

Buuukkkk!
Baaakkkk!
Suara tinju terdengar cukup jelas menghantam wajah seorang pemuda. Tubuhnya ambruk seketika, menunjukan ketidakmampuan pemuda itu dalam menahan pukulan yang baru saja menghantam wajahnya.
Pemuda itu terlibat pertarungan melawan sosok Jack Stamp, seorang pemuda yang berasal dari desa Ronto.
Aksi pertarungan diantara keduanya dipicu oleh Jack Stamp, yang sebelumnya tidak terima dengan sebuah gol yang bersarang di tim sepak bola yang berasal dari desanya.
Jack melakukan protes secara berulang-ulang kepada wasit, karena merasa jika pemain lawan yang mencetak gol terlebih dulu pada posisi offside.
Hanya saja, wasit menunjukan sikap acuh dan tetap mengesahkan gol dari pihak lawan.
Aksi protesnya itu membuat sekelompok pemuda dari desa tetangga, yang juga menjadi suport bagi tim lawan segera mencemooh Jack.
Kata demi kata yang meremehkan Jack sebagai sosok yang tidak memahami aturan sepak bola, keluar dari mulut para pemuda itu.
Sehingga pada akhirnya, Jack yang merupakan orang yang temperamen, segera mengambil tindakan dengan menyerang para pemuda itu.
Aksinya itu tentu memicu konflik berkelanjutan, karena teman-temannya yang juga berasal dari desa yang sama, turut berjibaku untuk menolong Jack.
Setelah berhasil menumbangkan salah satu lawannya, Jack kembali beraksi dengan membantu rekan-rekannya.
Tinju dan tendangan silih berganti menghantam tubuh lawan. Satu-persatu ditumbangkan oleh Jack, meski dia juga harus menerima beberapa pukulan dan tendangan yang menghantam bagian tubuh.
Aksi perkelahian diantara dua kelompok pemuda itu pada akhirnya berhasil diredam, setelah para orang dewasa yang juga dibantu oleh beberapa anggota polisi turun tangan dengan tindakan yang tegas.
Para pemuda yang terlibat perkelahian, sebagian besarnya ditangkap dan di masukan ke dalam sel penjara yang berbeda.
Namun, dua diantara mereka harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, akibat kerasnya hantaman tinju dan tendangan yang dilayangkan Jack kepada kedua pemuda itu.
Hanya dalam dua hari, hampir semua pemuda yang ditangkap segera dikeluarkan dari penjara. Namun tidak dengan Jack Stamp.
Dia tetap di tahan, karena terbukti menjadi pemicu konflik. Beberapa laporan dari saksi mata turut memberatkan Jack, sehingga dia harus rela mendekam lebih lama di balik jeruji besi.
Apa lagi kedua pemuda yang di rawat di rumah sakit, turut memberikan laporan yang memberatkan Jack.
Karena dalam perkelahian yang terjadi, Jack tidak hanya menghajar kedua pemuda itu sampai babak belur, tetapi turut merusak ponsel kedua pemuda itu.
Sehingga keduanya tidak hanya meminta biaya pengobatan dari Jack, tetapi turut menuntut ganti rugi atas ponsel keduanya yang rusak.
"Jack, bisa gak kamu, sekali aja membuat kami bangga terhadap kamu?"
"Apa kamu gak merasa kasihan melihat papa sama mama yang sudah hidup miskin, harus rela pula menjual satu-satunya motor yang keluarga kita miliki, hanya untuk menyelesaikan masalah yang kamu buat!"
Ucapan itu terlontar dari pak Tony Stamp, ayahnya Jack yang tetap berusaha untuk membebaskan Jack dari penjara.
Pak Tony dan sang isteri harus rela menjual satu-satunya motor yang sering dipakai untuk menopang pekerjaan mereka, agar Jack bisa bebas dari penjara.
Sedangkan Jack, dia hanya diam sembari tertunduk meratapi kesedihan yang ditunjukan oleh ayah dan ibunya yang terhalang dengan jeruji besi.
Jack mengepalkan kedua tinjuanya, bukan karena merasakan amarah atas ucapan yang terucap dari ayahnya, melainkan dendam yang membara terhadap dua pemuda yang memberikan laporan tambahan terhadap dia.
"Aku bersumpah akan membalas perbuatan kalian ini!" Gumam Jack dengan sorot mata tajam menatap kedua tinjunya.
...
Satu Minggu kemudian, Jack Stamp akhirnya bebas.
Kedua orang tuanya telah memberikan uang pengobatan kepada kedua pemuda yang melaporkan Jack, serta memberikan uang ganti rugi atas ponsel keduanya yang dihancurkan oleh Jack Stamp.
Sebelum dibebaskan, Jack terlebih dahulu diminta berjabat tangan dengan kedua pemuda tersebut.
Permintaan itu datang dari pihak kepolisian, dengan harapan tidak ada dendam dari kedua belah pihak yang akan membawa konflik baru.
"Nah Jack, sekarang kamu sudah bebaskan ... Bapak harap, kamu akan merubah sikap kamu, tidak lagi membuat keonaran dan mencari pekerjaan yang tepat."
"Lihat kedua orang tua kamu ini. Betapa sayangnya mereka sama kamu, sampai rela bolak-balik kesini hanya untuk mengurus pembebasan kamu."
"Kamu dengar gak omongan bapak?" Ucap seorang anggota polisi.
Jack menggaruk kepala, senyum kecil menghiasi wajahnya.
Pipinya sedikit memerah, karena merasa malu diberikan nasihat di depan cukup banyak orang.
"Iya pak komandan, aku pasti akan mendengarkan semua ucapan bapak."
"Ya sudah, aku mau pulang dulu ya pak. Kan masalah sudah selesai." Balas Jack yang melayangkan pandangan ke arah kedua orang tuanya.
Di saat itu juga, Jack bersama kedua orang tuanya segera meninggalkan kantor polisi.
Dalam langkahnya itu, Jack sejenak menghela nafas panjang. Dia merasa lega karena akhirnya bisa kembali menghirup udara bebas.
Meski begitu, seringai terpancar jelas dari wajahnya. Tekat untuk balas dendam semakin kuat menghiasi wajahnya, setelah dia kembali melihat wajah kedua pemuda yang telah memberatkan laporan terhadap dirinya.
Sedangkan di sisi lain, seorang anggota polisi yang baru saja berbicara dengan Jack buru-buru mengingatkan kepada kedua pemuda, agar kedua pemuda itu tetap berhati-hati.
Jejak kriminal yang dimiliki oleh Jack, membuat anggota polisi itu tahu betul akan sifat Jack yang pendendam.
"Camkan baik-baik! Kalian berdua harus tetap berhati-hati, berusahalah untuk menghindari pertemuan dengan orang itu di tempat yang sepi."
"Jika perlu, jangan sampai kalian berdua berkunjung ke desa Ronto meski ada pertandingan sepak bola di desa Ronto."
Kedua pemuda itu mengangguk, lalu berterima kasih kepada pak polisi atas nasehat tersebut.
Meski jauh dalam lubuk hati, keduanya merasa sangat senang bisa memberikan pelajaran kepada Jack yang juga menghantam perekonomian keluarga Jack Stamp.
Beberapa hari kemudian, Jack Stamp terlihat sedang di puji oleh teman-temannya yang baru saja selesai bermain sepak bola bersama Jack.
Teman-temannya itu memuji Jack, karena mendengar cerita dari Jack sewaktu dia di tahan seorang diri dalam penjara.
Hanya saja, semua rekan-rekannya terperangah seketika di saat Jack melontarkan beberapa kata.
"Aku memang telah berdamai dengan kedua orang itu. Tapi bukan berarti aku telah melupakan perbuatan mereka."
"Tindakan mereka itu adalah tindakan pengecut! Beraninya memakai pihak kepolisian."
"Tapi tenang saja, aku sudah memiliki rencana untuk membalas perbuatan mereka."
Seiring dengan ucapannya itu, Jack meminta kepada teman-temannya untuk meminjamkan dia sebuah motor, karena dia yang akan menjalankan aksinya pada esok pagi untuk membalas dendam.
Hanya saja, beberapa diantara teman-temannya tidak setuju dengan niat Jack itu.
"Jack, bukankah ini terlalu cepat untuk aksi balas dendam?"
"Aku rasa cukup untuk saat ini, mengingat kamu yang baru beberapa hari bebas dari penjara." Ujar seorang teman.
Di sisi lain, Jack malah menatap kesal temannya itu.
"Aku bukan anak kecil, jadi kamu gak perlu menasehati aku seperti itu!"
"Bukan kamu yang dipenjara selama satu Minggu, dan bukan orang tua kamu yang harus menjual motor demi memberikan ganti rugi kepada kedua bedebah itu!"
"Kamu cukup diam dan pinjamkan aku motor. Karena kedua orang itu akan merasakan akibat karena menjadi pengecut!"
Setelah ucapan Jack yang tegas itu, tidak ada lagi satu pun dari teman-temannya yang berani angkat suara untuk melarang aksi balas dendamnya.
Mereka semua takut akan sikap temperamen yang dimiliki oleh Jack, sehingga hanya berharap agar Jack tidak gagal dalam aksi nekatnya tersebut.