Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Billionaire’s Masquerade.

The Billionaire’s Masquerade.

QueenAleia | Bersambung
Jumlah kata
213.5K
Popular
840
Subscribe
98
Novel / The Billionaire’s Masquerade.
The Billionaire’s Masquerade.

The Billionaire’s Masquerade.

QueenAleia| Bersambung
Jumlah Kata
213.5K
Popular
840
Subscribe
98
Sinopsis
PerkotaanSekolahMiliarderIdentitas TersembunyiCinta Sekolah
"Heh, Miskin! Ambil uang receh ini. Lumayan buat beli harga dirimu." Koin itu berdenting nyaring di lantai kantin, bergulir tepat ke depan sepatu butut Julian. Satu kantin meledak dalam tawa. Kevin Wijaya menatapnya dengan jijik, tanpa tahu bahwa lelaki berkacamata tebal yang sedang menunduk di depannya itu memiliki kekayaan seratus kali lipat dari gabungan seluruh aset perusahaan ayahnya. Dalam hati, Julian berhitung. Dua detik. Cukup dua detik untuk menelepon asistenku, membeli gedung sekolah ini, dan membuat perusahaan ayahmu bangkrut detik ini juga. Tapi Julian menahannya. Dia mengepalkan tangan di balik saku celana lusuhnya, siap menelan hinaan itu lagi demi janjinya pada mendiang sang Ibu. Tiba-tiba, sebuah tangan halus menepuk bahunya. "Simpan uangmu, Kevin." Suara dingin itu membelah keramaian. Alea Pramesti, Ketua OSIS yang dikenal bermulut tajam, berdiri di sana. Gadis itu menatap Kevin tanpa rasa takut, lalu melirik Julian sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu akan butuh uang receh itu saat mobil ayahmu disita bank minggu depan." Jantung Julian berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena rasa penasaran yang menyengat. Apakah gadis ini hanya membela kaum lemah? Atau... apakah dia tahu siapa Julian sebenarnya? Ini adalah kisah tentang seorang Raja yang menyamar menjadi Bidak, dan Ratu yang memegang kunci rahasianya.
1. Pangeran yang Menukar Mahkotanya

Aroma kulit jok mobil Italia yang khas memenuhi indra penciuman Julian Argani. Hening. Senyap. Kaca anti-peluru Rolls Royce Phantom hitam itu memisahkan dirinya dari hiruk-pikuk kemacetan Jakarta yang brutal di luar sana. Di dalam sini, suhu udara tertahan stabil di angka 18 derajat celcius, sejuk dan menenangkan.

Namun, ketenangan itu tidak akan bertahan lama.

"Tuan Muda, kita sudah sampai di drop point," suara Raka, asisten pribadi sekaligus bodyguard-nya, terdengar ragu dari kursi depan. Pria berbadan tegap itu melirik lewat kaca spion tengah dengan tatapan tidak rela. "Anda yakin dengan ini? Maksud saya... Tuan bisa saja membeli sekolahnya, memecat semua guru yang menyebalkan, dan lulus dengan nilai ijazah yang bisa Tuan tulis sendiri nominalnya."

Julian yang sedang duduk di kursi belakang dengan setelan jas Armani seharga satu unit motor sport, hanya tersenyum tipis. Dia menutup laptop MacBook-nya yang menampilkan grafik saham Argani Group yang sedang hijau-hijaunya.

"Nggak seru, Ka," jawab Julian santai sambil melonggarkan dasi sutranya. "Kalau hidup terlalu mudah, gue nggak akan belajar apa-apa. Kakek juga setuju sama ide ini."

"Tapi Tuan Besar setuju karena beliau pikir Tuan cuma bercanda..." gumam Raka pelan, nyaris tak terdengar.

Julian mengabaikan protes asistennya. Dia menekan tombol di samping pintu. Tirai jendela mobil terbuka sedikit, menampilkan sebuah gang sempit yang becek dan bau got, berjarak sekitar satu kilometer dari gerbang SMA Pelita Bangsa.

Ini adalah perbatasan dunia.

"Oke, waktunya berubah," gumam Julian.

