Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tiga Hati Satu Cinta

Tiga Hati Satu Cinta

Hantsweety | Bersambung
Jumlah kata
48.1K
Popular
995
Subscribe
215
Novel / Tiga Hati Satu Cinta
Tiga Hati Satu Cinta

Tiga Hati Satu Cinta

Hantsweety| Bersambung
Jumlah Kata
48.1K
Popular
995
Subscribe
215
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeUrban21+
Apa kamu percaya cinta? Apa itu cinta? Jika kamu mempercayai adanya cinta, maka jangan salahkan siapapun karena kehancuran sudah menunggu di depan sana. (Alvaro)
Bab 1 (Terlambat)

Drrrttt.....

Drrrttt.....

Ponselnya bergetar, Alvaro meraihnya. Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, dia segera menggeser icon berwarna hijau hingga panggilan menjadi tersambung.

"Hallo, Al. Kamu di mana, sebentar lagi acaranya mau di mulai," kata seseorang dari seberang sana.

"Aku udah di bandara, Pa. Sabarlah, sebentar lagi aku sampai."

"Baiklah, Papa tunggu."

Tut!

Panggilan sudah terputus, bertepatan dengan itu sebuah taksi pesanannya sudah tiba. Alvaro dengan cepat menggeret kopernya lalu masuk ke taksi online pesanannya.

"Ke alamat ini ya, Pak."

Alvaro memberitahukan sopir taksi ke mana dia harus megantarkannya, sebuah alamat yang jaraknya lumayan jauh dari bandara.

Alvaro baru saja tiba dari Jepang, setelah menyelesaikan pendidikannya menjadi seorang dokter kejiwaan yang menyangkut dengan segala urusan mental dan hati.

Sudah dari beberapa menit yang lalu taksinya melaju, tapi alangkah kagetnya Alvaro karena dia terjebak macet, membuatnya beberapa kali berdecak kesal.

"Pak, bisa lebih cepat lagi?"

Alvaro dengan sesekali melihat waktu yang tertera di ponselnya. Setiap menit bahkan detik, terasa cepat berlalu.

"Maaf, Mas. Jalanan macet total," ucapnya yang hanya di tanggapi helaan nafas kasar oleh Alvaro.

Kling!

Saat suasana pikirannya kalut, ponselnya berdenting dan dengan cepat Alvaro meraihnya, untuk segera melihat dan membaca dari siapa pesan itu datang.

[Al, sepertinya Papa tidak bisa menunggumu. Doakan saja semuanya lancar.]

Sayang sekali, padahal Alvaro ingin sekali menyaksikan acara sakral yang akan di lakukan oleh sang papa.

Sejenak Alvaro tersenyum, tidak ada pilihan lain dengan berat hati dia mulai mengetik balasan untuk papanya.

[Baiklah, dan maaf sepertinya aku akan datang sedikit terlambat, jalanan macet total, aku juga tidak mungkin berjalan kaki dari sini untuk sampai ke sana.]

Send!

Tidak menunggu lama, Alvaro bisa melihat jika sang papa sudah membaca pesan yang di kirimkannya.

Sedari kecil dulu, Alvaro memang hidup hanya dengan sang papa. Mamanya meninggal saat melahirkannya dulu, dan sang papa dengan telaten mengurusnya.

Brama, adalah sosok ayah sekaligus ibu bagi Alvaro. Masih dia ingat, sekitar satu tahun yang lalu sang papa menghubunginya.

***

Flashback on.

"Al, gimana kabarmu di sana?"

"Aku baik-baik aja, Pa.Tumben, Papa hubungin aku, ada apa?" tanya Alvaro saat ini, karena tidak biasanya Brama menghubunginya di saat jam kerja.

"Al, Papa mau bicara," katanya dari seberang sana.

"Bicaralah, mumpung aku lagi santai."

Alvaro bisa mendengarnya, jika Brama sempat terkekeh di seberang sana, sebelum pada akhirnya helaan nafas kasar bisa Alvaro dengar.

"Al, apa kamu pernah berpikir kalau seandainya kamu punya ibu sambung?"

Degh!

Alvaro jelas kaget, karena ini adalah kali pertamanya sang papa berkata demikian. Tapi semakin lama Alvaro sadar, jika selain mengurusnya pastinya sang papa juga membutuhkan sosok penyemangat di sampingnya.

"Al, maaf. Papa nggak bermaksud," kata Brama yang sepertinya merasa bersalah karena sudah mengungkapkan hal yang tidak seharusnya dia katakan.

"Pa, ngapain minta maaf. Justru aku yang harusnya minta maaf sama Papa, aku nggak pernah mengerti Papa. Aku nggak marah, asalkan dia bisa mengurus Papa dan menerima aku dengan baik."

Brama terdiam, singkat cerita sekitar dua bulan yang lalu Brama kembali menghubunginya, mengatakan jika sang papa benar-benar akan membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius, dan Alvaro senang mendengarnya.

Flashback of.

***

Huftt!

Alvaro menghela nafasnya sejenak, melihat gedung di depannya yang ramai dengan beberapa orang yang sepertinya ikut memeriahkan pesta yang sengaja di gelar oleh sang papa.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam lamanya, terus bertarung dengan kemacetan yang panjang di setiap jalanan. Kini, Alvaro sudah sampai di sebuah gedung yang sengaja di sewa oleh sang papa.

Saat Alvaro masuk, hampir semua tatapan melihat ke arahnya. Alvaro terus berjalan menuju pelaminan yang ada di depan sana. Tersenyum saat melihat seseorang berdiri dengan gagah di atas sana.

"Papa, selamat," kata Alvaro yang langsung menghambur ke dalam pelukan sang papa.

Setelah puas memeluknya, Alvaro perlahan merenggangkan pelukannya. Tatapan mereka bertemu, dan Alvaro bisa melihat pancaran bahagia dari wajah sang papa.

"Di mana Mama baruku?" tanyanya, saat menyadari jika sedari tadi sang papa duduk seorang diri di kursi pelaminan.

"Sesi foto sebentar lagi di mulai, Mama sedang berganti pakaian. Duduklah dulu."

Alvaro tidak menolaknya, dengan senang hati dia duduk tidak jauh dari posisi Brama, dengan sesekali mereka berbincang sambil menunggu seseorang kembali.

"Nah itu Mama."

Saat berbincang, tiba-tiba sang papa menunjuk seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.

Sejenak Alvaro tertegun, dari kejauhan dia melihat wajah yang tidak asing. Tapi dengan cepat Alvaro menggelengkan kepalanya, merasa tidak mungkin jika itu benar-benar dia.

"Awas hati-hati, Bu. Ayo Pak, sekarang giliran Bapak," kata seseorang yang sengaja bertugas yang bersangkutan dengan busana.

Setelah melihat sang istri duduk di sebelahnya, Brama tersenyum dengan tatapannya melihat bergantian ke arah Alvaro dan istrinya.

"Sayang, ini anakku yang selalu aku ceritakan. Dan Al, ini Karina, Mamamu. Kalian ngobrol aja dulu, Papa pergi sebentar ya."

Brama pergi dengan kedua petugas yang akan menggantikan pakaiannya, sementara Alvaro sudah menatap tajam ke arah wanita yang baru saja di kenalkan oleh sang papa.

"Jadi ini alasan kamu memutuskan sepihak hubungan yang sudah terjalin lama ini."

Ckk!

Alvaro berdecak, dia memalingkan wajahnya ke arah lain, Alvaro jelas merasa kecewa.

"Kenapa harus dengan Papaku, mungkin aku bisa terima kalau kamu bersanding dengan pria lain, tapi tidak dengan Papaku."

Karina menunduk, hal itu semakin membuat Alvaro muak, apalagi air matanya sudah menggenag di pelupuk matanya.

"Harusnya aku sadar lebih awal, kalau hubungan jarak jauh itu tidak sehat."

Lagi dan lagi, Alvaro seolah sengaja mengeluarkan rasa kesalnya, dan Karina hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Al, tidak seperti itu. Maafkan aku, aku sungguh tidak tahu kalau Mas Brama adalah pappamu."

"Omong kosong macam apa itu, kamu pikir aku percaya. Kalau nggak sama Papaku, mungkin kamu juga sudah berhubungan dengan pria lain. Murahan sekali," katanya sinis.

"Al, cukup! Kalau kamu nggak tahu kebenarannya, lebih baik kamu diam."

Tepat setelah mengatakan hal itu, Alvaro bisa melihat jika Brama sudah kembali dengan raut wajah bersinarnya.

"Apa kalian sudah berkenalan?" tanya Brama kepada keduanya.

"Sudah, walaupun aku merasa sedikit canggung. Tapi Papa tenang aja, aku bahagia melihat Papa bahagia."

Alvaro tersenyum getir, bohong sekali jika keadaan hatinya baik-baik saja.

Alvaro bangkit berdiri, setelah mendengar pembawa acara mengintruksikan jika sesi foto bersama akan segera di mulai.

"Al, mau ke mana?" tanya Brama membuat tatapan Alvaro langsung mengarah ke arahnya.

"Aku mau ke toilet sebentar."

Alvaro berlalu, pergi meninggalkan kedua mempelai yang sedang berbahagia di atas pelaminan sana.

Lanjut membaca
Lanjut membaca