

Malam ini di kota Las Vegas, dingin mulai merayap sum-sum tulang. Musim salju mulai datang dan kini sudah turun di seluruh penjuru kota.
Sepasang suami-istri berdiri dengan bodoh di sebuah rumah megah, di tangan mereka memegang sebuah kotak yang digenggam dengan erat.
“Kau tahu, Cindy. Aku benar-benar tidak yakin kalau orangtuamu akan mempersilakan kita masuk. Kau ingat terakhir kali kita bertamu ke rumah ini? Mereka bahkan membuang sandal kita seperti sampah.” Lelaki bermata kelam itu berbicara kepada istrinya, Cindy Bowie yang kini namanya berubah menjadi Cindy Lewis sesuai dengan nama belakang lelaki tersebut.
“Ayolah, Andreas, aku mohon. Ayah sekarang sedang sakit, kalau kita tidak datang untuk menjenguk, aku yakin jika keluargaku pasti akan semakin membenci kita, aku tidak mau kalau sampai kita dibenci oleh orangtuaku, itu bukanlah hal yang baik.”
Andreas berdecak, tidak tahu sejak kapan atau bahkan sampai kapan. Fakta jika sedari dulu keduanya dibenci oleh keluarga Bowie adalah hal yang sangat nyata.
Cindy melangkah masuk, sebuah mobil terparkir di sana. Pertanda jika semua keluarga Bowie dan seorang dokter sedang datang untuk memeriksa ayahnya Cindy.
Cindy dan Andreas pun masuk, mereka langsung menuju kamar utama, dan di sana semua orang berkumpul dengan mimik wajah khawatir. Namun, mimik wajah itu berubah saat mereka melihat ‘tamu tak diundang’.
“Kenapa kamu ada di sini, Cindy? Terlebih, kenapa kamu membawa manusia sampah itu?” kata lelaki muda yang bernama Mondy, saudara laki-laki Cindy.
“Aku mendengar jika Ayah sedang sakit, jadi aku mengajak Andreas untuk datang menjenguk. Kami sangat khawatir dengan Ayah.”
“Bahkan kekhawatiran kalian malah menambah penyakitku.” Ayahnya Cindy yang bernama Toni pun menjawab dengan begitu ketus. “Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, Cindy. Kamu bukanlah anakku, kamu hanyalah anak angkatku yang tidak berguna. Aku sudah berusaha mengangkat derajatmu dengan menjodohkanmu dengan orang kaya, akan tetapi apa yang kamu lakukan? Memilih seorang pemulung tidak berguna ini. Jadi sekarang keluarlah dari rumahku, sebab aku tidak mau bau sampah memenuhi ruangan rumahku, apalagi kamarku!”
Andreas menahan napasnya dengan sempurna, dihina seperti ini adalah hal yang sangat biasa. Seperti sebuah makanan setiap hari yang akan selalu ia rasakan setiap hari.
“Apakah kalian berdua tuli? Apakah kalian tidak mendengar ucapan Ayah? Lekas angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, sebab kalian tidak dianggap keluarga di rumah ini!” sentak Mondy.
“Cindy, aku akan menerimamu kembali jika kamu mau menerima lamaran lelaki yang sudah kujodohkan kepadamu, dan ceraikan pemulung sampah itu.”
“Tidak, Ayah. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bercerai dari Andreas. Aku mencintai Andreas dengan sangat.”
“Jika memang itu keinginanmu maka, pergilah. Aku tidak akan pernah menganggapku anggota dari keluarga ini, kamu hanyalah anak angkat yang aku adobsi di panti asuhan karena dulu aku tidak kunjung memiliki anak. Apakah kamu paham sekarang?”
Cindy hendak menjawab, tapi Andreas langsung menarik lengan istrinya itu dengan lembut. Terus berdebat dan mengatakan hal yang tidak perlu bukanlah kebiasaan Andreas.
“Kita pulang saja, percuma kita berada di sini. Bukankah tadi aku sudah memperingatkanmu? Niat baikmu yang tulus itu tidak pernah dianggap oleh mereka yang hanya menilai manusia berdasarkan banyaknya harta.”
“Jika kamu sudah tahu, lantas kenapa kamu masih berani menikahi putri dari keluarga Bowie? Kau hanyalah pemulung, dengan berani menikahi anak perempuan dari pengusaha paling sukses di negara ini. kamu benar-benar tidak tahu diuntung!” marah Mondy.
Toni pun mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Mondy tidak lagi berteriak di depannya. Kepala Toni semakin terasa sakit karena hal ini.
“Baiklah, begini saja. Jika memang Cindy dan suaminya yang pemulung tidak berguna itu begitu ingin diterima bertamu di rumah keluarga ini, maka aku akan memberikan izin dengan satu syarat.”
“Apa itu syaratnya, Ayah?” Cindy bertanya dengan sebuah harap yang benar-benar luar biasa.
“Datanglah dengan membawa lukisan langka dari Cina, kau tentu tahu lukisan yang aku maksud, bukan? Lukisan asli, jangan yang palsu dan pastikan kau membawanya saat acara makan malam yang akan diadakan ibumu kira-kira akhir pekan ini.”
Cindy terdiam, Andreas pun terdiam. Sebuah permintaan yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Membeli dua potong roti untuk sarapan saja adalah hal yang sulit, apalagi membeli sebuah lukisan langka yang harganya berkisar sepuluh juta dollar? Tentu saja itu adalah mustahil.
“Ayah, apa yang ingin kau buktikan dari pasangan miskin yang tidak tahu diri ini? Membeli sepotong roti untuk mereka makan saya tidak mampu, apalagi membeli lukisan yang harganya puluhan juta dollar? Sepertinya hanya keajaiban dunia saja yang bisa membuat mereka mampu membelinya, atau jika salah satu di antara mereka menjual diri.”
Sontak ucapan itu membuat semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak, menganggap Cindy dan Andreas lelucon adalah hal yang begitu menyenangkan.
Rahang Andreas mengeras, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan ucapan semua orang yang menghinya sekarang ini.
“Baiklah,” kata Andreas yang berhasil membuat semua orang yang ada di sana terdiam. “Baiklah, aku akan membawakan lukisan yang diinginkan oleh Tuan Bowie saat acara makan malam keluarga nanti.”
Setelah mengatakan itu, Andreas langsung menarik paksa Cindy untuk bergegas keluar dari rumah keluarga Bowie, rasa kesal masih menyelimuti hati Andreas dengan begitu nyata.
“Andreas, lepaskan aku! Apa yang kamu lakukan ini, Andreas? Kenapa juga kamu mengatakan kepada keluargaku kalau kita mampu mendapatkan lukisan mahal itu sebagai hadiah. Apakah kau tidak tahu berapa harga dari lukisan itu?”
“Dan apakah kamu tidak berpikir berapa harga harga diri kita?” ucap Andreas.
Cindy terdiam, dia mengusap wajahnya dengan kasar. “Andreas, kita memang tak memiliki apa pun, untuk makan pun kita susah.”
“Namun, dihina setiap saat bukankah hal yang baik, Cindy. Apakah karena kita miskin lantas kita akan terus dihina?”
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi harga diri kita? Tidak ada kan?”
“Aku yakin pasti ada cara!”
Andreas kembali menarik tangan Cindy. Langkah Andreas begitu cepat, hingga membuat Cindy kuwalahan, tangan Cindy terlepas dari genggaman Andreas, tepat di tepi jalan Andreas terus berjalan cepat dan tidak memperhatikan lalu lintas, hingga akhirnya sebuah mobil melintas dengan cepat, Andreas menoleh dan … tubuhnya terpental dengan sempurna di jalanan beraspal, sebelum Andreas pingsan, ia melihat cahaya putih menyelimuti tubuhnya.
[Andreas Lewis : Selamat Anda mendapatkan saldo seribu milyar dollar. Saldo bisa digunakan mulai jam 00.00, tingkat presentase kemampuan 0% segera tingkatkan kemampuanmu dalam berbisnis!]