

Rayan benci rumah milik papinya. Rumah itu terlalu besar untuk sekadar pesta perayaan keberhasilan proyek. Dari luar, bangunan dua lantai itu tampak megah dengan cat krem masih bersih, pilar-pilar tinggi berdiri kokoh, dan halaman luas yang dipenuhi mobil tamu. Tapi, bagi Rayan, rumah itu selalu terasa seperti ruang kosong yang dingin, yang terlalu luas, terlalu sunyi, dan terlalu banyak mata yang tak pernah benar-benar melihatnya sebagai bagian dari mereka.
Rayan melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Dia mengenakan kemeja biru tua yang disetrika rapi oleh Bunda pagi tadi.
Bunda sempat berkata pelan, “Yang penting sopan, Yan. Ini bukan cuma karena kita menghargai orang yang mengundang, tapi juga bentuk hormat ke diri sendiri. Kita harus selalu datang baik-baik.” Kalimat itu selalu sama, harapan yang serupa sepanjang hidupnya, dan hampir selalu berakhir dengan rasa yang tidak pernah berbeda.
Begitu pintu utama terbuka, aroma masakan yang menggelitik perut dan parfum mahal para tamu langsung menyergap. Rayan mengenali banyak wajah yang sering muncul di televisi dan media sosial. Suara tawa terdengar nyaring dari ruang tengah. Namun, saat Rayan muncul, beberapa tawa itu meredup. Tawa itu bukan benar-benar berhenti, hanya menurunkan volume, seperti ada tombol tak kasatmata yang ditekan bersamaan.
Seorang perempuan dengan gaun hitam menyapanya sambil tersenyum tipis. “Oh, Rayan. Sudah datang.” Dia tersenyum meski jelas hanya pura-pura bersikap ramah. Nada suaranya netral, tapi matanya meluncur cepat ke arah perempuan di samping Rayan, lalu berpaling. Tak ada pelukan. Tak ada ajakan duduk. Tak ada obrolan singkat tentang kabar. Sapaan itu lebih mirip formalitas yang wajib diucapkan agar tetap terlihat sopan.
Rayan mengangguk. “Iya, Tante Inggit." Dia berdiri sebentar di dekat pintu, ragu harus ke mana. Tak ada yang mempersilakan dia bergabung dalam kelompoknya. Tak ada juga yang memanggil namanya lagi.
Di ujung ruangan, Pak Damar sedang berbincang dengan beberapa rekan kerja. Jasnya rapi, wajahnya ramah, dan senyumnya hangat. Senyum itu jarang Rayan lihat di rumah kecil mereka. Pak Damar sempat melirik sekilas ke arah Rayan. Mata mereka bertemu sepersekian detik. Dia mengangguk kecil pada Rayan. Itu saja.
Tidak ada senyum dari Pak Damar untuk Rayan. Tidak pula dia memberikan sapaan meski sekadarnya. Pak Damar hanya mengangguk singkat yang lebih mirip pengakuan keberadaan daripada penerimaan, padahal mereka ayah dan anak.
"Bunda ke belakang dulu." Sebelum Rayan bisa mencegah, Bu Ira sudah berjalan cepat menuju dapur. Dia selalu sadar diri. Kehadirannya hanya akan memunculkan konflik yang tak pernah selesai.
Rayan menelan ludah. Baru lima menit menginjak lantai rumah ini, hatinya sudah luar biasa sakit.
“Rayan.” Suara itu datang dari arah sofa besar. Suara perempuan yang datar, tapi mengandung nada yang sudah sangat Rayan kenal.
Ruma menatap Rayan dalam. Dialah kakak tiri Rayan yang paling tua, anak pertama dari istri sah Pak Damar. Ruma duduk santai dengan kaki disilangkan, mengenakan gaun biru muda dan perhiasan mahal. Di sebelahnya ada dua adik kandungnya, Regi dan Rose, yang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Duduk sini,” kata Ruma sambil menepuk sofa di sebelahnya. Senyumnya tipis, nyaris ramah.
Rayan tahu. Undangan dari Ruma tak pernah benar-benar aman. Dia melangkah mendekat dan duduk, menjaga jarak satu bantal dari Ruma. Seperti biasa, dia memilih posisi paling ujung.
"Ngapain manggil dia, sih, Mbak?" keluh Rose tanpa berusaha memelankan suara.
Ruma mengusap lengan Rose "Dia juga anak Papi. Kita nggak boleh jahat." Suara Ruma lembut, seakan sedang menenangkan adik kesayangan yang sedang merajuk karena tidak boleh pergi bersama teman-temannya. “Sendirian?” tanya Ruma sambil memandang Rayan.
“Bunda lagi ke dapur,” jawab Rayan singkat.
“Oh.” Ruma mengangguk pelan. “Masih sehat, kan?” Pertanyaan itu terdengar perhatian. Tapi, mata Ruma melirik cepat ke arah dapur, lalu kembali ke Rayan dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Sehat,” jawab Rayan. Dia tahu tidak pernah ada basa-basi yang berakhir menyenangkan jika berhubungan dengan Ruma.
“Syukurlah,” kata Ruma. “Soalnya, capek juga, ya, kalau sakit, tapi harus tetap datang ke acara keluarga. Piring sama gelas kotor pasti banyak banget."
Regi tertawa kecil. Rose ikut tersenyum, tanpa mengangkat kepala dari ponselnya, seakan yang sedang ditertawakan hanya lelucon dari media sosial.
Rayan diam. Jemarinya saling bertaut di pangkuan. Hatinya sakit, tapi dia tidak pernah bisa membalas hinaan ini.
“Ngomong-ngomong.” Ruma melanjutkan dengan suara santai, “sekarang kamu sekolah di mana? Aku lupa. Maaf, ya. Aku terlalu banyak yang dipikirin."
“Di SMA 3,” jawab Rayan.
“Oh.” Ruma mengangguk lagi, lalu menyibakkan rambut panjangnya. “Bukan di Nusantara bareng Rose?"
Merasa disebut namanya, Rose akhirnya menatap Ruma. Matanya menyipit. Dahinya berkerut. Bibirnya manyun. "Ogah banget sekolah bareng dia."
“Bukan.” Rayan menjawab hampir bersamaan dengan Rose.
Ruma mengenggam tangan Rose, lagi-lagi berusaha menenangkan adik kecilnya. “Sayang banget, ya.” Dia tersenyum tipis. “Padahal, orang-orang biasanya berharap anak-anak Papi bisa sekolah di tempat yang ... ya, sepadanlah. Kamu malah sekolah di SMA negeri."
Kalimat itu melayang ringan, tapi jatuh tepat di dada Rayan. “Saya masuk lewat jalur prestasi,” kata Rayan pelan, tapi tegas.
Ruma menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Prestasi?”
“Iya.”
Hening sejenak.
Lalu, Ruma tertawa kecil. “Wah, hebat juga! Kamu dapet beasiswa?"
Kata hebat itu terdengar seperti ejekan yang dibungkus pujian. Untuk kesekian kalinya, rumah ini tidak pernah bersahabat dengan Rayan.
Sebelum Rayan menjawab, Ruma sudah menambahkan pertanyaan baru. "Itu beasiswa prestasi apa siswa miskin?" Suaranya pelan, hanya dapat didengar orang yang duduk di dekatnya.
Regi tersenyum tipis sambil memandang Rayan sinis. Dia tak berkomentar apa pun, tapi tatapannya sudah menunjukkan isi pikirannya yang sama jahat dengan Ruma, bahkan mungkin lebih jahat lagi.
Sementara itu, Rose justru lebih berani dengan terang-terangan tertawa kencang meremehkan. Usianya satu tahun di bawah Rayan, tapi sama sekali tidak pernah menunjukkan kesopanan pada kakak tirinya itu.
Lagi-lagi, Rayan hanya mampu menahan sakit hati tanpa membalas sama sekali. Dia selalu mengingat nasihat Bunda untuk bisa mengontrol emosinya, meski banyak orang berkomentar jahat.
Beberapa tamu mulai berdatangan mendekat ke area sofa. Obrolan kecil bermunculan. Ruma ikut nimbrung dengan luwes, layaknya tuan rumah yang ramah. Rayan tetap diam, berusaha mengecilkan keberadaannya, bahkan sebisa mungkin jadi tak terlihat.
Seorang pria paruh baya menoleh ke arah Rayan. Rambutnya hampir putih seluruhnya, tapi tubuhnya masih tegap. “Ini siapa, Ruma?” tanyanya. Sebagai salah satu rekan bisnis yang baru, Pak Benedic merasa harus mengenal keluarga Pak Damar dengan baik. Rayan menjadi salah satu yang menarik perhatiannya sejak tadi.
Ruma menepuk bahu Rayan ringan. “Oh, ini saudara jauh," jawabnya cepat, seolah kata-kata itu sudah tersusun rapi di lidahnya sejak lama.
“Oh." Pak Benedic mengangguk. “Saya kira dia salah satu anak Pak Damar. Wajahnya mirip sekali dengan Pak Damar." Suasana mendadak tegang, yang tidak dirasakan Pak Benedic. Pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Pak Damar itu justru melemparkan pertanyaan lain untuk Rayan. "Masih sekolah, ya? Sekolah di mana?"
“Di SMA 3,” jawab Rayan dengan sopan.
Pak Benedic tersenyum. “Bagus. Itu sekolah Negeri, tapi banyak anak berprestasi. Kamu juga pasti punya prestasi yang membanggakan. Kamu harus jadi orang sukses yang mandiri."
Ruma tertawa kecil. “Iya, Pak. Mandiri itu penting supaya orang nggak mikir semuanya karena bantuan orang tua.”
Beberapa orang mengangguk setuju. Rayan merasakan panas menjalar ke wajahnya. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ruma selalu mengarahkan sindiran tipis yang tajam ke arah sana.
Dari kejauhan, Rayan melihat bundanya keluar dari dapur membawa nampan kecil. Tatapan Bu Ira mencari-cari, lalu berhenti saat melihat Rayan duduk bersama saudara-saudara tirinya. Senyum tipis terukir di wajah teduh itu, senyum yang dipaksakan, tapi penuh harap.
Rayan membalasnya dengan anggukan kecil. Hatinya makin perih melihat bundanya diperlakukan layaknya pelayan, padahal dia juga istri Pak Damar. Aku baik-baik saja, ingin rasanya Rayan berkata, meski itu bohong.
Ruma mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya diturunkan. “Rayan."
“Iya?” Rayan kembali memandang kakak tirinya.
“Kamu dengar gosip yang beredar akhir-akhir ini?” Ekspresi Ruma berubah sendu yang terlalu kaku, seperti kertas karton yang diremas dengan susah payah.
Rayan menggeleng.
“Bagus,” kata Ruma. “Soalnya gosip itu ... nggak enak didengar.”
Ruma berdiri, lalu berjalan pelan mendekati dua orang tamu perempuan yang sedang berbincang. Rayan tak berniat menguping, tapi jaraknya terlalu dekat.
“Kasihan, ya,” kata salah satu perempuan itu pelan. Rayan mengenalnya sebagai salah satu sahabat Ruma karena sering mampir ke rumah ini.
Ruma tertawa kecil. “Iya. Tapi, mau gimana lagi. Anak hasil kawin siri, kan, pasti hidupnya juga ....”
Kalimat itu tak dilanjutkan. Tapi, Rayan tahu akhir kalimat itu dan dadanya seperti ditusuk pelan.
Obrolan selanjutnya, nama Rayan disebut jelas, tanpa disamarkan. Di sana berdiri Ruma yang sama-sama anak dari Pak Damar, ikut membicarakan Rayan dengan cara paling menyakitkan. "Anak haram mana yang bisa sukses, sih? Yang ada cuma nambah beban doang!"
Rayan menunduk. Jemarinya mengepal. Suara-suara di sekitarnya terasa menjauh, digantikan satu kesadaran pahit yang sudah terlalu akrab.
Rumah ini memang besar. Tapi, tak pernah ada ruang untuk Rayan dan bundanya. Malam ini, luka itu baru saja mulai dibuka lebih dalam.