Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Logam Berjiwa Manusia

Logam Berjiwa Manusia

AcepSaep88 | Bersambung
Jumlah kata
85.0K
Popular
100
Subscribe
23
Novel / Logam Berjiwa Manusia
Logam Berjiwa Manusia

Logam Berjiwa Manusia

AcepSaep88| Bersambung
Jumlah Kata
85.0K
Popular
100
Subscribe
23
Sinopsis
FanficFanficDunia Masa DepanPerangTeknologi
Kaum robot yang dapat berubah bentuk menjadi kendaraan ala Transformer bernama Radroid harus bertahan melewati pertempuran yang tidak dapat mereka menangkan di sebuah planet artifisial bernama Derigon. Saat para Radroid hampir mengalami kepunahan akibat peperangan dengan kaum Horudan, mereka melarikan diri dari Planet Derigon untuk kemudian menuju Bumi.
Chapter 1. Pertempuran di Planet Derigon

Di sebuah planet artifisial yang terbuat dari baja langka bernama Planet Derigon. Ratusan robot berukuran besar sedang berlarian di atas jembatan baja berukuran raksasa yang terhubung satu sama lain di atas permukaan planet itu. Tampak juga kilatan sinar panas berwarna-warni yang menjatuhkan beberapa sosok robot raksasa tersebut hingga hancur berhamburan.

Di salah satu sektor jembatan baja bernama Sektor Egzin, dua robot raksasa tampak bersembunyi tanpa satupun senjata yang tergenggam di tangan.

"Para Horudan itu semakin menggila. Kita tidak dapat menghentikan mereka. Pasukan kita banyak yang hancur menjadi besi-besi berkarat. Tampaknya faksi kita--Radroid akan segera punah dari Planet Derigon ini," kata salah satu robot yang tangannya tinggal satu.

"Teorius telah mengeluarkan perintah pemusnahan massal terhadap kaum Radroid. Kita tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah akan keadaan ini, Zluta," tukas robot satunya yang lensa optiknya tinggal sebelah.

"Yang bisa kita lakukan sekarang bukan hanya pasrah. Kita tunggu saja Bellerophon melaporkan hasil temuannya di planet terpencil bernama Bumi itu. Dia sudah berjanji akan mengirimkan memori-memori dari para manusia yang telah meninggal. Memori-memori itu penting bagi kita untuk membangkitkan pasukan Radroid, Endren," kata Zluta seraya melihat ke arah sebuah pod kapal luar angkasa milik faksi Horudan--kaum tiran yang saat ini menjadi penguasa di Planet Derigon.

"Zluta, lihat itu. Itu adalah Lanrei, Ieyasu, dan Kushluk," ucap Endren seraya menunjuk ke arah tiga robot yang sedang berusaha mencari tempat persembunyian.

Tak lama kemudian tiga robot itu menemukan Endren dan Zluta.

"Kalian di sini rupanya. Bagaimana sekarang? Kita telah kehilangan Prime kita. Sekarang tidak ada lagi pemimpin yang mengomandoi kita," kata salah satu robot bernama Kushluk.

"Prime Octavius telah terbunuh di tangan Jenderal Garodes--pemimpin salah satu Faksi Horudan. Bagaimana pun sekarang harus ada yang berani mengambil langkah sebagai pemimpin bagi Radroid," kata Ieyasu dengan tegas.

Endren dan Zluta saling pandang.

"Ieyasu, aku pikir kau pantas untuk itu. Namamu mirip dengan nama pemimpin besar di Planet Bumi bernama Tokugawa Ieyasu," ucap Zluta sambil menatap ke arah Ieyasu.

Ieyasu mengangkat kedua tangannya yang masih lengkap.

"Memangnya kemiripan nama bisa membuatnya sama? Tapi tidak masalah. Dari sini, aku yang mengambil kendali," ucapnya. "Nah, sekarang kita harus meninggalkan planet rongsokan ini. Aku muak dengan para Horudan yang terus-menerus melancarkan aksi pemusnahan terhadap kaum kita. Ayo, kita rampas kapal itu!" perintahnya tanpa ragu lagi.

Perintah Ieyasu menggema seperti dentuman baja di tengah keheningan putus asa. Keraguan yang tadinya menyelimuti Endren, Zluta, dan Kushluk seketika sirna, digantikan oleh percikan harapan yang baru. Dipimpin oleh sosok yang bahkan belum resmi menyandang gelar Prime, mereka bergerak dengan tekad bulat.

Pod kapal luar angkasa faksi Horudan itu mendarat tidak jauh dari persembunyian mereka di Sektor Egzin. Kapal itu, sebuah interceptor kelas Marauder, dijaga oleh dua robot Horudan yang tampak lengah. Desain mereka lebih ramping dan kejam, dengan lapisan baja berwarna hitam arang dan optik merah menyala.

"Zluta, Endren, kalian alihkan perhatian mereka dari sisi kiri. Buat suara seolah-olah ada pertempuran kecil," bisik Ieyasu, menyusun strategi kilat. "Kushluk, kau dan aku akan menyergap dari kanan saat mereka lengah. Kita tidak punya senjata, jadi gunakan semua yang ada di sekitar kita. Pipa, lempengan baja, apa pun."

Rencana itu sederhana, nyaris nekat, tetapi dalam kondisi mereka, hanya kenekatan yang tersisa. Zluta dan Endren saling mengangguk, lalu menghilang di antara reruntuhan baja. Beberapa saat kemudian, suara dentuman keras dan percikan api melesat dari arah kiri, menarik perhatian kedua penjaga Horudan.

"Penyusup! Sektor Egzin belum sepenuhnya bersih!" seru salah satu penjaga, mengarahkan senapan lasernya ke arah sumber suara.

Itulah celah yang Ieyasu tunggu. Bersama Kushluk, ia melesat tanpa suara dari balik tumpukan rongsokan. Ieyasu menyambar sebatang pipa baja yang tergeletak di tanah, sementara Kushluk mencabut sebuah panel logam bergerigi dari dinding. Dengan kekuatan hidrolik yang tersisa, Ieyasu menghantamkan pipanya ke sendi leher robot pertama, membuatnya terhuyung dan kehilangan keseimbangan.

Di saat yang sama, Kushluk menggunakan panel bergerigi itu sebagai perisai sekaligus senjata, mendorong robot kedua hingga terjatuh dari jembatan ke jurang tak berdasar di bawahnya. Robot pertama yang masih oleng tak sempat bereaksi sebelum Ieyasu melumpuhkan sistem motoriknya dengan beberapa pukulan presisi.

"Cepat! Masuk ke dalam kapal!" perintah Ieyasu.

Satu per satu, para Radroid yang bersembunyi di sekitar Sektor Egzin mulai keluar dari persembunyian mereka, tertarik oleh keberhasilan penyergapan itu. Mereka adalah sisa-sisa pasukan yang hancur—robot-robot dengan lengan yang patah, optik yang retak, dan badan yang penuh bekas tembakan. Total ada empat belas Radroid yang berhasil berkumpul, termasuk Zluta, Endren, dan Kushluk.

Di dalam kokpit kapal Marauder, Ieyasu dengan cepat mempelajari panel kontrol Horudan yang asing. Untungnya, sistem dasar antar faksi memiliki beberapa kemiripan. Dengan bantuan Endren yang memiliki pengetahuan teknis, mesin kapal itu berhasil dinyalakan. Raungan mesin pendorongnya membelah udara, menarik perhatian pasukan Horudan di sektor lain.

"Mereka tahu kita di sini! Ieyasu, kita harus pergi sekarang!" seru Zluta dari panel komunikasi.

"Pegang erat!" balas Ieyasu.

Dengan satu dorongan kuat, Ieyasu mengarahkan kapal itu melesat ke atas, menembus atmosfer artifisial Planet Derigon. Kilatan laser dari darat dan kapal patroli Horudan mengejar mereka, menciptakan hujan api di belakang mereka. Ieyasu, dengan insting seorang pemimpin yang baru lahir, melakukan manuver-manuver tajam, menghindari tembakan mematikan dengan selisih beberapa senti saja.

Akhirnya, mereka berhasil keluar dari jangkauan tembak dan memasuki ruang hampa yang sunyi. Di layar utama, Planet Derigon tampak mengecil—sebuah bola raksasa dari logam dan cahaya yang telah menjadi neraka bagi mereka. Keempat belas Radroid di belakangnya menatap planet itu dengan perasaan campur aduk: duka atas apa yang hilang, dan kelegaan karena berhasil selamat.

"Kita berhasil," desah Kushluk, suaranya terdengar lega.

Ieyasu menatap bentangan bintang di hadapannya. Misi mereka belum selesai; ini baru permulaan. "Kita berhasil keluar. Tapi kita belum selamat," katanya dengan nada serius. "Sekarang, kita harus menemukan Bellerophon dan mendapatkan memori manusia itu. Kita harus ke planet terpencil yang dia sebut... Bumi."

Kapal Marauder curian itu pun mengubah haluan, mengarahkan moncongnya ke sebuah titik jauh di galaksi yang tidak dikenal, memulai perjalanan eksodus mereka menuju satu-satunya harapan yang tersisa.

