

“Ribuan tahun aku menunggu. Aku harap kau tidak akan lari lagi, minumlah sup ini, Jatra,” kata seorang nenek berambut keperakan dengan suara serak dan aneh.
“Nenek Utari, berapa kali aku bilang, kau ini salah orang. Namaku memang Jatra, tetapi aku bukanlah orang yang kau maksud,” protes Jatra kesal.
Nenek Utari menyodorkan mangkuk porselen dengan ukiran naga timbul dan sebuah bola kuning keemasan. Sup dalam mangkuk itu menggelegak, seolah berada di atas tungku.
“Aku tidak pernah salah, maksudku— jarang salah. Kau tidak lagi bisa mengelak dari takdirmu, meski kau menghindar selama ribuan tahun,” sahut Nenek Utari.
Jatra berada di sebuah tempat yang aneh, suasananya begitu dingin menusuk tulang, dia berada di sebuah gunung batu runcing, tetapi di bagian bawah tampak seperti perkampungan dengan tumbuhan hijau. Berbeda dengan tempat dia berada saat ini, di depannya sebuah jembatan dari kayu lapuk yang seolah tidak berujung, gelap di sisi kanan kiri dan sebuah sungai dengan air merah menggelegak. Suara bisikan, mantra aneh terdengar jelas di telinga Jatra, air merah menggelegak itu tidak membuat udara panas, malah— menjadi sangat dingin, seperti kematian.
Jatra menatap sekeliling, lalu dia lari meninggalkan Nenek Utari menuruni gunung. Anehnya, begitu cepat dia berlari, Nenek Utari malah seolah berjalan lambat dan santai di sisinya sambil tersenyum misterius. Isi mangkuk itu sama sekali tidak berguncang, tampak tenang seperti berada di atas meja. Aroma rempah aneh mengusik indera penciuman Jatra.
“Berhenti lari, Jatra. Ini akan membuka segel naga kembar di tubuhmu, jika kau keras kepala, maka—” ucapan Nenek Utari terpotong.
“Sial, tidak …, tidak. Jangan lagi!” teriak Jatra, tubuhnya ditelan seekor naga hitam dan beringas.
“Haih, Aji. Kau ini tidak sabaran sekali, dia akan selalu kabur jika kau seperti itu,” gerutu Nenek Utari.
“Apa peduliku, jika dia masih keras kepala, maka aku hancurkan tubuhnya dari dalam,” sahut Aji, Naga hitam.
Tubuh Jatra seperti tersedot sebuah lubang hitam, dia tidak bisa bernapas, paru-parunya seolah akan meledak.
Tubuhnya terasa sakit ketika melayang, dan dia terjerembab. Perlahan membuka mata dan mendapati dirinya jatuh dari ranjang, degup jantungnya begitu cepat, seolah ingin melompat dari dalam.
“Haaah—haaah. Sial, lagi-lagi aku bermimpi buruk yang sama.” Jatra merutuk sambil menghidupkan lampu di atas nakas.
Pelipis nya berkeringat, padahal udara di kamarnya begitu dingin. Dia meminum segelas air yang baru saja dia tuang, dan meneguknya hingga tandas. Tidak ada yang melihat jika titik kuning keemasan dnegan lambang naga hitam di tengah dahinya meredup dan seolah meresap ke dalam kulit.
“Apa sebenarnya arti mimpi itu? Sejak aku membuka kotak warisan Ayah, seminggu setelahnya aku selalu bermimpi sama. Misteri apa ini?” gumam Jatra.
“Tuan muda, markas kita diserang!” teriak salah satu pengawal Jatra.
Jatra meraih pistol dan sebuah sabuk berisi pisau kecil. Usai memakainya dia segera keluar, berbaur bersama anak buahnya menghalau musuh.
Aroma anyir darah menyeruak menyapa indera penciuman, desing peluru terdengar. Jatra menembak musuh tanpa ampun. Isi kepala musuh yang tercecer diinjak begitu saja, dia menghabisi musuh dengan ilmu beladiri yang khas. Pisau kecil yang berada di pinggang segera diambil, dia menusuk leher musuh, dan merobeknya. Tidak ada belas kasihan sama sekali, wajah tampan dengan kulit putih yang dihias tato khas, serta rambut hitam kebiruan dikuncir ke belakang membuatnya mencolok di sana.
“Dasar brengsek, kalian mengusikku, matilah!” teriak Jatra kesal.
Jatra meraih sebuah pedang panjang, menebas leher musuh, serangannya begitu cepat dan brutal, membuat musuh mati tanpa sempat menyadari kematiannya menghampiri.
Anak yatim piatu yang dibesarkan oleh Jharna Swara, paman bungsunya di dunia bawah tanah, membuat Jatra begitu kejam. Dia diberi gelar iblis hitam di dunia bawah tanah.
Di tengah pertarungan sebuah bayangan transparan, Nenek Utari datang, lagi-lagi menyeringai kepada Jatra.
“Bukan waktu yang tepat, menyingkirlah!” sergah Jatra dingin.
“Patuhlah, ini akan menguatkan darah naga,” lontar Nenek Utari tenang.
Jatra mengabaikan begitu saja, dia konsentrasi penuh membinasakan musuhnya hingga tidak tersisa.
