Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Pewaris Baru

Sang Pewaris Baru

Arias Binerkah | Bersambung
Jumlah kata
73.0K
Popular
291
Subscribe
131
Novel / Sang Pewaris Baru
Sang Pewaris Baru

Sang Pewaris Baru

Arias Binerkah| Bersambung
Jumlah Kata
73.0K
Popular
291
Subscribe
131
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSpiritualMisteriZero To Hero
Arga Pamungkas, pemuda miskin tanpa masa depan yang jelas. Tiba tiba hidupnya berubah, ketika ia tanpa sengaja mendapat kekuatan gaib dari topeng kuno Mataram. Kini ia bisa melihat dunia makhluk halus dan memiliki kekuatan yang kian sulit dikendalikan. Arga menjadi buruan mafia supranatural yang ingin memanfaatkan kekuatan gaib topeng itu untuk membangkitkan kerajaan gaib. Bersama Elena, peneliti asing yang diam diam mengejar organisasi tersebut. Arga harus bertahan dalam perang tersembunyi di balik kota wisata, sambil melawan ancaman terbesar: roh Tishna yang perlahan mengambil alih tubuhnya...
Bab. 1.

Yogyakarta, akhir tahun 2025.

Langit sore dilapisi warna jingga pekat yang melebur menjadi ungu di ujung horizon. Udara lembap, namun angin semilir membawa aroma aspal panas bercampur bakaran sate dari pedagang yang mulai menyalakan arang.

Di trotoar Malioboro yang mulai meredup, seorang pemuda memarkir motor bututnya di antara deretan becak yang bersiap pulang. Jaket ojek on line nya sudah lusuh, helm nya retak di samping, tapi tangki bensinnya masih cukup.

Pemuda itu bernama Arga Pamungkas, dua puluh tiga tahun, bungsu dari empat bersaudara. Namun kini ia hanya tinggal dengan ibunya. Ayah dan kakak kakaknya meninggal saat gempa besar tahun 2006. Mereka berdua kini tinggal di sebuah rumah kecil di daerah Kota Gede. Arga membantu ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci setrika. Dan sisa waktu nya ia habiskan di jalan sebagai pengemudi ojek on line.

“Kalau dapat order satu lagi, lumayan nambah uang makan Ibu,” gumamnya sambil merapikan jaket hijau yang menempel di tubuhnya.

Sesaat kemudian ponsel nya bergetar.

Order masuk: Pemandu Turis.. Elena W. Lokasi: Hotel Sosrowijayan.

Ia mengangkat alis.

“Pemandu turis? Biasanya cerewet… tapi bayaran lumayan.”

Ia mengusap rambutnya yang berantakan. “Yowes lah, gas.”

Ia segera menyalakan motor, dan membawanya membelah padatnya jalan kota. Beberapa menit kemudian ia tiba di Gang Sosrowijayan... Lalu ia sudah sampai di titik jemput.

Sebuah hotel kecil di Sosrowijayan tampak tenang. Lampu depannya redup, menyinari gang sempit yang penuh aroma rokok dan suara gitar dari pengamen hostel sebelah.

Di depan pintu hotel berdiri seorang perempuan berambut pirang gelombang. Rambutnya memantulkan cahaya lampu seperti emas kusam. Ia memegang peta kertas besar sambil mengerutkan kening seolah sedang memecahkan kode rahasia. Penampilannya sederhana: kemeja putih longgar, celana kargo coklat, dan tatapan yang terlalu fokus untuk ukuran turis biasa.

Saat melihat Arga, ia mengangkat wajah dan tersenyum.

“Excuse me, are you Arga?”

(Permisi, Apakah kamu Arga?)

“Iya, Mbak… eh, i.. yes. I’m Arga,” jawabnya gugup.

Perempuan itu tersenyum ramah. “Great. I’m Elena. I need a guide. Someone local, someone who knows the stories. Not just the tourist ones.”

(Bagus. Aku Elena. Aku butuh pemandu. seseorang lokal, seseorang yang tahu cerita cerita. Bukan hanya cerita untuk turis).

Arga menelan ludah. Ia memerhatikannya lebih saksama. Nada bicara perempuan ini tidak seperti turis yang sekadar mencari tempat instagramable. Matanya tajam. Fokus. Seolah ia tahu apa yang sedang dicarinya bahkan sebelum Arga mengantarnya.

“Stories? Yang mistis mistis?” tanya Arga ragu.

“Yes. Myth, history, old beliefs… Yogyakarta has many layers, right?” Ia menatap Arga seakan menilai apakah ia benar orang yang tepat.

(Ya. Mitos, sejarah, kepercayaan lama.. Yogyakarta punya banyak lapisan. Bukan?)

Arga mengangguk. “Iya, Mbak. Kalau soal cerita… di Jogja nggak bakal kehabisan... Banyak sekali. Tinggal pilih mau yang bikin merinding, penasaran, atau yang bikin nggak bisa tidur.

Elena tertawa kecil. “Perfect. Let’s go.” (Sempurna, Ayo pergi).

“Tonight, I want to see one of those layers.”

(Malam Ini,aku ingin melihat salah satu dari lapisan itu)

Arga menelan ludah lagi. “Oke… kita mulai dari yang ringan dulu aja ya.”

***

Malioboro menjelang Maghrib...

Keramaian Malioboro menyambut mereka seperti gelombang suara yang tak pernah berhenti. Musik angklung bercampur aroma sate, pedagang batik berteriak teriak menawarkan dagangannya , dan ratusan langkah kaki.

Lampu lampu toko memantulkan bayang bayang panjang di aspal...

Elena berjalan pelan sambil mengambil foto. Terkadang ia berhenti mendadak untuk memotret detail kecil yang bahkan tak disadari turis lain: ukiran di tiang lampu, wajah penjual gelang, atau bayangan becak yang memanjang.

“You like it here?” tanya Arga sambil menatap Elena.

“Very much,” jawab Elena. “This city feels… layered. Like it has two or three realities living together.”

(Sangat suka, kota ini terasa berlapis seperti ada dua atau tiga realitas yang hidup berdampingan)

Arga hampir tersedak. “Kok bisa begitu?”

Elena hanya tersenyum samar. “Just a feeling.”(Cuma perasaaan)

Mereka lalu berhenti di penjual wedang ronde. Uap panas naik dari mangkuk besar, membawa aroma jahe dan gula merah.

“Mau coba?” tawar Arga. “Ini enak. Khas sini.”

Elena mencicipinya, lalu matanya berbinar.

“This tastes like ginger and… mystery.” (Rasanya seperti jahe dan..misteri)

Arga terdiam. “Wedang ronde rasa misteri… baru ini saya dengar.”

Elena tertawa pendek, tapi tatapannya cepat kembali tajam.

“Tell me, Arga… pernah dengar tentang topeng topeng tua dari era Mataram?”

Arga mengernyit. “Ehm… pernah sih. Tapi aku nggak menghiraukan.. nggak minat mbak...”

“I want to see one.” Ia mengeluarkan peta, lalu telunjuk nya menunjuk lingkaran merah tebal.

(Aku ingin melihat salah satunya).

“Museum Sonobudoyo. Storage room. Not display room.” (Museum Sonobudoyo . Ruang penyimpanan. Bukan ruang pameran)

Arga membelalak. “Lho? Ruang penyimpanan kan nggak sembarang orang boleh masuk.”

“I already arranged a special permit.” Ia menunjukkan email dari kurator musium.

(Aku sudah mengurus izin khusus)

Arga terkesiap.“Turis opo iki… kok serius amat.” Gumam nya di dalam hati.

“Baik. Kita berangkat. Jam delapan museum tutup.” Ucap Arga selanjutnya lalu segera melangkah..

🌑🌑🌑

Malam turun perlahan saat mereka mengendarai motor menuju Sonobudoyo. Jalanan mulai lengang. Lampu kota memantul di kaca helm Arga, sementara angin malam membawa aroma bunga kamboja dari pekarangan perkarangan rumah tua.

Beberapa menit kemudian, motor Arga sudah terparkir rapi di depan Museum Sonobudoyo.

Museum tampak hampir kosong. Hanya ada satu petugas keamanan yang sedang menguap lebar di pos jaga. Elena dan Arga diarahkan ke pintu samping menuju bagian belakang museum.

Lorong lorong di sana lebih gelap dan lebih sunyi. Bau kayu tua, debu, dan sesuatu yang mirip kapur barus mengisi udara. Setiap langkah menggema pelan.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu mereka. Pak Bambang Priyono, kurator museum.

“Selamat malam,” sapanya pelan. “Ini ruang koleksi yang tidak dipamerkan,” katanya hati hati. “Tolong jangan menyentuh apa pun kecuali yang diperlukan. Beberapa benda… sensitif.”

Arga menoleh ke Elena. “Sensitif, Mbak. Denger tuh.”

Elena hanya tersenyum tipis, seperti sudah menduga.

Lampu dengan cahaya kekuningan menerangi ruangan luas berisi rak rak besi penuh artefak. Wayang, keris, ukiran kayu, peti kecil, dan puluhan benda yang tampak terlalu tua untuk disebut benda mati.

Elena segera melangkah ke sebuah meja panjang. Di atasnya tergeletak sebuah topeng kayu tua.. retak besar membelah dari mata kiri hingga dagu. Warnanya hitam kecoklatan, ukirannya rumit namun banyak yang sudah terkikis usia.

“Mataram era awal…” bisik Elena. “This is it.” (Ini dia)

Arga hanya melihat itu topeng... ya topeng. Tapi hawa dingin tiba tiba merayap di tengkuknya.

“Mas… jangan dekat dekat,” ujar Pak Bambang. “Topeng itu sering dianggap membawa sial.”

Arga refleks mundur. “Kenapa? Kok ngeri begitu?”

“Pemiliknya dulu seorang empu.. resi.. yang hilang secara misterius. Topeng ini ditemukan saat bersamaan hilangnya beliau. Sejak itu… ya, beberapa kejadian aneh terjadi.”

Lampu ruangan berkedip pelan, membuat bayangan seperti bergerak.

Elena menyalakan alat rekam dan mendekatkan wajahnya ke topeng. Arga mulai gelisah.

Pak Bambang memperingatkan lagi, “Tolong jangan terlalu dekat. Benda itu… sering menimbulkan masalah.”

“Masalah?” gumam Arga.

“Beberapa orang yang menelitinya mengalami hal hal aneh. Pusing, mimpi buruk, kadang merasa ada yang memanggil.”

Arga bergidik.

“Mbak Elena… yakin perlu meneliti ini?”

“Absolutely,” jawabnya mantap. Ia menyalakan alat rekam. “Saya sudah menunggu berbulan bulan.”

Arga melirik topeng. Rasanya seperti sedang diawasi.

“Mbak Elena… cepat saja, ya. Tempatnya horor.”

Tiba tiba...

PET!

Semua lampu padam.

Gelap menelan ruangan seketika.

“Aduh… listrik padam,” gumam Pak Bambang sambil mencoba menyalakan lampu ponsel nya. “Tunggu sebentar, saya cari.. ”

Namun sebelum cahaya muncul…

Ada suara...

Lembut.. . Menjalar.... Seperti berasal dari balik kayu, balik rak, balik dinding.

Berbisik bisik, berlapis lapis....

“Sss… pecah… terbelah… carikan tubuh baru…”

Arga mematung.

Suara itu tidak terdengar di telinga. Namun... Suara itu muncul di dalam kepalanya.

“Mbak Elena?? Pak Bambang?? Kalian dengar?”

Ia tersandung meja. Tangannya reflek terulur dalam gelap, meraba permukaan topeng agar tidak jatuh.

Begitu sentuhan terjadi...

BRAKKK!

Retakan topeng menyala biru kehijauan, seperti api dingin yang tidak masuk akal. Energi memercik ke jari Arga, melompat deras ke lengannya, lalu menghantam dadanya.

“ARGA!” suara Elena terdengar jauh, seperti dari dasar sumur.

Tubuh Arga terpental.

Punggungnya menghantam lantai.

Nafas nya tercekat...

Pandangan mengabur...

Gelap... Semakin gelap...

Sebelum kesadarannya runtuh, suara itu menyusup, lebih jelas kali ini.

“Akhirnya… tubuh yang cocok…”

Kemudian segalanya lenyap.

Sunyi..

Kosong...

Gelap...

Lanjut membaca
Lanjut membaca