Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Misteri Di Desa Terpencil

Misteri Di Desa Terpencil

Asriani Lubis | Bersambung
Jumlah kata
25.4K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Misteri Di Desa Terpencil
Misteri Di Desa Terpencil

Misteri Di Desa Terpencil

Asriani Lubis| Bersambung
Jumlah Kata
25.4K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+HorrorHorrorUrban
Arif seorang pekerja yang ditugaskan oleh atasannya ke daerah terpencil untuk menyelesaikan sesuatu. Di sana ia menemukan daerah tersebut mengalami banyak hal aneh selama ia bekerja. Ia seorang yang penakut, tetapi juga penasaran. Sehingga itu menjadi pengalaman menarik baginya mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui sebelumnya.
Bab 1 Menunggu Teman

Seorang perempuan bergaun putih dengan rambut panjang yang terurai terus saja mengejarnya. Arif tengah tergopoh-gopoh lari menghindari perempuan itu. Nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya penuh dengan peluh keringat yang membanjir. Ia terus saja dikejar-kejar.

Dalam suasana gelap nan mencekam tak ada kata menyerah. Meski kaki telah lelah berlari.

Berlari dan terus berlari. Hingga ia merasa bingung harus berlari ke arah mana.

Persimpangan jalan membuatnya berpikir. Harus terus, atau belok kiri atau juga ke arah kanan. Tak ada waktu berpikir. Arif akhirnya memilih jalan lurus.

Saat itu tiba-tiba perempuan tadi yang mengejarnya telah tak nampak.

Arif berhenti sejenak mengambil nafas. Dalam benaknya, kemana perempuan tadi. Ia tidak tau kenapa dan mengapa perempuan itu mengejarnya terus menerus.

Yang ia tau hanya berlari menghindar. Tatapan wajahnya yang seakan murka dan sadis membuatnya takut.

Arif terus saja ngos-ngosan. Tak lama seorang tangan perempuan menepuk pundaknya.

Ia menoleh, dan … “Aaaaaaaaaa!”

Seketika Arif terbangun. Tersadar dan refleks terduduk di atas ranjang miliknya.

Nafasnya masih ngos-ngosan sama seperti saat berlari tadi.

Ia mendapati dirinya telah bermimpi. Mimpi yang sama yang berulang kali.

Tentang dirinya yang dikejar oleh sosok perempuan yang tidak ia kenali.

Arif meraba nakas. Gelas di atas meja di samping ranjangnya ia raih.

Ia teguk perlahan dan tandas sekali minum. Habis tak tersisa. Seperti tengah berlari maraton dengan jarak yang jauh.

Waktu menunjukkan pukul 01 pagi lewat sedikit. Arif mengelap peluh di keningnya.

Suara hewan malam menemaninya yang tidak sengaja terjaga di malam hari. Tiba-tiba ia ingin menelepon ibunya yang telah lama tidak bertemu. Namun, ia urungkan. Ia tau ibunya jam segini telah tidur pulas. Ia ragu untuk mengganggu.

Namun, ternyata kontak batin itu ada dan nyata. Ponselnya berdering.

“Itu, Ibu!” gumamnya antara kedengaran dan tidak.

“Hallo, Bu!”

Mereka kemudian bercakap-cakap sebentar. Bertanya kabar sebab rindu. Lalu Arif menyudahinya. Karena ia esok harus bangun pagi.

Pagi hari, ia terbangun. Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera akan berangkat bekerja. Mimpi semalam masih terngiang.

Ini kesekian kalinya mimpi yang sama. Apa artinya?

Kepada ibu tadi malam ia ceritakan perihal mimpi tersebut. Ibunya berpesan untuk selalu membaca doa sebelum tidur. Mudah-mudahan selalu dilindungi dalam kondisi apapun. Apalagi dalam waktu dekat, Arif akan pindah tugas bekerja ke daerah terpencil.

Ia tidak tau tempat itu sama sekali. Hanya mengikuti perintah atasannya.

Atasannya menyuruhnya mengecek keadaan di sana. Arif dijanjikan naik jabatan dan gaji. Asal mau pindah sementara ke daerah. Hanya untuk beberapa bulan saja atau tahun. Tidak dipastikan. Yang pasti tidak akan selamanya.

Namun, mimpi itu membuatnya takut. Akankah ia di sana baik-baik saja atau bernasib sial? Ia tidak tau.

Arif tidak berani protes. Lagipula tidak ada salahnya dicoba untuk sementara.

Selepas mandi, ia berpakaian. Mengenalkan stelan baju kemeja berwarna putih dipadu padankan dengan celana panjang berwarna hitam.

Arif tampil sederhana dan elegan. Ia kurang pintar memadankan pakaian kerja yang bagus-bagus.

Arif pun berangkat kerja.

Di dalam sebuah bus yang membawanya ke tempat bekerja, ia tak sengaja bertatapan dengan seorang perempuan cantik dan masih muda.

Wajahnya tertunduk sebentar. Lalu kembali menatap Arif. Tersenyum seolah mereka saling mengenal.

Senyuman yang terasa aneh itu seakan mengingatkan Arif pada peristiwa mimpi semalam. Atau mimpi-mimpi sebelumnya.

Ia tiba-tiba takut. Bulu kuduknya merinding.

“Kenapa perempuan serupa itu bisa mirip ya?!” ucapnya antara kedengaran dan tidak.

Arif memalingkan wajahnya.

Bus yang membawanya ke tempat bekerja akhirnya berhenti di halte. Ia pun segera turun. Lalu berjalan di trotoar untuk segera menuju ke kantornya.

Di sana di tempat kerja saat Arif tiba, Wawan telah menyapanya.

“Selamat pagi, bos!”

“Bos, bos apa! Masih pesuruh juga!” sungutnya.

“Idih, kenapa?! Becanda juga. Baru datang tamu bulanan ya?!” ejeknya terkekeh.

Arif menjitak kepala Wawan.

“Emangnya eyke perempuan apakah?” ujar Arif menirukan suara perempuan.

Wawan pun kembali tergelak.

“Noh, kau disuruh menghadap si bos setiba di kantor,” kata Wawan kepada Arif.

Arif kemudian mengetuk pintu ruang kerja atasannya.

Setelahnya ia keluar dengan wajah tampak lesu.

“Kenapa?”

“Seminggu lagi aku harus sudah berangkat ke daerah, Wan. Dipercepat dari jadwal sebelumnya.”

“Kok mendadak. Bukannya sebulan lagi?”

“Gak taulah. Perintahnya begitu. Mana dalam waktu dekat ini aku berencana mau pulang dulu melihat orang tua. Sedangkan di sini juga harus diselesaikan pekerjaannya. Jadi pas berangkat aku gak ada yang nyangkut sedikit pun pekerjaannya.”

Arif menghembuskan napas kasar.

“Sabar kawan. Aku cuma bisa berucap itu.”

Arif kemudian duduk di meja kerjanya.

Jam istirahat pun tiba. Mereka ke kantin untuk makan siang.

Setibanya di sana, mengantri mengambil makanan.

Wawan dan Arif duduk berhadapan. Sambil menikmati makanan, Arif menceritakan mimpinya yang berulang kali pada malam-malam tertentu. Ia khawatir serta cemas, keberangkatannya ke daerah terpencil ada kaitannya dengan mimpi tersebut.

Wawan mendengarkan dengan seksama. Ia menyimak setiap kata perkata yang keluar dari mulut Arif, sahabatnya.

“Jadi, menurutmu gimana, Wan?” tanya Arif setelah selesai bercerita ke Wawan.

“Gimana ya! Hhmm … gimana kalau kau pergi ke paranormal atau dukun saja perihal mimpimu. Tanya langsung saja. Harusnya bagaimana?”

“Dukun? … Itu syirik, Wan. Nggak ah!”

“Ya, elah. Cuma konsultasi doank. Bukan mau melet, atau nyantet atau yang lainnya.”

“Pokoknya nggak! Aku gak suka pergi ke tempat begituan. Lagian aku orangnya logis,” ujar Arif mengelak saran Wawan.

“Terus gimana? Di otakku cuma ada saran itu.”

Arif berdiam. Menelaah kata-kata Wawan dengan seksama.

Ada benernya juga. Ke sana kan cuma konsultasi alias tanya-tanya. Bukan mau nyantet anak orang atau pelet istri orang. Pikirnya.

“Gimana?” tanya Wawan setelah Arif terdiam cukup lama.

“Gak papa nih? Gak dosa?!”

“Dih, dosa. Sempat-sempatnya mikir dosa. Leher Si Nayla kemarin, kau kan yang mencupangnya? Itu dosa gak?”

“Sssttt … jangan buka kartu di sini. Banyak yang dengar nanti,” Arif berbisik.

Wawan menggerakkan jari telunjuknya dan ibu jari bersamaan ke bibir. Seolah-olah seperti resleting yang menutup bibir.

“Oke!”

“Jadi, kita ke dukun atau paranormal gitu!” tanya Arif sekali lagi memastikan.”

“Iya! Kalau kau mau, pulang kerja ini kita ke sana, gimana?”

“Okelah!”

Mereka menyudahi acara makan siangnya dan kembali bekerja seperti biasa.

Sorenya saat pulang jam kantor, Wawan dipanggil atasannya.

Mengetahui hal itu, Arif harap-harap cemas. Akankah mereka jadi pergi ke dukun atau paranormal.

Sebab, jika salah satu diantara mereka dipanggil atasan pada jam-jam sore mau pulang, alamat akan diberi tugas tambahan. Alias lembur.

Kalau demikian, berarti pergi ke dukun atau paranormalnya ditunda donk.

Arif menunggu dengan hati berdebar di meja. Menunggu kabar Wawan keluar dari ruang kerja atasan mereka.

Lanjut membaca
Lanjut membaca