Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
UDIN dan pelet bulu perindu

UDIN dan pelet bulu perindu

kanzawira | Bersambung
Jumlah kata
90.6K
Popular
3.7K
Subscribe
391
Novel / UDIN dan pelet bulu perindu
UDIN dan pelet bulu perindu

UDIN dan pelet bulu perindu

kanzawira| Bersambung
Jumlah Kata
90.6K
Popular
3.7K
Subscribe
391
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Urban
Area khusus 21+. Cerita panas dan penuh Konflik. UDIN adalah seorang pemuda lugu dari sebuah kampung terpencil yang harus berjuang untuk menghidupi kakek dan nenek nya. Tanpa keahlian dan dengan wajah yang pas-pasan, udin hanya bekerja serabutan menjadi kuli buruh panggul di sebuah pasar induk. hingga suatu ketika, saat Udin sudah merasa muak dengan kemiskinan. Atas saran dan bujukan dari temannya, akhirnya ia memilih jalan instan untuk merubah hidupnya dengan cara menganut ajian pelet bulu perindu.
Sisa sayur di balik punggung

Pasar Induk Ciroyom di jam tiga pagi bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Bau busuk sampah sayuran yang membusuk bercampur dengan aroma amis darah ayam dan keringat manusia yang menguap di udara dingin. Di tengah hiruk pikuk truk truk besar yang bongkar muat, seorang pria muda tampak membungkuk dalam, menopang dua karung besar berisi bawang merah di pundaknya.

Pria itu adalah Udin. Usianya baru dua puluh lima tahun, namun garis garis di wajahnya bercerita tentang kelelahan yang jauh melampaui usianya. Kulitnya gelap terbakar matahari, badannya kurus namun otot otot lengannya menonjol seperti akar pohon tua akibat kerja paksa setiap hari.

"Woi, Din! Cepat sedikit! Truk di belakang sudah antre!" teriak seorang mandor berperut buncit sambil mengisap rokok kretek.

Udin tidak menjawab. Ia hanya mengatur napasnya yang tersengal, menguatkan tumpuan kakinya yang gemetar di atas lantai pasar yang licin oleh sisa air hujan dan lendir sayuran. Bagi Udin, setiap langkah adalah rupiah, dan setiap rupiah adalah napas bagi kakek dan neneknya di rumah.

Lahir dari rahim kemiskinan, hidup Udin adalah sebuah perjalanan panjang tanpa kemenangan. Ingatannya tentang kebahagiaan sangatlah samar, mungkin sudah terkubur sejak ia berusia enam tahun. Saat itu, ayahnya pergi begitu saja, memilih membangun hidup baru dengan wanita lain di kota seberang, meninggalkan Udin tanpa satu kata pamit pun. Tak lama berselang, ibunya, wanita yang ia ingat aroma tubuhnya seperti sabun murah, memutuskan menjadi TKW di Malaysia.

"Udin, Ibu pergi cari uang ya, biar Udin bisa beli mainan dan sekolah tinggi," ucap ibunya kala itu sambil mengusap air mata.

Namun, janji itu adalah dusta paling indah yang pernah didengar Udin. Sebulan berlalu menjadi setahun, setahun menjadi sewindu, dan kini, saat Udin sudah berkepala dua, kabar itu tak pernah datang. Tidak ada surat, tidak ada kiriman uang, apalagi kepulangan. Ibunya raib ditelan megahnya gedung gedung Kuala Lumpur, meninggalkan Udin yang tumbuh besar dengan rasa lapar dan rindu yang perlahan berubah menjadi benci.

Udin dibesarkan oleh Kakek dan Neneknya di sebuah gubuk reyot di pinggiran kampung yang lebih mirip kandang ternak. Kakeknya, seorang buruh tani serabutan yang kini sudah bungkuk dimakan usia, dan Neneknya yang matanya sudah mulai rabun akibat terlalu sering menjahit pakaian tetangga dengan upah seribu perak. Kemiskinan yang mencekik membuat Udin hanya mampu menyelesaikan sekolah hingga jenjang SMP.

Ijazah SMP yang kusam itu tak bisa membawanya ke mana mana. Di dunia yang kejam ini, ijazah tersebut tak lebih dari selembar kertas pembungkus kacang. Akhirnya, pasar inilah yang menerimanya. Pasar yang menjadi saksi bisu bagaimana Udin menghabiskan masa mudanya sebagai buruh panggul.

Setelah tiga jam bekerja tanpa henti, Udin duduk di pinggir selokan besar pasar. Ia menghitung upahnya hari ini. Dua puluh lima ribu rupiah. Uang itu ia lipat rapi dan dimasukkan ke saku celananya yang berlubang. Matanya kemudian menyapu tumpukan sayuran di sudut los yang ditinggalkan pedagang. Ada sawi yang sudah kuning, wortel yang patah, dan beberapa butir tomat yang mulai lembek.

Dengan gerakan yang sudah biasa ia lakukan, Udin memunguti sisa sisa itu. Ia memilah mana yang masih layak untuk dimasak neneknya di rumah.

"Lumayan untuk tumis nanti sore," gumamnya pelan. Baginya, rasa malu sudah lama mati. Rasa lapar jauh lebih menyakitkan daripada harga diri yang diinjak-injak oleh tatapan jijik orang-orang yang lewat.

Perjalanan pulang ke rumah memerlukan waktu satu jam dengan berjalan kaki. Saat melewati deretan rumah rumah besar dengan pagar besi tinggi dan mobil mengkilap di garasinya, Udin sering berhenti sejenak. Ia melihat bayangannya sendiri di kaca mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan. Wajahnya biasa saja, bahkan cenderung kusam karena debu pasar. Pakaiannya lusuh, baunya menyengat.

"Sampai kapan, Din?" bisiknya pada diri sendiri.

Pernah suatu kali, ia mencoba melamar pekerjaan yang lebih baik di sebuah toko pakaian di kota. Namun, manajer toko itu hanya melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tertawa kecil.

"Maaf ya, penampilan kamu kurang mendukung. Kita cari yang... yah, yang lebih enak dilihat dan minimal lulusan SMA," ucap manajer itu sambil menutup pintu kaca.

Kata kata "kurang mendukung" itu terngiang seperti kutukan di telinganya. Di dunia ini, jika kau miskin dan tidak tampan, kau dianggap tidak ada.

Sesampainya di gubuk, Udin disambut oleh batuk kering kakeknya yang terdengar dari dalam. Ia segera menuju dapur darurat, meletakkan sayuran pungutan tadi di atas meja kayu yang sudah lapuk. Neneknya datang menghampiri dengan langkah terseret.

"Sudah pulang, Din? Itu... kakekmu tadi minta minum, tapi air di sumur kering lagi," kata Nenek dengan suara parau.

Udin menghela napas panjang. Ia melihat neneknya yang sudah begitu renta, mengenakan kebaya yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu. Hatinya perih. Ia ingin memberikan makanan enak, pakaian bagus, dan obat yang layak untuk kakeknya. Namun, dengan tenaga yang hanya dihargai dua puluh lima ribu per hari, itu semua hanyalah mimpi di siang bolong.

Malam itu, saat duduk di ambang pintu melihat kegelapan malam, pikiran gelap mulai merayapi benak Udin. Ia teringat cerita salah satu rekan buruh panggul di pasar bernama Kang Jaja. Jaja yang tadinya sama miskinnya dengan Udin, tiba tiba menghilang selama seminggu dan kembali dengan dandanan modis, membawa banyak uang, dan kabarnya kini menjadi simpanan seorang janda kaya di kota.

"Main halus, Din. Dunia ini jahat, kalau kita cuma mengandalkan otot, kita cuma jadi keset," kata Jaja waktu itu sambil menunjukkan sebuah bungkusan kecil berisi helai bulu hitam yang aneh.

Udin awalnya tidak percaya pada hal hal klenik. Namun, melihat perutnya yang sering keroncongan, melihat kakeknya yang terus batuk, dan mengingat ibunya yang hilang entah ke mana, logika Udin mulai goyah. Keyakinannya pada kerja keras perlahan runtuh.

Ia mengepalkan tangannya. Rasa amarah pada nasib mulai membakar sisa sisa nuraninya. Ia muak menjadi penonton di kehidupan orang lain yang penuh warna, sementara hidupnya sendiri hanya berupa gradasi abu abu dan hitam.

"Kalau Tuhan tidak mau mengubah nasibku, mungkin setan punya caranya sendiri," batin Udin. Matanya menatap tajam ke arah hutan di balik bukit kampungnya, tempat yang konon dihuni oleh orang orang "pintar" yang bisa memberikan dunia dalam sekejap, asal berani membayar harganya.

Udin tahu, ia sudah sampai di titik nadir. Tidak ada lagi yang bisa hilang darinya selain nyawanya sendiri. Dan di usianya yang ke 25, Udin bersumpah, ia tidak akan membiarkan dirinya menua sebagai buruh panggul yang memunguti sayuran busuk. Ia ingin menjadi pemangsa, bukan lagi mangsa.

Lanjut membaca
Lanjut membaca