Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PANGLIMA DARI KAMPUNG YATIM

PANGLIMA DARI KAMPUNG YATIM

Iyanpermana11 | Bersambung
Jumlah kata
69.8K
Popular
221
Subscribe
49
Novel / PANGLIMA DARI KAMPUNG YATIM
PANGLIMA DARI KAMPUNG YATIM

PANGLIMA DARI KAMPUNG YATIM

Iyanpermana11| Bersambung
Jumlah Kata
69.8K
Popular
221
Subscribe
49
Sinopsis
FantasiIsekaiDewa PerangPahlawanPertualangan
Di panti asuhan “Harapan Kita” di Cirebon, Rian tumbuh besar tanpa orang tua, dengan hanya mimpi satu: menjadi seseorang yang bisa melindungi orang lain. Mimpi itu terbentuk ketika dia melihat pasukan tentara menyelamatkan warga dari banjir – dan sejak itu, dia bertekad menjadi salah satu dari mereka. Usia tujuh belas tahun, Rian akhirnya mendaftar tentara setelah menghadapi banyak rintangan. Masa latihan dasar menjadi ujian fisik dan mental yang keras, tapi dia lulus dengan nilai terbaik, bersama sahabat baru Budi. Penugasan pertama membawanya ke perbatasan, di mana dia pertama kali merasakan bahaya nyata dan menyaksikan kehilangan teman terdekat, Anton – luka yang akan selalu mengingatkannya akan makna “melindungi”. Seiring waktu, Rian dikirim ke berbagai medan perang: pegunungan, pantai, dan hutan Kalimantan yang berbahaya. Di setiap tempat, dia menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa, mengembangkan strategi cerdas, dan bahkan membongkar korupsi di dalam jajaran perwira. Dia bekerja sama dengan musuh lama untuk melawan ancaman yang lebih besar, dan di tengah kegelapan perang, menemukan cinta di diri Lina, dokter militer yang menjadi tulang punggungnya. Perjalanan dia membawa dia meraih jabatan tinggi: dari letnan hingga kolonel, dan akhirnya menjadi panglima perang termuda dalam sejarah negara. Dia tidak hanya membangun pasukan yang kuat, tetapi juga menggunakan kekuasaannya untuk membangun perdamaian – mendirikan sekolah, rumah sakit, dan membantu anak-anak yatim piatu seperti dirinya dulu. Ketika negara menghadapi ancaman nasional terbesar – serangan dari negara asing – Rian harus kembali ke medan perang. Pertempuran terakhir ini penuh korban, tapi dia memimpin dengan keberanian dan cerdas, memenangkan kemenangan yang menyelamatkan bangsa. Di akhir perjalanannya, dia menyadari bahwa nasib tidak pernah menentukan masa depan – yang menentukan adalah tekad, cinta, dan keinginan untuk menjadi berkat bagi orang lain. “Panglimawan dari Kampung Yatim” adalah cerita inspiratif tentang seorang anak yatim piatu yang menjadi pahlawan bangsa, membuktikan bahwa siapa pun bisa mengubah dunia jika memiliki hati yang penuh kasih dan tekad yang tidak patah.
1. Awal Dari Semuanya

Tanggal 10 April 2005 – hari yang hujan deras di Cirebon. Hujan mengguyur atap rumah sakit kecil di pinggiran kota, membuat bunyi yang pelan tapi menyentuh hati. Di dalam ruangan persalinan, seorang wanita bernama Siti Nurhaliza terbaring di ranjang, keringat membasahi dahinya karena kesakitan yang tak tertahankan. Dia berusia dua puluh dua tahun, rambut hitamnya kusut, dan wajahnya pucat – tapi mata nya tetap penuh harapan, meskipun hati penuh kesedihan.

Di samping ranjang, hanya ada seorang perawat bernama Bu Sri dan tetangga bernama Bu Maimun. Suaminya, Anton, seorang nelayan yang kerja keras, telah tenggelam di laut seminggu yang lalu ketika sedang berlayar ke perairan jauh mencari ikan. Dia tidak sempat melihat anaknya yang akan lahir.

“Tahan ya, Bu Siti. Anakmu sudah mau keluar,” ujar Bu Sri dengan suara lembut, memegang tangannya erat.

Siti Nurhaliza menggigit bibirnya, menahan teriakan kesakitan. Dia memegang kain selimut yang ada di ranjang, memikirkan Anton. Dia ingat ketika Anton berjanji, “Kita akan memberi nama dia Rian, ya sayang. Dia akan menjadi orang yang kuat, seperti omong kosongku yang terbangun.” Siti Nurhaliza tersenyum meskipun air mata mengalir – itu adalah janji terakhir suaminya.

Setelah satu jam berjuang dengan kesakitan yang luar biasa, bunyi tangisan bayi yang kuat terdengar mengisi ruangan. “Selamat, Bu Siti! Anakmu laki-laki, sehat dan kuat!” seru Bu Sri, membawakan bayi yang masih basah ke arahnya.

Siti Nurhaliza melihat bayi itu – wajahnya kecil, mata yang belum terbuka, dan rambut yang tipis seperti bulu burung. Dia memeluknya dengan lembut, merasakan kehangatan tubuh anaknya. “Rian… kamu namamu Rian,” bisiknya dengan suara lembut. Tangisan bayi itu berhenti, seolah-olah mendengar suaranya.

Selama tiga hari berikutnya, Siti Nurhaliza merawat Rian di rumah sakit. Dia memberi susu padanya setiap dua jam, memeluknya, dan berbicara padanya tentang ayahnya. “Ayahmu adalah orang yang baik, Rian. Dia cinta kamu sangat banyak, meskipun dia tidak bisa melihatmu,” ujarnya setiap kali bayi itu terbangun.

Bu Maimun sering datang mengunjungi, membawakan bubur dan buah. Dia membantu merawat Rian ketika Siti Nurhaliza lelah. “Anak ini mirip banget sama mas Anton, Bu. Wajahnya dan tatapan matanya nanti pasti sama,” kata Bu Maimun sambil memijat kepala Rian.

Pada hari ketiga setelah kelahiran, keadaan Siti Nurhaliza tiba-tiba memburuk. Dia merasa sesak napas, wajahnya semakin pucat, dan tubuhnya menjadi lemah seperti kertas. Bu Sri segera memanggil dokter, tapi ketika dokter tiba, sudah terlambat.

“Kondisi Bu semakin parah, Bu Maimun. Kita sudah melakukan yang terbaik, tapi tubuhnya terlalu lemah setelah persalinan,” kata dokter dengan suara sedih.

Siti Nurhaliza melihat Rian yang sedang tidur di ranjang sebelahnya. Dia memanggil Bu Maimun mendekat, menggenggam tangannya dengan kekuatan yang tersisa. “Bu Maimun… tolong jaga Rian… aku tidak bisa merawatnya lagi,” bisiknya, air mata mengalir di pipinya. “Carikan dia tempat yang baik… tempat dia bisa tumbuh… menjadi orang yang baik. Katakan padanya… ayah dan ibunya… mencintainya banyak.”

“Ya, Bu Siti. Aku akan jaga Rian seperti anakku sendiri. Jangan khawatir,” jawab Bu Maimun, menangis teresak-esak.

Beberapa menit kemudian, Siti Nurhaliza menghembuskan napas terakhirnya, dengan senyum di wajahnya – dia telah melihat anaknya yang sehat, dan itu adalah yang paling penting baginya.

Pemakaman Siti Nurhaliza dilakukan di makam keluarga nya di pinggiran kota, di dekat pantai yang pernah menjadi tempat Anton bekerja. Hujan masih turun, seolah-olah langit juga menangis. Bu Maimun membawa Rian ke pemakaman, membungkusnya dengan selimut hangat. Dia berdiri di dekat makam, memeluk Rian dan berjanji, “Aku akan tetap setia pada janjiku, Bu Siti.”

Setelah pemakaman, Bu Maimun menghadapi masalah besar. Dia adalah seorang ibu yang sudah memiliki tiga anak sendiri, dan suaminya hanya bekerja sebagai tukang ojek. kehidupannya sudah cukup sulit, dan dia tidak mampu merawat Rian tambahan. Tapi dia tidak mau meninggalkan Rian – anak yang tak berdosa, yang sudah kehilangan kedua orang tuanya.

