
Bayangan di Punggung Ardan
Lentera darah|Bersambung
- Jumlah kata
- 55.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 21
- Jumlah kata
- 55.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 21

Lentera darah|Bersambung
Ardan selalu merasa hidupnya biasa saja—hanya seorang pemuda yang berusaha bertahan hidup di kota yang sibuk dan dingin. Namun semuanya berubah ketika sebuah lingkaran merah bercahaya tiba-tiba muncul di punggungnya, seolah-olah membakar kulitnya dari dalam. Tanda itu bukan sekadar simbol… melainkan gerbang. Sejak malam kemunculan tanda tersebut, Ardan mulai melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat manusia: bayangan berjalan tanpa tubuh, bisikan yang memanggil namanya dari tempat kosong, dan sosok-sosok hitam yang memantau setiap langkahnya. Kota tempat ia tinggal perlahan berubah—lampu jalan berkedip saat ia lewat, udara menghitam, dan mimpi buruknya seolah menjadi kenyataan. Ardan tidak tahu bahwa tanda itu adalah segel kuno yang terhubung dengan makhluk dari dimensi gelap. Makhluk tersebut, yang disebut Penjaga Bayang, telah memilih Ardan sebagai “wadah” baru. Jika segel itu pecah, dunia nyata dan dunia bayangan akan menyatu, menyebabkan kegelapan menelan seluruh kota. Di tengah ketakutan yang terus menghantuinya, Ardan bertemu Naya, seorang perempuan misterius yang tampaknya mengetahui rahasia tentang segel itu. Bersama-sama mereka mencoba mengungkap makna lingkaran merah di punggung Ardan dan mencari cara untuk memutus ikatan antara Ardan dan makhluk tersebut. Namun setiap kali mereka mendekati kebenaran, bayangan yang mengikuti Ardan semakin agresif. Mereka tidak hanya mengawasi—mereka ingin memiliki. Ardan harus memilih: bertahan sebagai manusia atau menerima kekuatan kegelapan yang terus memanggilnya. Satu hal yang pasti, tanda di punggung Ardan bukan sekadar kutukan… tapi awal dari perang antara cahaya dan bayangan.
2 ulasan
Elencelia
29/1/26 10:05
Ditunggu kelanjutan kisah Ardan semoga menuliskan Thor mampir dan subs juga ya ke CINTA ADALAH LUKA TERAKHIR
duhwiwi
26/12/25 08:20
ceritanya bagus ka,keren banget bab ke bab menjadi penasaran deh,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍 Semangat Menulis ka.....
Hujan turun seperti bilah-bilah tipis yang memotong malam Jakarta. Lampu-lampu kota tampak mengalir dalam genangan air, memantul seperti serpihan mimpi yang terdistorsi. Ardan menunduk di bawah tudung jaketnya, menembus keramaian orang-orang yang berlari mencari tempat berteduh. Namun langkahnya terasa kosong, seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya—atau mungkin, ada sesuatu yang baru menempel tanpa diminta.
Usianya baru dua puluh lima tahun, bekerja sebagai teknisi jaringan di sebuah perusahaan telekomunikasi. Hidupnya sederhana, teratur, dan nyaris membosankan. Tidak ada yang spesial dari Ardan… sampai sebuah kejadian kecil dua minggu lalu mengubah seluruh hidupnya. Kejadian yang seharusnya tidak punya arti apa pun.
Kejadian itu terjadi saat ia mengalami kecelakaan kecil di lorong sempit belakang gedung kantornya. Kabel putus yang ia perbaiki tiba-tiba memercikkan api dan meledak ringan. Tidak cukup untuk mencederai parah—hanya membuat tubuhnya terguncang dan punggungnya terbakar dingin selama satu detik. Ardan tidak terlalu memikirkannya. Ia berpikir itu hanya kejutan listrik biasa.
Tapi sejak malam itu, ia mulai melihat sesuatu.
Bayangan.
Bukan bayangan benda. Bukan bayangan tubuhnya sendiri.
Ini adalah bayangan asing… yang melekat tepat di punggungnya.
Dan yang paling mengerikan—bayangan itu tidak mengikuti cahaya mana pun. Meski Ardan berdiri di bawah lampu neon terang, bayangan itu tetap ada, tetap gelap, tetap tersenyum tipis tanpa wajah.
Awalnya ia mengira itu halusinasi karena kelelahan. Tetapi semakin lama, bayangan itu makin jelas. Makin dekat. Bahkan mulai berbentuk. Seakan-akan sesuatu dari dunia lain telah menemukan jalannya memasuki tubuh Ardan, menempel seperti lintah yang sedang menunggu waktu untuk merayap masuk.
---
Malam itu, Ardan sampai di kosannya, bangunan tua tiga lantai yang nyaris roboh jika disentuh angin kencang. Ia membuka pintu kamarnya yang sempit, menyalakan lampu, dan mendesah lega.
Namun rasa lega itu seketika hancur.
Bayangan itu sudah ada di dalam kamar.
Menunggu.
Ardan memejamkan mata.
"Mungkin cuma halusinasi… mungkin cuma stres…"
Ia membuka mata lagi.
Bayangan itu tetap berdiri di sana.
Memanjang di lantai, mengingatkan pada tubuh manusia, hanya saja… terlalu kurus. Terlalu panjang. Garis-garisnya tajam seperti retakan kaca. Dan yang membuat Ardan hampir muntah ketakutan adalah fakta bahwa bayangan itu tetap ada meskipun tubuh Ardan tidak berada pada posisi yang memungkinkan bayangan semacam itu terbentuk.
“Kenapa… kenapa kau selalu mengikuti aku…” gumam Ardan, suaranya hampir tidak terdengar.
Bayangan itu tidak menjawab. Tapi sesuatu dalam kegelapannya bergerak sedikit, seperti riak air yang disentuh angin.
Ardan menelan ludah.
Ia mengambil ponselnya, mencoba memotret bayangan itu. Mungkin dengan foto ia bisa membuktikan bahwa ia tidak gila.
Klik.
Foto terbuka.
Bayangan itu tidak tampak.
Hanya kamar biasa. Kosong.
Namun Ardan tahu bayangan itu ada. Ia bisa merasakannya. Seperti dingin yang merayap naik ke tengkuk. Seperti seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
Ia menutup matanya, mengatur napas, mencoba menenangkan diri—sampai suara bisikan halus menyentuh telinganya.
“Dan…”
Ardan terdiam. Seluruh tubuhnya membatu.
Itu bukan suara imajinasinya.
Itu bukan suara angin.
Itu suara… makhluk itu.
Ia menoleh perlahan, jantungnya berdegup tidak karuan. Namun tidak ada siapa pun di belakangnya kecuali tembok retak kamar kos. Tapi suara itu… suara itu jelas. Dekat. Hangat. Dan seolah berasal dari dalam tulang punggungnya sendiri.
“Ardan…”
Kali ini suara itu lebih jelas, seperti seseorang sedang berbicara dari dalam kulitnya.
Ardan memegang kepalanya. “Hentikan… tolong… hentikan…”
Namun suara itu hanya tertawa. Tawa rendah, tercekik, namun panjang. Seperti seseorang yang baru pertama kali belajar tertawa setelah seratus tahun tidak menggerakkan bibir.
Ardan jatuh terduduk.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Tidak ada jawaban.
Bayangan itu hanya bergerak perlahan… merayap… mendekat… sampai bentuknya menggelap tepat di kaki Ardan.
---
Pukul tiga dini hari, suara ketukan pintu membangunkannya. Ardan terjungkal bangun dari tidurnya yang tidak benar-benar tidur.
Tok… tok… tok…
Ketukan itu teratur. Pelan. Tetapi mengandung sesuatu yang tidak manusiawi.
Ardan tidak berani bergerak.
Tok… tok…
Ketukan kembali terdengar.
Suara laki-laki terdengar dari luar pintu.
“Mas Ardan… saya Pak Ujang. Tetangga kamar sebelah.”
Ardan menahan napas.
“Mas, saya dengar Mas seperti kesakitan. Tidak apa-apa?”
Ardan bangun perlahan. “Saya… saya baik-baik saja, Pak.”
“Oh… syukurlah.”
Suara Pak Ujang terdengar lega, tetapi setelah itu ia menambahkan dengan suara pelan—nyaris berbisik.
“Mas… saya cuma mau bilang… pintu kamar Mas… dari tadi ada yang ngintip dari bawah.”
Darah Ardan seakan berhenti mengalir.
Ia menatap celah kecil di bawah pintu kamar.
Benar. Ada sesuatu yang hitam pekat… merayap maju sedikit… lalu mundur.
Ardan menahan teriakan.
“Mas Ardan… hati-hati ya,” suara Pak Ujang menambahkan. “Gedung ini… sudah lama tidak suci.”
Ketukan langkah menjauh.
Dan Ardan dibiarkan sendirian lagi dalam gelap. Bersama sesuatu yang bukan manusia. Sesuatu yang semakin lama semakin nyata. Semakin berwujud. Dan semakin terikat pada tubuhnya.
Ardan menatap lantai kamar yang dingin.
Ia menatap bayangannya—atau lebih tepat, makhluk yang berdiri di dalam bayangannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari satu hal:
Ia tidak lagi berjalan sendirian di dunia ini.
Ada sesuatu di punggungnya.
Dan sesuatu itu tidak berniat pergi.
37 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.