Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rental Guardian

Rental Guardian

Bang Heri | Bersambung
Jumlah kata
59.0K
Popular
100
Subscribe
17
Novel / Rental Guardian
Rental Guardian

Rental Guardian

Bang Heri| Bersambung
Jumlah Kata
59.0K
Popular
100
Subscribe
17
Sinopsis
FantasiSci-FiZero To HeroUrbanKekuatan Super
Di siang hari, Heri hanyalah siswa SMA biasa yang selalu terlihat mengantuk, sering dihukum guru, dan dianggap pemalas. Namun, saat matahari terbenam, ia adalah penguasa shift malam di sebuah Warnet pinggiran kota yang kumuh. Tidak ada yang tahu bahwa di balik tatapan matanya yang lesu, Heri menyimpan kekuatan mengerikan. Sebagai keturunan terakhir klan "Angel", Heri memiliki kemampuan memanipulasi pikiran dan realitas—sebuah kekuatan yang ia asah bukan dari guru spiritual, melainkan dari tutorial YouTube dan buku-buku metafisika usang. Saat organisasi kegelapan bernama "Darkside" mulai menyusup ke kota, merusak jiwa manusia dan memicu kekacauan, Heri terpaksa keluar dari zona nyamannya. Dengan bantuan "Teman Imajiner" yang merupakan manifestasi fisiknya sendiri, Heri harus menjaga keseimbangan dunia. Perang Besar telah dimulai. Dan benteng terakhir umat manusia bukanlah markas militer canggih, melainkan sebuah Warnet 24 jam yang bau rokok dan mi instan.
Operator Paket Malam

Suara teriakan "Bocil kematian!" dan bantingan stik PlayStation menjadi simfoni rutin yang menemani malam-malam Heri.

Di sudut ruangan ruko berukuran 4x6 meter itu, asap rokok mengepul tebal, beradu dengan aroma khas mi instan kuah soto yang baru diseduh. Cahaya monitor yang berkedip-kedip memantul di wajah-wajah lelah para pencari hiburan dunia maya.

Heri duduk di balik meja operator yang tinggi, tersembunyi di balik tumpukan kardus mi instan dan botol minuman dingin. Dia mengenakan hoodie hitam kebesarannya, tudung kepalanya ditarik hingga menutupi sebagian dahi. Matanya yang berkantung hitam menatap layar monitor operator dengan tatapan kosong—atau setidaknya, begitulah kelihatannya bagi orang awam.

"Woik! Op! Tambah paket dua jam lagi! Mie rebus satu, telurnya setengah matang, jangan sampai pecah!" teriak seorang pelanggan dari bilik nomor 5. Seorang pria bertato naga di lengan, yang lebih sering menghabiskan waktunya bermain judi slot daripada game strategi.

Heri tidak menjawab dengan suara. Dia hanya menggerakkan jarinya di atas keyboard dengan malas. Klik. Waktu di bilik 5 bertambah.

"Sabar, Bang. Airnya baru dimasak," gumam Heri pelan, nyaris seperti bisikan, tapi anehnya suara itu terdengar jelas di telinga pria bertato itu meski jarak mereka lima meter dan ruangan itu bising bukan main.

Pria bertato itu menoleh, sedikit bingung kenapa suara Heri terdengar seperti berbisik tepat di samping telinganya. Tapi dia mengabaikannya. "Cepetan! Lagi gacor nih!"

Heri menghela napas panjang. Dia baru saja tidur dua jam dalam dua hari terakhir. Bukan karena dia gila kerja, tapi karena suara-suara itu. Suara-suara dari 'mereka' yang bukan manusia.

Di layar komputernya, Heri bukan sedang memantau billing. Dia sedang membuka tab YouTube dengan judul video: "Teknik Advanced Mind Control: Memisahkan Kesadaran dari Tubuh - Bagian 4". Di samping tab itu, sebuah file PDF terbuka: kitab Metafisika Kuno yang dia unduh ilegal dari dark web.

"Jadi... kuncinya ada di frekuensi gelombang otak Alpha..." gumam Heri sambil memijat pelipisnya. Dia mencoba mempraktikkan teori yang baru dia baca. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan kebisingan warnet—teriakan anak-anak main Valorant, umpatan pemain FIFA—memudar menjadi latar belakang yang sunyi.

Duar!

Pintu kaca warnet ditendang hingga terbuka kasar. Lonceng kecil di atas pintu berdenting nyaring, namun kalah oleh suara tendangan itu.

Suasana warnet mendadak hening.

Tiga orang pria berjaket kulit masuk. Aura mereka berbeda. Bukan sekadar preman pasar yang minta jatah keamanan. Udara di dalam warnet tiba-tiba terasa dingin, menusuk tulang. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip tidak wajar.

Heri membuka matanya. Dia tidak melihat tiga manusia.

Di mata Heri, yang terlihat adalah tiga sosok dengan asap hitam pekat menguar dari tubuh mereka. Aura kemarahan, keserakahan, dan niat membunuh yang begitu padat hingga menyesakkan dada.

Darkside. Dan bukan kroco biasa.

"Mana yang namanya Roy?" tanya pria yang paling depan. Suaranya berat, seperti parutan besi. Dia tidak berteriak, tapi seluruh pengunjung warnet yang tadi berisik kini menunduk ketakutan.

Roy, si pria bertato di bilik 5, gemetar hebat. Dia mencoba merosot ke bawah meja, tapi terlambat. Pria berjaket kulit itu sudah melangkah mendekat, mencengkeram kerah baju Roy dan mengangkatnya seperti mengangkat kapas.

"Ampun, Bang! Utang saya lunas minggu depan! Sumpah!" Roy memohon, wajahnya pucat pasi.

"Kami tidak butuh uangmu," kata si penyusup. Matanya menyala merah sekilas—hanya satu detik, tapi cukup untuk membuat Roy terkencing di celana. "Kami butuh wadah."

Heri menghela napas lagi. Lebih keras kali ini. Dia menutup tab PDF-nya, lalu perlahan berdiri dari kursi operatornya yang reyot. Bunyi derit kursi itu memecah ketegangan.

"Woy," panggil Heri datar.

Ketiga penyusup itu menoleh ke arah meja operator. Mereka melihat seorang remaja kurus, terlihat kurang gizi, dengan mata panda yang menyedihkan.

"Ini tempat usaha," kata Heri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau mau ribut, sewanya di luar. Kalau mau main, sejamnya empat ribu. Kalau mau ambil organ orang, jangan di sini, nanti karpet gue kotor."

Salah satu penyusup di belakang tertawa meremehkan. "Bocah. Duduk atau lehermu patah."

Heri tidak duduk. Dia malah berjalan keluar dari balik meja operator, langkahnya gontai seperti orang mabuk. Dia berjalan santai menuju ketiga monster berwujud manusia itu.

"Kalian mengganggu," kata Heri. Suaranya berubah. Bukan lagi suara remaja malas. Ada gema aneh yang melapisi vokalnya. Gema yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. "Gue lagi belajar Bab 4."

Penyusup yang memegang Roy melempar tubuh pria itu ke samping hingga menabrak monitor. Dia berbalik menghadap Heri, tangan kanannya mulai diselimuti kabut hitam yang tajam—sebuah pisau energi yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa, tapi jelas terlihat oleh Heri.

"Kau bisa melihat kami?" Pria itu menyeringai. "Bagus. Keturunan Angel yang tersesat?"

Heri berhenti tiga langkah di depan mereka. Dia menatap mata si pemimpin Darkside itu. Dalam detik itu, Heri tidak menggunakan ototnya. Dia menggunakan apa yang dia pelajari dari channel YouTube MasterMind_Indo semalam.

Sugesti pasca-hipnotik instan.

"Lihat ke bawah," bisik Heri.

Pria itu mengerutkan kening. "Apa?"

"Lantai ini," kata Heri, matanya mendadak membesar, pupilnya melebar menelan seluruh iris matanya. "Bukan keramik. Ini rawa lumpur hisap. Semakin kau bergerak, semakin kau tenggelam."

"Omong kosong a—" Pria itu hendak melangkah maju untuk memukul Heri, tapi kakinya macet.

Wajah pria itu berubah panik. Dia melihat ke bawah. Di matanya—dan hanya di pikirannya—lantai keramik putih warnet itu telah berubah menjadi lumpur hitam mendidih yang menarik kakinya ke dalam.

"Argh! Apa ini?!" teriaknya. Dia meronta, tapi semakin dia meronta, semakin otaknya meyakinkan tubuhnya bahwa dia sedang tenggelam. Dia jatuh berlutut, napasnya memburu seolah paru-parunya tergencet tanah.

Dua temannya bingung. "Bos? Bos kenapa?!"

Mereka melihat Bos mereka berteriak-teriak minta tolong sambil menggapai-gapai udara, padahal dia hanya berlutut di lantai yang datar.

Heri menatap dua kroco sisanya.

"Kalian..." Heri menunjuk mereka. "Kalian merasa panas. Sangat panas. Jaket itu... jaket itu terbakar api neraka."

"PANAS!" Salah satu dari mereka menjerit histeris, merobek jaket kulitnya sendiri dengan panik, lalu berguling-guling di lantai, mencoba memadamkan api yang sebenarnya tidak ada. Kulitnya mulai memerah, bukan karena api, tapi karena sistem sarafnya merespons perintah otak yang dimanipulasi Heri. Psikosomatis tingkat ekstrem.

Heri berdiri tegak di tengah kekacauan itu. Pengunjung warnet lain menatap horor, tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya melihat tiga preman tiba-tiba gila; satu merasa tenggelam, satu merasa terbakar, satu lagi menangis di pojokan memanggil ibunya (efek regresi ingatan yang Heri tanamkan secara acak).

Heri berjalan mendekati si pemimpin yang kini lehernya 'tenggelam' dalam ilusi lumpur.

"Kalian dari faksi mana?" tanya Heri dingin.

"A-Ampun... Tuan..." Si pemimpin terengah-engah. "Kami... suruhan... Black Spider..."

"Black Spider?" Heri mengerutkan kening. Itu nama baru. Belum ada di ensiklopedia 'Angel' warisan kakeknya, juga belum pernah dibahas di forum Reddit supranatural.

"Pergi," perintah Heri. Dia menjentikkan jarinya tepat di depan wajah pria itu. Snap.

Seketika, ilusi itu buyar.

Lantai kembali menjadi keramik. Rasa panas menghilang. Ketiga preman itu terengah-engah, keringat dingin membanjiri tubuh mereka. Mereka menatap Heri bukan sebagai bocah SMA lagi, melainkan sebagai monster.

"J-Jalan... ayo cabut!" Si pemimpin menyeret kakinya yang masih terasa lemas, lari terbirit-birit keluar dari warnet, diikuti dua anak buahnya. Mereka bahkan lupa menutup pintu.

Suasana warnet hening lama. Hanya suara kipas angin yang berputar.

Heri menguap lebar, air mata keluar dari sudut matanya. "Hah... nguras tenaga banget."

Dia berbalik, kembali ke meja operatornya. Perutnya berbunyi nyaring.

"Bang Roy," panggil Heri tanpa menoleh.

Roy yang masih gemetar di bawah meja menyahut terbata-bata. "Y-Ya... Her?"

"Tolong tutup pintunya. Angin malam masuk, dingin."

Setelah itu, Heri kembali duduk, menyeduh mi instan barunya, dan kembali menekan tombol play di YouTube. Pelajaran belum selesai, dan besok dia ada ulangan Matematika jam pertama yang pasti akan dia tidurkn.

Hanya satu hal yang mengganggu pikirannya. Di sudut matanya, dia melihat sesuatu. Bayangan hitam samar yang duduk di atas lemari pendingin minuman. Bayangan itu berbentuk seperti anak kecil yang memeluk lutut.

"Teman imajiner..." bisik Heri. "Malam ini kau mulai kelihatan jelas ya."

Bayangan itu tidak menjawab, hanya menatap Heri dengan mata putih kosong.

Perang Besar sudah dimulai, dan benteng pertahanannya hanyalah sebuah Warnet 24 Jam.

Lanjut membaca
Lanjut membaca