Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
THE MAN BEHIND THE SILENT

THE MAN BEHIND THE SILENT

Diruna | Bersambung
Jumlah kata
39.0K
Popular
100
Subscribe
34
Novel / THE MAN BEHIND THE SILENT
THE MAN BEHIND THE SILENT

THE MAN BEHIND THE SILENT

Diruna| Bersambung
Jumlah Kata
39.0K
Popular
100
Subscribe
34
Sinopsis
PerkotaanAksiGangsterTeknologiMisteri
Victor Lucien tumbuh dari darah dan trauma. Di usia remaja, ia menyaksikan ibunya dibunuh oleh ayahnya sendiri sebelum pria itu melarikan diri, meninggalkannya sendirian dalam hujan malam yang tak berujung. Hidupnya nyaris hancur, sampai seorang hacker jenius bernama Rive Hale memungutnya dan membentuknya menjadi “eksekutor”, penjaga bayangan yang bekerja tanpa identitas, tanpa suara, tanpa kelemahan. Kini Victor hidup sebagai orang suruhan rahasia yang melindungi para petinggi, menyusup, dan menghabisi para pembisnis licik. Ia selalu bergerak dalam penyamaran, hidup di antara gedung-gedung kota yang penuh manipulasi. Tugas barunya datang dari sebuah perusahaan farmasi raksasa: menyelidiki kebocoran data penelitian ilegal yang berkaitan dengan obat pengendali manusia, senjata baru yang bekerja diam-diam, tanpa jejak, tanpa suara. Di sanalah ia bertemu Lyra Kaelen, seorang dokter baik hati yang terjebak sebagai pion percobaan. Tanpa ia sadari, seluruh pekerjaannya selama ini, masa lalu kelam keluarganya, dan ambisi perusahaan itu saling terhubung oleh satu kebenaran yang jauh lebih gelap. Di tengah konspirasi yang membusuk, Victor dan Lyra dipaksa bekerja sama. Mereka menjadi sekutu, dan perlahan sesuatu yang hangat tumbuh di antara retakan luka masing-masing. Namun, untuk menghancurkan proyek pengendalian manusia, mereka harus siap berhadapan dengan Dalangny, orang yang pernah berdiri di balik tragedi masa remaja Victor. Orang yang seharusnya sudah lama mati. Orang yang mengenalkannya pada ketakutan untuk pertama kali.
Bab 1 | Luka Berawal Dari Rumah

Hujan pertama malam itu turun tanpa ampun, membentur atap rumah kecil di sudut Distrik Lumina. Suaranya keras, mengisi keheningan rumah sebelum sebuah pecahan guci menggema bersamaan dengan teriakan yang terdengar dari ruang tengah.

Victor, masih berusia lima belas tahun, berdiri di balik pintu kamarnya. Tubuhnya gemetar. Tangannya menutupi telinga, tapi suara pecahan kaca dan amukan ayahnya tetap menembus segalanya.

Kini Victor tengah menyaksikan bagaimana ayahnya mengamuk dan berteriak di depan ibunya, memecahkan semua benda yang ada di sekitarnya.

“Aku bilang jangan bantah aku!” Suara ayahnya membelah ruang tamu. Tangannya yang kekar menjambak rambut ibunya dengan kasar.

Rintihan terdengar dari bibir ibunya, lemah dan pelan. “Tolong berhenti. Ada Victor.”

“Kenapa memangnya kalau ada anak sialan itu!” cengkeramannya semakin kuat di rambut wanita paruh baya itu. “Kalian sama-sama lemah dan tidak berguna.”

Mendengar itu, tangan Victor mengepal. Di balik pintunya ia menatap semua kejadian di ruang tengah lurus dan tajam. Pandangannya jatuh pada serpihan pecahan guci di lantai. Dalam kepalanya muncul hal gila.

Bagaimana kalau seandainya ia membawa pecahan itu dan menusukkan nya pada perut ayahnya. Bayangan itu muncul jelas dalam pikirannya, membuat keinginannya membara untuk menghabisi ayahnya karena telah menyakiti ibunya.

Satu dentuman keras menarik kesadarannya kembali. Tepat beberapa meter darinya, ayahnya menyeringai dengan botol pecah penuh darah yang menetes ke lantai. Ia tercenung, seolah dunia baru saja berhenti bernapas.

Victor membuka pintu. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Ia berlari ke ruang tengah, dadanya mencelos, dunianya ambruk dalam sekali lihat.

Ibunya tergeletak di lantai, tangannya memegang perut, darah mengalir dari sana mengotori lantai. Mata wanita itu masih terbuka, memandang kosong ke arah langit-langit. Tubuhnya tidak bergerak.

Di sebelahnya, ayah Victor berdiri dengan nafas memburu, tangan masih memegang leher botol yang pecah.

Victor bersimpuh, mencoba membangunkan ibunya yang sudah terkapar tak bernyawa. “Bu. Bangun!”

Genggaman tangannya melemah saat menyentuh pergelangan tangan ibunya, Dingin. Dan sadar tak lagi ada detak kehidupan di sana. Di luar, hujan semakin deras bersamaan dengan petir yang menyambar, menambah pilu perasaan Victor saat itu.

Matanya memerah tetapi tidak ada air mata yang jatuh lagi di pipinya. Seluruh tubuhnya gemetar dengan emosi yang membara, seakan api sedang berkobar di atas kepalanya. Ia berbalik, tatapannya nyalang kepada sang ayah.

“Ini semua gara—” Kalimat itu tidak selesai.

Victor meraih kerah baju ayahnya. “Brengsek!”

Tatapan ayahnya berubah panik, liar. Menyadari sesuatu telah berubah, ia menatap lantai, sadar telah menghabisi istrinya sendiri. Dengan panik, tangan ayahnya melepaskan pegangan Victor dari lehernya, menatap Victor seolah melihat hantu, lalu lari keluar begitu saja. Menabrak pintu, hilang di tengah hujan yang menggila.

Victor tidak mengejar. Tidak bisa. Lututnya goyah saat ia meraih tubuh ibunya, menyentuh pipinya yang dingin.

“Ibu!” tangisnya pecah lebih keras dari hujan yang jatuh. Suara seorang anak yang baru saja kehilangan satu-satunya tempat pulang.

Ia tidak menyangka akan melihat sendiri ibunya dihabisi ayahnya. Ia berteriak, mengeluarkan semua emosi dan sesak di dadanya.

Malam itu, sesuatu dalam diri Victor mati bersamaan dengan ibunya.

***

Setelah malam itu, Victor mengurung diri, memeluk lututnya sendiri di sudut kamar. Tidak ada kerabat yang datang, tidak ada seseorang yang datang sekadar menanyakan keadaannya. Bahkan alih-alih mencari ayahnya, kepolisian malah meminta keterangan sebagai saksi hanya karena sidik jarinya ada di jasad sang ibu.

Rumah itu sunyi, dan Victor tahu ia tidak bisa tinggal di sana lagi. Polisi akan datang dan mencarinya lagi; ia tidak mau dipenjara atas apa yang tidak dilakukannya. Karena ia juga korban malam itu.

Hujan turun lagi sore itu, menelan jingga yang biasanya membentang indah—favorit sang ibu. Kini jingga itu menghilang bersama ibunya yang tak lagi ada di sisinya.

Ia meninggalkan semuanya. Keluar rumah tanpa tas, tanpa arah. Hanya mengenakan hoodie basah dan rasa sakit yang menekan dadanya sampai sulit bernafas.

Kota sore tidak peduli pada anak berusia lima belas tahun yang berjalan sendirian. Lampu-lampu neon mulai menyala, menyorot jalanan becek. Suara klakson dan hujan bercampur menjadi kekacauan yang asing. Victor berjalan tanpa melihat ke depan, tanpa tahu apa yang harus dilakukan.

Sampai tubuhnya benar-benar menyerah.

Ia duduk di atas jembatan kecil, memeluk lutut, tubuhnya gemetar hebat. Hujan membuatnya semakin dingin, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil.

Ia melihat bayangan ibunya setiap kali menutup mata, memunculkan rasa penyesalan sekaligus rasa bersalah secara bersamaan. Dan sialnya ia juga mendengar suara ayahnya setiap kali menarik nafas.

Bayangan ayahnya yang menyeringai setelah berhasil menghabisi seseorang malam itu membuatnya muak dan murka.

Lalu bayangan dirinya bersama ibunya yang selalu menjalani hari dengan manis. Meski sederhana, Victor adalah anak yang tampan dan cerdas, dan ibunya selalu membanggakannya kepada tetangga bahkan siapapun yang menyapanya.

Namun sayang, ayahnya yang peminum membuat keluarga sederhana yang manis itu menjadi cacat. Pertengkaran terjadi setiap hari, KDRT sering dilakukan ayahnya. Dari mulai diam-diam sampai terang-terangan hingga puncaknya di malam itu.

“Manusia brengsek.” bisiknya pada dirinya sendiri. Victor berdiri, berpegangan pada pembatas sungai, matanya menatap dalam aliran deras di bawah sana.

Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana jika dirinya melompat ke bawah sana dan menyusul ibunya. Biar ia tidak sendirian dalam kesunyian yang menakutkan.

Belum sempat kakinya menyentuh pembatas, sebuah suara muncul dari kegelapan.

“Kau mau mati di situ, atau mau bertahan hidup?”

Victor menolehkan kepala pelan. Seorang pria muda berdiri beberapa meter di belakangnya, memegang payung hitam, mengenakan jaket lusuh, tapi matanya tajam, terlalu tajam untuk orang biasa.

Victor tak mampu menahan tubuhnya, ia jatuh terduduk dan bersandar pada tembok pembatas. Pria itu jongkok, menatap Victor dengan tenang. Tanpa rasa takut, tanpa kasihan berlebihan.

“Kau sendirian?”

Victor tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan sendu dan menyedihkan.

“Aku bukan polisi. Bukan petugas sosial. Kalau kau ikut aku sekarang, hidupmu bakal berubah. Tapi keputusan tetap di tanganmu.”

Victor hanya menatap sambil mengulurkan tangan.

“Namaku Riven Hale.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Victor merasa seseorang melihat dirinya—bukan sebagai beban, bukan sebagai masalah, tapi sebagai seseorang yang layak diselamatkan.

Tangan Riven tetap terulur, tidak memaksa. Victor akhirnya mengangkat tangannya. Ragu. Pelan. Tapi mengangkatnya.

Riven tersenyum tipis. “Bagus. Mulai malam ini, kau nggak sendirian lagi.”

Di bawah langit yang masih menangis, Victor mengikuti langkah orang asing itu. Ia tidak tahu bahwa pria ini bukan orang biasa.

Tidak tahu bahwa ia sedang melangkah ke dunia gelap yang bahkan jauh lebih berbahaya dari ayahnya.

Tapi satu hal pasti, malam itu bukan hanya akhir. Itu adalah awal—awal dari manusia yang kelak dikenal sebagai Victor Lucien.

Lanjut membaca
Lanjut membaca