

Ravel tidak pernah ingat kapan terakhir kali hidup terasa tenang. Ia mencoba mengingatnya kadang-kadang, biasanya di malam-malam ketika kepalanya terlalu bising untuk tidur, atau di pagi-pagi ketika ia bangun dengan dada sesak sebelum apa pun terjadi. Tapi tak pernah ada jawaban yang benar-benar jelas. Yang ia tahu, ketenangan itu sudah menghilang lama, mungkin saat ayahnya menghilang, mungkin saat ia mulai tumbuh dengan kemarahan yang selalu menempel seperti bayangan.
Dan hari itu pun bukan pengecualian.
Udara bengkel selalu terasa lebih panas daripada udara di luar, meski pintunya terbuka lebar. Asap tipis dari logam panas menciptakan kabut samar, membuat cahaya matahari yang masuk tampak kusam. Suara palu, gesekan gerinda, dan desah mesin seharusnya membuat suasana ramai, tetapi entah kenapa justru membuat kepala Ravel semakin berdenyut.
“Ravel!”
Suara itu cukup keras untuk memotong pikirannya.
“Kau dengar tidak? Aku bicara baik-baik!”
Tangan Ravel yang memegang sebilah logam langsung mengepal. Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menahan reaksi spontan yang sudah seperti refleks. Lelaki setengah baya yang memanggilnya itu "Hargan" bukan orang jahat. Ia hanya terlalu sabar menghadapi seseorang yang penuh amarah seperti Ravel.
Tetapi justru itulah yang membuat Ravel semakin ingin pergi.
“Aku sudah bilang,” Ravel berkata lirih tapi tegas, “aku keluar dari tempat ini.”
Hargan menatapnya dari balik tumpukan besi tua yang belum sempat dibersihkan. Wajahnya yang keras dipenuhi garis-garis kecapaian. “Tidak cocok dengan kerja keras, atau tidak mau mencoba?”
Pertanyaan itu tidak terdengar marah. Tidak juga mengejek. Justru karena itu, rasanya menusuk lebih dalam. Ravel membuang napas pendek, melempar sarung tangan kerjanya ke meja. Satu dentuman nyaring memenuhi bengkel.
“Aku tidak cocok dengan apa pun,” katanya sambil meraih tas kecil berisi beberapa barang pribadi. “Bengkel, kota ini, omelanmu… semuanya.”
Hargan tidak menahan. Tidak memanggil lagi. Entah karena sudah lelah mencoba, atau karena tahu bahwa tidak ada gunanya berbicara pada orang yang sedang ingin lari.
Ravel keluar. Langkahnya berat tetapi cepat, seperti orang yang takut kalau pikirannya berubah kalau ia berhenti barang satu detik saja.
Begitu ia melewati pintu, udara sore langsung menampar wajahnya. Lembap, tapi tidak sepanas di dalam. Langit tampak kelabu, bergulung seperti awan sedang menahan badai. Rasanya cocok dengan suasana hati Ravel.
Ia berjalan tanpa tujuan. Melewati gang-gang sempit, menghindari kerumunan, tidak memperhatikan apa pun. Semakin cepat ia berjalan, semakin ia berharap bisa meninggalkan sesuatu, entah amarahnya, entah masa kecilnya, entah wajah ayahnya yang selalu muncul tanpa permisi di kepalanya.
Namun kota kecil ini terlalu tenang untuk menciptakan distraksi.
Dan malah karena ketenangan itu, ia baru menyadari sesuatu yang aneh.
Udara tiba-tiba menjadi lebih dingin. Bukan angin sore biasa, tapi dingin seperti ruang yang sedang direbut dari dunia lain. Aroma logam mulai tercium pelan, seperti besi yang baru diasah, diselipkan ke dalam udara tanpa alasan.
Ravel berhenti.
Matanya menyipit.
Ada sesuatu di ujung jalan.
Kilau.
Seperti pantulan cahaya dari air, tapi bentuknya tidak sesuai. Cahaya itu bukan memantul dari permukaan apa pun. Cahaya itu justru seperti… mengambang. Ravel menajamkan pandangannya.
Itu bukan cahaya biasa.
Itu retakan.
Garis panjang di udara, tipis, berdenyut perlahan. Tidak menempel pada apa pun. Tidak punya sumber. Seolah-olah udara itu sendiri pecah dan membiarkan cahaya dari tempat lain bocor keluar.
Spine Ravel merinding.
“Apa lagi ini…” gumamnya. Ia ingin terdengar sinis, tapi suara itu keluar lebih rendah dari yang ia niatkan, seperti setengah takut, setengah terpikat.
Ia harusnya balik.
Ia harusnya lari.
Tapi langkahnya justru bergerak maju. Perlahan, tetapi pasti. Bukan karena keberanian, bukan juga karena penasaran… melainkan campuran keduanya yang ditarik oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa ia namai.
Semakin dekat ia melangkah, semakin aneh suara yang ia dengar. Seperti dua kaca saling bergesekan, tinggi dan halus, tetapi terdengar jelas di telinganya.
Ketika ia cukup dekat untuk melihat detailnya, retakan itu mengembang. Cahaya putih kebiruan merembes keluar, menciptakan alur-alur kecil seperti petir yang merayap di permukaan udara.
“Jangan bilang ini bahaya…”
Tapi jauh dalam dirinya, ia tahu bahaya bukan hal yang membuatnya berhenti.
Sebelum ia sempat mundur, retakan itu bergetar.
Dan dunia tercabik.
Bukan meledak, bukan pecah, melainkan ditarik. Tarikan besar muncul dari dalam retakan, seperti ada tangan raksasa yang meraih jantung dunia dan memaksanya mendekat. Udara tersedot. Ravel merasa dadanya menghimpit, tubuhnya terangkat beberapa sentimeter.
“Apa—?!”
Ia mencoba berpegangan pada tiang. Tidak bisa.
Ia mencoba berteriak. Suaranya hilang.
Pandangannya berkedip, cahaya menyilaukan menerjang.
Lalu—
Gelap.
---
Ia tidak tahu berapa lama ia pingsan.
Yang pertama ia sadari adalah rasa sakit di punggung, tajam seperti dilempar ke tanah dari ketinggian. Lalu rasa hangat… dan getaran halus dari tanah.
Ia membuka mata.
Langit di atasnya bukan langit rumahnya. Itu jelas. Langit itu tampak seperti pecahan kaca raksasa yang disusun membentuk kubah. Setiap pecahan bergerak perlahan, memantulkan cahaya yang tidak berasal dari matahari mana pun yang ia kenal. Beberapa lapis cahaya tampak mengalir di belakang retakan langit itu, seperti arus sungai yang terkurung di balik cermin.
Ravel menahan napas.
Ia duduk perlahan, merasakan debu hangat di telapak tangannya. Angin tipis membawa aroma asing, sesuatu antara percikan listrik dan tanah kering yang lama tidak disentuh hujan.
“Ini… bukan kota,” desisnya. “Ini bahkan bukan dunia yang sama.”
Ia berdiri. Kaki-kakinya goyah, tetapi ia berhasil menopang diri. Ketika ia berjalan ke depan beberapa langkah, barulah ia melihat sesuatu yang membuatnya benar-benar terpaku.
Batu-batu melayang.
Benar-benar melayang.
Bongkahan besar setinggi dua atau tiga orang, bergerak pelan berputar seakan gravitasi di tempat ini tidak kesepakatan dengan dirinya.
Mulut Ravel terbuka sedikit, tanpa ia sadari.
“Gila…”
Angin kembali membawa bau logam. Kali ini lebih tajam. Tanah di bawah kakinya bergetar pelan—getaran yang tidak pernah berhenti, seperti jantung raksasa di bawah tanah sedang berdetak lambat.
Dan tiba-tiba getaran itu berubah.
Lebih keras.
Lebih teratur.
Seperti sesuatu yang sedang… bangun.
Retakan besar di tanah terbuka beberapa meter di depan Ravel. Cahaya merah keemasan merembes keluar, menyilaukan, lalu menyurut seperti bara yang dihidupkan angin.
Ravel menegangkan tubuh. Ia tidak tahu apakah makhluk, mesin, atau sesuatu yang tidak semestinya ada di dunia mana pun.
Dari retakan itu sesuatu mulai muncul.
Bukan makhluk.
Bukan tangan.
Bukan cahaya.
Melainkan sebuah palu raksasa.
Palu itu seperti terdorong perlahan keluar dari celah seolah tanah menolaknya, atau justru memaksanya kembali ke dunia. Kepalanya panjang, tidak bulat, dan tidak berbentuk seperti palu apa pun yang pernah Ravel lihat. Banyak guratan di permukaannya, guratan yang tidak simetris, seperti petir yang menyambar dan membeku menjadi ukiran.
Setiap guratan memancarkan cahaya. Bukan cahaya terang, tapi cahaya yang terasa hidu, seperti magma yang masih bernapas.
Palu itu… tampak kuno. Seolah sudah tidur ribuan tahun.
Sekarang ia bangun.
Ravel menelan ludah.
“Sial… aku tidak mau mendekati itu.”
Tapi tubuhnya punya keputusan sendiri.
Ada sesuatu di dadanya, sesuatu yang telah lama terkubur, bangkit pelan, seperti bara kecil yang ditiup dari dalam. Rasa panas itu menyebar ke seluruh tubuhnya, menyusuri tulang dan urat. Rasa yang tidak nyaman, tetapi juga… tidak asing.
Palu itu… memanggilnya.
Ravel mencoba melawan tarikan itu. Tapi setiap langkah yang ia coba mundur justru membuat dadanya semakin sakit, seperti magnet dipaksa menjauh dari magnet lain yang lebih kuat.
Dan akhirnya ia menyerah.
Ia melangkah maju. Satu langkah. Dua. Tiga. Setiap langkah membuat dunia di sekitarnya terdengar lebih pelan, seakan angin dan suara jauh sedang menahan napas.
Ketika ia hanya berjarak satu lengan dari palu itu, palunya bergetar. Kilatan kecil memancar dari ukiran-ukurannya.
Ravel berhenti.
“Jangan bilang kau… hidup.”
Ia mengangkat tangannya.
Hanya sedikit.
Hanya setengah ragu.
Dan suhu udara langsung naik. Bukan saja panas, tapi seperti dunia di sekitarnya digigit api tipis yang bergerak dari palu menuju dirinya.
Degup cahaya di palu itu semakin cepat. Seperti jantung panik.
Ketika jarinya menyentuh gagang palu…
Dunia berhenti.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara.
Tidak ada rasa.
Hanya kegelapan… yang berubah menjadi gambaran.
Ia melihat langit runtuh.
Langit yang sama seperti di atasnya retak, pecah, dan berjatuhan.
Di tengah kehancuran itu, seseorang berdiri. Seseorang dengan siluet yang samar… memegang palu yang sama.
Dan sekali ayunan palu itu…
Langit terbelah.
Ravel menarik napas tercekik, mencoba menjauh. Tapi palunya tidak membiarkannya pergi.
Ledakan cahaya meledak dari gagang, merayap ke lengannya dan melahap seluruh tubuhnya. Kulitnya terasa terbakar, namun anehnya tidak meninggalkan luka. Cahaya itu merembes ke tanah, menyebar seperti akar yang mencari sumber air.
Langit Arquen menggema. Retakan-retakannya berpendar terang.
Palu itu… telah memilih.
Dan sesuatu yang ia kubur dalam dirinya… bangun.
Ravel mengguncang tangannya, napasnya terengah-engah.
Ia tidak mengerti apa yang barusan terjadi.
Ia tidak tahu apa dunia ini.
Ia tidak tahu kenapa ia yang dipanggil.
Namun satu hal sangat jelas:
Tempat ini tahu ia datang.
sesuatu di dunia ini telah mengakui keberadaannya.
Tidak peduli ia siap atau tidak.
Dari kejauhan di balik batu melayang dan kabut cahaya, suara rendah menggeram.
Seperti sesuatu yang menunggu.