Tubuh tegap itu kini terkena percikan darah di wajah dan tubuhnya, lelaki berusia delapan belas tahun itu sedikit terengah.
“Berapa korban dari kita?” tanya Jatra dingin.
“Tiga, Tuan muda. Hanya luka kecil,” sahut salah seorang pengawal.
“Bagus, obati mereka dan buang mayat ini di depan markas mereka sebagai peringatan!” perintah Jatra.
Jatra kembali ke kamarnya, membiarkan anggotanya yang sembilan puluh persen lelaki sibuk. Lelaki tampan itu membersihkan dirinya dengan melucuti semua pakaian. Kran pancuran air terbuka, dia menutup mata dan membiarkan air mengguyur tubuhnya. Darah yang menempel di tubuhnya larut dengan air yang memerah seketika, lalu menghilang di pipa pembuangan.
'Tunggu, apa itu tadi Nenek Utari? Brengsek! Bahkan ke dunia nyata juga dia mengejarku,’ pikir Jatra.
“Begitulah aku,” ucap Nenek Utari, tanpa ada wujudnya.
Bukan main terkejutnya Jatra, dia segera membalikkan tubuhnya membelakangi sambil memegangi alat kelaminnya.
“Nek, kau ini mesum sekali. Aku tidak–” ucapan Jatra terhenti.
Matanya terbelalak, dia sudah mengenakan handuk yang terlilit rapi di pinggang.
Jatra segera berbalik, mencari keberadaan Nenek Utari, tetapi, tidak ada siapapun di kamarnya
“Hei, ada apa denganmu? Bahkan di dunia nyata kau masih saja memaksaku. Cerewet sekali,” ucap Jatra geram.
“Aku tidak akan berhenti hingga kau menjalankan tugas. Keadaan sedang kacau saat ini, dan kehadiran mu dibutuhkan,” balas Nenek Utari, lagi-lagi tanpa wujud.
“Takdir? Huh, persetan dengan itu semua, kehidupanku sudah kacau sejak orang tuaku dibantai. Aku tumbuh sebagai mafia, membesarkan adikku dengan berlumur darah dan penuh luka. Hidup di dunia yang memberi kekejaman, bukan harapan,” lontar Jatra.
“Begitulah yang kau terima jika terus menerus menolak takdir,” tukas Nenek Utari.
Jatra menatap sosok Nenek Utari sudah berada di dalam cermin besar, bayangan itu menyeringai. Permukaan cermin beriak ketika mangkuk sup keluar.
Lelaki itu benar-benar muak dengan semua ini, membuat suasana hatinya buruk sekali.
“Dengar, aku bosan dengan kata takdir. Aku tidak peduli,” cakap Jatra.
“Kakak, kau baik-baik saja? Kenapa marah-marah sendirian?” tanya Dahayu, adiknya.
Jatra menatap adiknya yang cantik, rambutnya dikepang dua dengan pita merah muda. Wajah kebingungan adiknya juga membuatnya gugup, Nenek Utari masih di dalam cermin, tetapi Dahayu enggan menatapnya.
“Aku baik-baik saja. Apa kau terluka? Coba aku lihat keadaanmu.” Jatra menghampiri adiknya.
Selagi Jatra memeriksa tubuh adiknya, Dahayu menatap tajam Nenek Utari di dalam cermin. Seakan memberi peringatan jangan ganggu kakakku, wanita tua berambut keperakan itu membalas tatapannya, wajahnya sinis.
'Aku mendengar apa yang Anda bicarakan, tetapi, kakakmu harus menerima takdir,’ batin Nenek Utari.
'Takdir tidak bisa dipaksa, bukan?’ balas Dahayu.
'Putri Dahayu Swara, aku sebagai penjaga terakhir dan penjaga raja serta keturunannya, harus melakukan ini. Harap Anda mengerti,’ sahut Nenek Utari sebelum menghilang.
Jatra kemudian menggandeng adiknya, duduk di tepi ranjang.
“Tak terasa, usiamu sudah enam belas tahun, Dahayu,” ucap Jatra.
“Aku harus berterima kasih kepadamu, dan bangga memiliki kakak sepertimu,” sahut Dahayu.
“Adik, belakangan ini aku selalu mimpi buruk dan terus berulang. Dalam mimpiku, aku bertemu naga, sepertinya kembar. Kemudian seorang Nenek yang terus menerus memaksaku meminum sup, sup itu berwarna kuning keemasan, menggelegak, aromanya aneh, dan ada seperti makhluk aneh di dalam sup yang mengucapkan mantra yang tidak kumengerti, dan itu membuat ku frustasi. Apa kau mengerti artinya? Kau kan bisa bicara dengan roh meski tidak bisa melihatnya,” keluh Jatra.
Wajah Dahayu menegang, dia sudah berbohong kepada kakaknya tentang kemampuan yang menurutnya aneh. Bahkan pelayan tidak tahu kelebihan gadis muda itu.
Dahayu tahu semuanya, termasuk takdir kakaknya sebagai raja dua alam, dia menarik napas, kemudian menatap dahi kakaknya. Sinar itu masih ada di sana, tetapi, sebuah kekuatan besar mengintimidasi, peluh mulai mengembun di dahi Dahayu, wajahnya memerah, darah mengalir dari kedua hidungnya, dadanya sesak dan tubuh gadis muda itu terkulai!
“Dahayu!” teriak Jatra.