

(Bab 1)
Matahari pagi mencium puncak gunung, membangunkanku dari meditasi panjang. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak aku menginjakkan kaki di tempat ini, di bawah bimbingan Guru Brahma. Kini, saatnya telah tiba.
"Arjuna," suara Guru Brahma memecah keheningan.
"Kau telah menguasai semua ilmu yang kuajarkan. Sekarang, turunlah gunung. Gunakan kekuatanmu untuk melindungi yang lemah, dan tegakkan keadilan."
Aku mengangguk, menggenggam erat tongkat pusaka yang diberikan Guru. Pakaianku sederhana, hanya kain kasar berwarna cokelat. Rambutku panjang, tergerai hingga pinggang. Aku tidak tahu apa yang menantiku di luar sana, tapi aku siap.
Saat aku menuruni lereng gunung, aku melihat ke bawah, ke arah kota yang berkilauan di kejauhan. Sebuah dunia baru, yang asing namun memanggil. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan angin sejuk menerpa wajahku.
"Aku datang," bisikku.
Di kaki gunung, aku bertemu dengan seorang pedagang tua yang ramah. Ia memberiku tumpangan ke kota dengan kereta kudanya. Selama perjalanan, ia bercerita tentang kehidupan di kota: tentang gedung-gedung tinggi, jalanan yang ramai, dan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.
"Kota ini indah, tapi juga penuh dengan kejahatan," kata pedagang itu dengan nada prihatin.
"Para penjahat merajalela, dan orang-orang kaya menindas yang miskin."
Aku mendengarkan dengan saksama, hatiku mulai tergerak. Aku tahu, inilah alasan mengapa aku diturunkan gunung. Aku harus menggunakan kekuatanku untuk membawa perubahan.
Setibanya di kota, aku mengucapkan terima kasih kepada pedagang itu dan berpisah. Aku berjalan menyusuri jalanan yang ramai, mengamati sekelilingku. Orang-orang berlalu lalang tanpa memperdulikanku. Aku merasa seperti orang asing di tengah keramaian.
Tiba-tiba, aku mendengar teriakan minta tolong. Aku berlari ke arah suara itu dan melihat seorang gadis kecil sedang dikejar oleh dua orang pria bertubuh besar. Tanpa ragu, aku melompat maju dan menghadang mereka.
"Lepaskan gadis itu!" seruku dengan suara lantang.
Kedua pria itu berhenti dan menatapku dengan tatapan meremehkan.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!"
Aku tidak menjawab. Aku hanya memasang kuda-kuda, siap untuk bertarung?
*Pertarungan*
"Arjuna langsung menyerang kedua pria itu dengan kecepatan kilat, melumpuhkan mereka dalam sekejap."
Tanpa menunggu jawaban, Arjuna bergerak secepat kilat. Kedua pria itu bahkan tidak sempat berkedip sebelum Arjuna melesat di antara mereka. Dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, ia menyentuh titik-titik vital di tubuh mereka. Dalam hitungan detik, kedua pria bertubuh besar itu roboh ke tanah, tak sadarkan diri.
Gadis kecil itu, yang tadinya ketakutan, kini menatap Arjuna dengan mata berbinar.
"Terima kasih, Tuan," ucapnya dengan suara gemetar.
"Anda telah menyelamatkan saya."
Arjuna tersenyum lembut.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Nama saya Dewi," jawab gadis itu.
"Mereka ingin menculik saya dan menjual saya kepada orang jahat."
Arjuna terkejut mendengar pengakuan Dewi. "Jangan khawatir," katanya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan melindungimu."
Arjuna membawa Dewi ke tempat yang aman, sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan. Ia membelikan Dewi makanan dan minuman, lalu bertanya lebih lanjut tentang situasinya.
Dewi bercerita bahwa ia adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal karena sakit beberapa waktu lalu. Ia hidup sebatang kara, mencari nafkah dengan mengamen di jalanan.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi," kata Dewi dengan nada sedih.
"Aku takut sendirian."
Arjuna merasa iba mendengar cerita Dewi. Ia tahu bagaimana rasanya hidup sebatang kara. Ia juga pernah merasakan kesepian dan ketakutan.
"Aku akan menjadi keluargamu," kata Arjuna dengan tulus.
"Aku akan menjagamu dan melindungimu."
Dewi terkejut mendengar tawaran Arjuna. Ia tidak percaya bahwa ada orang yang mau menerimanya sebagai keluarga.
"Benarkah?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Benar," jawab Arjuna sambil tersenyum. "Mulai sekarang, kau adalah tanggung jawabku."
Arjuna memutuskan untuk membawa Dewi bersamanya dalam perjalanannya. Ia tahu bahwa melindungi Dewi tidak akan mudah, tapi ia bertekad untuk melakukan yang terbaik.
Saat mereka berjalan menyusuri jalanan kota, Arjuna merasakan tatapan mengawasi dari kejauhan. Ia tahu bahwa musuh-musuhnya sudah mulai bergerak.
"Kita harus berhati-hati," kata Arjuna kepada Dewi.
"Ada orang yang ingin mencelakai kita."
Dewi mengangguk, menggenggam erat tangan Arjuna. Ia merasa aman berada di dekatnya. Ia tahu bahwa Arjuna adalah orang yang kuat dan berani.
Tiba-tiba, sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka. Arjuna dengan sigap menarik Dewi ke samping, menghindari tabrakan maut. Mobil itu berhenti mendadak, dan beberapa orang pria bertopeng keluar dari dalamnya.
"Serang!" teriak salah seorang dari mereka.
Para pria bertopeng itu menyerbu Arjuna dan Dewi dengan senjata di tangan. Arjuna memasang kuda-kuda, siap untuk bertarung. Ia tahu bahwa ini adalah awal dari pertempuran yang panjang dan berbahaya?
*Larasati jurnalis idealis*
"Saat Arjuna dan Dewi terdesak, Larasati, sang jurnalis idealis, muncul dan membantu mereka melawan para penyerang."
Saat para pria bertopeng itu semakin mendekat, siap melukai Arjuna dan Dewi, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna merah berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Seorang wanita muda dengan rambut pendek bergelombang keluar dari mobil dengan gesit. Ia mengenakan jaket kulit dan celana jeans, penampilannya mencerminkan keberanian dan ketegasan.
"Kalian pikir bisa seenaknya mengganggu orang di jalanan?" seru wanita itu dengan suara lantang. Ia melemparkan sesuatu ke arah para penyerang.
Ternyata, itu adalah bom asap!
Asap putih tebal menyelimuti area tersebut, membuat para penyerang kebingungan. Arjuna dengan sigap menarik Dewi ke tempat yang lebih aman, di belakang mobil sedan merah.
"Siapa kau?" tanya Arjuna dengan nada waspada.
"Namaku Larasati," jawab wanita itu.
"Aku seorang jurnalis. Aku sudah lama mengamati gerak-gerik orang-orang ini. Mereka adalah anak buah Raden, seorang pengusaha kotor yang mengendalikan banyak bisnis haram di kota ini."
Arjuna mengerutkan kening.
"Raden? Siapa dia?"
"Dia adalah orang yang sangat berbahaya," kata Larasati.
"Dia punya banyak koneksi dan uang. Dia tidak akan segan-segan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya."
Asap mulai menghilang, dan para penyerang kembali menemukan arah mereka. Mereka menatap Larasati dengan tatapan marah.
"Kau ikut campur urusan kami, Nona!" teriak salah seorang dari mereka.
"Kau akan menyesal!"
"Aku tidak takut pada kalian," balas Larasati dengan berani. Ia mengeluarkan sebuah tongkat besi dari dalam mobilnya.
"Kalianlah yang akan menyesal karena berurusan denganku!"
Larasati berlari maju dan menyerang para penyerang dengan tongkat besinya. Ia bergerak dengan lincah dan gesit, memukul mundur para penyerang satu per satu. Arjuna terkesan dengan kemampuan bertarung Larasati. Ia bisa melihat bahwa wanita ini bukan orang sembarangan.
Melihat Larasati mampu mengimbangi mereka, para penyerang mulai kewalahan. Mereka memutuskan untuk mundur dan melarikan diri dengan mobil mereka.
"Cepat masuk ke mobil!" seru Larasati kepada Arjuna dan Dewi.
"Kita harus pergi dari sini sebelum mereka kembali dengan bala bantuan!"
Arjuna dan Dewi segera masuk ke dalam mobil sedan merah. Larasati menginjak pedal gas dalam-dalam, dan mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat kejadian.
Setelah berada di tempat yang aman, Larasati menghentikan mobilnya. Ia menatap Arjuna dengan tatapan serius.
"Aku tahu siapa kau," kata Larasati.
"Kau adalah Arjuna, pendekar dari gunung yang turun untuk menegakkan keadilan. Aku sudah mendengar tentangmu."
Arjuna terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku punya banyak informan," jawab Larasati sambil tersenyum misterius.
"Aku tahu banyak hal tentang kota ini, termasuk kejahatan yang dilakukan oleh Raden dan anak buahnya."
"Aku ingin membantumu," lanjut Larasati.
"Aku ingin mengungkap kejahatan Raden dan membawanya ke pengadilan."
Arjuna menatap Larasati dengan tatapan menyelidik. Ia merasa bahwa wanita ini bisa dipercaya. Ia juga merasa bahwa mereka memiliki tujuan yang sama.
"Baiklah," kata Arjuna.
"Aku menerima tawaranmu. Mari kita bekerja sama untuk menegakkan keadilan."
Bersambung....