
Berlian Penembus Waktu Si Miskin
Si Malas|Tamat
- Jumlah kata
- 153.8K
- Popular
- 16.0K
- Subscribe
- 1.9K
- Jumlah kata
- 153.8K
- Popular
- 16.0K
- Subscribe
- 1.9K
Sinopsis
Elvin Hernando, pemuda miskin dari Desa Kinawa, tiba-tiba terhubung dengan cicitnya dari 200 tahun di masa depan yang mengirimkan berlian murah sebagai balasan makanan, membuat hidup Elvin berubah drastis. Ia terlibat dalam berbagai konflik desa dan berhasil menyelamatkan Yunita, sambil memperoleh kekuatan fisik super dari serum masa depan. Saat mencoba mengembangkan teknologi masa depan, Elvin tanpa sengaja mengungkapkan misteri-misteri baru, kekuatan baru yang bisa mengubah segalanya.
Ulasan
4 ulasan
BW Mandiri
31/1/26 11:28
lah begitu doank tamatnya. nanggung ga jelas waduh kena lagi dah coba lanjutannya ke buku yg mana autot
Atariyua Senja
1/1/26 11:45
ceritanya kerenn kak..🤩 bikin penasaran episode selanjutnya... jangan lupa mampir novel ku yaa kak.. Pemburu Harta Karun Yang Tersesat Di Kota Mataram Kuno.. subcribes ☺️
Bab 1
Musim kemarau di Desa Kinawa tahun itu sungguh luar biasa, panasnya mematikan, berbeda drastis dengan tahun-tahun sebelumnya. Siang hari, udara terasa berat, seolah sedang di panggang dalam oven batu raksasa. Bahkan ketika malam menyelimuti, gerah tak kunjung meredah, membuat napas terasa sesak.
Itulah sebabnya, setiap malam, para lelaki desa punya satu ritual wajib, berkumpul di Sungai Mutiara. Mereka akan berenang sebelum tidur, berharap air sungai bisa membuang sedikit saja rasa lengket di kulit dan menghilangkan rasa gerah.
Sungai itu memang anugerah. Cukup lebar, airnya selalu menyegarkan, dan alirannya tenang, menjadi satu-satunya pelabuhan nyaman di tengah musim panas yang terasa menyiksa. Setelah para lelaki selesai, giliran para perempuan. Mereka memanfaatkan pekatnya kegelapan malam sebagai tirai privasi, menyembunyikan siluet tubuh dari mata-mata nakal pemuda desa. Tradisi ini sudah menjadi pakem turun-temurun di Kinawa.
Dan seperti biasa... Elvin Hernando sudah di balik semak-semak.
Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu memicingkan mata, berusaha keras melubangi daun talas lebar yang ia gunakan sebagai penyamaran. Jantungnya berdebar, berharap bisa mengintip siluet sungai. Namun, malam ini langit tampaknya bersekongkol menentangnya. Awan tebal menelan bulan, membuat daerah sungai tampak hitam pekat. Bahkan gemericik suara air pun nyaris tak kasat mata.
“Hah… sial banget,” gumamnya sambil mengembuskan napas panjang, kecewa. “Gelap begini mana bisa lihat aset berharga para gadis-gadis itu... Aku butuh melihat bukit kembar seksi itu setidaknya sekali sebelum tidur…”
Ia bertahan berjongkok beberapa menit lagi, berharap cahaya bulan tiba-tiba muncul, tapi nihil. Ia hanya melihat kegelapan yang tak berubah. Akhirnya, ia menyerah dan berdiri.
“Sudahlah… balik saja. Semoga besok Dewa Keberuntungan mau sedikit berpihak kepada pemuda malang ini.”
Ia mulai menapaki jalan setapak menuju rumah. Udara yang ia hirup terasa lebih lengket dan lembap dari sebelumnya. Ketika melewati deretan rumah kayu penduduk, langkah kakinya terhenti. Ia mendengar suara air mengalir. Bukan suara sungai yang menenangkan, melainkan suara air yang lebih terpusat dan deras, seperti air guyuran dari gayung.
“Eh…? Suara air mandi?”
Elvin menoleh perlahan. Sumber suara itu jelas dari belakang rumah Kak Yunita.
Ia menelan ludah yang terasa kering.
Kak Yunita, ah dialah wanita paling terkenal seantero Desa Kinawa. Bukan cuma karena parasnya yang cantik, tapi juga tubuhnya yang kian berisi, dengan dua tonjolan padat dan pantat yang makin ranum setelah melahirkan dua tahun lalu. Ditambah cara bicaranya yang lembut namun memiliki otoritas, membayangkannya mendesah dengan suara lembutnya adalah sebuah kebahagian tersendiri. Tak heran, hampir semua lelaki muda diam-diam menaruh hati, atau lebih tepatnya nafsu kepadanya.
“Jangan mikir yang aneh, Vin… jangan coba-coba,” Elvin berusaha keras mengingatkan diri sendiri.
Namun suara air itu terlampau menggoda, lebih jelas dan intim daripada bisikan air di sungai yang tadi ia intip.
“Elvin… cuma lihat sebentar, kok. Cepat, gak bakal ketahuan. Cuma sepuluh detik, Vin, demi melihat keindahan duniawi!” bisiknya pada diri sendiri, membiarkan nafsunya merangkai alas an dan membangun dukungan untuknya sendiri.
Perlahan, ia mendekati tembok batu setinggi bahunya yang sudah tua dan rapuh di beberapa bagian. Ia menempelkan tubuhnya, bersiap memanjat sedikit lebih tinggi.
Tapi, sebelum ia sempat mengintip, sebuah suara muncul di kepalanya, begitu jelas, seolah Kakeknya sedang berbisik di telinga.
“Jadilah orang yang baik, Elvin. Hidupmu tidak harus kaya, tapi hatimu jangan sampai busuk. Ingat, menjadi baik itu adalah keistimewaan…” Itu suara kakeknya.
Suara terakhir yang ia dengar sebelum orang tua itu meninggal.
Elvin membeku. Tangannya yang sempat mencengkeram bibir tembok perlahan turun.
“Kenapa… suara Kakek muncul pas saat aku mau ngelakuin hal paling mesum kayak gini,” gumamnya lirih.
Ia memejamkan mata, menahan napas. Gelombang rasa malu segera menyergap, menusuk hatinya, malu pada diri sendiri, malu pada memori pesan kakeknya, malu atas kebodohan yang hampir ia lakukan.
“Tega banget kalau aku terusin… Ya ampun, Vin. Kamu ini apaan sih…” bisiknya, mengutuk kebodohannya.
Ia hendak berbalik, tapi baru menggeser satu kaki ketika…
KRAAAAK!!!
Sebuah sambaran petir putih menyilaukan menyambar tepat di atas kepalanya.
“Maaak!”
Tubuhnya terasa tersengat oleh cahaya yang menyakitkan. Suara ledakan menggelegar membuat telinganya berdenging. Ia terlempar dari tembok, jatuh tersungkur ke tanah. Rasa panas menjalar dari ujung kaki sampai ubun-ubunnya, seperti disetrum tegangan tinggi.
“Aaaaargh!! Aduh, sialan!”
Suara di bilik mandi langsung terhenti.
“Hah?! Siapa itu?!”
Itu jelas suara Kak Yunita yang panik.
Elvin langsung bangkit, kakinya terpincang-pincang, memegangi pinggangnya yang nyeri. Ia lari secepat yang ia bisa, tanpa peduli lututnya yang memar atau pakaiannya yang kotor. Yang penting, menjauh secepatnya dari rumah Kak Yunita.
Ia baru berhenti setelah merasa aman. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat. Setelah menenangkan detak jantungnya, ia mendongak ke langit.
Dan ia terdiam kaku.
Langit cerah. Sangat cerah. Bulan bersinar terang. Tidak ada gumpalan awan gelap sama sekali.
“Elah… tadi itu apa dong? Masa petir bisa muncul dari langit cerah?”
Ia menatap langit lama sekali, mencoba mencari jawaban yang logis. Gagal, akhirnya, ia duduk di tepi jalan kecil, mengusap wajahnya.
“Sial… masih hidup, untungnya…”
Untuk memastikan ponselnya tidak jadi arang, ia merogoh saku. Layar ponselnya menyala. Tapi ada yang aneh. Ikon aplikasi WhatsApp di layarnya berubah. Warnanya bukan hijau, melainkan ikon bersinar dengan garis halus yang berkelip-kelip di sekelilingnya.
“Hah… apa lagi ini?”
Ia membuka aplikasi itu. Hanya ada satu pesan baru, yaitu dari Frengky Hernando
Di bawah nama itu, ada deskripsi aneh.
“Cicitmu. Hidup 200 tahun di masa depan. Zaman akhir dunia.” Elvin mengerutkan dahi.
“Astaga, ini pasti ulah anak-anak desa sebelah… isengnya kelewatan.”
Namun, rasa penasarannya terlalu besar. Ia mengetuk pesan itu.
“Kakek Elvin Hernando, ini aku, Frengky Hernando. Aku hidup di masa depan, dua ratus tahun dari zamanmu. Dunia hampir kiamat, makanan sangat langka. Tolong kirimkan makanan. Aku sudah mengirim uang. Aku hampir mati kelaparan.” Elvin memucat.
“Wah, wah… siapa sih yang bercanda begini… Dikira aku bodoh ya...”
Tapi lalu ia melihat ada tombol besar yang mencolok.
TERIMA
Ia menatap tombol itu lama sekali.
“Kalau aku pencet… apa yang terjadi, ya?” Akhirnya, karena dorongan rasa penasaran yang tak tertahankan, ia menekannya.
PLUK.
Seketika, sebuah benda kecil jatuh ke telapak tangannya. Elvin merasakan permukaannya, keras, halus, dan sangat jernih. Itu adalah sebuah Berlian.
“Gila… jangan bilang ini asli beneran?”
Ia mengangkatnya, menatapnya di bawah lampu jalan desa. Cahaya berlian itu memantul sempurna, menyilaukan mata.
Elvin hampir menjatuhkannya karena terkejut.
“Waduh… waduh… jangan-jangan ini bukan tipuan?!”
Dengan tangan gemetar, ia mencoba membalas pesan.
“Halo? Siapa pun kamu! Jelasin dulu!”
Namun, setiap pesan yang ia kirim selalu muncul notifikasi kecil:
Gagal terkirim
“Ah! Ngeselin banget! Kenapa gagal melulu, sih.”
Akhirnya, ia menyerah dan memutuskan untuk menuruti keanehan ini, mengirimkan makanan.
Ia bergegas ke kantin kecil yang masih buka di pinggir desa, membeli beberapa roti. Sampai di rumah, ia membuka lagi chat aneh itu. Instruksi muncul otomatis di layar.
Masukkan barang bernilai rendah. Maksimal 10 item.
“Roti termasuk barang bernilai rendah, kan?”
Ia mengambil lima roti di tangannya. Dan tiba-tiba.
WUSSS!!
Kelima roti itu lenyap, hilang tak bersisa.
“Wah… gila! Gila banget!”
Di layar muncul tulisan baru: Jumlah roti: 5
Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol pesan suara.
“Halo? Kalau kamu beneran cicit aku dari masa depan… tolong jelasin dong! Ini apa yang terjadi? Kenapa bisa ngirimin barang lewat HP? Dunia kamu kenapa? Halo? Bisa dengar?”
Tidak ada balasan.
Elvin menunggu beberapa menit, tapi matanya terasa berat. Kelelahan dan pusing akibat disambar petir, berlari, panik, ditambah semua kejadian aneh itu, membuatnya ambruk. Ia tertidur tanpa sadar.
Ketukan keras membangunkannya.
TOK! TOK! TOK!
“Elvin!! Buka pintunya!!”
Elvin langsung kaku dan tubuhnya membeku.
Suara itu, suara yang paling ia takuti setelah kejadian semalam, Kak Yunita.
Ia langsung bangkit, rambut acak-acakan, wajah setengah tidur. Dengan hati dag-dig-dug-ser tak karuan, ia membuka pintu.
Kak Yunita berdiri di depan rumahnya dengan wajah merah padam, api kemarahan tampak jelas di matanya.
“Elvin Hernando!” bentaknya. “Kamu semalam ngintip aku mandi, ya?!”
Elvin hampir pingsan.
“T-tidak! Aku nggak keluar rumah, Kak! Sumpah!”
“Jangan bohong!” Wanita itu mengeluarkan selembar kaus dari balik tubuhnya.
“Kaus ini kutemukan persis di bawah tembok rumahku!”
Elvin membeku.
Kaus itu… jelas miliknya. Bagaimana bisa tertinggal di sana, sih?
“Eh… itu mungkin… mungkin dibawa anjing, Kak?”
“Anjing?!” Kak Yunita hampir menjerit, “Elvin! Kamu pikir aku bodoh?!”
Wajah Elvin memerah, campuran rasa malu dan ketakutan.
“Kalau aku laporkan ke kepala desa, kamu bisa dipukuli sampai babak belur!” ancamnya.
Ucapan itu membuat Elvin benar-benar panik. Kepala desa terkenal keras dan tidak suka masalah remeh yang memalukan warga desa.
“K-Kak… maaf! Aku… aku salah!” akhirnya Elvin mengaku, suaranya bergetar.
Ia menundukkan kepala dalam-dalam.
“Tapi tolong… jangan lapor kepala desa. Tolong selesaikan baik-baik sama aku, Kak… Aku mohon…”
Ia bahkan menekuk lutut sedikit, hampir bersujud karena takut. Reputasinya yang sudah buruk bisa hancur total hari ini kalau Kak Yunita menolak damai.
Daftar bab
125 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
125 bab








