
Takdir sang Penakluk
ASWAR VEIL|Bersambung
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 20.2K
- Subscribe
- 1.7K
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 20.2K
- Subscribe
- 1.7K
Sinopsis
[Warning: cerita 21+] Beni awalnya diremehkan dan dipandang sebelah mata, namun berkat sebuah cincin misterius dia jadi dinaungi keberuntungan. Hidupnya pun berubah! Kini dia jadi sosok yang dihormati dan disegani. Dan wanita-wanita seksi nan cantik berlomba-lomba merasakan sentuhannya.
Ulasan
1 ulasan
ASWAR VEIL
16/8/26 04:02
Mari ikuti perjalanan Beni dalam menaklukan setiap wanita yang dia temui dan mengembangkan dirinya setiap hari. jangan lupa tinggalkan ulasan agar penulis bisa lebih semangat menyelesaikan cerita ini
BAB 1: Jomblo Karena Pilihan
Beni Prasetyo—atau yang lebih akrab dipanggil Ben—kini harus menjalani hidupnya seorang diri. Sejak orang tuanya bercerai dan pergi entah ke mana, ia dibesarkan sepenuhnya oleh sang nenek. Namun, kepergian neneknya tiga bulan yang lalu mengubah segalanya. Tak ada lagi tempat bersandar; Ben harus menopang hidupnya sendiri.
Untuk kesekian kalinya, suara malu-malu seorang siswi memecah keheningan di pinggir lapangan basket sekolah.
"Kak Ben... aku suka kamu. Tolong jadi pacar aku," bisik siswi itu dengan rona merah membakar pipinya.
"Maaf, ya. Aku belum ada niat buat pacaran," jawab Ben datar namun sopan—sebuah jawaban standar yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Gadis itu menunduk murung. Dengan menahan tangis yang hampir pecah, ia berbalik lalu berlari cepat meninggalkan lapangan. Ben hanya bisa menggeleng pelan menatap kepergiannya. Kejadian seperti ini sudah terlalu sering berulang.
Sebagai siswa populer berwajah tampan, Ben memang selalu menjadi incaran para murid perempuan di sekolahnya. Namun, kondisi hidup memaksa Ben berpikir realistis. Bagi pemuda yang berjuang bertahan hidup sendirian, cinta adalah kemewahan yang tak sanggup ia beli.
"Pacaran itu butuh uang dan waktu. Mana sempat aku mikirin hal begitu," gumam Ben seraya menatap punggung gadis itu yang menghilang di belokan koridor.
Tanpa peringatan, sebuah lengan kokoh merangkul lehernya dari belakang. Saat Ben menoleh, tampak dua sahabat karibnya sejak SMP: Aldo dan Maya.
Meski berasal dari keluarga terpandang di desa—terutama Maya, yang ayahnya memiliki beberapa toko emas besar di kota dan berbagai lini bisnis lainnya—keduanya tak pernah memandang Ben sebelah mata. Persahabatan mereka murni tanpa sekat status sosial.
"Keren banget sahabat gue satu ini! Sudah berapa cewek yang lu bikin nangis semester ini, Ben?" goda Aldo dengan cengiran khasnya.
"Ngomong apa sih, Do? Gue kan enggak ada niat bikin mereka nangis," sahut Ben menanggapi gurauan sahabatnya.
"Si Aldo itu cuma iri sama kamu, Ben," potong Maya dengan nada mengejek. "Dia kan jomblo abadi, udah cocok masuk museum."
"Lah, kamu sendiri gimana, May? Emangnya pernah pacaran?" balas Aldo tak mau kalah, tersenyum jahil.
Maya mengibaskan rambutnya penuh percaya diri. "Gue itu jomblo karena pilihan, bukan kayak lu—jomblo karena enggak ada yang mau!"
Skakmat. Aldo bungkam menahan kekesalan yang mengundang tawa. "Ben, bantuin gue dong lawan si Maya. Dia kan paling nurut sama lu," bisik Aldo memelas.
Ben menepuk bahu Aldo seraya tertawa puas. "Sori, Do. Kali ini gue sepakat sama Maya."
Tawa bertiga pun pecah saat mereka melangkah menyusuri selasar menuju parkiran dekat gerbang sekolah.
"Besok kan udah mulai liburan semester. Kamu ada rencana apa, Ben?" tanya Maya, menatap Ben dengan binar mata penuh arti.
"Enggak ada rencana khusus. Paling cari kerjaan serabutan di desa buat tambah-tambah biaya sekolah," jawab Ben santai.
Ada kilat kekecewaan yang tersirat di mata Maya, meski gadis itu dengan cepat menyembunyikannya. "Kamu memang hebat, Ben. Aku selalu salut sama kamu," ucap Maya lembut, mengukir senyum manis.
Sebenarnya, Maya menyimpan rasa pada Ben sejak masa SMP. Namun, ia memilih memendamnya rapi-rapi. Maya paham betul betapa berat beban yang dipikul Ben, dan ia tak ingin menambah kerumitan itu dengan sebuah pernyataan cinta. Baginya, bisa tetap berdiri di sisi Ben sudah lebih dari cukup.
Setibanya di dekat gerbang, Maya melirik layar ponselnya lalu memasukkannya kembali ke saku seragam. "Jemputanku udah datang. Mau pulang bareng enggak, Ben?"
"Gue enggak ditawarin sekalian, May?" serobot Aldo.
Maya menatap Aldo sinis. "Kan lu bawa motor sendiri, Aldo!"
Ben terkekeh pelan lalu menggeleng. "Enggak usah, May. Aku bareng Aldo aja, sekalian searah."
Maya sedikit menggembungkan pipinya, merasa gemas sekaligus kecewa. "Ya udah kalau gitu, aku duluan ya!" pamitnya seraya berjalan menuju mobil jemputannya.
Aldo mengambil sepeda motornya di parkiran dan membonceng Ben hingga ke depan rumah.
"Makasih ya, Do. Mau mampir dulu?" tawar Ben saat turun dari motor.
"Lain kali aja, Ben. Gue mau langsung pulang," sahut Aldo.
"Ya udah, hati-hati di jalan, Do."
Motor Aldo melaju menjauh. Saat Ben hendak melangkah masuk ke pekarangan rumahnya, sebuah suara ramah menyapa dari samping.
"Baru pulang sekolah, Ben?"
Itu Mbak Sri, tetangganya. Wanita muda berstatus janda anak satu itu kerap membantu Ben sejak neneknya masih hidup. Bahkan sampai sekarang, Mbak Sri tak jarang mengajak Ben makan bersama karena khawatir pemuda itu kelaparan setelah hidup sebatang kara.
"Iya, Mbak, baru pulang. Ilham mana, Mbak? Kok enggak kelihatan?" tanya Ben ramah.
"Ilham baru aja tidur siang. Kamu udah makan siang belum, Ben? Mau Mbak buatin makanan?" tawar Mbak Sri hangat.
"Enggak usah, Mbak. Tadi udah makan di sekolah," jawab Ben seraya tersenyum manis.
"Ya udah kalau gitu, Mbak masuk dulu, ya."
Tanpa sengaja, pandangan Ben tertambat sejenak pada lekuk tubuh tetangganya itu saat berbalik arah. Garis tubuhnya yang berisi memancarkan pesona wanita dewasa yang matang.
Seketika Ben menggelengkan kepala dengan cepat. Sadar, Ben! Mikirin apa sih lu! bisiknya dalam hati, lalu segera melangkah masuk ke dalam rumah.
Ben langsung melepas seragamnya dan berganti dengan pakaian kerja yang lebih santai. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12.15 WIB.
"Sepertinya masih sempat," gumamnya.
Ben melangkah keluar rumah menuju area perkebunan milik Pak Karta di pinggir desa. Di sana, para pekerja sedang beristirahat makan siang, menikmati kopi dan rokok di bawah rindangnya pepohonan. Ben memang sudah biasa menjadi pekerja paruh waktu di tempat Pak Karta setiap musim panen tiba—sebuah kebiasaan sejak neneknya masih ada demi mengumpulkan rupiah untuk biaya hidup dan sekolahnya.
"Ben, udah nyampe kamu?" sambut Pak Karta ramah begitu melihat kedatangannya.
Ben tersenyum hangat dan menyapa para pekerja lain di sana.
"Sini, Ben, duduk bareng!" ajak Pak Karta seraya menyodorkan sebatang rokok.
Ben menyambutnya dengan senang hati, menyalakan pemantik, lalu menghisapnya dalam-dalam.
"Makasih, Bos. Mulut udah asam banget dari tadi pengin ngerokok," ucap Ben seraya menghembuskan asap tipis ke udara, menikmati kehangatan sederhana di tengah himpitan hidupnya.
"Besok sudah mulai libur semester ya, Ben. Ada rencana apa kamu pas liburan gini?" tanya Pak Karta seraya menikmati rokoknya bersama para pekerja.
"Niatnya sih mau cari tambahan buat bayar biaya sekolah, Bos. Kalau boleh, saya mau ikut kerja full day di ladang Bos aja," jawab Ben terkekeh santai.
"Hebat kamu, Ben. Anak paman saja kerjaannya cuma main game tiap hari. Coba kalau dia bisa serajin kamu, adem rasanya hidup Paman," sahut Mang Tatang, salah seorang pekerja yang ikut beristirahat di sana.
"Mang Tatang bisa aja. Kalau saya enggak rajin, mau makan pakai apa coba?" sahut Ben sambil tersenyum tipis.
Tawa canda para pekerja mendadak mereda. Sebuah kecanggungan samar menyelinap di antara mereka. Jawaban polos Ben secara tak sengaja mengingatkan mereka pada kenyataan pahit yang dihadapi pemuda itu: ia kini sebatang kara dan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Sebenarnya, tak lama setelah nenek Ben meninggal dunia, Pak Karta sempat menawarkan diri untuk mengadopsinya. Namun, dengan sopan Ben menolak. Pemuda itu bertekad berdiri di atas kakinya sendiri dan menafkahi jalannya tanpa ingin membebani siapa pun.
Merasakan suasana yang mendadak canggung, Pak Karta buru-buru memecah keheningan. "Tapi yang diomongin Tatang itu ada benarnya, Ben. Intan saja yang seumuran kamu mana pernah mau bantu saya di ladang. Kerjanya cuma mengurung diri di kamar sambil main HP. Sampai bosan saya menasihatinya."
"Wajarlah, Bos. Intan kan anak perempuan, masa mau disamain sama saya? Lagian di sekolah nilai-nilai Intan kan selalu bagus. Pasti dia mengurung diri di kamar buat belajar keras biar nilainya tetap bertahan. Harusnya Bos dukung dong," balas Ben santai.
Pak Karta mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. "Gak nyangka saya, ternyata kamu bisa ngomong bijak juga, Ben."
"Iya benar, biasanya kan kamu asal bunyi kalau ngomong, Ben," timpal Mang Tatang diiringi tawa kecil.
"Eits, jangan salah! Ini Beni, Bos! Senggol dong!" sahut Ben menepuk dadanya penuh percaya diri, memancing gelak tawa riang dari orang-orang di sekitarnya.
Setelah jam istirahat usai, para pekerja kembali menggeluti tugas masing-masing. Ben pun bergegas kembali menyusuri ladang, memetik sayur-mayur milik Pak Karta. Terik matahari siang menyengat kulit dan mengucurkan keringat deras, tetapi bagi Ben, kepayahan fisik seperti ini sudah menjadi kawan sehari-hari. Tangannya begitu lihai dan terampil memilah serta memetik hasil panen.
Menjelang sore, seluruh pekerjaan hari itu akhirnya rampung. Pak Karta menghampiri Ben yang sedang menyapu keringat di dahinya, lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Ini upah kamu buat seminggu ini, Ben. Karena besok kamu mulai libur sekolah, gimana kalau besok kamu kerja full day di sini?" ucap Pak Karta seraya menepuk pelan bahu Ben.
"Terima kasih banyak, Bos! Wah, jelas saya enggak bakal menolak tawaran emas dari Bos Karta," jawab Ben dengan cengiran lebar nan jenaka.
Daftar bab
80 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








