
- Jumlah kata
- 25.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Rava mempergoki pacarnya tengah beradu kemesraan dengan lelaki tua pimpinan Desa Jati, kemarahan yang memuncak membangkitkan rahasia kekuatan supranaturalnya. sampai akhirnya Rava bertemu lagi dengan Revania, wanita yang terobsesi padanya, hingga membantunya membalas dendam keluarga, yang menyebabkan Rava menjadi yatim piatu dan harus bersembunyi di Desa Jati. Simak selengkapnya...
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 — Pelarian
Desa Jati, Pukul Delapan Malam.
"Ahhhh... Pak Gani, sebentar lagi Ravana pulang berburu, percepatlah goyangannya sayang!" Suara lenguhan panjang terdengar dari luar gubuk kayu reot di pinggiran Desa Jati.
"Ouhhh dik Mirna, tubuhmu terlalu sempurna untuk pria pecundang seperti Ravana!" Suara serak seorang pria terdengar dari luar rumah.
Pada saat bersamaan.
Di luar rumah, Rava yang mendengar suara lenguhan dan ejekan, sontak kemarahan naik hingga ujung kepalanya.
Mata Rava berubah menjadi merah darah, rasa kepemilikan yang terkhianati mengingatkan trauma masa lalunya.
"Bajingan kalian berdua!" Rava berteriak kencang, parang di tangannya digenggam lebih erat.
Bruakkk..
Pintu ditendang terbuka hingga sebagian dinding kayu lapuk berterbangan.
Pasangan di atas ranjang kayu sontak menyelimuti diri mereka.
Dalam kemarahan yang memuncak, Rava mendekat, parang di tangannya terayun dan menebas.
Slashhhh...
"K—kau....."
Tidak ada suara apapun lagi, hanya dua jasad bersimbah darah.
Melihat itu, kesadaran Rava kembali normal, pikirannya kacau, dia segera berlari tanpa memikirkan apapun.
Pelariannya melewati semak belukar berduri, memasuki kedalaman hutan yang berbahaya dimalam hari.
Rava terus berlari tanpa kenal waktu, hingga akhirnya tiba di pinggir sungai besar.
"Pasangan binatang, bangsat!" Rava berniat untuk mencuci tubuhnya dengan air sungai, tubuh kekarnya terkena percikan darah.
Byurrr...
Rava memasuki sungai tanpa melepaskan pakaian.
Nahasnya, hanya berkisar beberapa detik, sungai meluap dan aliran air semakin deras.
Rava sama sekali tidak ingin melompat ke tepian sungai, kepalanya terasa berat hingga kehilangan kesadaran dan terseret arus.
___
Dua Hari Kemudian.
Rava membuka matanya perlahan.
"Apa aku sudah mati?" Rava memeriksa sekeliling.
Yang dilihatnya adalah ruangan serba putih dengan sebuah lemari pakaian tepat di bagian samping, satu meja rias di sisi lainnya.
Udara dingin segera dia rasakan.
Krekk...
Pintu kayu berwarna putih terbuka perlahan, lalu seorang wanita berpakaian terbuka berwarna merah melangkah masuk.
Rava menatap sosok yang pernah dikenalnya sejenak. "Kamu yang selamatkan aku?"
Wanita itu menggeleng. "Bukan aku, tapi anak buahku, ada satu mata-mata yang aku taruh di Desa Jati."
"Terima kasih!" Rava meraih pakaian yang terletak di sebelahnya.
"Kamu masih dingin padaku setelah semua ini?" Wanita itu menatap tajam. "Jangan kira selama kamu tidak sadarkan diri, kita tidak bersenang-senang!"
"Maksudmu? Jangan mengada-ada, Revania!" Rava beranjak berdiri.
"Mengada-ada apanya, mau aku putarkan rekaman kita berhubungan semalam?" Revania tersenyum tipis.
"Kita hanya bertemu sekali di Desa Jati dua tahun lalu, lagipula aku tidak ingat apapun yang terjadi semalaman." Rava menghela nafas panjang.
Revania tertawa kecil, dia mendekatkan tubuhnya hingga berjarak sepuluh sentimeter dari Rava. "Aku menginginkan kamu, hampir saja menghabisi Mirna dengan tanganku sendiri, sekarang dia tewas di tanganmu, kamu adalah milikku sekarang!"
"Persetan dengan kehormatan!" Rava mendekap erat wanita di depannya.
"Begitu sayang, lakukan dengan lembut." Revania memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan.
Rava bagaikan seorang yang haus akan bentuk berlekuk di dekapannya, kehalusan kulit yang memukau, kelenturan tubuh yang menggiurkan.
Satu Jam Kemudian.
"Kamu berbohong padaku?" Rava bertanya setalah melihat bercak merah di sprei putih.
"Tentu saja tidak, tapi mulai sekarang kamu hanya punyaku." Revania tersenyum tipis, lantas beranjak dari tempat tidur.
Revania mengenakan pakaian satu persatu. "Demi gadis di desa yang kumuh kamu rela menjauh dariku, sekarang aku puas mendapatkan kamu!"
"Kamu pikir aku bisa dikendalikan!" Rava mengambil pakaian serba hitam di tepi ranjang.
"Aku tidak ingin mengendalikanmu, namun tanpa aku, kamu hanya akan menjadi buronan pihak kepolisian karena dua nyawa di Desa Jati." Revania menyisir rambut panjangnya.
"Apa yang kamu inginkan?" Rava berkompromi.
"Jadi pengawalku, terus disamping aku selamanya, kamu dapat identitas baru." Revania tersenyum tipis. "Ketangguhan firskmu sangat langka, masih kuat meskipun dua hari tidak makan apapun."
Rava mengangguk "Baiklah, aku bersedia jadi pengawalmu."
"Bagus, pelayan di bawah sudah menyiapkan makanan, kita makan dulu sebelum pergi ke kantor." Revania berjalan keluar kamar.
"Aku ingat dengan jelas, wanita itu hanya sekali bertemu denganku saat berlatih Kanuragan di Desa Jati, itu pun tujuannya untuk merekrut pengawal, kenapa akhirnya menjadi seperti ini!" Rava mengikuti Revania dari belakang.
___
Ruang Makan, Pukul Delapan Pagi.
Para pelayan meninggalkan ruang makan setelah menghidangkan beraneka macam makanan.
Aroma yang terhirup menyebabkan perut Rava keroncongan.
Kriukkkk..
Revania tertawa kecil. "Lapar kan? Ayo makan bersama, ingat, kamu pengawal pribadi yang bebas hidup denganku."
Rava mengangguk, hatinya kosong semenjak melihat sendiri perselingkuhan wanita yang dia anggap miliknya.
"Kamu sedang berfikir kalau aku yang merancang perselingkuhan Mirna dan Kepala Desa Jati? Itu salah, mata-mata yang aku perintahkan memang tau itu, makanya ada sedikit pemberian obat perangsang agar perselingkuhan itu berlangsung setelah kamu pulang berburu." Revania menjelaskan.
"Kamu sangat blak-blakan ya?" Rava menghela nafas panjang.
"Tentu saja, kamu sudah aku anggap sebagai milikku sejak pertama bertemu, jadi terima saja aku, sepakat?" Revania memainkan sendok makan.
"Kamu menolongku dengan cara yang tidak terduga, jadi aku akan bekerjasama." Rava mulai makan dengan tenang.
__
Dalam Ingatan Rava, Dua Tahun Lalu.
Seorang gadis muda berpakaian serba hitam, terlihat seperti seorang petarung wanita yang hebat, datang bersama lima orang pengawal berjas hitam.
"Siapapun yang sanggup kalahkan saya, akan diangkat sebagai pengawal dengan bayaran tinggi, kekayaan mudah kalian dapatkan." Revania berbicara, matanya menatap sekeliling.
"Maaf nona muda, ada satu pemuda delapan belas tahun yang memiliki ilmu Kanuragan terbaik di desa, silahkan Rava." Pak Gani tersenyum ramah.
Rava yang duduk bersama Mirna beranjak berdiri.
"Ayo sayang, semangat!" Mirna mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Sepuluh detik berikutnya Rava dan Revania saling berhadapan.
"Kita seumuran, tapi saya tidak akan berbelas kasih!" Revania melakukan tendangan memutar.
Rava melompat menghindari sapuan kaki Revania.
Berkelit dengan lincah, hingga mendapatkan kesempatan untuk melakukan serangan balik.
Bughhhh..
Pundak kiri Revania terkena pukulan keras.
"Sekali lagi!" Revania terus menyerang dari sudut rumit.
Tendangan lurus, pukulan kiri dan kanan, semuanya dihindari oleh Rava.
Satu Jam Kemudian.
Pertarungan selesai tanpa kemenangan dan kekalahan yang jelas.
"Aku Revania mengakui kekalahan, kamu mau jadi pengawalku?" Revania tersenyum tipis.
Rava menggeleng. "Maaf nona, saya akan menemani Mirna di Desa ini."
Rava berusaha menepis ingatan itu.
___
Pukul Sepuluh Pagi, Markas Besar Kelompok Shadow.
Revania memperlihatkan ruangan kerjanya pada Rava.
"Pistol ini buatmu, tempat ini sangat aman, keca anti peluru dan juga tahan serangan rudal, kamu bebas beristirahat di sofa, cukup lihat aku bekerja." Revania tersenyum tipis.
Rava menerima satu unit pistol, lantas menyimpannya di balik jas hitam. "Kamu memberiku senjata? Cukup berani."
Revania tertawa kecil. "Kamu pikir dapat membunuhku hanya dengan pistol? Sebagai pemimpin Kelompok Shadow, tentu saja aku memiliki keahlian diatas rata-rata."
"Bukannya kamu dikalahkan olehku saat itu?" Rava tersenyum tipis.
"Itu beda cerita!" Revania mendengus dingin.
"Sekarang aku memiliki kemampuan supranatural yang bisa kalahkan kamu, buktinya kamu bersemangat di atas tubuhku tadi." Revania mengedipkan sebelah matanya.
"Wanita aneh!" Rava menghempaskan tubuhnya di sofa panjang.
"Kemampuan supranaturalku bukan itu, kapan-kapan aku tunjukkan asal kamu patuh." Revania duduk di kursi kerjanya.
Rava menatap Revania, matanya bersinar merah di tengah pupilnya, sontak membuat Revania berdiri bagaikan boneka.
Revania berjalan mendekat, jemarinya yang lentik melepaskan kancing kemejanya satu demi satu.
"Sialan! Apa yang terjadi padaku!" Revania segera tersadar dari kendali Rava.
"Itu kemampuan supranatural yang belum lama ini aku dapatkan." Rava tersenyum tipis.
"Sudah kepalang tanggung, kamu harus bertanggung jawab padaku." Revania mengecup bibir Rava dengan lembut.
Lima menit berikutnya.
Tok tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan kesenangan keduanya.
Revania merapikan kemejanya. "Masuk!"
Krakkk..
Pintu terbuka.
Seorang wanita berpakaian kantoran, masuk dengan langkah tenang.
"Bu Nia, kasus pembunuhan di Desa Jati sudah berhasil ditangani, pelaku sebenarnya telah tertangkap, namanya adalah Ratno, seorang penjaga desa yang mempergoki perselingkuhan Mirna dan Kepala Desa Jati." Wanita itu berbicara.
Rava yang mendengar itu hanya menghela nafas panjang.
"Semudah itukah membuat aku tidak bersalah?" Tanyanya dalam hati.
Akhir Bab 1
Daftar bab
22 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