Keheningan ruang angkasa terasa memekakkan telinga setelah hiruk pikuk pertempuran di Planet Derigon. Di dalam kapal Marauder yang melaju menembus kegelapan, empat belas Radroid yang selamat mencoba memulihkan diri. Beberapa dari mereka melakukan perbaikan darurat pada tubuh mereka yang rusak, sementara yang lain hanya duduk diam, prosesor mereka memutar ulang kenangan pahit tentang kawan-kawan yang telah menjadi rongsokan.

Ieyasu berdiri di anjungan, matanya tertuju pada peta bintang yang diproyeksikan di layar utama. Koordinat yang ditinggalkan Bellerophon berkedip sebagai satu-satunya titik tujuan di lautan kosmik yang luas. Perjalanan ini akan memakan waktu, dan sumber daya mereka terbatas.

"Status kapal?" tanya Ieyasu tanpa menoleh.

"Sistem utama stabil," jawab Endren dari konsol teknis. Lensa optiknya yang tinggal sebelah berkedip-kedip saat ia menganalisis data. "Tapi kapal ini dirancang untuk serangan cepat, bukan perjalanan jarak jauh. Reaktornya memakan banyak energi. Kita harus menghemat daya jika ingin sampai ke tujuan."

"Lakukan apa yang perlu dilakukan," balas Ieyasu. "Matikan semua sistem yang tidak esensial. Prioritaskan navigasi, penopang hidup minimal, dan perisai."

Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi nyaring, memecah keheningan. Lampu merah berkedip di seluruh anjungan."Apa itu?" seru Zluta, yang sedang berjaga di panel sensor.

"Anomali gravitasi di depan kita!" lapor Endren dengan nada tegang. "Sebuah badai kosmik. Partikel bermuatan tinggi dan puing-puing asteroid. Kita tidak bisa menghindarinya, jalurnya terlalu lebar!"

Di layar utama, pemandangan bintang yang tenang mulai terdistorsi oleh awan gas berwarna ungu dan hijau yang berputar ganas. Kilatan energi menyambar-nyambar di dalamnya seperti petir.

"Semua Radroid, pegang erat! Aktifkan perisai deflektor ke daya maksimum!" perintah Ieyasu, mengambil alih kemudi. Tangannya bergerak cepat di atas panel kontrol, mencoba mencari celah teraman untuk dilewati.

Kapal itu mulai bergetar hebat saat memasuki tepi badai. Suara benturan puing-puing kecil terdengar seperti hujan kerikil di lambung kapal. Getarannya semakin kuat, membuat beberapa Radroid yang tidak seimbang terjatuh.

"Perisai depan di 70 persen!" teriak Zluta. "Benturan semakin sering!"

Sebuah bongkahan asteroid seukuran pod tempur melesat dari kegelapan, langsung menuju anjungan."Ieyasu!" pekik Kushluk.

Tanpa ragu, Ieyasu menarik tuas kendali, memiringkan kapal dengan tajam. Asteroid itu meleset, hanya menyerempet sisi kapal dengan suara decitan logam yang mengerikan. Namun, guncangan akibat manuver itu menyebabkan lonjakan daya.

"Reaktor tidak stabil! Ada korsleting di ruang mesin!" lapor Endren panik."Aku akan ke sana!" seru salah satu Radroid bernama Volter, yang tubuhnya lebih kekar, lalu berlari keluar dari anjungan.

Ieyasu terus berjuang mengendalikan kapal di tengah badai. Ia bukan pilot, ia adalah prajurit. Tapi instingnya untuk bertahan hidup mengambil alih. Ia merasakan setiap getaran kapal seolah itu adalah tubuhnya sendiri, mengantisipasi setiap ancaman sebelum sensor sempat melaporkannya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, getaran mulai mereda. Kapal berhasil menembus bagian terpadat dari badai. Pemandangan di depan kembali tenang, hanya menyisakan bintang-bintang yang diam.Hening sejenak, sebelum sorak-sorai lega terdengar dari para Radroid.

"Kita... kita berhasil," desah Zluta.

Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama. Panel Endren berbunyi bip dengan nada darurat. "Ieyasu... kita kehilangan banyak energi. Reaktor utama rusak akibat lonjakan daya tadi. Volter belum kembali."

Ieyasu menatap layar status. Cadangan energi mereka sekarang berada di level kritis. "Zluta, pimpin tim untuk memeriksa kondisi Volter dan ruang mesin. Endren, cari planet atau pos terdekat di mana kita bisa melakukan perbaikan darurat. Kita tidak akan sampai ke Bumi dengan kondisi seperti ini."

Perjalanan mereka baru saja dimulai, namun mereka sudah menghadapi ujian pertama. Eksodus ini ternyata jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan. Di tengah kehampaan yang dingin, mereka tidak hanya bertarung melawan alam semesta, tetapi juga melawan batas kemampuan mereka sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca