkan pelan.
“Beberapa minggu terakhir, aku cuma fokus ke satu orang.”
Aruna berhenti melangkah.
“Siapa?”
Dirga juga berhenti, memutar tubuh menghadapnya.
“Aruna.”
Aruna memerah sampai telinga.
Dirga menahan senyum.
“Boleh aku jujur?”
Aruna mengangguk kecil, takut kata keluar akan membuat nada suaranya pecah.
“Waktu kamu lewat koridor tadi tanpa liat aku…”
Dirga berkata pelan.
“Rasanya nggak enak.”
Aruna berkedip.
“Hah?”
“Kamu ngindarin aku, kan?”
Aruna membuka mulut untuk membantah, tapi Dirga mendahului.
“Jujur.”
Aruna menunduk.
“…iya.”
“Kenapa?”
“Karena… ya… tadi kayak… kamu…”
Aruna kehilangan kata-kata.
“…sibuk.”
Dirga mendekat sedikit.
“Kalau kamu ngerasa nggak nyaman, bilang. Jangan kabur.”
“Aku nggak kabur.”
“Aruna.”
Dirga menaikkan satu alis.
“Kamu lari muter koridor.”
Aruna ingin menghilang ke tanah.
Dirga tertawa kecil.
“Mulai sekarang… jangan lari dari aku.”
Aruna mengangkat kepala perlahan.
“Terus aku harus apa?”
“Hadapi aku.”
Dirga menatap dalam.
“Hadapi perasaanmu.”
Aruna membeku.
Sampai depan kost, Aruna masih belum bisa pulih dari apa yang baru saja terjadi. Tapi Dirga tidak langsung pergi seperti biasanya.
“Aruna,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Aku mau minta satu hal.”
Aruna menelan ludah. “Apa?”
“Besok…”
Dirga menatapnya dengan sorot mata yang tidak biasa—lebih hangat, lebih yakin, lebih dewasa.
“Jangan hindari aku lagi.”
Aruna mengangguk.
“Dan satu lagi.”
Aruna menunggu.
Dirga mendekat cukup dekat sampai Aruna bisa mencium aroma segar dari jaketnya.
“Kalo kamu ngerasa ada apa-apa…”
Suaranya turun.
“… bilang ke aku duluan.”
Aruna mengangguk lagi.
“Good.”
Dirga tersenyum.
“Besok aku jemput kamu.”
Aruna terkejut. “Hah? Kayak… kayak janjian?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau kita ngobrol lagi. Banyak yang belum selesai.”
Dirga mundur satu langkah, bersiap pergi.
Tapi sebelum berbalik, ia menambahkan:
“Dan karena aku suka mulai hari dengan lihat kamu.”
Aruna membeku di tempat.
Dirga tidak menunggu reaksi—ia cuma melambaikan tangan dan pergi.
Aruna menutup wajah dengan kedua tangan, menahan suara histeris kecil yang muncul dari tenggorokannya sendiri.
(Konflik kecil: salah paham tentang mantan Dirga)
Pagi berikutnya, Dirga benar-benar menjemput Aruna.
Namun sebelum mereka sempat pergi, seseorang memanggil Dirga dari belakang.
“Dirga!”
Aruna menoleh.
Seorang perempuan—lebih tua, terlihat dewasa—berlari kecil menghampiri Dirga.
Wajahnya familiar.
Aruna pernah lihat dia di acara fakultas.
“Eh, Kak Rani,” sapa Dirga sopan.
Kak?
Aruna langsung menegang.
“Oh jadi kamu bener kuliah di sini? Kirain cuma rumor,” tawa Rani.
Dirga tersenyum kecil.
“Iya, kebetulan.”
Rani menepuk pundaknya.
“Kamu berubah banyak sejak SMA. Dulu anaknya bandel, sekarang lebih rapi.”
Aruna membeku.
SMA?
Kenal?
Lalu Rani melirik Aruna.
“Ini siapa?”
Aruna baru mau buka suara ketika Dirga menjawab cepat:
“Teman.”
Hanya itu.
Satu kata.
Padat.
Terlalu cepat.
Dan entah kenapa… sakit.
Aruna tidak tahu kenapa kata itu terasa seperti pukulan kecil yang akurat pada dada yang paling rapuh. Dirga bisa saja menjawab dengan kalimat lain — “Ini Aruna”, “Ini teman sekampusku”, “Ini orang yang mau aku antar pagi ini.” Tapi tidak. Ia memilih kata yang paling netral, paling dingin, paling tidak menunjukkan apa pun.
Rani mengangguk santai, seolah itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
“Oh, teman.”
Nada suaranya berubah—halus, tapi Aruna bisa mendengarnya. Ada sedikit penurunan minat, sedikit perubahan sikap, seperti perasaan lega yang tidak ia tutupi.
Aruna tersenyum kecil, sopan. “Saya Aruna.”
“Rani,” balas perempuan itu, tersenyum ramah. “Senior Dirga waktu SMA.”
SMA.
Aruna mengulang kata itu dalam hati.
“Dulu kita satu ekstrakurikuler,” lanjut Rani sambil menatap Dirga. “Terakhir ketemu itu… pas kamu masih fase nakal banget ya?”
Aruna tidak tahu bahwa tatapan seseorang bisa terasa seperti tusukan kecil sampai ia melihat Dirga tersenyum pada ucapan itu—senyum yang Aruna belum pernah lihat sebelumnya. Ringan. Akrab. Satu senyum yang lahir dari masa hidup yang Aruna bukan bagian dari.
“Udah lama banget, Kak,” ujar Dirga.
Rani tertawa. “Tapi kamu masih kelihatan sama. Cuma tambah… dewasa.”
Aruna menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi yang ia sendiri belum mengerti.
---
Pembicaraan berlanjut beberapa menit. Tentang kabar keluarga, pekerjaan paruh waktu Dirga sebelum masuk kuliah, dan acara reuni SMA yang “mungkin Dirga harus datang, karena semua orang kangen.”
Semua orang?
Aruna melirik Dirga sekilas—diam-diam.
Ada hal-hal dari masa lalu Dirga yang tidak pernah ia dengar. Bukan berarti Dirga harus menceritakan semuanya, tapi kenyataan bahwa masa lalu itu tetap dekat, tetap hidup, dan tetap punya orang-orang seperti Rani… itu sedikit mengguncang rasa aman yang Aruna bahkan tidak sadar ia punya.
Pada satu titik, Rani menepuk bahu Dirga lagi.
Kedua kalinya.
Dan Dirga tidak menjauh.
“Aku harus pergi nih. Ada rapat,” ujar Rani sambil merapikan tasnya. “Senang ketemu kamu lagi. Jangan ngilang kayak dulu, ya.”
Dirga mengangguk. “Sampai ketemu lagi, Kak.”
Rani sempat menatap Aruna sekali lagi sebelum pergi.
Kali ini tatapannya berbeda.
Seperti penilaian kedua.
Yang lebih dalam.
Lebih ingin tahu.
Lalu ia melambaikan tangan dan pergi.
---
Begitu Rani menghilang di balik pintu gedung fakultas, Aruna dan Dirga berdiri dalam keheningan singkat.
Angin pagi bertiup pelan, tapi rasanya hening mereka jauh lebih dingin daripada udara.
Aruna tidak menatap Dirga.
Tidak langsung.
Karena kalau ia menatapnya, ia takut sesuatu akan bocor dari wajahnya.
Dirga akhirnya berkata duluan.
“Kita berangkat?”
Aruna mengangguk. “Ya.”
Mereka berjalan ke motor.
Aruna naik di belakang.
Dirga memasang helm untuknya seperti biasa—tapi tangan Aruna terasa kaku, dingin, tidak seperti biasanya. Dirga sempat menatap wajahnya lebih lama, seolah ada hal yang ingin ia tanyakan tapi tidak jadi.
Ketika motor melaju, Aruna memegang bagian belakang jok alih-alih memegang pinggang Dirga seperti biasanya.
Dirga merasakannya.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Namun sesuatu berubah di udara.
Sesampai di kampus, Aruna turun lebih cepat dari biasanya. Ia merapikan tasnya dan mengucapkan, “Makasih, Dirga,” dengan suara yang ia coba buat netral.
Dirga menahan tangan Aruna pelan. “Tunggu.”
Aruna menoleh.
“Kamu kenapa?” tanya Dirga.
Aruna tersenyum kecil—senyum yang tidak sampai ke mata. “Nggak apa-apa.”
Dirga menatap lama. Lebih lama daripada biasanya.
“Aruna,” suaranya rendah. “Kamu kelihatan beda.”
Aruna ingin berkata:
Karena kamu bilang aku cuma teman.
Karena perempuan itu memanggilmu dengan cara yang aku tidak bisa.
Karena aku baru sadar… aku nggak tahu apa pun tentang masa lalu kamu.
Namun ia hanya menjawab, “Aku cuma capek.”
Dirga tahu itu bukan jawabannya.
Tapi ia tidak menekan.
Hanya berkata:
“Kalau ada yang mau kamu tanya… tanya aja.”
Aruna menggeleng.
“Tidak ada.”
Dirga mengangguk pelan.
Namun keduanya tahu, meski tidak diucapkan:
Ada.
Ada banyak.
Hanya saja Aruna takut mendengarnya.
Dan itu menjadi awal retakan baru—halus, kecil, tapi nyata—yang membuat hubungan mereka berubah perlahan.
Daftar bab
44 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