Dengan gerakan terlatih, Julian mulai melucuti identitasnya. Jas mahalnya dilepas dan dilipat rapi, diganti dengan kemeja putih seragam SMA yang sengaja dibeli di pasar loak—kainnya agak kasar dan warnanya sudah tidak putih bersih lagi, cenderung kekuningan. Jam tangan Patek Philippe senilai dua miliar rupiah di pergelangan tangannya dilepas, diganti dengan jam karet hitam seharga lima puluh ribu yang jarum detiknya kadang macet.

Lalu, bagian terpenting: Rambut dan Wajah.

Julian mengambil satu saset gel rambut murah yang dia beli di warung. Baunya menyengat seperti parfum jeruk nipis sintetik. Tanpa ragu, dia mengusapkan gel lengket itu ke rambutnya yang berpotongan undercut rapi. Dia menyisirnya ke depan, membuatnya lepek, menutupi dahi, dan sengaja dibuat berantakan di bagian belakang. Aura "Tuan Muda Tampan"-nya luntur seketika, berganti menjadi aura "Cowok Jarang Mandi".

Terakhir, dia memakai item pamungkas: Kacamata berbingkai hitam tebal yang dia dapatkan dari toko kacamata tua. Kacanya tidak minus, tapi tebal dan buram karena debu, membuat mata tajam Julian terlihat sayu dan bodoh.

Julian menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Sosok "Julian Argani" sudah hilang. Yang ada di sana sekarang hanyalah "Ian".

"Gimana, Ka?" tanya Julian sambil nyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya—satu-satunya hal yang masih terlihat 'mahal' dari dirinya.

Raka menghela napas panjang, terlihat ingin menangis. "Tuan terlihat seperti... maaf, gelandangan yang baru saja dirampok. Kalau Ibu mendiang masih ada, beliau pasti akan memecat saya karena membiarkan Tuan seperti ini."

"Sempurna." Julian mengambil tas ransel kanvas yang salah satu talinya sudah disambung peniti. "Jemput gue di titik ini jam empat sore. Dan ingat, kalau ada telepon darurat dari kantor, sambungkan ke earpiece gue cuma kalau perusahaan mau bangkrut. Kalau cuma rugi satu-dua miliar, urus sendiri."

"Siap, Tuan Muda. Hati-hati. Saya sudah menyusupkan dua pengawal yang menyamar jadi tukang cilok di depan gerbang sekolah, jaga-jaga kalau—"

"Berlebihan, Ka. Gue bisa jaga diri."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Julian membuka pintu mobil. Udara panas Jakarta yang bercampur debu knalpot langsung menampar wajahnya. Dia melangkah keluar, sepatu kets-nya yang sengaja dikotori lumpur mendarat di aspal retak.

Pintu Rolls Royce tertutup. Mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan Julian sendirian di pinggir jalan.

Dia menarik napas panjang, menghirup aroma kebebasan... dan aroma selokan.

"Selamat datang di neraka, Ian," bisiknya pada diri sendiri.

SMA Pelita Bangsa bukan sekadar sekolah. Itu adalah catwalk.

Sekolah swasta elit di pusat kota ini adalah tempat di mana anak-anak orang paling kaya di negeri ini berkumpul. Parkiran sekolahnya lebih mirip showroom mobil mewah daripada parkiran pelajar. Ada Pajero, Alphard, bahkan beberapa Rubicon berjejer rapi. Sopir-sopir berseragam safari berdiri merokok di pos satpam, sementara majikan kecil mereka berjalan masuk dengan seragam yang dimodifikasi desainer dan tas branded yang harganya lebih mahal dari gaji guru honorer setahun.

Julian berjalan kaki memasuki gerbang megah itu dengan langkah diseret. Peluh sudah membasahi punggungnya. Jarak satu kilometer ternyata lumayan juga kalau ditempuh dengan sepatu yang solnya tipis begini.

Tatapan mata langsung tertuju padanya. Bukan tatapan kagum seperti yang biasa dia dapatkan di pesta gala bisnis, tapi tatapan jijik. Seperti melihat kecoa yang nyasar ke piring steak wagyu.

"Itu siapa, sih? Tukang kebun baru?" bisik seorang siswi yang sedang membedaki wajahnya dengan cushion Dior.

"Anak beasiswa kali. Denger-denger tahun ini Yayasan nerima kuota murid miskin buat pencitraan pajak," sahut temannya sambil menutup hidung saat Julian lewat.

Julian hanya menunduk, menyembunyikan seringai di balik poni lepeknya. Bagus. Hina terus. Semakin kalian jijik, semakin aman penyamaran gue.

Dia berjalan menyusuri koridor marmer sekolah itu. Matanya—di balik kacamata tebal—merekam semuanya. Gedung sayap kiri butuh cat ulang. AC di koridor utama kurang dingin. Dan... kenapa ada sampah plastik di dekat pot bunga? Julian mencatat dalam hati untuk memotong bonus cleaning service bulan ini lewat memo anonim nanti malam.

Bruk!

Lamunan Julian buyar saat bahunya ditabrak keras dari depan. Tubuhnya terhuyung ke belakang, tapi refleks bela diri Krav Maga yang sudah dia pelajari sejak umur 6 tahun membuatnya otomatis menyeimbangkan diri. Kakinya membuat kuda-kuda kokoh, sehingga dia tidak jatuh terjengkang.

Tapi, lawan bicaranya tidak senang dengan itu.

"Heh! Mata lo pajangan?!"

Suara berat dan arogan itu menggema di koridor. Julian mendongak sedikit. Di depannya berdiri seorang siswa bertubuh tinggi, seragam dikeluarkan, dengan rambut pompadour yang licin. Di pergelangan tangannya melingkar jam tangan Rolex Submariner emas.

Julian mengenalnya. Sangat mengenalnya.

Kevin Wijaya. Anak dari Direktur Keuangan Argani Group. Secara teknis, ayah Kevin adalah bawahan Julian. Di kantor, ayah Kevin selalu membungkuk 90 derajat kalau berpapasan dengan Julian. Tapi di sini? Anaknya bertingkah seperti Raja Firaun.

Minuman Iced Americano di tangan Kevin tumpah sedikit mengenai sepatunya yang mengkilap.

"Ma... maaf, Kak. Saya nggak liat," cicit Julian, mengubah suaranya menjadi agak sengau dan bergetar. Dia membungkukkan badan, memasang mode 'pecundang'.

"Maaf? Lo pikir maaf lo bisa bikin sepatu gue bersih lagi?" Kevin maju selangkah, mendorong dada Julian dengan telunjuknya. "Lo tau ini sepatu merk apa? Balenciaga, bego! Harganya lebih mahal dari nyawa lo!"

Kerumunan siswa mulai terbentuk. Bukannya melerai, mereka malah mengeluarkan HP. Konten. Di sekolah ini, bullying adalah tontonan gratis pengganti bioskop.

"Ganti rugi," desis Kevin. "Jilat sepatu gue sampai bersih. Sekarang."

Hening.

Darah Julian mendidih. Dia bisa merasakan otot tangannya menegang. Sangat mudah. Dia hanya perlu satu gerakan sederhana: memelintir pergelangan tangan Kevin, menendang tempurung lututnya, dan Kevin akan menangis memanggil ibunya dalam hitungan detik. Atau opsi kedua: mengambil HP-nya, menelepon HRD pusat, dan memecat ayah Kevin sekarang juga.

Tahan, Julian. Tahan. Misi lo di sini buat cari temen tulus, bukan buat pamer kuasa.

Julian menarik napas, lalu perlahan mulai berlutut. Dia akan memainkan perannya sampai akhir. Dia akan membiarkan Kevin merasa menang hari ini.

Namun, sebelum lutut Julian menyentuh lantai dingin koridor...

"BERHENTI!"

Suara itu bukan teriakan histeris, tapi sebuah perintah. Tegas, dingin, dan tajam seperti silet.

Kerumunan siswa langsung terbelah dua, memberikan jalan seperti Laut Merah. Seorang gadis melangkah masuk ke dalam lingkaran konflik.

Julian mendongak. Waktu seolah melambat.

Gadis itu memiliki rambut hitam panjang yang diikat satu dengan rapi. Seragamnya tidak dimodifikasi aneh-aneh, roknya panjang sopan, dasinya terpasang sempurna. Di lengan kirinya melingkar ban lengan berwarna merah bertuliskan: KETUA OSIS.

Alea Pramesti.

Wajahnya cantik, tapi ekspresinya sedingin es kutub utara. Dia tidak menatap Julian yang nyaris berlutut, matanya terkunci lurus pada Kevin.

"Kevin Wijaya. Pasal 14 Tata Tertib Sekolah: Dilarang melakukan intimidasi fisik atau verbal terhadap sesama siswa. Poin pelanggaran: 50," ucap Alea datar, seolah sedang membacakan menu makanan.

Kevin mendecih, memutar bola matanya malas. "Aduh, Ibu Ratu dateng. Minggir deh, Al. Gue lagi ngajarin sopan santun sama anak baru gembel ini. Dia numpahin kopi gue."

Alea melirik sekilas ke lantai. Tidak ada tumpahan kopi di sana, hanya sedikit tetesan di sepatu Kevin.

"CCTV koridor C-4 aktif 24 jam," kata Alea tenang sambil menunjuk kamera di sudut plafon. "Gue barusan liat dari ruang monitor. Lo yang jalan sambil main HP, lo yang nabrak dia. Secara teknis, lo yang salah. Mau gue laporin ke Kesiswaan biar skorsing lo ditambah? Minggu lalu lo baru aja mecahin kaca lab kimia, kan?"

Wajah Kevin memerah padam. Dia tahu ancaman Alea bukan main-main. Ketua OSIS ini satu-satunya murid yang tidak bisa dibeli dengan uang ayahnya.

"Cih. Awas lo ya," Kevin menunjuk wajah Julian, lalu beralih menatap Alea dengan tatapan berbisa. "Dan lo, Alea. Jangan mentang-mentang lo pinter, lo bisa ngatur gue. Bokap gue donatur terbesar—"

"Donatur terbesar ketiga," potong Alea cepat. "Dan itu nggak bikin lo kebal hukum. Bubar! Atau gue catat nama kalian semua yang nonton di buku pelanggaran!"

Ancaman itu ampuh. Kerumunan langsung bubar dalam sekejap. Kevin menendang tong sampah di dekatnya sebagai pelampiasan kekesalan, lalu pergi diikuti dua antek-anteknya yang setia mengekor.

Kini, tinggal mereka berdua di koridor itu.

Julian berdiri perlahan, membersihkan debu imajiner di celananya. Dia menyiapkan akting terbaiknya lagi. Wajah memelas, suara gemetar.

"Te... terima kasih, Kak. Kalau nggak ada Kakak, saya pasti udah—"

"Nggak usah akting."

Julian terdiam. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Alea. Gadis itu akhirnya menoleh padanya.

Mata Alea menelusuri penampilan Julian dari atas ke bawah. Tatapannya bukan jijik, tapi... analitis? Seolah dia sedang men-scan barcode. Tatapan itu berhenti cukup lama di tangan Julian, lalu beralih ke wajahnya.

"Lain kali, kalau mau pura-pura jadi orang lemah," Alea melangkah maju, mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Julian hingga Julian bisa mencium aroma sampo stroberi yang manis, kontras dengan sikap dinginnya, "Pastikan jam tangan lima puluh ribuan lo itu disetel sesuai waktu Indonesia. Jam lo mati di angka jam 9 pagi waktu London."

DEG.

Jantung Julian berhenti berdetak sedetik.

Dia melirik jam karet murah di tangannya. Sial. Dia lupa menyetel ulang jam itu setelah membelinya dari kolektor barang antik di Eropa minggu lalu.

Alea menarik wajahnya menjauh, lalu menatap mata Julian tajam di balik kacamata tebal yang buram itu. Ada seulas senyum tipis—sangat tipis dan penuh arti—di bibirnya.

"Selamat datang di SMA Pelita, Murid Baru," tekan Alea pada dua kata terakhir.

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu berbalik badan, rambut kuncir kudanya berayun seirama dengan langkah kakinya yang tegas meninggalkan Julian yang masih mematung.

Julian berdiri di sana, di tengah koridor yang sepi. Angin berhembus pelan.

Perlahan, senyum miring muncul di wajah Julian. Senyum "Tuan Muda"-nya keluar tanpa sadar. Dia membetulkan letak kacamatanya.

"Menarik," bisik Julian. "Sangat menarik."

Tampaknya, sekolah ini tidak akan semembosankan yang dia bayangkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca