

Langit di atas Gunung Merapi memerah seperti luka terbuka. Bukan karena matahari terbenam, masih pukul dua siang, melainkan karena sesuatu di dalam perut gunung itu bergolak, menuntut keluar dengan amarah yang telah tertahan selama berabad-abad.
Saka melemparkan cangkulnya ke tanah kering. Keringat membasahi kaus oblong lusuhnya yang sudah memudar warnanya. Di sekeliling ladang singkong miliknya, tanah retak-retak membentuk pola aneh seperti sisik raksasa. Ini bukan retakan biasa. Saka tahu betul, dia telah tinggal di lereng Merapi selama dua puluh dua tahun hidupnya, mewarisi tanah ini dari ayahnya yang mati tertimbun lahar lima belas tahun lalu.
"Sial," gumamnya, menatap retakan yang mulai mengeluarkan asap tipis. Bukannya asap vulkanik biasa yang berbau belerang, tapi asap merah yang bergerak seperti punya kehendak sendiri.
Di kejauhan, terdengar teriakan panik dari desa. Saka berlari, melompati pematang sawah yang mengering. Motor bebek tuanya terparkir di bawah pohon randu. Dia menendang starter berkali-kali sebelum mesin itu mau hidup dengan suara batuk-batuk.
Jalanan setapak menuju Desa Kaliadem penuh dengan warga yang berlarian. Ibu-ibu menggendong anak, bapak-bapak membawa kambing dan ayam. Pak Tarno, kepala desa yang biasanya tenang, berteriak dengan megafon rusak yang suaranya terdistorsi.
"Evakuasi! Semua ke pos pengungsian! BPBD sudah kirim peringatan level tiga!"
Saka menghentikan motornya di samping Pak Tarno. "Pak, ini bukan letusan biasa, kan?"
Pak Tarno menatapnya dengan wajah pucat. Mata lelaki tua itu bergetar. "Kamu... kamu harus ke Candi Sukuh. Sekarang."
"Apa?"
"Mbah Darmo meninggalkan pesan. Kalau tanda-tanda ini muncul, kamu harus ke sana. Ada yang harus kamu ambil." Pak Tarno meraih bahu Saka dengan kuat. "Ini tentang ayahmu. Tentang darah yang mengalir di tubuhmu."
Sebelum Saka bisa bertanya lebih lanjut, gempa dahsyat mengguncang tanah. Bukan gempa biasa, tanahnya bergerak seperti ombak laut, naik turun dengan ritme yang menciptakan bunyi menggelegar dari perut bumi. Rumah-rumah kayu bergoyang keras. Genteng-genteng berjatuhan seperti hujan keramik.
Dari puncak Merapi, sebuah cahaya merah menjulang tinggi menusuk awan. Cahaya itu menggeliat seperti naga raksasa yang merentangkan tubuhnya setelah tidur ribuan tahun.
"Lari! LARI!" Pak Tarno mendorong Saka.
Tapi Saka tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada cahaya itu. Ada sesuatu di dalam dadanya yang memanas, sesuatu yang merespons terhadap energi dahsyat dari gunung. Jantungnya berdetak cepat, tidak karena takut, tapi seperti... pengenalan. Seperti seseorang yang mendengar lagu dari masa kecilnya yang sudah lama terlupakan.
Cahaya merah itu tiba-tiba menukik ke bawah seperti petir terbalik, menghantam lereng gunung bagian timur—tepat di arah Candi Sukuh.
"Saka! Jangan bodoh!" teriak Pak Tarno.
Tapi Saka sudah menarik gas motornya, melesat menuju arah yang berlawanan dengan arus pengungsi. Angin bertiup kencang, membawa abu vulkanik dan aroma aneh, seperti campuran belerang, dupa, dan sesuatu yang lebih kuno, lebih primordial.
Jalanan menuju Candi Sukuh penuh dengan rintangan. Pohon-pohon tumbang, tanah longsor menutup sebagian jalan. Saka harus mendorong motornya melewati bebatuan, kakinya tergores duri dan ranting tajam. Darah mengalir dari lututnya, tapi dia tidak merasakannya. Seluruh fokusnya tertuju pada cahaya merah yang sekarang memancar dari reruntuhan candi di puncak bukit.
Candi Sukuh adalah situs bersejarah yang dibangun pada abad ke-15, terletak di lereng Gunung Lawu, tapi ada jalur rahasia yang menghubungkannya dengan sistem gua di bawah Merapi. Ayah Saka pernah bercerita tentang ini, sebelum dia mati. Cerita yang Saka kira hanya dongeng untuk menidurkan anak kecil.
"Keluarga kita adalah penjaga," ayahnya pernah berkata, suaranya serius di tengah batuk-batuk darahnya. "Penjaga warisan yang tidak boleh jatuh ke tangan yang salah. Suatu hari, ketika gunung memanggilmu, kamu harus menjawab."
Saka pikir itu hanya omong kosong orang sekarat. Tapi sekarang, dengan dadanya yang terasa terbakar dan langit yang memerah seperti luka yang terus mengeluarkan darah, dia mulai percaya.
Candi Sukuh tampak berbeda. Batu-batu kuno yang biasanya ditumbuhi lumut dan kusam sekarang bersinar dengan cahaya merah yang berdenyut seperti jantung. Relief-relief di dindingnya, yang biasanya menggambarkan cerita tentang penempaan Gatotkaca, sekarang seolah bergerak, bayangan-bayangan menari di permukaan batu.
Saka turun dari motornya yang sudah mati mesinnya. Kakinya bergerak sendiri, melangkah melewati gerbang candi menuju halaman tengah. Di sana, di atas altar batu yang retak, terapung sebuah kristal seukuran kepala manusia. Kristal itu menyala dengan intensitas yang menyakitkan mata, warna merah yang bukan dari dunia ini.
Di dalam kristal itu, ada sesuatu yang bergerak. Bentuk yang meliuk-liuk seperti ular tapi dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Saka bisa merasakan tekanan energinya dari jarak sepuluh meter, udara di sekitarnya bergetar, bergelombang seperti udara di atas aspal panas.
"Kamu datang juga."
Saka berbalik cepat. Seorang lelaki tua berdiri di bayangan pilar candi. Rambutnya putih panjang, wajahnya penuh kerutan, tapi matanya tajam seperti elang. Dia mengenakan baju lurik Jawa dan membawa tongkat kayu ukiran naga.
"Siapa kamu?" Saka bersiaga, mengepalkan tinjunya meskipun dia tahu itu tidak akan berguna.
"Aku Mbah Wangsadirja. Penjaga terakhir dari Sekte Naga Merapi." Lelaki tua itu melangkah maju, cahaya merah memantul di wajah kusamnya. "Dan kamu adalah Saka, putra Sumantri, keturunan ke-12 dari garis keluarga yang dipercaya untuk menjaga Batu Naga Api."
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Kamu tahu. Di dalam hatimu, kamu tahu." Mbah Wangsadirja menunjuk ke dada Saka. "Panas yang kamu rasakan sejak tadi. Dorongan untuk datang ke sini meskipun setiap orang lari menjauh. Itu bukan kebetulan. Itu adalah panggilan darahmu."
Gempa lain mengguncang candi. Batu-batu mulai berjatuhan. Kristal di atas altar bersinar lebih terang, dan suara menggelegar seperti raungan makhluk raksasa bergema dari dalam tanah.
"Tidak ada waktu untuk penjelasan panjang," kata Mbah Wangsadirja, bergerak cepat menuju altar. "Raja Naga Hitam sudah mulai bergerak. Segelnya melemah. Dalam tujuh hari, dia akan bangkit dan menghancurkan seluruh Kepulauan Abadi. Kamu, dan dua orang lainnya, adalah satu-satunya harapan."
"Dua orang lainnya?"
"Penjaga Naga Air dari Toba. Penjaga Naga Bumi dari Papua." Mbah Wangsadirja mengangkat tongkatnya, menggambar simbol-simbol cahaya di udara. "Kalian bertiga adalah Trio Naga yang dinubuatkan. Tapi pertama, kamu harus menerima warisanmu."
Kristal itu tiba-tiba meledak dengan cahaya yang membutakan. Saka terlempar ke belakang, punggungnya membentur pilar candi. Dari pecahan kristal, sesuatu keluar, bentuk naga berapi setinggi dua meter, tubuhnya terbuat dari magma cair yang mengalir, mata seperti dua matahari kecil.
Naga itu menatap Saka dan meraung. Bunyi itu bukan sekadar suara, itu adalah getaran yang menembus tulang, yang membuat darah mendidih dan jantung seperti akan meledak.
"Ambil Batu Naga!" teriak Mbah Wangsadirja. "Kalau kamu tidak mengklaimnya, dia akan meledak dan menghancurkan seluruh desa!"
Saka memaksa dirinya berdiri meskipun kakinya gemetar. Naga berapi itu bergerak mendekat, setiap langkahnya membakar tanah dan mencairkan batu. Panasnya tidak tertahankan, Saka merasa kulitnya akan terbakar bahkan dari jarak lima meter.
Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang berbisik. Suara ayahnya. "Kamu adalah api, Saka. Api tidak takut pada api."
Saka melangkah maju. Kemudian lagi. Dan lagi. Setiap langkah seperti melawan angin topan. Naga itu membuka mulutnya, menunjukkan deretan gigi seperti pecahan obsidian yang menyala. Di dalam tenggorokannya, terapung sebuah batu merah seukuran telur, Batu Naga Api.
"Ambil!" teriak Mbah Wangsadirja. "Genggam takdirmu!"
Saka meraih tangannya ke dalam mulut naga. Panasnya dahsyat, kulitnya mendesis, tangan memerah, tapi dia tidak melepaskan. Jari-jarinya menyentuh Batu Naga.
Ledakan energi.
Dunia meledak menjadi warna merah dan emas. Saka merasakan sesuatu mengalir masuk ke tubuhnya, bukan darah, tapi sesuatu yang lebih panas, lebih hidup. Seperti seluruh gunung berapi masuk ke dalam nadinya. Dia mendengar bisikan dalam bahasa kuno, melihat kilasan memori yang bukan miliknya, pertempuran di langit, naga raksasa bertempur melawan sosok bersayap cahaya, kota-kota terbakar, dan kemudian... kegelapan.
Ketika Saka membuka matanya, dia tergeletak di lantai candi. Naga berapi itu sudah hilang. Di tangannya, menggenggam erat Batu Naga Api yang sekarang bersinar lembut seperti bara yang ditiup angin.
Mbah Wangsadirja berlutut di sampingnya, tersenyum meskipun wajahnya penuh keringat. "Kamu berhasil. Kamu adalah Kultivator Naga Api sekarang. Level satu, Naga Pemula."
Saka bangkit berdiri. Dia merasa berbeda. Lebih kuat. Lebih hidup. Setiap napasnya mengeluarkan asap tipis. Matanya, dia bisa merasakan matanya menyala dengan cahaya merah.
"Apa yang terjadi padaku?"
"Kamu baru saja memulai kultivasi. Perjalanan untuk menjadi Naga Sejati." Mbah Wangsadirja membantu Saka berdiri. "Tapi ini baru permulaan. Kamu harus menemukan dua lainnya. Dalam tiga hari, datang ke Festival Nyepi Naga di Pura Besakih, Bali. Di sana, Trio Naga akan berkumpul."
"Bagaimana kalau aku menolak?"
Mbah Wangsadirja menunjuk ke luar candi. Di kejauhan, langit malam mulai terbelah oleh retakan-retakan cahaya hitam. Dari retakan itu, terdengar raungan yang membuat tanah bergetar, raungan yang penuh kebencian dan kehausan akan kehancuran.
"Maka Raja Naga Hitam akan bangkit. Dan seluruh Kepulauan Abadi, dari Sabang sampai Merauke, akan tenggelam dalam api dan darah. Pilihan ada padamu, Saka. Tapi aku tahu kamu akan memilih yang benar. Karena itulah darahmu. Darah penjaga."
Saka menatap Batu Naga di tangannya. Panas. Berkedut seperti jantung kedua. Dia memikirkan desanya, Pak Tarno, anak-anak yang bermain di sungai, ladang singkong yang dia rawat dengan susah payah.
"Aku akan pergi," katanya pelan. "Bukan karena takdir atau darah. Tapi karena ini rumahku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya."
Mbah Wangsadirja tersenyum lebar. "Itulah semangat seorang Naga Api. Sekarang pergi. Persiapkan dirimu. Pertempuran yang menunggumu jauh lebih dahsyat dari yang bisa kamu bayangkan."
Saka berbalik dan berlari keluar dari candi. Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan, tapi di antara mereka, retakan hitam itu terus melebar. Seperti luka di langit yang terus berdarah kegelapan.
Status Saka
Level Kultivasi: Naga Pemula (Level 1)
Esensi: Api Merapi
Kemampuan Terbuka: Tangan Bara (dapat memanaskan tinjunya hingga 500°C)