

‘Hidup itu mirip roll coaster. Bikin takut, mual, sekaligus muak! Jadi kalau nggak kuat, mending naik yang lebih aman aja!’ — Abraham Wiratama, CEO Wiratama Corp.
….
"Bos, Bos ini gawat!" Lelaki berusia 32 tahun yang usianya jauh lebih tua dari bosnya, memang terkadang garis nasib itu bisa membedakan takdir, kalau orang kaya bisa jadi pewaris dari baru brojol pun nggak masalah, tapi kalau orang susah?
Ya, jadi kacungnya orang kaya, contohnya Jackson Hutama alias Joko, umur sudah kepala tiga lewat sedikit tapi nasib nggak pernah berubah tetap menjadi asisten pribadi Abraham Wiratama.
Abraham alias nama penanya Abra mengangkat kepala yang tadinya menunduk karena fokus oleh lembaran demi lembaran kertas pengajuan proposal dari perusahaan lain yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya. Alis tebal mirip ulat bulu menukik ke atas.
"Gawat apa? Gawat darurat? Siapa yang mau melahirkan?" cerocos Abra.
"Bos, ya elah, kondisi begini bisa jangan bercanda? Kalau Bos mau tahu, Investor utama kita, Pak Gilbert, dia mau narik dana dari proyek mall, taman hiburan, sama rumah sakit di Surabaya, Bos!" sahut Jackson.
Abra berkedip. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sejujurnya dia ingin pura-pura pingsan saja biar tidak perlu menjalani hari ini.
"Loh? Kan baru minggu lalu kita meeting? Dia suka proposal kita!" suara Abra meninggi, setengah syok, setengah ingin berteriak ke semesta, kenapa hidupnya terlalu banyak cobaan?
Jackson menggaruk-garuk tengkuk yang gatal karena panu, bingung mau menjelaskan bagaimana pada Abra. Masalahnya, Bos Muda yang punya sejuta gaya ini sudah terlanjur senang, bahkan mentraktir sahabat-sahabatnya di restoran mewah kemarin itu.
Lah sekarang?
Berita buruk?
Gimana dia mau taruh muka setelah ini, iya nggak? Iya ajalah, biar cepat kelar!
"Iya, Bos…, tapi katanya ada informasi baru. Ada yang bilang perusahaan kita berpotensi bangkrut dalam dua bulan, rumor udah kemana-mana ini, Bos!"
"Siapa yang bilang?" Abra menggeram. Ada nama yang langsung melintas di kepala, Om William, malaikat tanpa sayap tapi punya bakat hebat untuk menusuk dari belakang. Om yang satu ini masih muda, sama kayanya dengan dirinya, usia juga beti-lah alias beda-beda tipis, Abra baru 28 tahun, Om William 35 tahun, tapi liciknya justru ada di level paling dewa, bahkan melebihi rubah berekor sembilan, bermuka dua mirip ular kepala tujuh.
Pasti dia lagi yang bikin rumor tentang perusahaan Abra. Perusahaan yang mati-matian Abra usahakan supaya tetap beroperasi semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, dan selama dua tahun juga dia berhasil bertahan, meski masalah masih segudang, banyak sampah yang belum dibersihkan, dan terkadang masih senin–kamis, alias maju mundur, tapi bisa lah buat menghidupi kehidupan pribadi Abra yang hedon.
Jackson ragu sejenak. "Sumber nggak jelas, Bos. Tapi… katanya informasi dari orang dalam. Pokoknya Bos musti bertindak, kalau nggak saya bakal jadi pengangguran, bisa jatuh miskin lagi kayak dulu!"
Abra menepuk jidat, di tengah situasi yang masih abu-abu begini, sempat-sempatnya Joko, oh maaf, Jackson memikirkan kondisi sendiri?
“Heh, kamu percaya nggak sama aku? Aku bisa bikin balik keadaan, nggak perlu kayak tuyul kebakaran jenggot gitu, bisa? Perusahaan Wiratama Corp. keadaan sudah membaik selama dua tahun terakhir, kalau ada yang mau main sikut dengan menyebar rumor, kamu pikir aku bakal tinggal diam?”
Jackson mau mempercayai ucapan Abra, tapi agak sangsi juga, Abra memang pintar, jenius, dan banyak taktik kalau sudah urusan bisnis, tapi ….
“Anu, Bos. Pak … Pak Gilbert itu investor paling besar, kalau sampai kehilangan dia, susah lagi nyari modelan begitu,” kata Joko, kita panggil Joko saja, jauh lebih membumi namanya dibandingkan Jackson!
Abra menggebrak meja, kemudian memekik, dan meringis, telapak tangannya nyeri.
"Jadi mereka percaya rumor, bukan data? Gila! Perusahaan ini masih sehat sentosa!"
Joko menelan ludah, "Itu… kalau sehat kenapa payroll bulan kemarin mundur seminggu?"
Hening. Bahkan AC kantor terdengar seperti lagi menertawakan mereka. Tubuh Abra melorot dari kursi, menutup wajah dengan kedua tangan.
Capek. Kesel. Sedih. Semua bercampur aduk mirip gado-gado Bang Nana di daerah Bekasi!
Sejujurnya, kalau hari itu Tuhan mau mencabut nyawanya, Abra pasti bilang, “Terima kasih Tuhan, akhirnya ada berita bagus.”
Jackson menatap bosnya iba. "Bos, ada satu opsi."
"Apa? Pinjam ke rentenir? Jual ginjal kananku? Jadi cowok panggilan untuk tante kaya? Atau mau suruh aku ngerampok Bank yang udah mau bangkrut?" Abra meracau.
"I-Itu … keempatnya mungkin bisa juga jadi opsi, tapi bukan itu maksud saya, Bos."
Abra memelototkan mata.
"Opsi kita terakhir, gimana kalau meeting dengan Om William. Perusahaan Om William stabil bahkan katanya Om William juga mau buka perusahaan cabang ke delapan di Singapore. Siapa tahu nih, doi bisa jadi solusi, kan?"
Ruangan seketika seperti drop 10°C. Nama itu seperti mantra kegelapan membuat mulut Abra komat-kamit tanpa sadar, tapi nggak bersuara sama sekali.
Om William, memang keluarganya, dia adik paling bungsu almarhum papinya Abra, sekaligus yang paling sultan di antara para sultan Keluarga Wiratama, tapi kalau berhubungan sama dia, sudah jelas hidup orang tinggal menunggu waktu sampai hidup orang itu hancur, alias hidup enggan, mau mati mikir dulu.
Abra berdiri pelan, mengambil jasnya, merapikan dasi, menepuk pipinya sendiri.
"Baik. Kita ketemu dia."
Joko shock. "Bos yakin?!"
"Enggak juga sih. Seribu persen nggak yakin. Tapi kalau hidup mau hancur, ya sudah sekalian hancur. Nggak usah banyak tanya, Joko!"
Joko mengikuti dari belakang, langkah kakinya masih gemetaran, sebetulnya dia juga mendadak jiper kalau sudah berhubungan dengan Om Willian. Wajah malaikat, tapi isi hati dan pikiran rasa iblis tingkat langit ke sembilan!
"Kita pakai mobil mana?" tanya Jackson.
Abra tersenyum pahit, masalahnya sudah dua mobil mewah harga selangit yang terpaksa masuk sekolah tapi kalau buat pulang belum bisa, soalnya SPP belum dibayar, alias digadai!
"Yang udah lunas. Yang nggak bakalan disita sama bank. Yang masih banyak bensinnya di tangki."
"Berarti, naik Grab, Bos."
“Naik Grab? Aku belum jatuh miskin, Joko! Baru dua mobil yang digadai di bank buat suntik dana ke perusahaan, terus tiga mobil kuno mewah milik almarhum papi yang aku jual, masih ada tiga mobil lagi, satu motor sport, dua motor matic, dan satu sepeda listrik,” terang Abra sedetail-detailnya.
“Ja—”
“Pakai mobil kamu!” titah Abra akhirnya.
Joko mengerjap tiga kali, hatinya menangis tanpa air mata.
“Bos… mobil saya itu—”
“Apa, jelek? Udah biasa. Nasib aku juga jelek belakangan ini.”
“Bukan… bukan gitu, Bos. Mobil saya itu nggak ada AC-nya.”
Abra menegang. Sunyi. Bibirnya bergetar, mulutnya sendiri rasanya gatal ingin memaki Joko, tapi apalah daya, Joko ini kesayangan almarhum papinya.
Joko buru–buru menambahkan, “Tapi kalau Bos mau, saya bisa buka jendela. Angin sepoy-sepoy, vibe desa, healing murah—”
“Joko.” Abra menatapnya datar. “Kita mau ketemu orang paling toxic se-Indonesia, bukan ikut piknik.”
…
Joko menekan tombol remote mobil. Beep!
Pintu terbuka lebar dengan bunyi berderak karena cat di sisi tubuh mobil sedikit berkarat dan tampil lah kendaraan paling low budget untuk orang yang outfit-nya dari ujung rambut sampai sepatu harganya sudah setara DP motor matic paling standar.
Mobil itu nggak buruk-buruk amat, cuma agak penyok, bumper diganjal cable tie, catnya belang-belang. Labelnya bukan Mercy, bukan BMW, bukan Jaguar.
Daihatsu Xenia 2010. Manual. Tanpa AC. Joknya sobek ditambal solasi.
Abra menatap mobil itu seperti menghadapi kiamat yang belum ada kabar pastinya.
“Ko… ko… kok kecil banget ya?”
“Lebih kecil lagi isi tabungan saya, Bos.”
Abra memutar bola mata dan masuk ke kursi penumpang depan dengan langkah seperti tentara menuju medan perang.