Beberapa hari kemudian, Bu Maimun mendengar dari tetangga lain tentang panti asuhan “Harapan Kita” yang baru dibuka di daerah Cirebon Timur. Panti itu didirikan oleh seorang wanita bernama Bu Siti (yang nanti akan menjadi ibu pengganti Rian) dan beberapa pengusaha lokal, untuk anak yatim piatu dan anak yang tidak memiliki orang tua. Bu Maimun memutuskan untuk membawa Rian ke sana – dia tahu itu adalah tempat terbaik untuk Rian, di mana dia akan mendapatkan perawatan dan kasih sayang yang dia butuhkan.

Pada hari Minggu pagi, Bu Maimun membawa Rian ke panti asuhan “Harapan Kita”. Jalan menuju panti agak jauh, melalui jalan yang berliku-liku dan penuh lumpur karena hujan. Dia berjalan kaki sambil memegang Rian di pelukannya, karena dia tidak mampu menyewa ojek.

Setelah hampir satu jam berjalan, Bu Maimun melihat bangunan panti asuhan – sebuah bangunan sederhana tapi rapi, dengan taman kecil di depan. Di gerbang, ada seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun, dengan wajah yang lembut dan mata yang ramah. Itu adalah Bu Siti, pendiri panti asuhan.

“Hai, mbak. Ada yang bisa kubantu?” tanya Bu Siti dengan suara ramah, melihat Bu Maimun yang lelah dan memegang bayi.

Bu Maimun menangis segera. Dia menceritakan semua tentang Rian – kelahirannya, kematian orang tuanya, dan kesulitannya merawatnya. “Bu, tolong terima Rian. Aku tidak mampu merawatnya, tapi aku tidak mau dia terlantar,” kata dia dengan suara lembut.

Bu Siti melihat Rian yang sedang tidur di pelukan Bu Maimun. Dia meraba kepala bayi itu dengan lembut, merasakan rasa belas kasihan dan kasih sayang. “Tenang, mbak. Rian akan tinggal di sini. Kita akan merawatnya seperti anak kita sendiri. Dia akan mendapatkan kasih sayang yang dia butuhkan,” kata Bu Siti.

Bu Maimun merasa lega. Dia memeluk Rian untuk yang terakhir kalinya, mencium kepalanya. “Jadi anak yang baik ya, Rian. Orang tuamu mencintamu, dan aku juga akan selalu mengingatmu,” bisiknya.

Dia menyerahkan Rian ke tangan Bu Siti, lalu berjalan meninggalkan panti asuhan dengan hati yang sedih tapi lega. Dia tahu bahwa Rian akan berada di tempat yang baik.

Bu Siti memegang Rian di pelukannya, memasuki panti asuhan. Di dalam, ada beberapa anak lain – mulai dari usia satu tahun sampai lima tahun – yang sedang bermain di ruang tamu. Mereka melihat Bu Siti membawa bayi baru, dan segera mendekatinya.

“Bu, itu siapa ya?” tanya seorang anak perempuan bernama Siti (yang nanti akan menjadi kekasih dan istri Rian) berusia tiga tahun.

“Ini Rian, adikmu yang baru. Kamu harus sayang dan membantu dia ya,” jawab Bu Siti.

Anak perempuan itu tersenyum, mencium pipi Rian. “Hai, adik Rian. Aku akan jadi kakakmu!”

Bu Siti tersenyum. Dia membawa Rian ke kamar tidur untuk bayi, meletakkannya di ranjang yang lembut. Dia melihat wajah Rian yang damai, dan berjanji di hatinya, “Aku akan merawatmu seperti anakku sendiri, Rian. Aku akan membimbingmu, mencintaimu, dan membantumu mencapai mimpimu. Kamu tidak akan pernah sendirian.”

Di luar, hujan mulai berhenti, dan matahari muncul menyinari taman panti asuhan. Cahaya matahari menyinari ranjang Rian, seolah-olah memberikan harapan untuk masa depan. Rian terbangun, melihat Bu Siti dengan mata yang baru terbuka, dan tersenyum.

Bu Siti merasa hati nya penuh kebahagiaan. Ini adalah awal dari perjalanan Rian – anak yatim piatu dari Cirebon yang akan melalui banyak kesulitan, tapi juga akan mencapai mimpinya yang besar. Dan di panti asuhan “Harapan Kita”, cerita hidup Rian yang luar biasa mulai dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca