

Malam gelap pekat di cakrawala, tetapi kota Jakarta yang mengambang di atas lautan begitu megah dengan lampu gemerlap dan keindahan gedung pencakar langitnya.
Jalanan dipenuhi orang meski sudah tengah malam, di salah satu pojok gedung bertingkat tinggi terdapat seorang tua gagah dikawal menuju mobil. Kacamata dan ubannya menunjukan usia tua, dipertegas dengan kerutan samar di ujung mata.
Namun demikian, sorot matanya tegas dan jalannya mantap, dia cukup kuat, itulah Arka.
Arka adalah kepala badan khusus perlindungan presiden sekaligus pemegang salah satu jaringan intelegensi nusantara, setelah misi ini selesai, sang presiden menyetujui pengunduran diri dan pensiun awal Akra, usianya yang ke 53 membuatnya pensiun di usia muda.
Biasanya tokoh penting dapat hadir bahkan hingga 65 tahun, tetapi merasa lelah dan cukup untuk membangun nusantara hingga kini menjadi negara maju, Arka pun disetujui untuk pensiun dini.
Masuk ke mobil, dia melirik aneh kepada sopir di depan. “Kamu yang mengantarku Janu?” tanyanya.
Pasalnya, Janu bukanlah sopir yang bertugas, dia adalah wakil di divisi intelegensinya, usianya cukup muda dibandingkan dengan Arka.
“Benar, Pak. Ada titah khusus dari bapak Presiden.” Jawabannya formal dan kaku, setelah melihat Arka menggunakan sabuk pengaman, dia langsung menjalankan mobil dengan kencang, tetapi halus, sangat lancar dan nyaman.
“Baiklah, tidak perlu buru-buru. Ini adalah hari terakhirku bekerja.”
“Apakah bapak yakin akan berhenti? Belum ada orang yang dapat menggantikan bapak sebagai pemimpin.”
“Tidak juga, ketika aku pergi akan ada kandidat lain yang lebih cocok, kamu juga bisa maju, loh.”
"Terima kasih, tapi saya tidak ingin mati.”
Janu melirik ke kaca di depannya, melihat Arka yang cukup santai. Arka cukup mempercayai semua orang di divisinya, cara kerjanya yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran membuat Arka maju dan sangat progresif dalam bekerja. Berbagai rahasia negara dan kemajuan negara tidak lepas dari sumbangsih Arka meskipun hanya beberapa titik kecil saja.
Membelah jalanan, setelah setengah jam berjalan, Janu melewati jembatan di atas laut, kota jakarta yang dulu tenggelam kini dibangun ulang di atas laut barat, semakin lama melaju semakin sepi, bagaimanapun ini sudah jam 1 dini hari.
“Sepertinya kamu salah jalan, Janu.”
“Ada perintah khusus dari Bapak Presiden, mohon Bapak Arka mengikuti saya terlebih dahulu.”
Awalnya Arka mengira Janu diberi tugas mengantar kepergiannya di hari terakhir bekerja, tetapi melihat gelagatnya, mungkin ada misi khusus lain?
kecurigaan mulai tumbuh, hati Arka berkecambuk memikirkan banyak sekali kemungkinan, tetapi raut wajahnya masih tenang dan santai, dia tidak menunjukan kepanikan sama sekali.
Hingga 1 jam berlalu, itulah saat ketika mobil berhenti diujung jalan tepian kota, sekelilingnya adalah tebing terjal dan lautan yang dalam. Janu membuka pintu mobil dan memohon Arka keluar.
“Mohon bapak ikuti saya.”
Jalannya tanah dengan rerumputan tipis yang menunjukan sering dilalui. Hingga sampailah di sebuah bangunan kotak dengan rangka besi yang kuat dan metalik futuristik yang elegan.
Arka dibawa ke dalam, hingga ruang keamanan tingkat tiga, terdapat seorang lelaki di dalam ruangan itu, dia tersenyum megah dan mempersilahkan Arka duduk.
Dokumen tebal dengan keterangan rahasia tingkat tinggi menggunung di meja pria itu. Arka tidak kenal dekat, tetapi ia tahu dialah jendral utama bangsa di sebelah bapak presiden.
Di sebelah tumpukan itu, tepat di depan sang jendral terdapat brankas dengan kode deret lebih dari 100 kode angka huruf. Kendati demikian, Arka mengenal betul ialah brankas yang dua dekade lalu seharusnya sudah hilang. Alisnya mengernyit dengan bingung.
“Saya sudah menyelidiki banyak hal, Pa. Ini merupakan brankas penting terkait beberapa hal sumber daya kita yang istimewa, mengapa penelitian dan projek ini harus dihentikan bahkan semua progresnya dibakar? Bukankah itu sangat disayangkan?”
“Darimana kamu mendapatkan ini?” Arka masih menebak sembari bertanya.
“Bapak mantan presiden sebelumnya menyimpannya, ini salinan terakhir. Yah, beliau berkata hanya kamu yang memiliki akses ini, Bapa.”
“Untuk apa kamu membutuhkannya? Berkas ini memang seharusnya tidak ada.”
“Benar sekali, Pa. Mantan bapak presiden sendiri yang mengatakan, ini mungkin akan sangat bermanfaat jika digunakan kembali suatu saat, dan saya sangat penasaran isinya, sehingga mohon bapak Arka bersedia membukanya.”
“Tidak mungkin.”
Ara berdiri hendak keluar dari ruangan, tetapi Janu yang sedari tadi diam di belakangnya langsung mengangkat dan menyalakan pelatuk tepat di pelipis Arka.
“Janu!”
“Mohon maaf, inj perintah Presiden.”
Jenderal besar di depannya tertawa cukup keras. “Kamu tidak tahu, Arka? Pilihannya hanya ada 2 sekarang, mengikutiku atau teguh pendirianmu. Bagaimanapun kamu pasti mati malam ini, lebih baik menurut saja, siapa tahu aku berubah pikiran dan melindungimu.
"Presiden sebelumnya ingin merekonstruksi ulang proyek ini, siapa tahu akan bermanfaat untuk kita? Jadi aku menyetujuinya dan bertanya kepada Presiden. Kamu tahu? Dia mengatakan bahwa, sudah benar bahwa proyek ini ditutup, sebagus apapun prospeknya akan sangat buruk bagi bumi dan medan alam nusantara jika diteruskan, akan sangat baik jika semua orang yang mengetahuinya lenyap. Dia tidak percaya padamu.”
Arka baru menyadarinya.Jika dia setuju, Janu akan membunuhnya karena dia berkhianat, jika dia tidak setuju, Janu yang merupakan keluarga jenderal juga akan menembaknya karena konflik kepentingan pribadi. Satu-satunya jalan adalah kabur, tapi ruangan ini memiliki 3 lapis perlindungan mulai dari sistem yang canggih hingga ratusan tentara yang menjaga.
konyol.
Arka hanya ingin pensiun, mengapa semua ini harus terjadi? Pengabdian pada negara akhirnya membuatnya mati. Bukan karena musuh, tetapi karena konflik kepentingan pribadi.
Arka mengamati sekitar, dia mendapati ruangan ni tertutup sangat rapat.
Lawan!
Tanpa senjatanya karena disita di luar pintu, Arka dengan tangan kosong melawan dua orang tersebut. Dengan gerakan yang lincah senjata di tangan Janu terlepas dan terpental. Keduanya bentrok.
Jendral besar memiliki laras panjang, lebih dari selusin kali dia menebak ke arah Arka yang terus menghindar di medan yang sama. Ini kesengajaan, di belakang Arka merupakan tembok paling rentan setelah dia meneliti sekitar. Setelah retak, dengan tendangan yang cukup kuat tembok itu roboh.
Arka tersenyum miring, peluru laras panjang itu habis hanya untuk membuka jalan bagi Arka, dia memanjat tembok dan cukup senang karena lolos dari bencana.
Arka berharap setelah ini dia pensiun, di gunung terpencil, memancing dan berkebun, serta hidup tenang dengan tetangga.
Memutuskan untuk melompat, siapa tahu, tongkat listrik entah dari mana menyentuh pinggang Arka, tongkat bisbol memukul kepalanya.
Arka jatuh terpental dari ketinggian, bukan melompat sendiri yang bisa ia prediksi arah dan jatuhnya sehingga meminimalisir sakit. Dia didorong setelah kepalanya bocor karena tongkat.
Tidak sampai di situ, halaman belakang ini juga cukup penuh dengan tentara, seperti sudah mendapat isyarat, sebelum Arka berhasil bangun, dirinya ditembak lusinan kali hingga bau anyir darah memenuhi hidungnya.
Betapa membosankan hidup ini.
Andai aku hidup kembali, aku akan memilih hidup untuk diriku sendiri.