Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Menjadikanku Pelayan Dewi Buangan

Sistem Menjadikanku Pelayan Dewi Buangan

Heavenly Dao | Bersambung
Jumlah kata
62.0K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / Sistem Menjadikanku Pelayan Dewi Buangan
Sistem Menjadikanku Pelayan Dewi Buangan

Sistem Menjadikanku Pelayan Dewi Buangan

Heavenly Dao| Bersambung
Jumlah Kata
62.0K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSistemUrban
Septian Wijaya, pewaris tunggal yang kesepian dan dicap gagal, tanpa sengaja mengaktifkan warisan kuno saat sedang melampiaskan hasrat di malam Jumat. Akibatnya, ia kini terikat sistem yang mewajibkannya menjadi Pelayan bagi para Dewi cantik yang dibuang dari Khayangan.
Bab 1

Hujan badai menghantam kaca-kaca besar di lantai lima Graha Kusuma. Suaranya menderu, beradu dengan dentuman musik lo-fi yang mengalun dari speaker seharga motor matic di sudut ruangan.

Septian Wijaya duduk merosot di kursi gaming ergonomisnya. Di hadapannya, monitor lengkung 49 inci menyala terang, menjadi satu-satunya sumber cahaya di penthouse seluas lapangan tenis itu. Ruangan itu adalah definisi kemewahan maskulin: dinding beton ekspos bergaya Bauhaus, lantai semen poles yang dingin, dan furnitur minimalis berwarna hitam legam.

Mewah. Elegan. Dan kosong melompong.

Graha Kusuma, gedung kost lima lantai yang berdiri kokoh di tanah strategis Jakarta, jatuh ke pangkuannya begitu saja. Sebuah warisan masif dari mendiang kedua orang tuanya yang pergi terlalu cepat.

"Graha Kusuma..." gumam Septian, menatap pantulan wajahnya yang lelah di layar yang sedang loading.

"Rumah Bunga, kata Papa. Tapi nyatanya cuma jadi kuburan beton."

Septian mendengus. Ironis.

Dia punya segalanya: gedung bernilai miliaran rupiah yang justru menjadi beban, status juragan kost, serta kebebasan mutlak tanpa orang tua yang mengomel. Namun, dia baru sadar bahwa kebebasan tanpa tujuan hanyalah penjara dengan tembok yang lebih luas.

Malam ini adalah malam Jumat. Bagi pria normal seusianya, ini adalah waktu untuk nongkrong di Blok M, memburu diskon alkohol, atau memadu kasih dengan pasangan. Bagi Septian, ini adalah waktu untuk "Solo Rank". Bukan di game Mobile Legends, melainkan aktivitas soliter yang melibatkan satu kotak tisu dan 2 terabyte folder tersembunyi bernama "Skripsi Revisi Final".

Septian mengklik sebuah file video dengan resolusi 4K.

Di layar, seorang wanita jepang dengan pakaian sekretaris tersenyum manis, menyapa kamera seolah menyapa suaminya yang baru pulang kerja. Suaranya lembut, tatapannya memuja. Palsu, tentu saja. Itu semua skrip. Tapi bagi Septian yang sudah tiga tahun tidak merasakan sentuhan manusia selain tukang pijat tunanetra, ilusi itu adalah oksigen.

Tangan kanan Septian bergerak ke bawah meja. Sabuk celananya sudah terlepas sejak sepuluh menit lalu. Celana kargo mahalnya kini melorot menyedihkan di sekitar mata kaki, membiarkan udara dingin AC sentral menampar kulit pahanya yang terbuka.

Napasnya mulai memburu. Ritme tangannya meningkat seiring adegan di layar yang semakin intens.

Namun, tepat di ambang pelepasan, sebuah perasaan hampa yang familiar menghantam dadanya. Lebih keras dari gairahnya sendiri.

Septian berhenti. Tangannya kaku di udara.

Wanita di layar itu mendesah, memanggil nama generik. Mata Septian yang sayu menatap piksel-piksel cahaya itu dengan tatapan benci.

"Palsu..." desisnya, suaranya serak.

"Semuanya bohong."

Frustrasi yang selama ini ia tekan meledak keluar. Bukan ledakan gairah, tapi ledakan keputusasaan eksistensial. Dia membanting mouse-nya ke meja.

"Gue capek!" teriaknya pada ruangan kosong yang menggema itu.

Septian berdiri... atau mencoba berdiri, tapi tertahan oleh celananya sendiri yang membelit kaki. Dia terhuyung, berpegangan pada pinggiran meja dengan napas tersengal. Wajahnya merah padam, campuran antara birahi yang tak tuntas dan amarah.

Dia menengadah, menatap langit-langit beton setinggi lima meter di atas kepalanya.

"Woy! Siapapun yang ngatur hidup gue!" teriaknya, menantang langit.

"Apa gunanya gue kaya kalau tiap malem cuma ditemenin tangan sendiri?! Gue nggak butuh JAV! Gue nggak butuh fantasi 4K!"

Air mata frustrasi menggenang di sudut matanya.

"Kirim gue yang nyata! Satu aja! Cewek beneran, napak tanah, hidup! Biar tempat gersang ini ada isinya! Mau setan, mau siluman, mau dewi buangan sekalipun... gue tampung!"

Suaranya meninggi, memecah kesunyian Graha Kusuma.

"Gue bakal rawat! Gue bakal kasih makan! Gue rela jadi babu seumur hidup asalkan gue nggak sendirian lagi di kotak beton sialan ini!"

JLEGER!

Petir menyambar tepat saat kalimat itu berakhir. Bukan di kejauhan, tapi tepat di atas atap penthouse-nya.

Listrik di ruangan itu berkedip liar. Monitor PC Septian mati mendadak, lalu menyala kembali dengan warna merah darah yang berdenyut. Teks aneh dengan huruf emas kuno bermunculan, berputar-putar sebelum berubah menjadi aksara latin yang bisa dibaca.

[MENDETEKSI LONJAKAN ENERGI VITAL: TINGGI]

[SUMPAH TERVERIFIKASI: "KESEDIAAN MELAYANI SEPENUH HATI"]

[VALIDASI LOKASI: TITIK SEGEL ARKANA]

[PROTOKOL DIAKTIFKAN.]

"Hah? Kena virus apa nih komputer gue?"

Septian melongo, tangannya masih memegang ujung meja dengan celana di mata kaki.

"Woy, jangan bilang gue di-hack pas lagi... begini?!"

Belum sempat dia menarik celananya, suara siulan tajam terdengar dari arah langit-langit. Seperti suara jet tempur yang menukik jatuh.

WUUUNGGG—

BRAAAAKKK!

Beton setebal tiga puluh sentimeter di tengah ruangan itu meledak ke dalam. Puing-puing semen dan besi berhamburan.

Gelombang kejutnya melempar Septian mundur. Kakinya yang terjerat celana membuatnya jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat tidak elit: pantat menyembul ke udara, wajah mencium lantai semen.

Debu tebal mengepul, memenuhi ruangan dengan bau ozon dan melati yang terbakar. Hujan deras langsung masuk melalui lubang menganga di atap, membasahi lantai penthouse yang mahal.

Septian batuk-batuk, berusaha membalikkan badan sambil mengumpat.

"Sakit... anjing, atap gue..."

Dia menyipitkan mata, mencoba melihat menembus kepulan debu. Di tengah kawah kecil bekas reruntuhan itu, ada sesuatu yang bercahaya.

Seseorang.

Seorang wanita.

Wanita itu terbaring dalam posisi meringkuk. Rambut hitam panjangnya tergerai seperti tirai malam, basah oleh hujan dan keringat. Pakaiannya, sejenis kain sutra putih yang melilit tubuhnya sudah robek di sana-sini, memperlihatkan kulit seputih porselen yang memancarkan cahaya redup, seolah ada lampu neon di bawah epidermisnya.

Uap panas mengepul dari tubuh wanita itu. Air hujan yang menyentuh kulitnya langsung mendesis dan menguap, menciptakan kabut tipis di sekitarnya.

Septian mematung. Otaknya gagal memproses. Maling? Alien? Atau... paket gacha dari Dewa?

Perlahan, wanita itu bergerak. Dia mengerang pelan, suara yang merdu namun penuh penderitaan. Dia mengangkat wajahnya.

Jantung Septian berhenti berdetak sedetik.

Cantik.

Sangat cantik sampai rasanya tidak masuk akal. Wajahnya simetris sempurna, bibirnya merah merekah, namun matanya...

Wanita itu membuka matanya. Iris matanya berwarna emas menyala, menatap Septian dengan intensitas yang mengerikan. Tatapan itu bukan tatapan manusia. Itu tatapan predator yang kelaparan. Atau mungkin, tatapan orang yang sedang sakaw berat.

"Manusia..." bisik wanita itu. Suaranya serak, tapi bergetar dengan kekuatan yang membuat kaca jendela bergetar.

Wanita itu merangkak maju. Kain sutranya yang basah dan robek nyaris tidak menutupi lekuk tubuhnya yang sintal. Dia menatap Septian, lalu tatapannya turun... tepat ke arah selangkangan Septian yang hanya tertutup celana dalam boxer ketat.

"Energi..." desis wanita itu, lidahnya menjilat bibir yang kering.

"Energi Alam... murni..."

Septian refleks menutupi bagian pribadinya dengan tangan, wajahnya pucat pasi.

"Mbak! Mbak siapa?! Jangan macem-macem, jika tidak saya teriak nih!"

Teriakannya tidak digubris. Wanita itu tiba-tiba menerjang, bukan untuk memukul, tapi ambruk memeluk kaki Septian.

"Panas..." rintihnya, mencengkeram paha Septian dengan tangan yang terasa seperti besi panas.

"Dinginkan aku... atau tempat ini akan hancur."

Tepat saat kulit wanita itu menyentuh kulit Septian, sebuah layar hologram biru muncul melayang di depan wajah Septian, menghalangi pandangannya pada belahan dada wanita tak diundang.

[TARGET TERDETEKSI: KIRANA (DEWI BINTANG)]

[STATUS: OVERHEAT KRITIS (SUHU INTI 80°C)]

[MISI DARURAT: LAKUKAN PENYELARASAN TUBUH]

[WAKTU: 60 DETIK SEBELUM LEDAKAN TERMAL.]

"Ledakan apa?!" teriak Septian histeris.

Dia melihat ke bawah, celananya masih di mata kaki, atapnya bolong, dan ada wanita super panas yang memeluk pahanya sambil mendesah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca