Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
TOPENG EMAS SANG NARSISIS

TOPENG EMAS SANG NARSISIS

Coach Inne | Bersambung
Jumlah kata
162.1K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / TOPENG EMAS SANG NARSISIS
TOPENG EMAS SANG NARSISIS

TOPENG EMAS SANG NARSISIS

Coach Inne| Bersambung
Jumlah Kata
162.1K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
18+FanficFanficPria DominanUrbanFanFic
Arya, CEO narsis dengan topeng emas, terkejut mendiagnosis diri mengidap NPD. Upaya mencari bantuan profesional gagal, ia justru dianggap halu. Saat citranya retak, profiler Luna hadir sebagai secercah harapan. Luna membimbing Arya menuju pemulihan empati, tapi pesan misterius dari Dinar, sesama narsisis, menggantungkan kisah mereka.
Tahta Emas dan Lubang Hitam.

Jakarta di ketinggian lantai lima puluh tujuh selalu tampak seperti papan catur yang tunduk. Di balik dinding kaca kristal Phoenix Tower, Arya Dirgantara berdiri tegak, membiarkan sinar matahari pagi menyapu siluet bahunya yang lebar. Ia mengenakan kemeja putih bespoke dengan kancing manset emas 24 karat yang berkilau sebuah simbol visual yang menegaskan bahwa dia bukan sekadar manusia, melainkan standar kesempurnaan itu sendiri.

​Arya menyesap kopi hitamnya. Pahit, pekat, dan tanpa ampun persis seperti cara dia menjalankan bisnis. Namun, di balik ketenangan wajahnya yang terpahat sempurna, sebuah detak tak beraturan bergema di dadanya. Bukan detak jantung biasa, melainkan denyutan lapar dari lubang hitam yang bersembunyi di balik tulang rusuknya.

​"Pak Arya, semua departemen sudah memberikan laporan pagi. Pertemuan dengan Tuan Besar dimajukan tiga puluh menit."

​Suara itu milik Bima, asisten eksekutifnya. Bima berdiri dua meter di belakang Arya, tubuhnya sedikit membungkuk—posisi tubuh yang secara naluriah menunjukkan ketundukan. Arya tidak perlu berbalik untuk tahu bahwa Bima sedang berkeringat dingin. Ketakutan orang lain adalah parfum favorit Arya; itu adalah pengakuan atas otoritasnya.

​"Bima," suara Arya rendah, halus, namun memiliki ketajaman bilah silet. "Kau tahu apa yang paling aku benci dari pagi yang cerah ini?"

​Bima menelan ludah. "T-tidak, Pak."

​Arya berbalik perlahan. Matanya yang tajam menatap Bima, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek yang sedang diperiksa kerusakannya. "Aku membenci ketidaksinkronan. Kau mengenakan jam tangan dengan strap kulit cokelat, sementara sepatumu hitam pekat. Itu adalah penghinaan visual terhadap estetika kantorku."

​"Maaf, Pak Arya, tadi pagi saya terburu-buru karena..."

​"Aku tidak butuh alasan, Bima. Alasan adalah bahasa para pecundang." Arya melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadi Bima hingga asistennya itu terdesak ke pintu.

"Ketidaksinkronanmu mencerminkan kekacauan mentalmu. Dan kekacauan mentalmu adalah beban bagiku. Aku membayar mahal bukan untuk melihat seseorang yang bahkan tidak bisa menyinkronkan dirinya sendiri."

​Saat Arya berbicara, sebuah fenomena aneh terjadi. Di mata orang biasa, Arya hanya sedang memarahi karyawannya. Namun, dalam spektrum supranatural, Arya sedang bekerja. Sebuah kabut tipis berwarna emas keluar dari pori-pori kulitnya, menjalar seperti tentakel halus, lalu menyentuh aura Bima yang sedang gemetar.

​Arya bisa merasakannya: rasa malu Bima, kegugupannya, dan pemujaan terselubung yang bercampur ketakutan. Itu adalah Supply. Energi validasi. Kabut emas itu menyedot emosi Bima, membawanya kembali ke dalam tubuh Arya. Seketika, lubang hitam di dada Arya terasa sedikit terisi. Rasa lapar itu mereda sesaat, digantikan oleh euforia singkat yang membuatnya merasa seperti Tuhan.

​"Pergi dan ganti jam tanganmu dalam sepuluh menit. Atau jangan pernah kembali ke lantai ini lagi," usir Arya dingin.

​Bima segera mundur, nyaris berlari keluar. Begitu pintu tertutup, Arya menghela napas panjang. Euforia itu menghilang secepat kilat, meninggalkan rasa hampa yang lebih tajam dari sebelumnya. Ia berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan.

​Ia menatap pantulannya. Wajah itu... sangat tampan, sangat berkuasa. Namun, di tepi matanya, Arya melihat bayangan lain. Sebuah entitas kurus dengan wajah tanpa fitur yang terus berbisik di telinganya.

​“Lebih banyak, Arya… Berikan aku lebih banyak pemujaan. Kau adalah emas. Kau adalah pusat dunia ini. Tanpa pujian mereka, kau hanyalah bangkai kosong.”

​Arya mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Diam," desisnya pada pantulan itu.

​Ini adalah rahasia tergelapnya. Ia tidak hanya mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD) secara klinis; ia adalah inang dari Kutukan Entitas Narsisistik (KEN).

Sejak ia kecil, ketika ayahnya menuntut kesempurnaan mutlak, entitas ini tumbuh bersamanya, memperkuat ego narsisistiknya menjadi kekuatan supranatural yang mematikan. Ia harus dipuja, ia harus menjadi yang terbaik, atau entitas itu akan mulai memakan jiwanya sendiri.

​Ponsel di atas meja marmer bergetar. Sebuah pesan dari Bramantara masuk.

​“Meeting di ruang Tuan Besar. Dinar sudah di sana. Jangan telat, King. Mahkota emasmu bisa miring kalau kau kalah start dari si Manipulator itu.”

​Bramantara. Satu dari sedikit orang yang masuk dalam lingkaran "Trio Maharaja" Jakarta. Bram adalah narsisis pamer yang haus lampu sorot, sementara Dinar adalah perempuan tertutup yang bergerak seperti ular di balik bayangan. Mereka bertiga saling membenci, namun terikat oleh kebutuhan yang sama: mangsa emosional.

​Arya mengambil jasnya, menyampirkannya di bahu dengan gerakan maskulin yang terencana. Ia harus pergi ke sana. Ia harus membuktikan bahwa dialah pemimpin sejati, bukan hanya di mata ayahnya, tapi di mata dunia. Namun, saat ia melangkah menuju lift pribadi, rasa sakit menusuk kepalanya.

​Pandangannya kabur. Dunia di sekelilingnya tiba-tiba tampak seperti sketsa hitam putih yang mati. Hanya dirinya yang berwarna emas. Inilah tanda-tandanya: Entitas itu mulai menolak asupan "Supply" kelas rendah seperti Bima. Ia butuh sesuatu yang lebih besar. Ia butuh konfrontasi.

​Di ruang rapat utama, suasana terasa sedingin ruang otopsi. Tuan Besar Dirgantara duduk di kepala meja, wajahnya yang keriput tetap memancarkan aura otoritas yang menindas. Di sisi kirinya, Dinar Mahardika duduk dengan tangan tertangkup, wajahnya datar, seolah-olah dia adalah patung yang tidak memiliki perasaan. Di sisi kanan, Bramantara sibuk dengan ponselnya, sesekali melempar senyum palsu ke arah sekretaris yang lewat.

​Arya masuk dengan langkah yang mengguncang ruangan. Ia tidak meminta maaf karena terlambat; seorang raja tidak pernah terlambat, dunialah yang terlalu cepat.

​"Arya, kau datang," suara ayahnya berat, seperti suara batu yang bergeser. "Dinar baru saja mempresentasikan rencana akuisisi Aegis Corp. Rencananya... sempurna. Bersih, efisien, dan tanpa jejak. Apa yang bisa kau tawarkan untuk menandinginya?"

​Arya merasakan sengatan di egonya. Menandingi? Kata itu adalah penghinaan. "Aku tidak menandingi rencana orang lain, Ayah. Aku mendikte realitas."

​Arya menjentikkan jarinya. Proyektor di dinding menyala, menampilkan data yang jauh lebih agresif. "Dinar ingin akuisisi secara diam-diam. Itu adalah langkah pengecut. Aegis Corp harus dihancurkan secara publik. Kita harus menunjukkan pada pasar bahwa siapa pun yang mencoba menyaingi Phoenix Capital akan berakhir menjadi debu di bawah kaki kita. Kita butuh demonstrasi kekuasaan, bukan sekadar profit."

​Bram tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Selalu dramatis, Arya. Kau ingin pertunjukan, sementara Dinar ingin hasil. Tapi aku setuju denganmu satu hal: ego adalah bahan bakar terbaik."

​Dinar akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun mengandung racun. "Dramatisasi hanya mengundang pengawasan regulator, Arya. Kau terlalu sibuk memoles topengmu hingga lupa bahwa bisnis adalah tentang angka, bukan tentang seberapa besar orang-orang berlutut di depanmu."

​"Orang-orang berlutut karena aku memberikan mereka alasan untuk takut, Dinar," balas Arya, matanya berkilat emas. "Kau bergerak di kegelapan karena kau takut pada cahaya. Aku adalah cahaya itu sendiri."

​Di titik ini, ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Secara supranatural, aura Arya meledak, mencoba mendominasi aura Dinar yang dingin dan aura Bram yang haus perhatian. Ruangan itu terasa bergetar. Gelas air di depan Tuan Besar mulai retak.

​Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat Arya mencoba menyedot energi dari konfrontasi itu, Entitas di dalam dirinya tiba-tiba memekik kesakitan. Aliran energi itu berbalik arah. Bukannya menyedot, Arya justru merasa energinya terkuras habis.

​“Bukan ini… bukan ini yang aku mau! Berhenti berakting, Arya! Kau gagal!” bisikan itu berubah menjadi teriakan di kepala Arya.

​Arya terhuyung. Ia memegang pinggiran meja marmer, napasnya memburu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Di mata ayahnya, Dinar, dan Bram, Arya tampak seperti orang yang baru saja terkena serangan jantung atau serangan panik hebat.

​"Arya? Kau sakit?" tanya ayahnya, nadanya bukan khawatir, melainkan kecewa. Seolah-olah sakit adalah sebuah cacat produksi yang memalukan.

​"Aku... aku baik-baik saja," suara Arya parau. Ia mencoba menegakkan tubuh, mengembalikan topeng sempurnanya, tapi topeng itu terasa berat dan retak. "Aku butuh udara."

​Arya keluar dari ruangan itu tanpa pamit. Ia berlari menuju kamar mandi eksekutif, mengunci pintu, dan jatuh berlutut di depan wastafel marmer. Ia memuntahkan cairan hitam pekat—cairan yang bukan berasal dari perutnya, melainkan manifestasi fisik dari kegelapan di dalam jiwanya.

​Ia menatap cermin. Wajahnya pucat pasi. Auranya yang biasanya emas kini tampak abu-abu, seperti abu sisa pembakaran.

​"Apa yang terjadi denganku?" bisiknya dengan suara gemetar.

​Ia adalah Arya Dirgantara. Ia tidak mungkin lemah. Ia tidak mungkin sakit. Namun, kenyataan pahit mulai menghantamnya: kekuatannya mulai memakannya hidup-hidup. Kebutuhannya akan validasi telah berubah menjadi tumor yang ganas.

​Sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arya melakukan sesuatu yang dianggapnya paling menjijikkan: mencari bantuan.

​Ia tidak pergi ke rumah sakit biasa. Ia pergi ke seorang psikiater ternama yang dikenal menangani para elit Jakarta, Dr. Adrian. Arya menggunakan nama samaran dan memakai kacamata hitam besar, berusaha menutupi identitasnya yang hancur.

​"Katakan pada saya, Dokter," kata Arya saat berada di ruang konsultasi yang mewah itu. "Apa yang terjadi jika seseorang merasa dunianya kehilangan warna, dan dia merasa ada sesuatu yang hidup di dalam dirinya, memaksanya untuk selalu menjadi yang terbaik hingga dia merasa... mati?"

​Dr. Adrian menyesap tehnya, menatap Arya dengan tatapan profesional yang hambar. "Tuan, itu terdengar seperti gejala klasik depresi akibat tekanan kerja tinggi. Anda mungkin mengalami burnout atau gangguan kecemasan. Saya sarankan Anda mengambil cuti."

​Arya tertawa, tawa yang kering dan menyakitkan. "Bukan itu. Ini lebih dalam. Saya merasa... saya bukan saya. Saya merasa harus terus memancing pujian agar saya tetap bernapas. Jika tidak, saya merasa seperti sampah. Dan ada bayangan itu... bayangan yang bicara padaku."

​Dr. Adrian mengerutkan kening. "Bayangan yang bicara? Halusinasi auditori? Pak, sepertinya Anda mengalami episode psikotik akibat stres ekstrem. Anda terlalu banyak menonton film thriller. Saya akan meresepkan antipsikotik dosis rendah dan vitamin."

​"Antipsikotik?" Arya berdiri, amarahnya kembali bangkit. "Kau pikir aku gila? Kau pikir aku berhalusinasi? Aku sedang memberitahumu bahwa jiwaku sedang dikonsumsi!"

​"Tenanglah, Pak. Anda hanya sedang kelelahan. Istilah psikologi yang Anda cari mungkin adalah 'Narcissistic Personality Disorder', tapi itu biasanya tidak disertai halusinasi supranatural seperti yang Anda ceritakan. Anda hanya terlalu terobsesi dengan konsep diri Anda sendiri."

​Arya keluar dari sana dengan perasaan lebih hancur dari sebelumnya. Ia dianggap halu. Ia dianggap lemah. Ia dianggap "hanya stres". Tak satu pun dari para ahli itu mampu memahami bahwa penyakitnya memiliki akar yang jauh lebih gelap di dunia yang tak kasat mata.

​Ia kembali ke penthouse-nya malam itu, menolak semua telepon dan pesan. Ia duduk di kegelapan, dikelilingi oleh piala-piala emas yang kini tampak seperti sampah. Entitas itu terus berbisik, kali ini lebih keras, lebih menuntut.

​“Mereka tidak akan mengerti, Arya… Mereka semua adalah semut. Kau butuh seseorang yang bisa melihat emasmu. Kau butuh cermin yang sesungguhnya.”

​Arya membuka laptopnya. Tangannya gemetar saat ia mengetik di mesin pencari rahasia, masuk ke dalam forum-forum urban supranatural yang dulu ia anggap sebagai sampah mistis. Ia mencari satu nama yang pernah ia dengar dari desas-desus para kolektor barang antik kuno.

​Seorang wanita yang kabarnya tidak hanya bisa memprofil kepribadian seseorang, tapi juga bisa memprofil jiwa mereka.

​LUNA.

​Arya menemukan sebuah alamat email terenkripsi. Tanpa pikir panjang, ia mengetik pesan singkat. Pesan yang menghancurkan semua harga dirinya sebagai seorang narsisis.

​“Aku adalah Arya Dirgantara. Aku memiliki segalanya, tapi jiwaku sedang mati. Orang-orang bilang aku narsis, tapi aku tahu ini lebih dari itu. Tolong lihat aku. Lihat emas ini sebelum ia berubah menjadi debu.”

​Ia menekan tombol 'kirim' dan menutup laptopnya. Ia bersandar di kursinya, menatap langit Jakarta yang penuh lampu. Ia tidak tahu apakah Luna akan membalas. Ia tidak tahu apakah Luna adalah penipu atau penyelamat.

​Yang ia tahu, topeng emasnya telah retak, dan di balik retakan itu, seorang anak kecil yang ketakutan sedang menangis, memohon untuk diselamatkan dari monster yang ia ciptakan sendiri.

​Malam itu, Arya tidak tidur. Ia terjaga dalam kegelapan, merasakan lubang hitam di dadanya yang terus berdenyut. Ia menyadari bahwa perjalanannya untuk pulih untuk benar-benar menjadi manusia akan jauh lebih mengerikan daripada kutukan apa pun yang pernah ia bayangkan. Ia harus belajar untuk tidak menjadi Tuhan, di dunia yang terus memaksanya untuk tetap berada di atas tahta.

​Dan di sudut ruangan, bayangan tanpa fitur itu tersenyum lebar. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca