

PRABU SANG RAJA PASUNDAN
Planet Pasundan bersinar dengan kilau emas yang mempesona di tengah badai asteroid yang mengelilinginya. Kota-kota megah dengan menara kristal menjulang tinggi – rakyatnya hidup penuh kemakmuran, ladang tanaman energi menghasilkan pasokan tak terbatas, dan pasar penuh dengan barang langka dari seluruh galaksi. Namun suasana selalu menjadi sunyi seketika sosok Raja muda muncul.
Prabu Angga Laksana Wijaya – paras rupawan seperti patung dewa, tapi wajahnya selalu tanpa ekspresi, dingin seperti es abadi. Tak seorang pun berani menatap matanya langsung; mereka menunduk saat dia lewat. Di luar Pasundan, dia dikenal sebagai raja yang kejam dan acuh tak acuh – tidak pernah menunjukkan rasa ramah kepada siapapun, dan selalu terlihat tidak memperdulikan segala sesuatu di sekitarnya.
Ia jarang berbicara. Saat berkumpul dengan menteri-menteri atau menerima delegasi dari planet lain, ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepala, atau memberikan perintah singkat yang tidak lebih dari tiga kalimat. Hanya dua orang yang pernah mendengarnya berbicara panjang lebar: Genta, asisten pribadinya yang telah menemani dia sejak masa muda, dan Kasim Jaya, kasim pribadi yang juga menjadi pemimpin pasukannya.
Suatu pagi, delegasi dari planet Andromeda tiba dengan dalih menjalin perdagangan, namun sebenarnya ingin mengintai kelemahan Pasundan. Saat mereka memasuki aula kerajaan, semua orang menunduk – kecuali Ratu Kirana, pemimpin delegasi, yang dengan berani mengangkat kepala dan menatap Prabu.
Para menteri siap menghukumnya, tapi Prabu hanya mengangkat satu jari tanpa mengubah ekspresinya.
“Izinkan,” katanya dengan suara pendek dan datar.
“Kita datang untuk mengajak perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak, Prabu,” ujar Ratu Kirana dengan nada menantang. “Namun kami mendengar kamu tidak memperdulikan rakyatmu – bagaimana mungkin kerajaan ini bisa makmur jika pemimpinnya acuh tak acuh?”
Prabu tidak menjawab. Ia hanya berdiri perlahan dan menunjuk ke jendela besar yang menghadap kota. Setelah beberapa saat, ia berbicara hanya kepada Genta yang berdiri di belakangnya:
“Tunjukkan mereka laporan pertumbuhan ekonomi dan indeks kebahagiaan rakyat selama lima tahun terakhir. Jelaskan juga rencana pertahanan yang telah kita siapkan jika ada yang mencoba mengganggu kedamaian kita.”
Genta segera menampilkan hologram data di tengah aula. Angka-angka menunjukkan kemakmuran yang terus meningkat, dan gambar-gambar menunjukkan rakyat yang hidup bahagia. Saat itu juga, sistem pemantauan menunjukkan armada tersembunyi Andromeda sedang mendekati orbit Pasundan.
“Strategi sudah siap, Prabu?” tanya Kasim yang tiba-tiba muncul di sisi Prabu.
“Ya,” jawab Prabu dengan suara sedikit lebih panjang. “Blokir semua jalur energi dan komunikasi mereka. Jangan serang – cukup tunjukkan bahwa kita tahu segala rencana mereka. Kirim pesan singkat: ‘Pasundan tidak akan dijarah, tapi juga tidak akan menyerang tanpa alasan.’”
Dalam waktu singkat, armada musuh dikelilingi dan tidak mampu bergerak. Ratu Kirana tampak terkejut dan kagum. Namun Prabu tetap tidak memberikan reaksi apapun. Ia hanya mengangkat tangan untuk menandakan bahwa delegasi bisa pergi.
Setelah mereka pergi, Genta mendekati Prabu yang masih berdiri di atas teras istana.
“Mengapa Anda tidak pernah menunjukkan kepada orang lain bahwa semua yang Anda lakukan adalah untuk rakyat, Prabu?” tanya Genta dengan suara lembut.
Prabu menatap jauh ke arah cakrawala sebelum menjawab panjang lebar:
“Jika saya menunjukkan keramahan atau perhatian yang terlihat, musuh akan menganggapnya sebagai kelemahan. Jika saya berbicara banyak, mereka akan mencari celah dalam kata-kataku. Lebih baik mereka melihat saya sebagai orang yang dingin dan tidak memperdulikan – itu adalah perisai terbaik untuk melindungi Pasundan. Saya tidak perlu mereka menyukai saya, cukup mereka aman dan bahagia.”
Kasim datang berdampingan dengannya. “Armada lain dari planet Tetra juga mulai bergerak, Prabu. Sudah ada strategi untuk menghadapinya?”
“Ada,” jawab Prabu dengan suara yang tetap dingin tapi penuh kepastian. “Kita akan siap seperti biasa. Segera siapkan rapat dengan para pemimpin pasukan – katakan saja saya akan memberikan instruksi singkat sebelum mereka bergerak.”
Rakyat Pasundan masih menunduk saat Prabu berjalan melewati jalan utama. Mereka melihat sosoknya yang dingin dan acuh tak acuh, tanpa tahu bahwa di balik itu semua, setiap langkah dan keputusannya dibuat dengan cermat untuk menjaga kerajaan yang mereka cintai tetap harmonis dan makmur.
Prabu kembali ke kamarnya, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Ia tidak perlu menunjukkan rasa pedulinya dengan kata atau sikap – hasil yang terlihat di muka setiap rakyat Pasundan sudah cukup menjadi bukti.
Bahwa kemampuan nya sebagai seorang raja patut di acungi jempol,
Hari itu, matahari Pasundan mulai meredup dan digantikan oleh cahaya ratusan bintang di langit. Prabu Angga Laksana berdiri di depan lemari pakaian khususnya – rak penuh dengan busana dari desainer terbaik seluruh galaksi. Ia memilih gaya yang sama sekali berbeda dari jubah kerajaan yang selalu dikenakannya.
Pakaian yang dikenakannya saat menyamar:
Sebuah jaket kulit sintetis warna biru tua dengan aksen logam di bahu dan lengan, dipasangkan dengan kaos putih berlengan panjang dengan desain garis-garis halus di bagian dada. Celananya berwarna hitam slim-fit yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis, dan sepatu bot kulit hitam yang mengkilap. Rambutnya yang biasanya disusun rapi kini diatur dengan gaya sedikit acak namun tetap rapi, dengan beberapa helai yang jatuh lembut di dahinya. Tambahan aksesoris berupa gelang tangan logam perak dan kacamata hitam dengan bingkai tipis membuatnya terlihat seperti seorang idol K-pop yang sedang berkeliling kota. Paras tampannya yang alami semakin menonjol – wajah yang rata tanpa ekspresi kini terlihat lebih misterius dan menarik perhatian.
“Apakah ini cukup baik, Genta?” tanya Prabu dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.
“Sudah sempurna, Prabu,” jawab asisten pribadinya sambil menyesuaikan sedikit bagian kerah jaketnya. “Tidak seorang pun akan menyadari bahwa Anda adalah Raja kita. Namun, saya dan Kasim akan mengawal Anda dari kejauhan untuk menjaga keamanan.”
Prabu mengangguk singkat, lalu keluar dari istana melalui jalur tersembunyi yang mengarah langsung ke pasar malam antariksa – pusat aktivitas rakyat Pasundan yang selalu ramai hingga tengah malam.
Pasar itu terletak di bawah kubah kristal besar yang melindungi dari angin dan puing-puing antariksa. Cahaya neon warna-warni menerangi setiap sudut, dengan pedagang menjajakan makanan khas, barang antik, hingga peralatan teknologi canggih. Suara tawa, tawaran harga, dan musik rakyat mengalir di udara.
Prabu berjalan dengan langkah santai, menyusuri lorong-lorong pasar. Beberapa wanita muda menoleh dan berbisik-bisik saat dia lewat – mereka mengira dia adalah selebriti atau idol baru dari planet lain. Namun ia tetap tidak menunjukkan reaksi apapun, hanya melihat-lihat setiap kios dengan tatapan datar yang biasanya dikenakannya.
Ia berhenti di depan kios makanan yang menjual bubur jagung manis khas Pasundan. “Satu porsi, pak,” katanya dengan suara singkat.
Pedagang tua itu mengangkat kepala dan tersenyum ramah. “Baiklah, muda muda tampan! Mau tambah gula atau tidak?”
Prabu sedikit terkejut – tidak ada yang pernah berbicara dengannya dengan nada begitu akrab selama bertahun-tahun. “Tidak perlu, terima kasih,” jawabnya dengan nada yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Saat menunggu pesanannya, ia mendengar percakapan dua orang pemuda di sebelahnya.
“Kau tahu tidak, belakangan ini harga barang jadi lebih stabil lagi,” ujar salah satunya.
“Ya dong! Prabu kita memang terkenal dingin dan tidak banyak bicara, tapi dia benar-benar pandai menjalankan kerajaan. Aku pernah mendengar dari pamanku yang bekerja di istana bahwa setiap kebijakan dibuat dengan sangat cermat,” jawab temannya.
Prabu diam mendengarnya. Ia mengambil bubur jagung yang sudah siap dan duduk di meja kecil di sudut kios. Sambil menikmatinya, ia melihat sekeliling – anak-anak bermain dengan mainan yang dibuat dari bahan lokal, pasangan muda berjalan berpegangan tangan, dan para pedagang saling membantu satu sama lain. Semua terlihat begitu damai dan bahagia.
Tiba-tiba, ada suara keributan dari ujung pasar. Seorang wanita dengan anak kecil tampak kesusahan karena tasnya dicuri oleh seorang pria yang mencoba kabur. Tanpa berpikir panjang, Prabu berdiri dan dengan cepat mengejar pencuri tersebut. Gerakannya lincah dan terlatih – hasil dari pelatihan tempur yang ia lakukan setiap hari. Dalam sekejap, ia menangkap tangan pencuri dan mengembalikan tasnya kepada wanita itu.
“Terima kasih banyak, mas!” ujar wanita itu dengan senyum penuh rasa syukur. Anak kecil itu bahkan memeluk kaki Prabu sebentar sebelum ibunya menariknya pergi.
Prabu hanya mengangguk singkat, lalu hendak pergi sebelum banyak orang datang melihatnya. Namun saat ia berjalan menjauh, seorang gadis muda yang bekerja di kios bunga menghampirinya dengan mawar warna ungu khas Pasundan.
“Untuk kamu, mas,” katanya dengan senyum manis. “Kamu sangat tampan dan baik hati. Seperti idol yang aku kagumi di layar!”
Prabu melihat mawar yang diberikan padanya, lalu melihat wajah gadis itu yang penuh keceriaan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, bibirnya sedikit mengangkat – sebuah ekspresi yang hampir mirip senyum, meskipun tetap tidak terlalu jelas. Ia menerima bunga itu dengan hati-hati. “Terima kasih,” katanya dengan suara yang lebih panjang dari biasanya.
Setelah beberapa saat lebih lama berjalan-jalan dan melihat aktivitas rakyatnya secara langsung, Prabu kembali ke jalur tersembunyi untuk pulang ke istana. Genta dan Kasim sudah menunggunya di sana.
“Bagaimana perjalanan Anda, Prabu?” tanya Kasim dengan rasa ingin tahu.
Prabu masih memegang mawar ungu itu di tangannya. Ia berdiri sebentar sambil melihat ke arah pasar yang masih ramai.
“Mereka bahagia,” katanya dengan suara yang penuh makna. “Semua yang aku lakukan memang seharusnya untuk itu. Mungkin… ada kalanya saya perlu melihat lebih banyak seperti ini.”
Ia memasuki kendaraan kerajaan, namun sebelum pintu tertutup, ia melihat sekali lagi ke arah pasar – menyadari bahwa meskipun ia harus tetap menjadi sosok yang dingin dan ditakuti di depan umum, saatnya mungkin akan tiba untuk menunjukkan kepada rakyatnya bahwa perhatiannya ada, bahkan jika tidak selalu terlihat.