

Hujan turun seperti tak punya belas kasihan. Tidak deras, tidak pula berhenti—hanya cukup untuk membuat pakaian basah, hati dingin, dan jalanan licin oleh kesabaran yang menipis.
Ravandry Arjunasakti menepi di bawah lampu jalan yang berkedip. Jaket ojeknya menggelap oleh air hujan dan keringat yang bercampur, sementara helm hitam di tangannya mengeluarkan bau yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Ia mengusap bagian dalamnya dengan tisu bekas, meski tahu itu tak akan banyak membantu.
“Mas, saya batal, ya.”
Kalimat itu diucapkan pelan, sopan, tapi menusuk lebih tajam dari makian.
Perempuan berpayung bening itu melangkah mundur, menatap helm Ravandry sejenak sebelum menggeleng halus. Tidak ada amarah, hanya ekspresi tak nyaman. Lalu aplikasi berbunyi singkat.
Order dibatalkan.
Ravandry tersenyum kaku. “Iya, Mbak. Hati-hati.”
Ia menunggu sampai perempuan itu benar-benar pergi, baru menghembuskan napas panjang. Di layar ponselnya, rating berubah. Turun setengah bintang. Catatan pelanggan muncul singkat: Kurang nyaman.
Kurang nyaman.
Ia mengulang kata itu dalam hati, lalu tertawa pelan. Lucu, betapa mudahnya satu kata merangkum hidup seseorang.
Ravandry menyalakan motor tuanya—mesin bergetar kasar, seolah ikut mengeluh. Ia melaju pelan menyusuri jalan basah, melewati deretan kafe yang lampunya hangat dan pasangan-pasangan yang tertawa di balik kaca. Dunia terasa begitu dekat, tapi juga mustahil disentuh.
Kos tempat Ravandry tinggal berada di ujung gang sempit, di antara bengkel kecil dan warung nasi murah. Bangunannya dua lantai, cat dindingnya mengelupas, dan bau lembap selalu menyambut sebelum pintu kamar terbuka.
Kamar nomor tujuh.
Ia meletakkan helm di sudut, menggantung jaket, lalu duduk di kasur tipis yang langsung berderit. Ponselnya kembali menyala.
Pendapatan hari ini: Rp72.500
Ravandry menghitung cepat. Dikurangi bensin, makan, dan cicilan motor yang masih tersisa—nyaris tak ada yang bisa disimpan. Ia menatap layar itu lama, seolah berharap angkanya berubah jika dipandang cukup lama.
Tak berubah.
Ia merebahkan diri, menatap langit-langit bernoda air. Di sana ada retakan kecil, membentuk garis tak beraturan. Entah kenapa, ia selalu merasa retakan itu mirip hidupnya—retak pelan-pelan, tanpa suara, tapi nyata.
Dulu, ia pernah punya mimpi sederhana: kerja layak, hidup tenang, membahagiakan orang tua. Tidak muluk. Tidak berlebihan. Tapi hidup rupanya punya rencana lain.
Ayahnya sakit keras saat Ravandry baru semester akhir. Ibunya menyusul setahun kemudian. Tabungan habis. Rumah kontrakan dilepas. Pekerjaan yang dijanjikan tak pernah datang. Dan pada akhirnya, helm ini—jaket ini—menjadi saksi paling setia perjuangannya.
“Besok pasti lebih baik,” bisiknya, meski suara itu terdengar lelah.
Pagi datang tanpa janji.
Ravandry sudah berada di jalan sejak subuh. Lampu merah, klakson, wajah-wajah terburu-buru. Ia berdiri di antara motor-motor lain yang lebih baru, lebih bersih, lebih meyakinkan. Beberapa driver saling bercanda. Ravandry hanya tersenyum tipis, tak ikut nimbrung.
Pesanan masuk.
Pickup: Menara Caelesta Group
Ia mengernyit. Nama itu tak asing. Gedung tinggi yang sering muncul di berita bisnis, markas perusahaan properti dan perhotelan besar. Biasanya, order ke sana berarti ribet—satpam galak, parkiran ketat, dan tatapan yang tak ramah.
Namun ia tetap menekan terima.
Motor melaju menuju pusat kota. Semakin dekat, semakin jelas perbedaan dunia yang akan ia masuki. Menara Caelesta menjulang, kaca-kacanya memantulkan langit pagi. Mobil-mobil mahal keluar masuk dengan tenang, seolah tak pernah mengenal kata “telat”.
Ravandry berhenti di gerbang. Satpam menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Mas, parkir di luar.”
“Saya ada order, Pak,” jawab Ravandry, menunjukkan ponsel.
Satpam melirik sebentar, lalu mengangguk singkat. “Cepat.”
Nada itu bukan marah, bukan kasar—hanya datar, seperti bicara pada benda. Ravandry menelan ludah, memarkir motor di sudut yang ditunjuk.
Tak lama, seorang pria berjas keluar dari lobi. Wajahnya rapi, langkahnya cepat.
“Kamu drivernya?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Iya, Pak.”
“Naik ke lantai dua puluh. Ambil dokumen di resepsionis. Jangan lama.”
Bukan penumpang. Disuruh seperti kurir. Ravandry mengangguk, meski dadanya terasa panas. Ia mengikuti perintah, masuk ke dalam lift bersama orang-orang yang bahkan tak meliriknya.
Di lantai dua puluh, ia menyerahkan dokumen itu tanpa tahu isinya. Tak ada terima kasih. Tak ada senyum. Saat kembali ke parkiran, order langsung diselesaikan.
Rating: 3 bintang.
Catatan: Kurang sigap.
Ravandry tertawa hambar. Ia duduk di atas motor, tak langsung menyalakan mesin. Matanya menatap gedung tinggi itu, kaca-kaca yang dingin dan angkuh.
“Segini aja hidup gue?” gumamnya.
Di balik dinding-dinding itu, orang-orang menentukan nasib banyak orang. Di luar sini, ia berjuang agar bisa makan malam.
Ia tak tahu—belum tahu—bahwa dari balik salah satu jendela tinggi, ada seseorang yang pagi itu menatap ke bawah. Bukan dengan jijik. Bukan dengan iba. Melainkan dengan rasa ingin tahu yang aneh dan sunyi.
Ravandry menyalakan motor, melaju pergi, meninggalkan Menara Caelesta tanpa menoleh.
Ia tidak sadar, langkah kecilnya hari ini adalah awal dari perubahan besar.
Dan bahwa helm usang yang ia kenakan kelak akan menjadi saksi…
cinta, perjuangan, dan kebangkitan yang tak pernah ia bayangkan.
Motor tua Ravandry melaju pelan, meninggalkan Menara Caelesta yang semakin mengecil di kaca spion. Deru mesinnya terdengar berat, seperti ikut memikul beban yang tak pernah ia keluhkan dengan kata-kata.
Angin pagi menyapu wajahnya. Bukan sejuk—lebih ke dingin yang menyelinap, menusuk sampai ke dada. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang masih terasa tak stabil.
Rating tiga bintang.
Bukan yang terburuk, tapi juga bukan yang bisa ia banggakan. Di dunia ini, angka-angka kecil seperti itu menentukan segalanya. Satu bintang bisa berarti lebih sedikit order besok. Setengah bintang bisa berarti dompet kosong lebih cepat.
Ravandry berhenti di lampu merah. Di sebelahnya, seorang pengendara motor sport menggeber gas dengan santai. Jaketnya mahal, helmnya mengilap. Mereka berdiri sejajar, tapi terasa seperti berasal dari dua dunia yang tak pernah bersentuhan.
Lampu hijau menyala.
Motor sport itu melesat, meninggalkan Ravandry dalam hitungan detik. Ia tak iri—setidaknya ia berusaha meyakinkan dirinya begitu. Namun ada rasa perih yang samar, seperti luka lama yang disentuh kembali.
Siang hari datang dengan panas yang menekan. Jalanan ramai, klakson bersahutan, dan kesabaran orang-orang menipis seiring matahari naik. Ravandry menerima beberapa order pendek—antar makanan, antar paket kecil. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang buruk. Semua terasa datar, melelahkan.
Di salah satu order, seorang pria muda menepuk pundaknya kasar. “Mas, buru-buru dikit dong. Saya telat.”
“Iya, Pak,” jawab Ravandry singkat, menahan diri untuk tidak menjelaskan bahwa macet bukan kesalahannya.
Ia sudah belajar satu hal penting sejak lama: penjelasan tak selalu didengar, tapi kesalahan selalu dicari.
Saat jam makan siang, ia berhenti di warung kecil dekat taman kota. Nasi, telur dadar, dan tempe. Murah, mengenyangkan, dan tak banyak menuntut. Ia makan perlahan, meneguk air putih dari botol sendiri.
Di meja sebelah, dua pegawai kantoran tertawa sambil membicarakan rencana liburan ke luar negeri. Ravandry tak sengaja mendengar, lalu menunduk, fokus pada nasinya. Bukan iri—lagi-lagi ia mengatakan itu pada dirinya sendiri—hanya merasa… tertinggal.
Selesai makan, ia kembali ke motor. Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Mas Ravandry, motor cicilan bulan ini jangan telat lagi.”
Ia membaca pesan itu dua kali. Tangannya mengepal. Cicilan. Kata itu selalu datang seperti pengingat keras bahwa ia tak boleh jatuh, meski berdiri saja sudah sulit.
“Iya, Pak,” balasnya singkat.
Sore menjelang ketika langit mulai mendung lagi. Awan gelap menggantung, seolah kota ini memang gemar mengulang luka yang sama. Ravandry kembali ke jalan, berharap hujan nanti membawa lebih banyak order.
Dan harapan kecil itu… terkabul.
Pesanan masuk bertubi-tubi. Antar jemput, jarak sedang. Ia bergerak cepat, meski tubuhnya mulai lelah. Saat senja turun, hujan kembali menyapa—kali ini lebih deras.
Di sebuah halte bus, ia berhenti sejenak, berteduh bersama beberapa orang lain. Seorang ibu tua menatapnya, lalu tersenyum tipis.
“Capek ya, Nak?” tanyanya.
Ravandry terkejut, lalu tersenyum balik. “Lumayan, Bu.”
Ibu itu mengangguk. “Sabar. Semua orang punya jalannya sendiri.”
Kata-kata sederhana. Klise, mungkin. Tapi entah kenapa, dada Ravandry terasa sedikit lebih ringan. Ia mengangguk hormat sebelum kembali ke motor.
Kadang, yang ia butuhkan hanya diakui sebagai manusia, bukan sekadar driver.
Malam turun cepat. Lampu-lampu kota menyala, memantul di jalan basah. Ravandry menerima satu order terakhir sebelum memutuskan pulang.
Pickup: Area pusat kota.
Ia tiba di titik jemput. Seorang perempuan berdiri di bawah kanopi gedung, mengenakan mantel sederhana, rambutnya tertutup sebagian oleh tudung. Wajahnya tak terlihat jelas karena cahaya lampu yang temaram.
“Mas, ojek?” tanyanya pelan.
“Iya, Mbak,” jawab Ravandry.
Perempuan itu naik ke motor tanpa banyak bicara. Tangannya memegang jaket Ravandry dengan ragu, menjaga jarak. Tidak ada keluhan. Tidak ada komentar tentang helm. Hanya keheningan yang aneh—bukan canggung, tapi tenang.
Di tengah hujan, Ravandry berkendara dengan hati-hati. Sesekali ia melirik spion. Perempuan itu menunduk, seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Mas,” katanya tiba-tiba.
“Iya, Mbak?”
“Capek ya… kerja seharian.”
Pertanyaan itu sederhana, tapi membuat Ravandry terdiam sejenak. “Iya,” jawabnya jujur. “Tapi ya… begini hidup.”
Perempuan itu tak menimpali. Namun genggaman tangannya sedikit menguat, seolah memahami.
Perjalanan itu singkat. Saat sampai tujuan, perempuan itu turun, menyerahkan uang, lalu berhenti sejenak.
“Hati-hati di jalan, Mas,” ucapnya.
“Iya, Mbak. Terima kasih.”
Ia pergi sebelum Ravandry sempat bertanya apa pun. Aplikasi berbunyi.
Rating: 5 bintang.
Catatan: Terima kasih sudah mengantar dengan aman.
Ravandry menatap layar itu lama. Senyum kecil terbit di wajahnya—bukan karena uang, bukan karena bintang. Tapi karena untuk sekali ini, ia merasa cukup.
Di kos malam itu, Ravandry merebahkan diri dengan tubuh lelah dan pikiran penuh. Hujan masih turun di luar. Ia menatap helm di sudut kamar—helm yang sering membuat orang menjauh, tapi juga membawanya bertemu berbagai wajah kehidupan.
Ia tak tahu siapa perempuan terakhir itu. Ia juga tak tahu bahwa di dunia yang jauh berbeda, ada seseorang yang perlahan akan masuk ke hidupnya—membawa cinta, konflik, dan perubahan besar.
Untuk saat ini, Ravandry hanya tahu satu hal:
Ia masih di bawah.
Masih jatuh.
Masih tak dianggap.
Namun jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum mati.
Dan selama itu masih ada…
perjuangannya belum selesai.